Her Secret

Her Secret
Ingatan Andria



Alec menatap kosong kamarnya, dia mengelilingi tempat itu tetapi dia tidak menemukan Andria, wajahnya tiba-tiba pucat, apakah Andria meninggalkanku lagi? tetapi langkahnya terhenti setelah mendengar gemericik air di dalam kamar mandi, tanpa mengetuk alec membuka pintu kamar mandi dan di sambut teriakan kencang Andria.


"WAAA, ALEC bodoh, dasar pria pengintip, mesum". Cacian Andria tidak berhenti sampai Alec kembali menutup pintu kamar mandi. Dengan napas panjang Alec menghembuskannya dengan kasar, dia memandang tangannya yang gemetar. 'Dia tidak pergi'. Gumam alec.


Andria keluar dari kamar mandi dengan melilitkan handuk di tubuhnya sambil menatap tajam alec, "Kau tidak bisa mengetuk"!? ucapnya.


"Salahmu sendiri Andria, kenapa kau tidak menguncinya". Ucap alec yang melepaskan dasinya dan mulai membuka kemejanya. Perlahan dia mendekati Andria dan kecupan ringan mendarat dibibirnya.


"Aku akan segera mandi dan bersiap-siap sayang". Ucap alec masih dengan dirinya yang gemetar.


"Alec? panggil Andria padanya.


Alec berbalik menatap Andria yang memanggilnya, Andria dapat melihat dengan jelas tubuh alec yang gemetaran, dia melangkah mendekati Alec, "Kau tidak apa-apa"? tanyanya.


"Er..apa maksudmu, tentu aku baik-baik saja Andria". Dia tersenyum menyembunyikan dirinya yang sedikit terguncang ketika tidak melihat Andria di manapun ketika Alec tiba di mansionnya.


Andria begitu saja memeluknya, dia sedikit berjinjit untuk mengimbangi tinggi Alec hingga sedikit lagi kakinya tidak menyentuh lantai, "Ada apa Andria"? tanya alec yang mengecup pipi Andria.


"Kau gemetar Alec"! ucap Andria. Alec menelan ludahnya kasar, tiba-tiba saja dia memeluk Andria erat. "Jangan pergi lagi Andria, aku bisa gila jika tidak melihatmu, kau tahu sejak kebiasaanmu pergi meninggalkanku, aku selalu bermimpi buruk, aku tidak ingin kau menghilang lagi dari hadapanku".


Andria mengangguk dipelukan alec. "Aku tidak akan pergi lagi Alec, tapi...itu tergantung dengan sikapmu". Kata Andria.


"Sikapku? apa maksudmu"? Kata Alec yang menatap wajah Andria beberapa inci darinya.


"Kau pasti mengerti maksudku, erm...wanita yang mengaku kekasihmu atau tunanganmu mereka....


Ucapan Andria terhenti oleh ciuman panjang alec, "Tidak akan Andria, aku hanya mencintaimu", Bisiknya.


~


Suasana di kediaman Anderson membuat segalanya berubah, orang-orang dirumah itu sibuk mempersiapkan makan malam, Mrs Anderson meneliti semuanya dari ruangan yang di tata rapi dan menu makanannya semua harus sempurna.


Rowena yang baru saja datang menatap heran orang-orang yang sibuk mempersiapkan segalanya. "Apakah ada acara lagi yang tidak kuketahui"? tanyanya pada Lauren.


"Erm.. sebentar lagi Nona julia akan datang bersama Tuan Alexander". Kata pelayan yang selalu menyediakan informasi kapan saja diminta.


"Oh, benarkah? jadi kenapa orang begitu sibuk? hanya makan malam saja", dengusnya.


"Sepertinya Nona julia akan dilamar oleh Mr alexander, nyonya". Ucap Lauren yang berbisik karena Mrs. Anderson menatap mereka dengan wajah benci.


"Saya Permisi nyonya". ucapnya takut-takut.


Dia melangkah menuju mertuanya, dengan wajah angkuh dia melipat kedua tangannya dihadapan Mrs. Anderson. "Melamar? siapa yang menyetujui ide konyol itu ibu? mengapa kalian membiarkan Julia dilamar olehnya? Julia masih sekolah"! bentaknya.


Dengan berdecak, Mrs Anderson menatap Rowena dengan mencibir. "Berhenti berpura-pura menjadi seorang ibu Rowena, dan kau bukan ibunya berani sekali kau bicara seperti itu, cih bicara dengan Peter jika kau keberatan dengan pernikahan ini". Kata Mrs Anderson berjalan dan melihat setiap menu yang di sajikan di atas meja.


"Mengapa begitu ribut ibu"? Peter keluar dari ruangannya, lalu menatap Rowena yang juga balas menatapnya. "Mengapa kau tidak memberitahuku jika Mr. Alexander akan melamar Julia? apa yang kau pikirkan? Julia tidak pantas bersama dengan Mr Alexander, dan apa kau yakin dia betul-betul juliamu yang menghilang"? katanya tajam.


"DIAM ! berani sekali kau menyebut juliaku tidak pantas dengan mulut kotormu itu". Teriak Mrs. Anderson.


Tamparan itu membuat semua kegiatan di dalam rumah itu terhenti, Rowena berbalik sambil memegang pipinya yang di tampar oleh Peter. "DIAM, Jika kau masih ingin menjadi nyonya di rumah ini sebaiknya jangan ikut campur urusan juliaku, kau mengerti"! Bentaknya.


Rowena menatap benci kepada Peter, dia lalu masuk kedalam kamarnya, dia begitu geram dan marah, dia berteriak-teriak histeris, "Aku membencimu Peter, aku membenci kalian semua..aku berjanji akan membuat keluarga ini bertekuk lutut di kakiku, dan menghancurkan kehidupan Juliamu, sama seperti 10 tahun yang lalu, aku akan memastikan dia menghilang lagi dalam kehidupan kalian untuk selamanya". Napasnya memburu, dia tidak menyadari seseorang berdiri di balkon kamarnya mendengarkan semua Ucapannya.


~


Andria mengenakan gaun panjang berwarna creamy white berpotongan dada rendah Dengan warna brunette sebahu, rambutnya ia biarkan tergerai sedikit bergelombang dan lipstik berwarna raspberry. Dia betul-betul cantik memukau.


Alec telah menunggunya di ruang tamu, Andria membuka kamarnya dan mereka saling menatap, Alec tersenyum miring lalu mengambil tangan Andria dan mengecupnya.


"Kau sangat cantik Andria", Bisiknya. Andria tersenyum dia sedikit tersipu hingga pipinya sedikit merona.


"Aku ingin berlama-lama menatapmu sayang, tapi sepertinya kita sedikit terlambat". Andria memegang lengan alec, mereka kemudian keluar dari mansion dimana Gery telah menunggu kedatangan keduanya. Dia sedikit membungkuk ketika mereka tiba dan segera membukakan pintu mobil untuk mereka berdua.


Alec memegang erat tangan Andria selama di perjalanan, setelah 20 menit perjalanan mereka akhirnya tiba di kediaman keluarga Anderson.


Andria tersenyum ketika ayah begitupun neneknya menyambutnya, mereka memeluk andria dengan tersenyum senang. Andria tidak melihat Rowena ada di sana tetapi doughlas berdiri dengan setelah jasnya, dia tersenyum menatap andria.


"Silahkan masuk Mr.Alexander, kita makan malam dulu, sebelum makanannya menjadi dingin". Ucap Mrs Anderson tersenyum ramah.


Mereka semua duduk di meja makan, sambil berbincang-bincang suasananya begitu nyaman dan santai sampai Rowena keluar dari kamarnya dengan busana yang gemerlapan, gaun merah terang yang mencolok dengan belahan dada yang begitu rendah, rambutnya yang keriting di gerai hingga dia begitu mencolok dengan rambut hitamnya.


"Ah, aku tidak tahu kita kedatangan tamu spesial". Suaranya dibuat begitu lembut dan terkesan menggoda. Suasananya tiba-tiba berubah menjadi tegang, apalagi wajah nenek dan ayah andria, mereka terlihat geram.


"Selamat malam nyonya Anderson senang bertemu dengan anda". ucap alec, dia bisa merasakan sikap Andria yang berubah ketika melihat wanita di hadapannya ini.


"Dan Julia sayangku, kau begitu....manis"? ucapnya sambil menatap Andria dengan angkuh.


Suara Geraman terdengar dari nenek, dia tidak bisa menutupi kemarahanya. "Bagaimana kalau kita mulai makan malam kita"? ucap Rowena yang duduk di samping suaminya Peter.


Wajah Rowena mengingatkan Andria kepada ingatannya sewaktu ia kecil, kepalanya kembali berdenyut tetapi di tahannya.


"Oh ya, kapan kalian akan menyelenggarakan pernikahannya"? tanya Rowena tanpa basa basi.


Alec tersenyum, jika Mr. Anderson setuju, kami akan menikah dalam waktu dekat ini". Senyum alec dan menggenggam tangan Andria.


"Oh, mengapa begitu terburu-buru Mr. Alexander, anda begitu muda dan tentu saja tampan, bukankah banyak wanita yang lebih special di luar sana"?


Mrs. Anderson ingin berbicara tetapi di tahan oleh anaknya Peter. 'Tenanglah mom'. bisiknya.


"Bagiku Andria jauh lebih special di bandingkan wanita di luar sana dan aku mencintainya". Dia lalu mengecup tangan Andria. Rowena mendengus dan menaikkan satu alisnya. Tanpa di sadarinya tatapan tajam datang dari Andria, dia mengenali wajah wanita dihadapannya ini, wanita yang merebut ayahnya dari ibunya Kenneth.


Wajahnya yang penuh dengan make up tebal, dengan senyum angkuh menatap Kenneth yang terbaring di rumah sakit, tentu kau mengenali wajah wanita yang merebut dan membunuh ibumu Andria...


Kata suara di dalam kepala Andria.