
Suara klik pintu membuyarkan lamunan Andria, Alec masuk ke dalam kamar dan menghampirinya. Tangannya memegang kening Andria, "sepertinya kau sedikit demam, sebaiknya kita makan Andria, kau belum makan apa-apa sejak tadi siang".
Andria tidak meresponnya, dia hanya duduk di sisi tempat tidur sambil menatap pemandangan di depannya. Alec kemudian duduk di sampingnya.
"Andria? kau mendengarku? tangannya menarik dagu Andria dengan lembut agar dia menatapnya. "Kau harus makan". Mereka saling menatap, keinginan Alec untuk memeluk gadis di hadapannya sangat besar.
Alec menarik Andria kedalam pelukannya, dia membelai rambut Andria dan mengecupnya. "Aku tahu apa yang kau pikirkan Andria, lupakan pria itu dan masa lalumu sekarang kau harus menjalani hidupmu, kau mendengarku"? Andria mengangguk di dalam dekapan alec.
Alec melepaskan pelukannya, menatap wajah cantik yang sedih dan murung dihadapannya, perlahan Alec mendekatkan wajahnya lalu mengecup bibir Andria dengan lembut, kecupan ringan Alec berubah menjadi menuntut, dia menarik Andria keatas pangkuannya, kali ini Andria membalas ciuman alec, meskipun tidak bisa mengimbangi cara alec menciumnya.
Desahan Andria membuat alec Menggeram. Tiba-tiba Andria mendorong tubuh alec menjauh ketika merasakan tangannya perlahan bergerak di tubuhnya. Sensasi aneh yang dirasakan Andria membuatnya mendorong tubuh alec.
"Andria....? bisik Alec yang menahan tubuh Andria agar tidak bergerak. Mata alec berkabut menginginkan, sebelum dia memperdalam ciumannya, suara ketukan dari pintu terdengar oleh mereka berdua.
Andria cepat-cepat melepaskan tubuhnya dari alec. Dia menjauh darinya, "Awas saja kalau tidak penting". Gumam Alec terdengar marah.
"Ada apa Gery? bentaknya.
"Ada seorang tamu yang menunggu anda di lobi". Kata Gery, "Aku akan segera datang". Jawab alec.
"Andria, sebelum aku kembali kau harus sudah selesaikan makan siangmu". Dia menutup kamar dan meninggalkan Andria yang masih hanyut dengan ciuman alec.
Andria begitu gelisah, mengapa dirinya menerima begitu saja pria itu? apakah aku sudah gila. pikirannya begitu kalut apakah aku menyukai alec? Andria berdiri dan berjalan bolak balik sambil menggigit bibirnya. Dia memegang liontin yang ada di lehernya. Dia lalu melepas liontin itu dan membukanya, liontin ini diberikan padaku ketika aku berada di panti.
Apakah pria itu yang memberikannya, aku mempercayai kebohongannya selama ini, dia menyimpan liontin yang sudah bertahun-tahun dia pakai kedalam tasnya. Suara seorang wanita terdengar samar dari luar kamar, Andria membuka sedikit pintu kamarnya dan mendengarkan percakapan diantara mereka bertiga.
"Aku mendengar kau datang ke Portland alec, untuk apa? Yang aku tahu rapat seperti ini biasanya dilakukan oleh sekertarismu, tapi kau turun tangan langsung, apakah kau mendengar kalau aku ada di Portland?
Wanita itu tersenyum miring, seperti dia memenangkan sesuatu. Alec sekali lagi memutar matanya. "Gery ! apa yang sebenarnya kau lakukan? aku bilang jangan membiarkan siapa saja masuk". Teriak Alec.
"Berhenti bersandiwara alec, kau datang karena ingin meminta maaf padaku bukan? apalagi alasanmu selain kau menguntitku?!
Sepertinya alec sudah kehilangan kesabaran, dia membuka pintu dan melihat Andria berdiri di depan pintu kamar mendengarkan semuanya.
"Kau mau tahu alasannya, aku datang ke Portland karena dia ! jadi..pergi dari sini, sekarang ! alec menggertakkan giginya. Wanita itu memandang andria dengan marah, "Siapa gadis ini alec? mengapa kau membawa-bawa dia dalam hubungan kita"?
"HUBUNGAN?? Aku tidak mempunyai hubungan apapun dengan jalang sepertimu, keluar dari tempat ini sekarang ! Napas alec memburu. Gery membawa petugas keamanan kedepan wanita itu.
"Kau keterlaluan alec, aku tunanganmu...aku memilihmu, kau yang aku mau ! Alec jangan seperti ini". Teriaknya.
"Gadis kecil sepertimu sebaiknya pergi dari sini, jangan ganggu hubungan kami". Kata kerin menggeram.
"Jalang sepertimu sekolah tidak sih ! Lihat dirimu, kau pasti sangat putus asa ingin bersama dengan Alec, kalau tidak mengapa kau tidak pergi dari sini ketika dia menyebutmu jalang !? Apa kau memang seperti itu"? Kata Andria tersenyum sinis.
Alec menahan senyumnya, "Kau ! Awas saja kau "! Kerin mengehentakkan kakinya, "Aku tidak akan menyerah Alec, aku akan datang lagi".
"Jika kau datang lagi, polisi yang akan menyeretmu kali ini". Teriak alec sungguh marah, mengapa ada wanita seperti itu, dia gila ! Matanya mengerling Andria seperti ingin tertawa melihat adegan tadi, gadis aneh ini tersenyum baru kali ini aku melihatnya, pikir alec.
"Ada yang lucu Andria Hem? apakah jika aku sedang kesulitan membuatmu senang"? Alec memerangkap Andria di tubuhnya, dan memberi isyarat kepada Gery untuk pergi.
"Sedikit lucu saja". Gumam andria..
"Kau tahu, jika kau tersenyum kau sangat manis Andria". Bisik alec di tengkuknya.
"Bolehkah aku menanyakan sesuatu padamu"? tanya Andria.
"Kau cukup tua untuk mencari seorang wanita, tapi mengapa aku"?
"Cukup tua"? mata alec menyipit. "Tidak ada masalah dengan usiaku maupun usiamu sebentar lagi usiamu 19 tahun, itu sudah cukup matang bagiku kau tahu maksudku"?
Andria menyipitkan matanya, dan mendorong tubuh alec, "Lepaskan aku pria mesum"! gertak andria. Alec melengkungkan bibirnya. "pria mesum? Ok jangan bergerak-gerak Andria pria mesum ini ingin menciummu". Andria berusaha melepaskan tubuhnya, tetapi Alec menarik keras andeia hingga tubuhnya menabrak tubuh alec.
Alec memegang tubuh Andria merekatkan kedua kaki andria di pinggangnya, mereka saling berpelukan dan saling menatap, "Kau milikku Andria". bisik alec dibibirnya.
"Siapa yang mengatakan seperti itu? aku belum menyetujuinya". Balas Andria
"Aku tidak perlu persetujuanmu, sekali aku mengatakan kau milikku maka kau memang milikku tidak ada yang bisa membantahnya, meskipun kau sendiri", Ucap alec.
"Bukankah itu egois? kau harusnya bertanya tentangku, perasaanku".
"Kau lupa, aku ini pria egois Andria, aku menginginkan segalanya termasuk dirimu, berhenti bicara aku ingin menciummu". Perintahnya.
Andria memutar matanya, tetapi Alec sudah menangkap bibir Andria dan mengecupnya. Hari itu terasa panjang bagi andria, alec sama sekali tidak berniat melepaskan andria.
Suara Andria terdengar bergetar, dan bernapas pendek-pendek, "Aku belum makan siang Alec". Alec tersenyum miring. "Ok, kita hentikan dulu, sebaiknya kita segera makan Andria sebelum kau pingsan".