Her Secret

Her Secret
Kebohongan Andria dan kemarahan Alec



Keheningan malam terasa pekat, dia berjalan mondar-mandir selama Andria pingsan hingga pagi menyingsing, wajahnya seketika berubah pucat, dia begitu marah semalam, ketika mendengar bunyi pintu yang terbuka Ronan terbangun dan menatap dari jendela kamarnya, meskipun terlihat samar tetapi Ronan dapat mengetahui jika alec mencium Andria dari dalam mobil darahnya seketika mendidih menyaksikannya sehingga tanpa disadarinya dia sudah berlaku kasar pada Andria.


Dia memandang Andria yang masih terlelap di atas tempat tidurnya, tubuhnya sedikit bergerak dan matanya membuka dengan perlahan, nampak jelas wajah Ronan dihadapannya mereka saling bertatapan, Andria bangun dari tidurnya dan duduk matanya berkilat marah memandang Ronan.


"Andria kau tidak apa-apa". Ronan menghampirinya, membuat Andria bergeser menjauh darinya dia masih mengingat dengan jelas ciuman Ronan yang membuatnya tidak bisa bernapas sehingga dia jatuh pingsan.


"Kenapa kau ada di sini? tanyanya. Ronan masih menatap lekat-lekat wajah andria. "Maafkan aku Andria, aku tidak bermaksud menyakitimu". kata Ronan menyesal. Andria hanya terdiam dia tidak mau menatap Ronan yang masih menatapnya dengan mata permohonan maaf.


"Boleh aku bertanya sesuatu padamu? tanyanya dengan suara selembut mungkin. "Apa yang terjadi antara kau dan Alexander yung". Tanyanya. Andria masih diam tapi dia menjawabnya seperti berbisik.


"Aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya, dia sama sepertimu dengan seenaknya menciumku". Andria menunduk, sedikit malu dengan kata-katanya sendiri.


Ronan masih belum sepenuhnya mengerti, "Tapi mengapa kau selalu pergi bersamanya". Andria seketika menatap Ronan. "Dia yang datang padaku dan memaksaku naik ke mobilnya". kata Andria matanya kini berkaca-kaca, dia benci menjadi lemah, selama di panti dia begitu kuat dia bisa menghadapi semuanya, tapi sejak bertemu dengan keluarga ini dia seperti anak kecil yang lemah, diperhatikan dan dikhawatirkan oleh mereka, dan Andria terbiasa dengan perhatian itu membuatnya semakin lemah.


Ronan meninggalkan Andria di kamarnya, dia keluar dari kamar Andria di pagi itu menutupnya sambil berjalan kembali ke kamarnya. Hembusan napas yang kuat dari Ronan ketika mengingat kembali kejadian semalam, dia memegang bibirnya. "Apa yang telah kulakukan"? gumamnya.


~


Andria merasakan gelenyar aneh ditubuhnya ketika Alec maupun Ronan yang menciumnya, tubuhnya merespon mengkhianati otaknya yang menolak mereka. Air hangat menerjang tubuh Andria membasahi rambut panjangnya, "Aku akan ke Portland seorang diri, aku tidak akan pergi dengan pria itu, membayangkan dirinya harus berpergian begitu jauh bersama alec membuatnya merinding, bagaimana jika diperjalanan dia kembali menciumku, dan anehnya tubuhku merespon dengan cepat, sensasi hangat menjalar ditubuh Andria membuat tubuhnya sedikit bergetar.


Dua hari terlewat tanpa insiden apapun, dan selama dua hari ini Andria merencanakan perjalanannya dan memikirkan cara agar keluarga Weltson mengizinkannya keluar kota, meskipun dengan berbohong. Tiba-tiba dia mendengar percakapan dari seberang mejanya di kantin sekolah tentang berkumpul bersama teman mengerjakan tugas sains bersama, sebenarnya tugas itu sudah diselesaikannya bersama Nick dan tentu saja Nick yang mengerjakan semua tanpa merepotkan Andria.


Ide itu sangat cemerlang, dia akhirnya pulang ke rumah dan melihat Mrs Weltson sedang berada di dapur membuat makan siang setelah perjalanannya bersama suaminya dari San Fransisco, Andria meletakkan tasnya di atas meja makan dan menghampiri Mrs Weltson.


"Kau sudah pulang sayang? duduklah makan siang sebentar lagi siap sayang". Senyumnya. Andria berdiri Kikuk dihadapannya. "Mrs.Weltson er...aku akan menginap dirumah temanku besok, kami akan mengerjakan tugas sains bersama".


Matanya menyala dengan kegembiraan, "Oh benarkah? tentu kau boleh pergi sayang, kapan kau berangkat"? Tanyanya.


"Besok pagi, kami berencana membeli beberapa peralatan tugas kami dan mengerjakan di salah satu rumah temanku, anda tahu semacam penelitian sains yang membosankan". Dia berpura-pura enggan untuk pergi.


"Jangan begitu sayang, tentu kau harus pergi kau akan bersenang-senang bersama teman-teman sebayamu". Bibirnya mengerucut dan mengecup pipi Andria lalu menepuk bahunya.


"Semoga saja Ronan pulang larut malam sehingga dia tidak menemuiku dan bertanya-tanya tentangku, Andria menyiapkan pakaiannya untuk esok hari lalu menatap cuaca sore di luar. "Aku harus berhati-hati, perjalananku kali ini cukup jauh, aku harus menemukan pria bernama Okada itu". gumam Andria.


~


"Kau sudah selesai Ronan". Tanya Riley yang duduk di samping meja kerjanya. "Sebentar lagi selesai". Jawab Ronan yang masih berkutat dengan laptop di hadapannya. "Apakah kau akan menolak lagi jika Ashley mengundangmu"? tanya Riley padanya. Perhatian Ronan sedikit teralih tapi tangannya tetap sibuk, "Apa maksudmu Riley".


"Beberapa kali dia mengundangmu ke club tapi kau selalu menolaknya, jadi kali ini kau tidak boleh lagi menolaknya, memangnya siapa yang menunggumu di rumah? kau bahkan belum punya istri apalagi pacar". Kata Riley enteng.


"Entahlah, kemarin aku demam". Gumam Ronan padanya. "Demam? jadi.. bagaimana keadaanmu sekarang kau bisa ikut kami kan"?! bujuk Riley.


"Ok, aku pergi lagi pula semalaman Andria merawatku jadi sekarang aku baik-baik saja". Riley menyipitkan matanya. "Merawat eh"? selidiknya.


"Ya, dia merawatku karena Ibu dan ayah ke san Fransisco jadi Andria yang mengerjakan semuanya". Jawab Ronan sekedarnya. Beberapa orang lewat tanpa mereka berdua sadari, mereka sedikit melambat seketika ketika Ronan menyebut nama Andria.


"Mengerjakan seperti apa"? Tanyanya lagi. "Em..memasak bubur menyuapiku dan mengompresku dia melakukannya seperti cara ibuku merawat orang sakit". Riley tersenyum miring, "Dan kau menyukainya"? bisik Riley.


Tanpa sadar Ronan menjawabnya dengan spontan,"Tentu saja, dia yang biasanya kaku ternyata pandai merawat orang sakit". Kata Ronan santai. Riley tertawa pelan, "Tentu saja karena kau menyukai Andria". Kata Riley yang mulai bertanya perlahan kepada Ronan.


"Ya, aku....". Seketika dia terdiam dan menghentikan kegiatannya lalu menatap Riley sinis. "Kau...berhenti bicara Riley, aku sibuk". Riley tertawa lebar. Mereka tidak menyadari bahwa percakapannya didengar oleh orang-orang yang baru saja lewat termasuk Ashley dengan murung ikut mendengarkan mereka berbicara.


"Tutup pintunya, kalian semua keluar". Bentak Alec. Gery dan yang lainnya menutup pintu kantornya. Tangannya menggapai ponsel di meja kerjanya, menekan tombol 1 lalu menghubunginya. Beberapa kali panggilan membuat Alec tidak sabar, dan menekan-nekan kembali ponselnya. "Ya, halo". Suara Andria terdengar dari seberang telepon.


"Apa yang kau lakukan kemarin malam"? tanya alec dengan suara pelan tetapi intonasinya seperti marah mengancam. "Katakan padaku". Tanyanya.


"Bagaimana jika kau tinggalkan rumah itu, aku akan membeli sebuah apartemen untukmu". Kata Alec menggebu-gebu. Suara klik terdengar dan suara dari seberang telepon tidak terdengar lagi, Andria memutuskan sambungan teleponnya. Alec Menggeram, dia menekan kembali ponselnya tetapi Andria tidak mengangkatnya.


"Ck, gadis itu menutup teleponku berani sekali dia, besok kita akan bertemu lagi Andria, aku ingin kau pergi dari rumah itu atau aku akan melakukan sesuatu yang membuatmu menyesal". Gumam Alec di sela-sela kemarahanya dia lalu menekan tombol di ponselnya, "Gery ! siapkan satu apartemen kosong, segera". Dia lalu menutup ponselnya.


Andria menutup ponselnya dan bergumam, "Dia gila". Hari sudah larut mata Andria begitu berat, dia begitu menantikan hari esok dan ingin segera bertemu dengan pria bernama Okada, rahasia apa yang membuatku hidup di panti dan mengapa nama Okada Kim Alexandria, begitu mirip dengan nama belakangku? "Aku harus mengetahuinya". Gumam Andria.