Her Secret

Her Secret
Quebec Montreal



Quebec Montreal adalah salah satu provinsi terbesar di Kanada, selain bahasa Inggris bahasa Perancis mendominasi kota Quebec. Kota Montreal dan kota Quebec seperti sisi yang berlawanan dari koin yang sama. Kota Quebec terkenal dengan bangunan kunonya yang indah sedangkan montreal kota yang dipenuhi keramaian dan perayaan.


Setelah berjam-jam akhirnya kami tiba di kota Quebec dengan suasana kota tua di abad pertengahan.


Provinsi Quebec masih disebut sebagai New-France di Amerika Utara. Bukan karena penggunaan bahasa saja. Benteng dan banyak bangunan peninggalan Perancis turut membentuk suasana kota tua. Semua itu akan membuat orang yang datang ke kota ini merasa sedang berada di Perancis, bukan Kanada. 


Sebuah bangunan yang cukup besar kental dengan nuansa kota tua berarsitektur unik berwarna coklat karamel dengan gambar gitar besar melekat pada temboknya dengan kaca yang tidak terlalu besar serta pintu yang diukir seperti bangunan kuno.


"Kita telah tiba Andria, cafe ini salah satu cafe favoritku, aku membelinya 3 tahun yang lalu, ayo masuk kau pasti menyukainya". Dia tersenyum sambil menepuk bahu Andria dan membawa koper Andria di tangannya.


Cafe itu cukup luas dengan beberapa meja dan kursi yang cukup private, serta pantry dan segala kebutuhan untuk meracik kopi.


"Oh ya perkenalkan ini Romelia dia salah satu stafku yang bekerja paruh waktu di sini.


"Hai, aku Romelia kau bisa memanggilku Melia, aku senang kau datang oh ya siapa nama gadis cantik ini doughlas"? tanyanya.


"Namanya Andria, dia mulai sekarang bertanggung jawab atas cafe ini jika aku tidak ada, kau bisa bicara pada andria". kata doughlas yang menyeruput kopi di atas meja yang telah dibuatkan oleh Melia. Melia adalah wanita paruh baya yang menarik, senang menjadi seorang anak muda dan berbicara Seakan-akan dia seumuran dengan Andria.


Andria sangat senang dengan keramahan Melia yang ceplas-ceplos . Dia sangat ramah dan suka berkedip pada siapa saja. "Istirahatlah dahulu Andria besok cafe ini baru akan dibuka.


"Baiklah douglas terima kasih atas semua bantuanmu padaku". ucap Andria memandang doughlas dengan senyum tulus.


Doughlas menggaruk kepalanya, "Berhenti berterima kasih Andria, lagi pula kau sangat membantuku mengelola tempat ini, aku juga sangat jarang berkunjung ke sini".


Setelah beberapa jam doughlas menemani Andria dia akhirnya kembali ke Vancouver. Andria memandangi tempat itu dari lantai dua, udara yang sangat sejuk dengan pemandangan sangat indah, meskipun tempat itu didominasi bangunan-bangunan kuno tetapi Andria begitu takjub dengan suasana kota di Quebec yang indah.


Andria menutup jendela kamarnya sambil berpikir dia harus banyak belajar bahasa Perancis, karena sebagian orang yang tinggal di kota ini berbahasa Perancis yang kental.


~


Wanita itu duduk di sofa empuk berwarna plum, matanya masih memandang tajam perapian yang menyala, sambil meminum wine digelas yang di pegangnya. Suara langkah kaki seseorang membuat wanita itu berbalik.


"Kau dari mana saja Peter? apa yang kau lakukan di luar hingga dua malam ini kau tidak pulang? ibumu berteriak-teriak memanggilmu dan lagi-lagi menyalahkanku karena tidak memiliki keturunanmu, keturunan Anderson!


Pria itu hanya berdiri di dekat tangga tidak memandang istrinya yang berbicara, "Apakah kesalahanku jika aku tidak memiliki anak darimu? kau selalu menghindariku Peter"! suara wanita itu meninggi menatap Peter seperti dia tidak perduli dengan kata-katanya.


"Cih, percuma aku bicara padamu". Dia menggeleng sambil menyesap kembali minumannya.


"10 tahun yang lalu, saat aku pergi keluar kota waktu itu, kau ada dimana"? tanyanya dengan suaranya yang dingin tanpa menatapnya.


"Apa yang kau katakan? kau berbicara sesuatu yang sudah lama berlalu, kau sungguh keterlaluan Peter".


"Berapa kali aku bilang aku juga keluar saat itu, aku menemani doughlas ke dokter karena dia demam, sebenarnya apa yang ingin kau katakan padaku Peter"! teriaknya, dia sudah berdiri di samping sofa menatap suaminya yang memunggunginya.


"Lupakan", ucapnya. Pria itu bergegas naik kelantai dua dan masuk ke dalam kamarnya.


Suara langkah kaki membuatnya terkejut, doughlas melipat kedua tangannya sambil bersandar di tiang pintu.


"Mom, kupikir kau sudah mengetahui dengan jelas resiko jika kau menikahinya 10 tahun yang lalu, maafkan aku mom aku tidak bisa membantumu". Ucap doughlas dia lalu pergi kembali ke apartemennya.


~


Andria membuka matanya, matahari telah terbit, dia meregangkan tubuhnya dan menatap koper yang belum di bongkarnya, kamar itu begitu luas dan sangat nyaman, tiga kali lebih luas dari flat Andria yang ada di Vancouver.


Andria menyimpan baju-bajunya di lemari yang kosong, lalu membuka jendela lebar-lebar sambil menatap matahari pagi yang begitu terang, "Aku harus mandi dan membuka cafe ini, kata Melia dia tidak masuk beberapa hari karena dia harus ke Toronto hari ini".


Setelah bersiap-siap, Andria memakai celemek unik berwarna caramel, dengan tulisan di depannya Quebec cafe, Andria mengikat rambut panjangnya tinggi-tinggi, lalu mulai membersihkan pantry dan menyusun gelas dan cangkir-cangkir.


Andria menatap berbagai macam jenis kopi yang berada di depannya semuanya memiliki kualitas yang tinggi, ada kopi arabika, robusta, liberika, luwak serta berbagai jenis kopi lainnya yang harus Andria cari tahu. Selama ini Andria begitu terampil meracik kopi hingga kopinya banyak di gemari orang-orang di Vancouver, dia memiliki pelanggan tetap yang selalu memesan kopi buatan Andria.


Pagi itu pengunjung yang datang lumayan banyak, meskipun Andria sendiri, dia bisa mengatasinya, ternyata orang yang membeli kopinya menggemari minum kopi Arabika dan luwak. Dengan telaten Andria melayani pesanan pembeli, meskipun dia belum bisa berbahasa Perancis tetapi Andria bertanya kepada pelanggannya dengan bahasa Inggris hingga merekapun ikut berbahasa inggris.


Andria sangat senang dengan kesibukannya, dengan begitu segala masalahnya bisa sejenak dia lupakan. Waktu menunjukkan pukul 01 siang hari waktu Quebec, Andria duduk di pantry dan memakan hidangan makan siangnya yang dibuatnya sendiri.


Wajah alec tiba-tiba terbayang, membuat Andria memegang kepalanya dan berbicara kepada dirinya sendiri, "Berhenti memikirkannya andria, pria egois itu membohongimu andria, dia memiliki seorang tunangan, dan dengan mudahnya dia mengatakan dia mencintaimu".


~


Alec membelakangi pintu kantornya dia sedang memandangi pemandangan di depannya, suara pintu yang dibuka dan bunyi sepatu tidak mengalihkan pandangannya. Wanita itu memeluk Alec dari belakang, "Apa yang kau pikirkan Alec?


Alec menyandarkan sikunya di meja dan tidak memperdulikan wanita yang bergelayut di pundaknya. "Rose berhenti ! jangan menyentuhku", geramnya.


"Aha, kali ini gadis itu lari kemana lagi? sewaktu dia memergokimu bersama kerin dia pergi darimu selama 2 tahun dan sekarang dia akan pergi berapa lama? mau taruhan "! Senyumnya mengembang lalu dia tergelak tertawa. "Kau tahu aku mendapatkan informasi ini dari kerin mantan tunanganmu.


Alec memandangnya tajam, dia kemudian mengambil ponselnya, "Dad ini aku alec, berapa persen keuntungan yang kau miliki jika kau menjalin kerjasama dengan Mr. Michael, Ok kalau begitu batalkan, biarkan aku yang mengganti kerugianmu setelah itu batalkan pertunangan sialan itu dad, Ok aku akan segera ke Seattle".


Wanita bernama rose ternganga menatap alec, dia tidak bisa berbicara apa-apa. Alec menatapnya dengan dingin, "Sekarang kau bukan apa-apa bagiku, pergilah! aku tidak punya urusan denganmu".


"Al..Alec?? kau tidak, kau tidak bisa melakukannya padaku Alec ! gugupnya, Tubuhnya gemetar menatap alec.


"Ya, aku bisa jadi sekarang pergilah sebelum aku memanggil keamanan". ucap alec tanpa menatapnya.


"ALEC ! Aku...aku mencintaimu"! teriak wanita itu.


"Pergi dari hadapanku! aku bisa menghancurkan semuanya dengan mudah termasuk perusahaan ayahmu, jangan muncul lagi dihadapanku jika kau bersikeras, aku akan Pastikan nama Leon grup hanya tinggal nama saja, kau mengerti ! kata Alec dingin. Wanita bernama rose segera memutar tubuhnya yang gemetar, dengan langkahnya yang pelan dia keluar dari kantor alec.


"Miss aku akan mengantarmu". Ucap Gery yang untuk kedua kalinya mengantar wanita yang di tolak oleh Alec menjadi tunangannya.