
Matahari telah muncul meskipun masih di latar belakangi dengan awan yang gelap, salju berhenti di pagi itu, membuat Andria bergegas mengenakan pakaian dinginnya yang cukup tebal bersama putra dan putrinya, bersama dengan Gery yang selalu menjadi supir setia bagi Alec, kali ini Gery tidak ikut bersama alec karena perintah langsung dari atasannya agar menjadi supir buat Andria dan anak-anaknya.
"Nyonya, mobil sudah siap." ucap Gery.
"Sebentar lagi Gery kami akan keluar." ucapnya sambil menggendong Abel dan memegang tangan kein yang melompat-lompat senang karena mereka akan ke tempat permainan di central Van dan membeli mainan.
"Gery, aku sudah siap..aku ingin duduk di depan yaaa mom!" ucap kein memohon.
"Baik sayang, tapi jangan banyak bergerak dan mengganggu paman Gery!" ucap Andria sambil membuka pintu mobilnya.
Mereka akhirnya berangkat, terdengar senandung kein selama berada di dalam mobil membuat Andria tersenyum lalu menggoyangkan tubuh Abel agar menari, Gery yang berada di sampingnya ikut tersenyum mendengarnya.
Di jalanan besar pusat kota Vancouver, lalu lintas cukup lengang, hanya beberapa mobil berwarna hitam yang berderet di belakang mobil Andria. Mata Gery tidak luput dari sekitarnya, dia lalu mengambil jalur yang berbeda, lalu kembali menatap mobil hitam yang ikut berbelok kemanapun mobilnya pergi.
Gery memutuskan untuk melewati jalan yang cukup padat sehingga mobil itu tidak cukup dekat dengan mobil mereka, matanya kembali menatap dari kaca depan, mereka masih di sana mengikuti kemanapun mobil mereka pergi.
Gery mengenakan earphonenya lalu menyebut kode kepada seseorang, "Kode Z, sekali kode Z." Seseorang menyampaikan sesuatu dari seberang telepon, kemudian Gery mengatakan sesuatu dengan cepat, "Mercedes hitam CD 77xx, arah Vancouver selatan menuju central park." ucapnya cepat.
"Gery? apakah semua baik-baik saja?" tanya Andria menatapnya dari depan kemudi, dia sedikit menunduk, "Tidak apa-apa nyonya, sebaiknya kita tunda dulu perjalanannya nyonya, saya akan mengantar anda langsung ke kediaman Alexander."
"Apakah sesuatu terjadi?" tanyanya lagi, baru kali ini dia melihat wajah Gery sedikit tegang.
"Saya akan memberitahukan setelah kita tiba di tujuan nyonya." dengan kecepatan penuh Gery melintasi jalanan yang sepi, dan pergi menuju kediaman tuan Alexander.
~
"Kejar terus Bruno." perintahnya.
"Baik tuan."
~
"Mommy kenapa kita tidak membeli mainan, mommy sudah berjanji bukan?" ucap kein dengan cemberut.
"Kita akan ke rumah kakekmu sekarang sayang, dan kau bisa bermain di sana, Oky."
"Hemm Oky." kata kein dengan wajah cemberut.
Andria masih menatap ke arah gery, wajahnya masih datar tapi Andria masih bisa merasakan ada sesuatu yang aneh darinya, dia menyembunyikan sesuatu.
Kami akhirnya tiba di kediaman keluarga Alexander, beberapa orang membuka pintu gerbang besar itu kepada kami sementara Abel yang berada di pangkuanku sudah terlelap, sedangkan kein berada di genggaman Andria.
Gery meluncur memasuki pekarangan rumah yang besar itu, lalu membuka pintu mobil untukku.
"Ayo sayang kita sudah sampai kau bisa melanjutkan tidurmu di kamar sayang." ucap Andria.
Beberapa pelayan keluar dari kediaman itu menyambut Andria dan anak-anaknya, Gery masih mengedarkan pandangannya menatap seluruh sisi jalan lalu beberapa penjaga berpakaian hitam kemudian tersebar di beberapa tempat.
Gery melangkah ke samping halaman akan tetapi Andria mencegahnya. "Ada apa Gery katakan kepadaku apa yang terjadi, mengapa tiba-tiba kita kemari?" ucap Andria dengan suara tegas.
Gery memutuskan memberitahunya. "Ada yang mengikuti mobil kita nyonya, dua mobil Mercedes berwarna hitam mengikuti kita, jadi saya membawa anda kemari karena sangat berbahaya jika kita tetap melanjutkan perjalanan."
Andria begitu terkejut, mengikuti? siapa? apakah Rowena sudah keluar dari penjara dan berniat membalaskan dendamnya pada kami? pikiran itu membuat Andria begitu resah, bagaimana jika mereka menargetkan anak-anakku? apa yang mereka inginkan dariku?
"Baik Gery, terima kasih." ucap Andria.
Gery sedikit menunduk dan sekali lagi dia melangkah sambil berbicara melalui earphonenya.
~
"Penuh dengan penjaga sir, mereka mengetahui keberadaan kita." ucap Bruno kepada tuannya yang sedang duduk santai, sambil menyandarkan kepalanya di tangannya.
"Mengapa begitu sulit? aku hanya ingin bertanya tentang keberadaan ponakanku, meskipun usia kami tidak jauh berbeda." Dia sedikit terkekeh.
"Cari cara agar aku masuk ke kediaman mereka, kita tidak punya waktu untuk menguntit wanita itu."
"Baik tuan." jawabnya.
~
Ponsel andria berdering beberapa kali, dia menatap layar ponselnya dengan kata 'dad', Andria segera mengangkatnya, "Halo, Dad aku baik-baik saja, bagaimana dengan dad? jangan terlalu banyak bekerja dad, kau baru saja pulih." ucap Andria.
"Baik aku akan mengunjungi ayah bersama anak-anak, besok Alec akan pulang, jaga kesehatanmu dad, aku sayang padamu." Dia menutup ponselnya sekali lagi menatap ruangan besar di kamarnya lalu menutup tubuh Abel dengan selimut.
Pintu membuka mendapati kein sedang mengucek-ucek kedua matanya, "Mommy? aku ngantuk."
"Kemarilah kein." Andria menggendong kein lalu membiarkannya tertidur sejenak di bahunya. Ketika suara napasnya menjadi teratur, dia akhirnya membaringkan kein di samping Abel lalu mengecup kening keduanya.
Andria berjalan lalu membuka sedikit jendela dan mengedarkan pandangannya meskipun kabut menutupinya, dia dapat mengetahui ada seseorang yang berdiri tidak jauh dari kediamannya menatap langsung ke arah jendela Andria. Dengan sigap andria menutupnya, jantungnya berdebar-debar, siapa dia? apakah seorang pembunuh? Andria menekan angka 1 di pesawat telepon lalu terhubung kepada gery.
"Gery! seseorang sedang berdiri di depan gerbang." ucap Andria dengan sedikit teriak.
"Baik nyonya saya akan memeriksanya." bunyi klik pada telepon, Gery bersama orang-orang yang mengikutinya segera keluar ke gerbang, sebuah mobil mewah dengan menancapkan gas dimobilnya hingga suara decitan mobilnya terdengar jelas.
"Hubungi Ron, tambahkan penjagaan", ucap Gery ketika memegang earphone di telinganya.
"Apakah aku harus menghubungi Alec? dia pasti akan marah besar jika aku tidak mengabariya." Sebelum Andria mengambil ponselnya, bunyi ponsel berdering sekali lagi dengan nama 'My husband' tertera di layar ponsel.
Andria menelan ludahnya lalu mengangkat ponselnya. "Halo Alec?"
Suara panik terdengar jelas dari seberang telepon.
"Andria ! Andria kau baik-baik saja? Sekarang kau berada di mana?" tanyanya.
"Tenanglah Alec, aku baik-baik saja jangan khawatir sayang." ucap Andria menenangkan.
"Aku akan segera pulang, er malam ini...aku tidak bisa tenang memikirkanmu tanpa penjagaanku."
"Tenanglah sayang, aku baik-baik saja jangan terburu-buru aku takut terjadi sesuatu padamu sayang, aku baik-baik saja." Sekali lagi Andria mengulangi kata-katanya agar Alec bisa tenang.
"Aku merindukanmu, segera kabari aku apapun itu, kabari aku." ucap alec.
Setelah menenangkan alec, Andria kemudian keluar dari kamar ingin membuat segelas coklat yang hangat. Seseorang tengah berdiri di belakang Andria menatapnya sambil tersenyum tipis, matanya menangkap sosok tubuh di dapur itu tanpa penjagaan siapapun.