
Tempat itu begitu akrab di mata andria, penthouse Alec yang membuat andria merasa dirumahnya sendiri, tapi itu berbulan-bulan yang lalu, Andria menarik napas panjang mencoba mengatur napas dan jantungnya yang berdetak.
Gery berjalan di depan Andria mengantarnya dengan sopan sampai di depan pintu dan membukakannya. "Silahkan masuk Miss". Ucap Gery sopan.
Ingin rasanya Andria menarik Gery bersamanya agar dia tidak berdua saja dengan Alec di dalam penthousenya, siapa yang akan sangka apa yang akan dilakukannya padaku ketika kami hanya berdua.
Dengan penuh keraguan Andria melangkah perlahan ke ruangan itu, sepertinya Alec sudah menata ruangan itu seromantis mungkin, ruangan itu disulap menjadi tempat yang begitu romantis dengan lilin sebagai penerangannya, Andria melangkah lebih dalam lagi, dan melihat semua yang disiapkan alec di atas meja.
tiba-tiba saja Alec sudah berada di belakang Andria, membuat Andria sedikit terkejut. "Alec? ucap Andria.
Senyuman lembut menghiasi wajah alec ketika menatap Andria, kecupan hangat menempel di bibir Andria, "Aku menunggumu Andria, jangan menolakku", bisiknya.
Alec menarik kursi untuk Andria dan membiarkannya duduk lalu Alec ikut duduk di hadapannya. Mereka saling menatap membuat jantung andria dua kali berdetak lebih kencang.
Alec menatap Andria, "temani aku malam ini Andria", Ucapnya.
"Temani? apa maksudmu"? tanya Andria menatap alec tajam.
Alec tersenyum tenang, "Apa yang kau pikirkan? tapi boleh juga...aku suka apa yang kau pikirkan membuatku ingin segera melakukan yang ada dalam pikiran cantikmu itu Andria".
Andria memutar matanya, "Yang kupikirkan adalah kau pria brengsek". cemooh Andria menatap sinis Alec tetapi dibalas senyuman olehnya.
"Mengapa kau melakukan ini? kau pikir dengan melakukan semua ini aku akan kembali seperti dulu?". ucap Andria kesal. "Aku tidak peduli dengan apa yang kau lakukan sekarang Alec ! ucap Andria tajam, dia memalingkan wajahnya dari menatap alec. Untuk beberapa saat dia tidak berbicara hanya menatap andria.
"Mengapa kau begitu marah padaku Andria, aku dan wanita itu sudah tidak memiliki hubungan apapun". kata Alec yang menautkan kedua tangannya.
"Aku tidak perduli apa yang akan kau katakan, jangan mendekatiku atau melakukan hal seperti ini, aku tidak akan kembali padamu ! Andria berdiri dari tempat duduknya. Dia menatap alec dengan geram.
"Kau hanya bisa melarikan diri Andria ketika kau memiliki masalah, kau bahkan tidak mendengarkan aku dan pergi begitu saja".
Andria mendengus marah, "Mendengarkanmu? tanpa kau mengatakannya pun semua sudah jelas, aku mau pulang"! bentak Andria. Dia berjalan dengan langkah besar-besar menuju pintu keluar.
Genggaman tangan alec sontak mengejutkan Andria, "Jadi..kau akan lari lagi sebelum menyelesaikan masalah kita"? kata Alec masih dengan ketenangannya, pria ini mengapa dia begitu tenang ketika aku sedang emosi, bahkan dirinya menggebu-gebu ketika menahan amarahnya.
"Aku menganggapnya selesai, puas"! jawab Andria.
"Tapi aku belum selesai"! ucap alec, suaranya sedikit meninggi, mereka lalu saling menatap.
Dia menarik tangan Andria tetapi Andria menghempaskannya, "lepaskan aku"! bentaknya kasar. Bunyi ponsel alec mengalihkan perhatian keduanya. Alec mengambilnya, "Ok, sebentar lagi Aku akan ke sana", ucapnya.
"Kita tunda dulu makan malam kita andria, aku harus pergi". Ucapnya dengan tergesa-gesa.
"Gery antar nona Andria kembali ! perintahnya melalui ponselnya, dia segera mengenakan jasnya dengan terburu-buru, dia menghampiri Andria dan hendak menciumnya tetapi Andria menolaknya dengan memalingkan wajahnya.
Alec lalu hanya mengecup keningnya lalu segera pergi terburu-buru. "Apa yang membuatnya tergesa-gesa seperti itu? Andria kemudian membuka pintu penthouse Alec dan Gery sudah berdiri di sana menunggunya.
~
Andria menghentikan kegiatannya dan menatap ayahnya. "Ayah ingin bicara denganmu Julia, bagaimana jika kau melanjutkan studimu"? kata ayahnya. Andria tidak heran akan pembicaraan ini, dia telah menyandang nama Anderson dibelakang namanya, dia tidak boleh mempermalukan nama keluarganya, Meskipun begitu Andria mengiyakan segala yang dikatakan ayahnya.
~
Sudah seminggu lebih andria mulai dengan kesibukannya, andria mengikuti perkuliahan di salah satu universitas terkenal di Vancouver untuk mengisi kegiatan kosongnya kadang dia ke cafe membantu doughlas dan selama itu pula kabar tentang alec sama sekali tidak terdengar.
"Ada apa ayah? apakah terjadi sesuatu? tanya Andria yang baru saja pulang dari tempat perkuliahannya dan melihat ayahnya memijit-mijit Tengkuknya di ruangannya.
"Ayah akan membatalkan perjanjiannya, meskipun Mr. Alexander bersikeras, aku tidak akan menyerahkamu Julia". Andria menatap ayahnya sama sekali tidak mengerti apa yang di ucapkannya, lalu matanya menatap koran yang di pegang oleh ayahnya.
Andria mengambil koran itu dari tangan ayahnya dan mulai membacanya perlahan, "Tunangan Mr. Alexander masuk rumah sakit karena percobaan bunuh diri", Ucap andria.
Andria mengenali wajah yang ada di koran itu, dia adalah wanita 6 bulan lalu yang ditemui andria di kantor Alec. "Mengapa dia ingin bunuh diri"? tanya Andria pada ayahnya.
"Mr. Alexander memutuskan pertunangan mereka beberapa bulan yang lalu dan wanita itu mencoba menghabisi nyawanya sendiri karena dia tidak rela bayinya nanti tidak memiliki seorang ayah".
"Apa? bayi..? Andria terkejut mendengar ucapan ayahnya.
"Ya, menurut berita yang ayah dengar bayi itu milik Mr. Alexander yung, entahlah beritanya simpang siur Andria. Kata ayahnya lelah. Andria menggigit bibirnya dan merasakan sakit di ulu hatinya, dia segera keluar dari ruangan ayahnya dan masuk ke dalam kamarnya.
Ponselnya kemudian berdering di atas meja belajarnya, Andria melihat nomor yang dikenalinya, itu nomor Alec, mengapa pria brengsek ini meneleponnya seharusnya dia mengurusi saja tunangannya yang hamil itu. Andria mengacuhkan teleponnya dan memasukkan ke dalam lacinya. Andria memastikan jendela dan pintunya terkunci rapat agar tidak ada seorangpun yang bisa menyelundupkan dirinya ke dalam kamar Andria seperti alec waktu itu.
Dadanya terasa sesak, Andria berbaring di atas tempat tidurnya dan tanpa terasa air matanya mengalir di pipinya, dan dia membencinya.
~
Hari itu Andria begitu lelah, dia baru saja selesai dari tempat kerjanya di cafe doughlas, dia berjalan di trotoar dan menunggu bis, Andria bersikeras agar dia tidak di jemput, dia ingin merasakan hari-harinya yang dulu ketika dia masih tinggal di flatnya, dan dia lebih nyaman untuk naik bus.
Dia merekatkan jaketnya sambil menunggu bus yang tidak kunjung datang, dia lalu berbalik dan berjalan di sepanjang trotoar berharap dia menemukan taksi, suara klakson berbunyi dari arah belakangnya, membuatnya berhenti berjalan.
Seseorang membuka pintu mobilnya, Andria belum melihat jelas siapa dia, "Andria? apakah itu kau? ucapnya. Andria memandangi wajah Ronan yang tersenyum lebar menatapnya.
"Ro..Ronan"? ucap Andria yang begitu terkejut, sejak peristiwa yang terjadi waktu itu, dia sama sekali tidak pernah mendengar kabar tentang Ronan.
"Apa yang kau lakukan malam-malam begini Andria"? tanyanya dengan wajah khawatir.
"Er..aku baru saja selesai dari bekerja". ucap Andria menatap seseorang yang duduk di samping kemudi. "siapa Ronan"? tanya seorang wanita cantik yang baru saja keluar dari mobil Ronan.
"Oh ya Andria ini Ashley Cole rekan kerjaku". ucap Ronan, tetapi wanita itu memukul bahu Ronan dan tersenyum, "dan juga kekasihnya". sambungnya. Ronan tersenyum dengan salah tingkah.
"Hai, aku Andria senang berkenalan denganmu", Kata Andria sopan. Ronan terlihat bahagia bersama wanita itu dan Andria bersyukur karena Ronan kembali dengan sikapnya seperti saat dia berada di Seattle.