
"Jadi, ada acara berkunjung? dan dimana tempat itu?" Ronan bertanya padaku membuka pembicaraan. Aku meliriknya sebentar.
"deluxe enterprais." jawabku singkat. Dia lalu mengerutkan alisnya.
"Aku bekerja di sana Andria, kebetulan sekali ya?" Dia tersenyum lebar, aku memandangnya dengan wajah datar.
Kami akhirnya sampai di gedung menjulang itu dengan 75 Lantai dan mobil mewah yang
terparkir disana sini, aku merasa pakaianku sangat berlebihan mengingat setiap harinya aku hanya memakai kaos atau kemeja butut, Dan aku ternganga, penampilanku sepertinya tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan keseluruhan gadis-gadis sekelasku, sampai aku tak mengenalnya lagi, mungkin karena make upnya yang tebal atau rok pensil yang berukuran sangat mini atau blazer dengan tali spageti yang sengaja di biarkan terbuka. Aku berdiri takjub dan merasa ronan terkekeh di sebelahku, aku menatapnya sebal.
"Sepertinya pakaianmu berlebihan." ejeknya.
Aku berpaling darinya berjalan maju dan pergi begitu saja. Aku berdiri di lobi tanpa seseorangpun yang menyapaku tentu saja dengan beberapa lirikan kaget, atau mata membelalak melihat penampilanku.
"Andria?"
Aku berbalik dan menatap mata hijau bersinar sedang menatapku.
"Wow, kau erm...tampak berbeda." Aku berusaha memutar mataku pada chris yang tak berhenti tersenyum dan mengalihkan pandanganya seakan aku obyek lukisan, dan aku menangkap mata biru ronan, cengirannya seketika lenyap, ketika wajahnya memandangku lalu berganti memandang pria di sebelahku lalu menaikkan alisnya.
Aku menggertakkan gigiku, jika saja aku tidak masuk ke sekolah konyol ini aku tak perlu memandang wajah chris yang selalu berdiri di sisiku dan wajah permusuhan ronan yang sama sekali aku tidak mengerti.
Seorang wanita dengan lipstik penuh tengah berdiri memberikan penjelasan-penjelasan akurat yang aku tidak mengerti tentang perusahaanya. Dia mengantar kami berkeliling, Nampak sekali keantusiasan sekelasku yang wanita, tentu tidak lupa menjulurkan kepala mencari-cari wajah-wajah tampan.
Aku berjalan menunduk dengan terseok seok, kapan ini berakhir? Setelah itu kami di kumpulkan di aula yang luas dan berderet-deret kursi, setelah semuanya duduk rapi. Maka tibalah pidato bla bla bla dari Mrs.jacob pujian yang menjilat, dan terdengar tepuk tangan yang meriah, aku mendongak memaksa wajahku menatap ke depan, aku mendengar bisik-bisik di sebelahku.
"CEO katanya." ucap mereka yang berada di sampingku.
Siapa itu? Dengan malas aku menatap CEO itu, dia memperkenalkan dirinya.
"Selamat siang, aku Alec alexander yung, sangat senang mengundang anda semua untuk lebih mengenal dunia kerja di deluxe enterprise, meskipun kalian semua harus kuliah dahulu."
Aku tak mendengar selanjutnya, aku mulai bosan. Mataku menatapnya tapi pikiranku kosong.
~
Alec Alexander Yung. (POV)
Mana dia? aku mencari di lautan blezer berwarna warni, apa dia datang? dia pasti
datang, jumlah siswa dan siswi di kelasnya 27 dan aku menolak kurang dari itu. Sial ! Aku harus berkonsentrasi sebelum aku mengumpat tanpa sadar yang mana sering kulakukan sejak bertemu dengannya.
Kenapa aku tak menemukannya? pidato membosankanku hampir berakhir dan aku tak juga melihatnya. Kuakhiri pidatoku dengan sedikit kekecewaan di wajahku.
Mrs.jacob naik lagi ke podium dan dengan bangga memberitahukan kepada para siswanya bahwa tuan alec dengan senang hati akan memberikan sertifikat kepada kita semua.Tepuk tangan yang keras diiringi dengan nama-nama yang di panggil ke podium untuk mengambil sertifikatnya.
Aku merasakan dentuman-dentuman aneh di jantungku, aku memutar mataku apa aku sedang tegang? yang benar saja, aku hanya harus melihat wajahnya dengan jelas. pikir alec.
Mrs.jacob memulai mengabsen dengan nama "Audrey redriquez." ucapnya
Aku mendengarkan dengan seksama panggilan nama-nama yang disebutkannya.
'Hm...bukan dia.' ucapku.
'bukan nama favoritku.' bisikku.
"Lalu avanagh jake."
'Hm aku tak suka dengan nama jake.' pikirku...Lalu jantungku mulai berpacu aneh mendengarnya.
"Az kim Alexandria."
Mataku terpaku padanya, diakah itu? Sosok itu? berjalan dengan wajah dingin cantik, rambutnya terurai rapi dengan kemeja biru dan blezer hitam dan celana hitam kontras sekali dengan kulit gading pucatnya, wajahnya seperti wajah wanita latin eksotis sangat cantik namun sederhana.Tanpa mengalihkan pandangan dari wajahnya sampai dia berdiri di hadapannya, aku tersenyum, menatap dan merekam wajah latinnya, memberikannya sertifikat tanpa ada senyum tidak seperti temannya yang lainnya yang memperlihatkan senyum remaja amerikanya.
"Ini sertifikatnya miss Andria atau Miss Az."
Alec tersenyum karena mendapat balasan wajah terkejut dari gadis yang berdiri di hadapannya.
~
Az kim Alexandria (POV)
Tempat itu sangat luas, berwarna putih dan lukisan besar mewah besar menggantung di
dinding putih, hm..aku benci suasananya yang terlalu mewah..meskipun tak istimewa bagiku, aku menatap teman-teman sekelasku dengan sangat antusias dan mulutnya tidak berhenti dengan kata wow.
Mereka terkikik melihat pria-pria dengan berjas yang memasuki ruangan luas itu.
"Astaga ada apa dengan pria berjas gadis-gadis itu terlihat konyol." gumamku.
wajahku bersinar sinis, dan aku tertarik melihat salah satu pria berjas hitam kemeja putih linen, rambutnya hitam menggantung, tinggi ramping, dan wajahnya seorang pebisnis kuat dan kejam.Tapi ada satu hal yang membuatku memandangnya, karena pria itu memanggilku Az, seperti dia tahu aku saja, Akhirnya segala jenis sajian di hidangkan di sana, rasanya aku ingin membanting meja itu, aku muak, ingin segera melepas pakaian konyol ini.
Aku keluar dari ruangan sesak itu, berada di balkon setinggi 30 kaki. Aku suka angin yang
menerpa wajahku, aku menutup mata menghirup dalam-dalam udara segar, sampai sesuatu menampar hidungku dengan bau cologne, aku seketika berbalik.
"Halo, apa yang kau lakukan di sini?"
Dia pria berjas yang memanggilku Az, dan erm...aku lupa nama pria ini tapi seingatku dia seorang CEO begitu mereka menyebutnya. Dengan wajah datar patenku dan berkata jujur aku menjawabnya.
"Menghirup udara segar." Dia kemudian tersenyum mendengar Jawabanku tapi wajahnya terlihat dingin.
"Jadi, miss Az..bagaimana pendapatmu tentang perusahaanku?" Aku mengerutkan alisku tak suka dengan sebutan Az, seakan dia mengetahui siapa aku.
"Kenapa anda memanggilku Az?" Dia memiringkan wajahnya menatapku sinis.
"Jadi, kau mau di panggil dengan sebutan apa? Andria?" Dia menungguku menjawab, aku menatapnya jijik.
"Siapa anda sebenarnya? Apa yang anda ketahui tentangku?" Suaraku keras datar, Wajahku berkilat dingin, dan sedikit
mencemooh.
Sial ! orang ini iblis aku benci melihatnya. Dia tersenyum, tidak tersinggung dengan sikap antagonisku, wajah tampan yang jahat.
"Pertanyaan yang bagus miss Az, Tapi sedikit banyak aku mengetahui tentangmu, Juga tentang kecelakaan serta pembunuhan yang selalu terjadi didekatmu."