Her Secret

Her Secret
Kemarahan Alec 2



Seminggu telah berlalu tetapi Alec masih berada di Portland, dia duduk di kursi kerjanya masih menerima laporan-laporan dari Gery tentang Andria, "Sir, hari ini nona Andria tidak menelepon lagi". Ucap Gery dengan ragu mengatakannya.


Alec memutar kursinya lalu mengeluarkan ponselnya dia kemudian menelepon andria, tetapi tidak ada jawaban dari andria, dia menelepon lagi tapi Andria tidak juga mengangkatnya. "Apa saja info yang didapatkan oleh orang yang bertugas menjaga Andria". Tanya alec.


"Erm, nona seperti biasa melakukan rutinitasnya sehari-hari kuliah dan terkadang kerja di cafe doughlas serta berkumpul bersama teman-teman kampusnya untuk mengerjakan tugas kuliahnya". Kata Gery cepat.


"Berkumpul bersama teman-temannya"? ucap alec geram.


"Apakah hari ini dia meneleponmu". tanya alec. "Tidak sir". Ucap Gery menatap alec ragu-ragu.


Bibirnya menipis, "kita berangkat ke Vancouver". Ucap alec tegas.


"Baik sir".


Andria menatap berapa kali panggilan di ponselnya, dan dia mengacuhkannya, dia berjalan ke ruangan ayahnya dan mengetuk pintu kamar ayahnya.


"Masuk". Terdengar suara ayahnya dari dalam ruangannya.


"Ada apa sayang? apa kau baik-baik saja"? tanya peter, dia melepaskan kaca matanya lalu menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya, "Ayah tampak letih". Ucap Andria memperhatikan garis di kening ayahnya yang berkeringat dan berkerut.


"Ayah tidak apa-apa, jadi bagaimana dengan Mr. Alexander? bagaimana kabar pernikahan kalian". Ucap Peter memperhatikan Andria yang tidak antusias.


"Entah, dia sedang sibuk", kata Andria acuh.


"Dad? bolehkah aku berlibur? aku ingin berkeliling Eropa", ucap Andria cepat.


"Eropa? apakah tidak apa-apa Andria, bagaimana dengan kehamilanmu kau tidak boleh terlalu capek Andria" Kata ayahnya.


"Apakah kau bertengkar dengan Alec"? ucap ayahnya yang menatap wajah Andria dengan mendengus.


Andria tidak menjawabnya, dia hanya memainkan pulpen yang ada di tangannya. "Dad? apakah ayah punya villa di Vancouver? ok aku tidak akan berkeliling Eropa, tapi aku hanya ingin memikirkan semuanya dan beristirahat di sana untuk menjaga kehamilanku", Ucap Andria yang menatap wajah ayahnya yang lelah.


"Ayah punya beberapa, kau ingin di pulau yang mana Andria"? tanya sang ayah. "Dimana saja dad, aku ingin sendiri dulu menenangkan pikiranku".


"Baiklah sayang, sebaiknya memang begitu kau harus istirahat total dan menjaga tubuhmu dan cucuku". ucap sang ayah sambil tersenyum.


~


Andria kini telah berada di bandara, dia telah tiba di salah satu villa milik keluarga Anderson yaitu di dekat VanDusen Bitanical Garden merupakan sebuah taman yang berada di Oak Street, Shaughnessy. Pemandangannya sangat indah dan udaranya sangat bersih, hanya berjalan beberapa menit dari villa tempatnya tinggal dia bisa mengunjungi taman yang terkenal di Vancouver itu.


Andria tidak mengatakan villa mana yang dikunjunginya, dia hanya memilih secara acak lalu esok harinya dia sudah berangkat, Andria kini membaringkan tubuhnya yang letih setelah tiba di villanya, dia memijit-mijit keningnya, sakit kepalanya kini sudah berkurang semenjak Rowena telah mendekam di penjara. Andria tidak melihat kesedihan yang dipancarkan ayahnya sebaliknya dia terlihat lebih tenang dan santai semenjak Rowena menghilang dari kehidupan ayahnya. Andria lalu memperhatikan di sekelilingnya, tempat yang indah dan udara yang sejuk membuat Andria begitu rileks.


Tempat ini sangatlah indah dan tenang. Villa milik ayahnya tidak jauh berbeda dengan sebuah apartemen yang mewah, setelah dia datang beberapa pelayan telah berada di sana menyediakan segala keperluan Andria.


Andria kembali menatap layar ponselnya sambil berbaring, telepon dari alec ke 7 kalinya. Andria melempar ponselnya, kenapa dia meneleponnya bukankah dia sangat sibuk dengan rapat-rapatnya dan wanita itu? pikir Andria geram.


Bunyi dari ponselnya membuat Andria membuka kedua matanya yang hampir menutup. Dia menatap pesan dari alec, lagi-lagi dia mengirim pesan dengan marah.


'Angkat ponselmu Andria'.


Andria membalasnya dengan marah, 'Kupikir kau sedang sibuk rapat dengan Jessie kecilmu'. Andria lalu mengirimkan pesan itu dan menonaktifkan ponselnya. Dia melempar ponselnya dan menutup kedua matanya.


~


Alec menatap balasan dari pesan yang dikirimkan Andria padanya. "rapat dengan Jessie kecil"? Alec bingung dengan pesan Andria ini, kemudian dia mengingat dua hari yang lalu mereka makan siang sehabis rapat tetapi bukan hanya dengan nona Weakhly saja beberapa rekan bisnisnya ikut makan bersama mereka, dimana Andria mengetahuinya? pikir alec, dia telah tiba di bandara airport Couver, Gery telah menunggu alec dan membukakan pintu mobil untuknya di parkiran.


Setelah masuk ke dalam mobil, Alec kembali menghubungi Andria tapi ponselnya tidak aktif. "Sial"! umpatnya. Dia melempar ponselnya begitu saja.


"Er..sir, em kita kehilangan keberadaan nona Andria, orang yang biasa mengikuti nona Andria tidak menemukannya di manapun". Ucap Gery.


"Pecat dia ! Apa yang dilakukannya? mengapa dia bisa kehilangan jejak andria? bentak Alec.


~


Sebuah mobil Audi berwarna hitam berhenti tepat di kediaman Anderson pagi itu, Alec lalu keluar dari mobilnya dan segera bertemu dengan ayah andria. Alec sekarang berada di ruangan Mr. Anderson, "Bagaimana kabar anda Mr. Alexander"? tanya peter dengan wajah yang datar.


"Dimana Andria Mr. Anderson"? tanyanya.


Ayah Andria bersandar di kursi, tanpa menjawab pertanyaan Alec, "Apakah kau masih berniat menikahi putriku? tanya Mr. Anderson ragu.


"Tentu, mengapa anda berbicara seperti itu". Kata Alec tidak senang mendengar pertanyaannya.


"Andria berpesan padaku, dia ingin menenangkan pikirannya dan memikirkan semuanya", Ucapnya.


"Memikirkan semuanya? apa maksudnya"? geram Alec.


"Entahlah, tapi kali ini Andria ingin sendiri".


"Dimana Andria Mr. Anderson"? tanya alec tidak sabar.


"Andria melarangku memberitahu siapapun, tapi...aku ingin dia berbahagia dan tidak sendiri apalagi dia sedang hamil". Ucap Peter matanya berkilat menatap Alec.


"Aku ingin bertanya satu hal padamu Mr. Alexander, bagaimana perasaanmu kepada putriku". Matanya tajam menatapnya.


"Aku sangat mencintainya". ucap alec merasakan sesuatu getaran yang aneh di dadanya membayangkan Andria tidak bersamanya membuatnya hampa dunianya terasa kacau, selama di Portland dia sangat merindukannya.


"Andria berada di salah satu villa milikku, Vancouver sebelah Utara tepatnya VanDusen Bitanical Garden.


Tanpa menunggu lagi Alec segera berangkat ke tempat Andria berada. Sedangkan Andria sekarang ini sedang menikmati waktunya duduk di taman sambil merilekskan tubuhnya, meskipun dia tidak mual-mual seperti wanita hamil pada umumnya tetapi ketika pagi hari kepalanya sedikit pusing dan dirinya merindukan wangi dari tubuh alec tetapi dengan keras kepala Andria tidak mau mengakuinya, dia selalu mengatakan dirinya baik-baik saja.


"Hai, permisi nona boleh aku bertanya? seorang pria dengan memegang kamera sedang mengabadikan beberapa tempat dengan kameranya, Andria menatap pria dengan wajah tampan berkulit putih dengan rambut coklat perunggu dia mengenakan kemeja kotak-kotak dan mengalungkan kamera di lehernya.


"Iya tentu, ada apa"? tanya Andria menatapnya.


"Bolehkah aku memotretmu? Wajah cantik anda sangat cocok jika dipadukan dengan taman indah di sini, jika anda tidak keberatan". Ucap pria itu. Andria menatapnya, sebenarnya dia tidak suka jika ada yang memotretnya,


"Erm sorry aku...


"Aku tidak akan mengizinkannya". Ucap seseorang yang berjalan di belakang Andria yang sekarang menghampirinya dan memeluknya.


"Aku tidak bisa mengizinkan istriku di potret". Kata Alec dengan nada mengancam sehingga pria itu mundur dan menaikkan alisnya, "Oke, saya permisi". Dia lalu pergi meninggalkan mereka berdua.


Andria menatap alec dengan marah, "Mengapa kau di sini"? tanya Andria yang melepaskan pelukan Alec dari pinggangnya.


"Dan aku belum menjadi istrimu"! ucapnya.


Alec menatapnya tetapi bibirnya berubah menjadi sangat tipis karena menahan kemarahannya. "Suka atau tidak kau akan menjadi istriku ! bentaknya, "Dan apa yang kau lakukan duduk di sini seorang diri, kau tidak tahu di sini berbahaya". Ucap alec dengan marah.


"Bukan urusanmu"! kata Andria dia lalu berjalan meninggalkan Alec, tetapi Alec menyusulnya, "Andria dengarkan aku". Andria tetap berjalan seakan tuli dengan teriakan Alec di belakangnya.


Dengan sigap alec lalu menggendong tubuh andria di pelukannya, sehingga Andria meronta-ronta, "Alec turunkan aku sekarang"! teriaknya.


Tetapi Alec sama sekali tidak menghiraukannya, "Jalan ini akan membuat tubuhmu lelah", ucap alec tidak memperdulikan pukulan-pukulan Andria di tubuhnya.


"Bukankah kau tidak perduli padaku ! mengapa kau tidak bersama jessiemu saja". teriak Andria marah, membuat alec berhenti berjalan, tiba-tiba saja Alec mencium Andria hingga membuatnya kesulitan bernapas, dia melepaskan ciumannya dan berbicara lalu mulai berjalan lagi.


"Jangan mengatakan yang tidak-tidak Andria, aku tidak memiliki hubungan apapun dengan wanita lain selain dirimu". Ucap alec marah.


Andria memukul-mukul tubuh alec agar dia menurunkannya, tetapi Alec tidak memperdulikan pukulan Andria di tubuhnya hingga mereka sampai di villa, dan menurunkan Andria di atas tempat tidur. Dengan marah Andria melemparkan bantal-bantal yang di berada di atas tempat tidur ke wajah Alec.


"Mengapa kau datang? kau pergi selama seminggu dan tidak menjawab teleponku dan sekarang kau datang kepadaku dengan sikap aroganmu itu seakan-akan tidak terjadi apa-apa", Teriak Andria menangis, entah mengapa air matanya sangat mudah mengalir di pipinya, dengan lembut Alec mendekati Andria dan memeluknya, "Aku tidak akan minta maaf Andria ini hukuman untukmu yang selalu pergi dariku, kau sama sekali tidak mendengarkan aku", ucap alec lembut, dia memeluk Andria dan mengecupnya perlahan. "Aku tidak mungkin pergi darimu aku mencintaimu Andria", bisiknya.