Her Secret

Her Secret
Her secret season 2



Hay teman-teman readers 😊 Kali ini Her secret season 2 update lagi hehe, moga teman-teman suka ceritanya..makasih🙏 jangan lupa ya like dan Comentnya selalu kutunggu ^_^


💕💕💕


'Aku tidak pernah keberatan menunggumu berapa lama pun selama aku mencintaimu.'


~A.L.



Langkah sepatunya terdengar begitu ringan, sebuah senyuman terukir di wajahnya yang cantik namun umur tidak bisa menutupi tubuhnya yang sudah menua. Rambutnya yang memutih sudah menutupi sebagian keindahan rambutnya yang bergelombang indah.


Sebuah ruangan yang cukup kecil membuatnya sedikit mengernyit heran, "Dimana pengacaraku?" tanyanya.


Opsir yang membawanya hanya berdiri di dekat pintu tanpa menghiraukan gerutuan di mulutnya yang berwarna merah.


Seorang pria dengan kacamata hitam yang berbingkai di wajahnya sedang membuka pintu itu, lalu duduk dihadapan Rowena dengan melengkungkan bibirnya.


"Tuan Anderson sedang sakit keras, dia sekarang berada di rumah sakit Vancouver."


Ucapnya sambil membuka kopernya.


"Benarkah? aku tidak mendengar itu semua, anak itupun sudah lama tidak menjengukku lagi." Wajahnya merenggut dengan wajah sedikit jijik.


"Ugh, sudahlah bagaimanapun aku sudah membesarkan anak tidak tahu terima kasih, lagi pula darah yang mengalir dari dirinya pun membuatku ingin melupakannya, siapa ayahnya ! tentu saja hanya aku yang tahu, ugh pria membosankan." Pria yang masih berkutat dengan kertas-kertas di hadapannya Sepertinya tidak mendengar sedikitpun kata-kata Rowena.


"Jadi, kapan aku di bebaskan?"


"Masa tahananmu masih cukup lama nyonya Rowena, dan selama anda berada di sini sikap anda tidak bisa dikatakan lebih baik lagi, dan hal itu membuatku kesulitan." ucap pria itu.


"Cih, aku tidak perlu bantuanmu untuk keluar dari sini dengan cepat." Seringainya membuat pria itu sedikit memiringkan kepalanya, memikirkan apakah ada cara lain mengeluarkannya dari sini?


Rowena tersenyum puas, 'Leon De lucas', dia yang akan mengeluarkan aku dari sini, kau akan tahu betapa berbahayanya jika kau berhadapan dengannya. Seringai itu membingkai di wajahnya, dua officer kembali membawanya ke jerujinya. 'Aku akan menunggumu.'


~


Akhir pekan yang menyenangkan bagi kein yang sekarang sedang bermain lemparan salju bersama teman-temannya di park akhir pekan itu. "Berhenti melempar Walter aku lelah." Teriak kein menghempaskan tubuhnya di salju yang menumpuk seperti pegunungan.


"Mom akan melarangku bermain lagi di park ini jika bajuku basah semua, ini semua salahmu walter harusnya kau tidak menyerangku." Ucap kein sambil menggerakkan kedua kaki dan tangannya di salju yang lebat itu.


Ponselnya berdering membuat kein terbangun, menatap layar ponselnya "Mom?" pekiknya.


"Hei aku harus pulang, besok aku akan meneleponmu Walter, beritahu Josh kumpul di park ini." teriak kein sambil membersihkan salju-salju yang menempel di bajunya.


~


"Sudahlah Alec, sebentar lagi kein akan pulang, dan lagi pula apa kau tidak malu jika abelyn memandangmu." ucap Andria yang sedang menahan desahannya di pelukan Alec .


Suara kecil Abel yang berumur 3 tahun sedang berkutat dengan mainannya yang menumpuk di ruangan bermainnya.


Jack seperti tidak mendengarkan perkataan Andria. "Alec!" desahnya, Alec tersenyum puas lalu menatap andria dan mulai menjalankan aksinya.


Suara pintu yang dibuka membuat Andria tersadar dari gairahnya, "Kein sudah pulang Alec." gumam Andria yang terbangun dan mulai memungut satu persatu pakaiannya yang berada di lantai.


"Aku akan melanjutkannya malam ini sayang." ucap alec membuat Andria berbalik dan menarik tubuh alec dan memberikannya pelukan panjang.


"Oke aku akan menunggunya." Senyumnya.


~


"Bagaimana dengan sekolahmu kein?" tanya alec memandang putranya yang lagi makan siang.


"Baik dad, hari ini aku mengerjakan tugas dari sir Walkin". Ucap kein yang menyendok kembali makanannya.


Alec menaikkan satu alisnya lalu menatapnya dengan meminta jawaban yang jujur. "Selain tugas sir walkin kau pergi kemana saja?" tanya alec.


"Aku hanya bermain di park diujung jalan dad, hanya bermain salju-saljuan bersama Josh dan walter dan kami tidak melempari orang dengan salju", Ucap kein jujur.


Andria membawakan makanan penutup lalu meletakkan di atas meja. Andria mengecup puncak kepala putranya dan menatapnya yang lagi makan.


"Malam ini kerjakan PR lalu tidur sayang, berhenti berwalkie talkie bersama Walter dan Josh, ibu akan mengetahuinya."


"Oky mom."


Andria mengerutkan alisnya, "Aku bisa mendengar pembicaraan kalian ok!" kata Andria. Kein hanya menaikkan bahunya kepada ibunya.


Andria menggendong putri kecilnya lalu bersenandung di depan jendela rumahnya, tidak ada yang aneh dari pekaranganya yang di penuhi salju yang menumpuk, meskipun sebagian dari pohon-pohon yang bersulur sudah ditutupi oleh salju yang memutih dan mengkilap.


Sebuah mobil sedan besar berwarna hitam berhenti di depan rumah keluarga Alexander, seorang pria turun dari mobil itu lalu mengamati di sekelilingnya sampai matanya memandang dari kejauhan seorang wanita yang sedang menggendong bayi kecilnya.


Dia melangkah sebentar lalu mengamati tiap sudut rumahnya, gerakannya tiba-tiba berubah ketika melihat mobil Audi berwarna silver sedang berbelok di tikungan jalan, dengan cepat pria itu naik ke atas mobilnya, dengan melirik sekali lagi rumah itu, "Bergerak bruno." ucapnya.


"Baik sir".


~


Malam kian larut, tetapi Alec masih berkutat dengan pekerjaannya yang menumpuk di atas meja, kali ini dia begitu sibuk karena beberapa meeting di luar kota Vancouver menyita begitu banyak waktunya sehingga kebersamaannya dengan Andria begitu kurang.


pintu berderit membuat alec mengangkat kepalanya lalu menatap Andria yang sedang mengenakan pakaian yang cukup membuat alec mengeras, dia tersenyum miring menatap Andria yang menyilangkan kedua tangannya sambil bersandar di pintu kerjanya.


"Masih sibuk sir"? ucap Andria menggoda alec.


Kedipan Alec membuat Andria berjalan pelan menuju alec, tangannya yang terbuka membuat Andria duduk dibatas pangkuan alec lalu menarik kerah bajunya agar lebih mendekat padanya.


Tanpa ragu Andria menarik dagu Alec kearahnya dan mereka akhirnya bercumbu melepaskan rindu, setelah melepaskan hasrat Andria dan alec yang menggebu-gebu, mata hitamnya menatap punggung istrinya yang terlelap tidur di sampingnya dia mengecup kepalanya. "Aku akan menyelesaikan dengan cepat semuanya sayang lalu kita bisa berlibur bersama." Alec kemudian bangkit dari tempat tidurnya dan kembali ke ruangannya lalu kembali berkutat dengan pekerjaannya.


Hari ini alec akan berangkat ke Portland, berkat perusahaan keluarganya yang meluas di beberapa kota di Amerika membuat alec begitu sibuk sehingga waktunya betul-betul kurang untuk berkumpul dengan keluarganya.


~


"Aku akan segera kembali sayang, jangan lupa meneleponku Andria." ucap alec sambil mengecup andria.


"Tentu Alec." senyum Andria mengembang, sementara abelyn melompat-lompat ke tubuh ayahnya ingin di gendong, beberapa menit pelukan dan ciuman yang diberikan Alec kepada kedua anaknya, dan akhirnya berangkat.


Alec menatap dari kaca spion keluarga kecilnya yang melambai padanya, dia berjanji akan segera pulang.