Her Secret

Her Secret
Memilikimu



Andria membuka matanya dan merasakan tubuhnya terasa panas dan berat, seseorang memeluknya dari belakang dan menempelkan tubuhnya. Napas teratur terdengar dari belakangnya. Andria mencoba membuka matanya yang terasa berat dan gelap, dia merasakan sakit di seluruh tubuhnya.


Ingatannya kembali ketika Alec membawanya paksa ke mansionnya, dirinya memberontak di tubuh alec, dia tidak melepaskan cengkraman tangannya kepada Andria. Matanya menatap tajam, napasnya yang memburu dan kasar menjelajahi setiap inci tubuh Andria hingga akhirnya Alec menyentak dirinya di tubuh andria.


Malam itu Alec telah memilikinya, rasa sakit di tubuh Andria mulai dirasakannya ketika dia terbangun, pelukan erat Alec terasa sangat menyakiti dirinya. Andria mencoba bergerak tetapi Alec semakin memeluknya erat.


"Andria kau sudah bangun"? bisik alec di wajahnya. ketika merasakan pergerakan Andria.


Andria memalingkan wajahnya darinya.


"Apakah masih nyeri"? tanyanya. Andria mengambil bantal memukul berkali-kali ke arahnya, "kenapa kau melakukannya Alec, aku membencimu"! ucap Andria air matanya mengalir di pipinya.


"Kau sudah menjadi milikku andria". ucapnya tajam. Andria memalingkan wajahnya tetapi alec menarik Andria kedalam pelukannya. "Ini caraku mencintaimu, karena kau selalu lari dariku andria".


Alec menghapus air mata Andria dan memeluknya.


"Kita menikah"! tegas Alec.


Andria membelalakkan matanya menatap alec di dalam kegelapan.


"Alec, apa yang....",Ciuman singkat mendarat dibibir andria. "Besok aku akan bertemu dengan ayahmu, aku akan melamarmu secara resmi di depan keluargamu, aku tidak ingin kita tunangan, kita akan segera menikah". tegasnya.


"Alec"! ucap Andria.


"Kenapa kau memutuskan segalanya sendiri? kau egois Alec". gumam Andria.


"Aku memang egois untuk memilikimu sesegera mungkin Andria, aku benci kita terpisah dan berputar-putar seperti ini, bahkan jika kau menolakku pernikahannya akan tetap dilaksanakan". Ucap alec sambil mengecup leher Andria dan berlama-lama di sana.


"Kau harus menjadi milikku". bisiknya.


~


Terasa sangat janggal, pikir rowena yang memantau disekelilingnya, dia mendapati nenek tua itu sedang menikmati sarapan paginya tanpa kata-kata kasar keluar dari mulutnya seperti biasa ketika dia melihatku.


"Aneh", ucap Rowena saat menuruni tangga.


Dia duduk dan posisinya tepat di depan ibu mertuanya yang selalu di panggil nenek tua olehnya. Dia hanya menatap Rowena tajam dengan menaikkan bibirnya yang tipis seperti mencela penampilannya.


"Louren ! Dimana nona Andria"? tanyanya.


"Ck untuk apa kau menanyakan cucuku, berhenti bersikap seperti kau ibunya". Kata Mrs Anderson tajam.


"Sudah menjadi tanggung jawabku menanyakan setiap orang yang ada di rumah ini ibu, aku ini istri Peter"! Dia menaikkan alisnya sembari mengiris sandwich di atas piringnya.


Suara dengusan terdengar jelas keluar dari hidung Mrs. Anderson. "Istri? kau menyebut dirimu istri di rumah ini? jadi kau tentu tahu dimana suamimu sekarang"? Katanya sinis, dia menaikkan sudut bibirnya yang tipis menatap menantunya itu.


Rowena tersenyum, "Tentu dia ada di.....". Dia lalu terdiam, "Lauren ! dimana tuan Peter"! bentaknya.


"Dia sudah keluar kota dua hari ini nyonya, sebentar siang tuan akan kembali".


"Ck ck dan sekarang kau menyebut dirimu istri"?


Wajah Rowena betul-betul merah padam, dia terlalu asyik dengan rencananya bersama pria itu, hingga melupakan suaminya sendiri.


Mrs. Anderson berdiri dari meja makan dan menatap wajah Rowena dengan tatapan benci yang sangat membara, "Seharusnya aku menentang pernikahan peter dulu, sungguh sangat malang anakku mendapatkan istri sepertimu". ucapnya, dia kemudian kembali ke ruangannya.


"Nenek tua itu ! suatu hari aku akan.....! Ugh sudahlah, aku tidak harus menguras emosiku hanya untuk dirinya".


~


Mr. Anderson menerima kabar ketika dia baru saja tiba di bandara, beberapa orang-orangnya melaporkan jika putrinya julia sekarang ini bersama dengan Mr. Alexander.


"Sir, telepon dari Mr. Alexander". Kata salah satu pria yang selalu mendampingi Peter.


Dia mengangkat telepon dari alec, suaranya tercekat mendengar apa yang di sampaikan Alec padanya.


"Dimana Julia putriku"? tanyanya panik.


Mr. Anderson segera menelepon ibunya untuk menyiapkan semuanya.


Mr. Anderson masuk ke dalam mobilnya lalu menyandarkan tubuhnya dikursi, dia tahu keluarga Mr. Alexander tidak bisa di tentang apalagi menjadi musuhnya, sebisa mungkin dia harus menghindari hal-hal tersebut tetapi meskipun begitu yang harus dilakukannya pertama kali adalah bertanya kepada julianya apakah dia mencintai pria itu?


~


Pagi itu Andria masih terlelap di tempat tidur, sedangkan Alec sudah siap dengan pakaian kantornya, dia sedang duduk menikmati sarapannya, sambil sesekali melirik Andria yang masih tertidur.


Andria akhirnya terbangun, cahaya matahari yang masuk membuatnya menyipitkan kedua matanya, tubuhnya masih sakit, Andria merasakan dibeberapa tempat bagian tubuhnya yang privat terasa nyeri. "Ugh Alec sialan, apa yang kau lakukan pada tubuhku".


Andria mengambil selimut lalu menggulung di tubuhnya. "Kau sudah bangun sayang". suara Alec membuat Andria terkejut.


"Kemarilah", ucapnya.


"Tidak, aku ingin segera mandi aku sangat berkeringat". Ucap Andria sedikit memundurkan langkahnya.


"Baiklah sayang, perlengkapanmu semua ada di dalam lemari sayang". ucap alec yang membaca koran tanpa memandang Andria.


Alec terlihat sangat rapi dan wangi sedangkan dirinya sangat berantakan, tubuhnya masih di tutupi oleh selimut, rambutnya yang panjang berantakan, dia berjalan dengan kesulitan menuju kamar mandi sedikit meringis menahan sakit diantara kakinya.


Alec mengerling Andria dia sedikit berdecak dengan cepat dia menarik selimut yang menutupi tubuh Andria.


"Alec apa yang kau lakukan"! teriak Andria.


Tanpa banyak bicara Alec mengangkat tubuh Andria ala bridal tanpa mengenakan apapun ke kamar mandi lalu mendudukkan Andria di bathtub yang berisi air hangat.


"Katakan kalau kau sudah selesai". Ucapnya sambil mengecup bibirnya, Andria menyiramnya dengan air tepat setelah dia menutup kamar mandi.


"Alec sialan", gumam Andria. Kini tubuhnya terasa lebih ringan dan tidak terasa nyeri lagi, setelah beberapa lama Andria di kamar mandi dia akhirnya keluar dan mengintip dari pintu apakah Alec sudah berangkat kerja.


"Kenapa kau lama sekali Andria". Ucap alec yang membuatnya terkejut.


Andria hanya mengenakan handuk dan berjalan begitu saja menuju kamar, "Jangan mengikutiku, aku mau pakaian Alec". Andria melipat kedua tangannya menatap alec tajam.


Alec menghela napasnya, "mengapa kau begitu malu, aku sudah melihat setiap inci dari tubuhmu Andria".


Andria melotot dan melemparnya dengan bantal menyuruhnya keluar. "Oke aku akan keluar". Kata Alec gusar tetapi tetap beranjak meninggalkan Andria sendiri di kamarnya.


~


"Aku sudah lelah Rowena, sebaiknya ikuti saja rencanaku, lagi pula menunggumu hamil akan memerlukan waktu yang cukup lama, apalagi Peter suamimu tidak pernah ada di rumah". Pria itu menatap Rowena dengan bosan sambil mengisap cerutunya.


"Kau benar ! Kita lakukan yang kau rencanakan sayang, kita tidak perlu pewaris lain yang begitu saja muncul, sedangkan anakku yang telah begitu lama membantu peter lebih tepat menjadi pewaris Anderson.


"Ya, kau benar sayang, aku yang merencanakan ini jadi jangan kau lupakan bagianku".


"Jangan khawatir kau akan mendapatkannya".


~


Alec sudah berangkat ke kantornya, sedangkan andria akan bersiap menuju kampus, ketika dia membuka pintu kamar tiba-tiba kepalanya terasa sakit dan berdenyut...


"Andria? Kau pasti mengingatnya bukan? dia Rowena yang akan menjadi ibumu.....


Suara ayahnya bergema di kepalanya, wajah kecil yang muram dengan mata tajam memandang wanita itu dengan pandangan tidak suka...


Suara tepukan tangan yang bersorak gembira menyaksikan pernikahan antara Peter dan rowena, wanita itu tersenyum miring menatap Andria kecil yang mendengus padanya, 'mereka telah menikah, wanita itu akan menggantikan ibumu Kenneth, Andria tidak menyukai ide itu..."dia tidak pantas, wanita itu tidak pantas menjadi ibuku"....


'Jadi apa yang akan kau lakukan'? Kata suara-suara di dalam kepala Andria. 'Yang akan aku lakukan? aku akan......


"Miss Andria kau baik-baik saja"? Suara Gery menyadarkan Andria, dia setengah duduk di lantai sambil memegang kepalanya yang berdenyut.


"Aku..aku tidak apa-apa Gery, jangan katakan pada alec, Sepertinya hanya sakit kepala ringan". Andria tersenyum menyakinkan. Gery membawa Andria keparkiran dan membukakan pintu mobil untuknya. Andria mulai mengingat sedikit demi sedikit kilasan masa kecilnya meskipun samar, mengapa begitu sulit untuk mengingatnya? pikir Andria yang mulai penasaran apa yang sebenarnya terjadi ketika dia masih kecil.