
Dentuman musik terdengar dengan keras, hingar bingar orang-orang yang berdansa diiringi dengan sound sistem yang memekakkan telinga, Club itu berada di ruang bawah tanah, seseorang tengah duduk di depan bartender tengah menikmati koktail dan menatap wanita yang sedang asyik berdansa.
Beberapa kali minuman telah diteguknya hingga seorang pria menepuk pundaknya. "Kau disini Ronan, apa kabarmu"? Dia duduk di sampingnya sambil memesan minuman yang sama dengannya.
"Aku baik, bagaimana denganmu doughlas". Dia tersenyum miring. "Kau yakin? kau tidak terlihat baik, memikirkan sesuatu? Kapan kau tiba di Vancouver"?
Ronan mengedikkan bahunya "Em Kemarin siang, ada rapat beberapa hari di kota ini", "Bagaimana dengan lucy? sudah dua tahun kau melarangnya bertemu denganmu". Ucap doughlas sambil mengecap minumannya. Ronan masih minum lalu menatap doughlas.
"Tak tahu, aku tidak pernah tahu kabar tentangnya".
"Kau masih marah dengannya? kata Riley kau jarang pulang ke rumahmu"? ucap doughlas.
"Tidak usah dengarkan dia, Riley memang bermulut besar". Gumam Ronan yang meneguk minumannya sampai habis. "Jadi, bagaimana dengan cafemu berjalan lancar"?
"Yah, lumayan aku tidak terlalu memikirkannya, aku terkadang kesana hanya sekedar menutup cafe selebihnya aku ada di perusahaan, Andria pikir aku hanyalah pria pemalas yang hanya tiduran dirumah".
Suara batuk-batuk terdengar dari Ronan ketika dia minum dan mendengar doughlas menyebut nama Andria. "Kau baik-baik saja". tanya doughlas.
"Apa yang kau katakan doughlas". Seketika Ronan tampak sangat sadar.
Doughlas mengernyit, "Memang apa yang kukatakan"?
"Apa yang kau katakan tadi"? kata Ronan matanya membelalak menatap doughlas.
"Aku hanya datang untuk menutup cafeku"? kata doughlas bingung.
"Bukan, bukan itu selanjutnya kau menyebut siapa"? desaknya.
"Andria pikir aku seorang pria pemalas". ucapnya di sertai kebingungan di wajahnya.
"Ada apa Ronan? kau mengenal Andria"? tanya doughlas.
"Kau mengetahui nama panjangnya". tanyanya lagi. Doughlas berpikir sebentar lalu membuka ponselnya.
"Ah iya aku tahu, kebetulan aku menyimpan data tentangnya, namanya Az Kim Alexandria, dia berwajah sangat cantik dengan gaya cuek yang.....ada apa Ronan"?
Ronan tengah berdiri dan menatap tajam doughlas. "Dimana.dia.sekarang"!
~
"Apakah kau akan membiarkanku berdiri di sini Andria? kau tidak menyuruhku masuk? kata Alec yang masih setia berdiri di depan pintu flat Andria, aku tidak keberatan kalau tempatmu berantakan ok, biarkan aku masuk". Alec mengetuk kamar Andria beberapa kali.
Andria akhirnya membuka pintu kamarnya, lalu menutup setengah hanya wajahnya saja yang terlihat. "ini sudah malam, kenapa kau tidak pulang"?
"Aku akan pulang kalau aku sudah masuk ke dalam, ok..". Kata Alec dengan menahan senyumnya hingga sudut mulutnya berkedut.
Andria akhirnya membuka pintunya dan membiarkannya masuk, Alec menatap ruangan Andria yang tidak begitu luas tetapi nyaman, dindingnya ditutupi dengan wallpaper berwarna karamel dengan garis putih di tengahnya, ruang tamu sekaligus ruang makan dapur lalu kamar mandi, tidak jauh dari jendela yang kecil tempat tidur untuk satu orang dengan beberapa poster artis Hollywood serta lemari dan rak buku kecil di sampingnya.
Alec duduk di tempat tidurnya, memandang sekelilingnya lalu matanya jatuh ke wajah Andria yang masih berdiri menatapnya dengan pandangan menyipit.
"Sudah ! jadi kau boleh pergi aku harus tidur, besok aku kerja". ucap Andria.
Andria menggeram, dia langsung menuju dapur dan membuatkan secangkir kopi untuknya. Alec tersenyum miring menatapnya. Dia mengambil satu buku yang tergeletak di sisi tempat tidur, dan membukanya, beberapa lembar foto bahkan berita tentang keluarga Anderson menempel erat di buku itu . Sebelum Andria berbalik Alec menyimpan kembali bukunya dan menunggu Andria menyiapkan minumannya.
"Trims", ucap alec ketika menerima segelas kopi dari Andria. "Duduklah". Perintahnya sambil menepuk tempat tidur yang ada di sebelahnya.
Andria memilih duduk di meja dapur, dia menjaga jarak didekat alec, sangat buruk untuknya jika dia berdekatan dengan Alec. "Apa kau akan kerja dengan pria Inggris itu"? tanyanya.
Andria mengangguk, "Aku sudah lama kerja di sana". Alec mengambil napas panjang dan menghembuskannya dengan kasar, dia tidak suka dengan kata 'Lama' yang di katakan oleh Andria.
Setelah hening beberapa waktu, akhirnya Alec bertanya padanya. "Kenapa kau pergi Andria? kenapa malam itu kau pergi tanpa mengatakan apapun padaku", tanyanya.
Andria berkedip beberapa kali tidak menyangka pertanyaan itu muncul lagi, tidak mungkinkan jika dia mengatakan kalau dia cemburu? atau mengatakan dia marah karena melihat seorang wanita tengah mencium Alec dengan liar beberapa tahun lalu.
"Aku..aku hanya ingin pergi saja, tidak ada hubungannya denganmu", elaknya.
"Tanpa membawa apapun? bahkan seluruh barang-barangmu kau tinggalkan begitu saja di sana, di rumah pria itu". Kata Alec memicingkan matanya.
"Apa..apa yang kau ingin dengarkan Alec, aku sudah mengatakan semuanya", bisiknya. Alec lalu berdiri menghampirinya dan menarik tangan Andria agar berdiri dihadapannya, dia menarik dagu Andria agar menatapnya.
"Katakan kau menyukaiku ! katakan kalau kau cemburu, Andria". Bisik alec mendekapnya erat dan menghapus jarak antara dirinya dengan Andria.
Alec mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Andria dengan lembut, "Sudah dua tahun lalu aku mengatakan perasaanku padamu, kau masih belum mengerti? aku tidak perduli siapa kau atau masa lalumu Andria, kau masih belum mengerti juga"?!
"Aku...Alec aku....", Ucap Andria ragu, bunyi ponsel alec berdering membuat alec mengalihkan perhatiannya, dia melepaskan Andria dan mengangkat ponselnya, "Halo walch, ok siapkan semuanya aku sudah mengirimkan teks padamu kau tinggal mencari informasi tentang mereka". ucap alec membelakangi andria, dia menutup ponselnya dan kembali menatap Andria.
"Sebaiknya kau pergi Alec, ini sudah larut". ucap Andria tanpa menatapnya.
"Kau mengusirku? Ok, aku pergi Andria, besok aku datang lagi". Kata Alec yang berjalan ke pintu keluar.
"Andria? bisiknya, dia menarik tangan andria kepelukannya lalu melumat bibirnya kasar hingga tubuh Andria menempel di tembok. tidak lama kemudian alec melepaskan ciumannya. "Aku pergi Andria". Dia pun pergi meninggalkan Andria yang masih menempel di tembok dengan napas memburu.
~
Hari ini doughlas tampak aneh, dia berjalan di depan Andria berulang kali, seperti ada yang ingin dikatakannya tapi dia urungkan kembali, "Kau baik-baik saja dough? tanya andria yang sedang memakai celemeknya.
"Oh, ya tentu Andria aku baik-baik saja". ucap doughlas dengan tersenyum paksa, Suara langkah kaki membuat Andria menatap seseorang yang berjalan kepadanya, wajah Andria begitu terkejut, "Ronan? bisiknya.
Mata birunya begitu dalam menatap Andria, ekspresinya begitu keras saat Ronan berdiri di depan Andria yang menatapnya begitu tajam.
"Ronan? apa..apa kabarmu"? Ucap Andria terbata-bata. Tanpa mengucapkan apapun Ronan menarik tangan Andria dan membawanya pergi.
Ronan berbalik ke arah doughlas, "Aku membawanya dough". Dengan setengah hati doughlas menganggukkan kepalanya.
"Ronan jika kau ingin bicara, katakan saja di sini, aku harus kerja". kata Andria tidak suka dengan sikap Ronan yang menarik tangannya begitu keras, dia tahu Ronan marah padanya.
Ronan berbalik menatapnya tajam, otot di rahangnya bergerak-gerak. "Mengapa kau pergi begitu saja Andria, kau tahu bagaimana aku mencarimu? kami sangat khawatir padamu, ibu berpikir sesuatu yang buruk terjadi padamu, dia menyesal setiap harinya karena membiarkanmu pergi waktu itu".
"Aku tahu kalau kau tidak menganggap kami penting untukmu, tapi.. setidaknya kau memikirkan ibuku, dia terus menyalahkan dirinya". Napas Ronan begitu berat dan keras, dia terlihat begitu berantakan, rambutnya acak-acakan serta kemejanya kusut membentuk garis, Suaranya parau dan serak.
"Maafkan aku, Hanya kata itu yang bisa kuucapkan Ronan", Ucap andria. Perlahan otot dirahangnya mengendur, dia menghampiri Andria dan menatapnya lekat-lekat. "Aku sangat mengkhawatirkanmu Andria, kau tahu! Dia mengusap wajah Andria, dan menariknya ke pelukannya.