Her Secret

Her Secret
Kemarahan Alec



Mereka semua menatap helikopter yang tidak jauh di dekat mereka, Alec menatap Andria dengan kemarahan yang menyala-nyala di matanya, Seakan-akan Alec ingin melompat dari helikopternya, berani sekali mereka menculik milikku dan memperlakukannya seperti itu.


Suara tembakan memecahkan keheningan, salah satu orang Rowena melesatkan senjatanya menembak pohon yang ada di samping Andria.


Hal itu membuat seluruh tubuh alec bergetar, "HABISI GADIS ITU, CEPAT"! teriak rowena.


Tembakan kembali di lancarkan sedangkan doughlas berlari kearah orang-orang yang menembakkan pelurunya kepada Andria, "Berhenti aku bilang berhenti"! Tetapi Rowena mengambil pistol dari salah satu tangan pria Meksiko itu dan menembakkan ke tubuh Andria tepat ketika Alec sedang berlari menuju kepada Andria.


Matanya berkilat tajam, tubuhnya seakan terhenti seketika kini orang-orang alec melumpuhkan anak buah dari Rowena, sementara itu Andria yang sempat menunduk ketika tembakan tertuju kearahnya dengan cepat berlari menuju ke arah Rowena dengan segala kekuatan yang masih dimilikinya dia memukul wajah Rowena dan memelintir tangannya agar senjata yang di pegangnya terjatuh, dia berteriak-teriak tanpa seorangpun yang menolongnya.


"Kali ini kau akan mati membusuk atau kau akan mendekam di penjara rowena, aku akan memastikan itu", ucap Andria yang melumpuhkan Rowena dengan tubuh terbaring di tanah, usahanya bergerak sangat sia-sia tubuhnya dikunci oleh Andria yang menekuk lututnya dan mendorong kepalanya hingga menyentuh tanah sehingga dia merintih kesakitan.


Alec berjalan ke tempat Andria dengan wajah susah untuk digambarkan, marah khawatir kesal semua menjadi satu, Andria menyadari kehadiran Alec, dia berkedip beberapa kali dengan mulut ternganga.


"Alec?? ucap Andria.


Alec memberikan isyarat kepada salah satu orangnya agar membereskan wanita yang dipegang oleh Andria. Dengan segera Rowena di seret oleh dua orang bodyguard Alec. Andria berdiri dengan perlahan, dia tidak menatap mata alec. Sekarang ini dirinya begitu kacau, Dengan luka-luka di tubuhnya dan rambutnya yang betul-betul berantakan, wajahnya kusut Masai dan beberapa bagian di wajahnya penuh dengan luka, serta robekan di bajunya dan lututnya yang sedikit berdarah.


Alec maju melangkah ke Andria, dengan perlahan dia memegang wajah Andria yang penuh dengan luka-luka. giginya lalu menggertak, tanpa berbicara sedikitpun Alec lalu menggendong andria ala bridal, membuat Andria terheran akan sikap Alec.


"Alec"? bisik andria, "Aku...aku bisa berjalan dan...


"DIAM"! teriak Alec hingga mulut Andria langsung menutup.


Seluruh pelaku-pelaku yang menangkap Andria langsung dilumpuhkan oleh orang-orang alec, sementara doughlas hanya menatap ibunya yang di masukkan kedalam mobil tanpa berusaha melindunginya.


~


"Alec, kau marah? maafkan aku"! bisik Andria di dalam dekapan alec. Tetapi Alec hanya mendiamkan Andria hanya memeluk Andria dengan erat.


Andria begitu letih hingga dia tertidur di pelukan Alec. Sementara itu mobil terus melaju membawa Andria ke rumah sakit di Vancouver, entah berapa lama Andria tertidur, hanya suara samar-samar yang di dengarnya.


"Untung saja kandungannya baik-baik saja, tidak ada luka-luka yang serius, tetapi dia harus banyak istirahat dan dia kekurangan banyak cairan karena seharian tidak minum, kita harus memulihkan tenaganya dulu". Ucap dokter itu.


Alec hanya mengangguk, dokter itu keluar dari kamar tempat Andria berbaring, lalu Alec menghampirinya. "Kau membuatku gila Andria"! bisik alec.


Andria perlahan membuka kedua matanya, mereka saling menatap satu sama lain dengan tatapan intens. Alec mengalihkan pandangannya dan hendak keluar dari kamar Andria, tetapi Andria memegang tangannya erat.


"Maafkan aku Alec"! ucap Andria, "Please jangan marah". bujuk Andria.


Alec lalu berbalik, "Apakah kau mencintaiku Andria? tanya alec.


"Aku mencintaimu Alec", ucap Andria bingung dengan pertanyaan Alec.


"Mengapa kau tidak mendengarkan aku? kau menempatkan dirimu dalam bahaya, kau tidak perduli bagaimana perasaanku"? ucap alec dengan marah.


"Alec, maafkan aku.." Andria berdiri dari tempat tidurnya, dengan perlahan dia mendekati Alec yang berdiri tidak bergerak hanya menatap Andria yang melangkah mendekati dirinya.


"Sebaiknya kau istirahat, aku harus pergi". Kata Alec dingin. Dia pergi lalu menutup pintu kamar Andria.


Andria tertegun, dia masih berdiri di tempatnya, nampaknya Alec benar-benar marah padanya, sikapnya tiba-tiba berubah. Andria kembali ke tempat tidur Tidak lama kemudian dia berbaring dan akhirnya tertidur pulas.


~


Alec berada di ruang kerjanya, dia meninggalkan Andria di rumah sakit, entah mengapa dia bersikap seperti ini, dia sangat marah kepada Andria, entah hukuman apa yang harus diberikan kepada Andria yang keras kepala itu. Dia menatap kedua tangannya yang masih bergetar, mengapa tubuhnya tidak berhenti bergetar? Alec mengacak rambutnya dan mengambil cerutu dari dalam lacinya mengisapnya dan menghembusnya.


Mengapa dia mengacuhkan Andria? harusnya dia gembira bahwa Andria baik-baik saja, suara ketukan terdengar dari pintu. "Masuk". Ucap alec.


Gery masuk dan memberikan laporan kepada alec. "Semua pelaku penculikan sudah di atasi dan nyonya Rowena telah kami masukkan ke dalam penjara sir, sebentar lagi tuan Anderson akan menuju ke rumah sakit". Alec seperti tidak mendengarkan Gery, dia masih saja mengisap cerutunya dan membelakangi Gery memandang pemandangan malam lewat jendela kaca di kantornya.


"Gery! kita berangkat ke Portland pagi nanti, ada sesuatu yang harus aku selesaikan di sana". ucap alec membuat Gery terheran. "Ada apa Gery"?


"Tidak apa-apa sir, baik sir". Gery lalu keluar dari ruangan alec, masih bingung dengan sikap tuannya, mengapa dia masih memikirkan tentang pekerjaan sementara Miss Andria masih di berada di rumah sakit?


~


Pukul 7 pagi waktu Vancouver.


Andria terbangun, menatap ruangan kosong di dalam kamar rumah sakit, dia pikir alec akan ada di sana menemaninya, bunyi ponsel Andria membuatnya berbalik dan terheran melihat ponselnya ada di sebelahnya. dia membuka ponselnya dan menatap pesan dari Gery kepadanya.


'Tuan berada di Portland'. Andria membacanya beberapa kali lalu tidak lama kemudian dia menelpon ponsel alec, beberapa kali andria meneleponnya tetapi tidak di angkatnya. Hanya pesan singkat dari Gery kemudian muncul lagi.


"Beliau sedang rapat, saya akan memberitahukan jika beliau sudah menyelesaikan rapatnya'.


Andria menghembuskan napasnya, "dia betul-betul marah, mengapa dia sangat marah, ok aku memang salah tetapi aku sudah meminta maaf padanya, ada apa dengannya"? ucap Andria dengan kesal.


~


Sudah seminggu Alec tidak menghubungi Andria, sedangkan Andria sudah keluar dari rumah sakit, dia sekarang sedang berada di taman sedang memandang sungai buatan di belakang rumahnya dengan makanan yang ada di sebelahnya.


Andria berhenti menghubungi Alec, dia sudah sangat jengkel terhadapnya, karena setiap dia menelepon hanya balasan singkat dari Gery saja yang muncul, dan kata 'sibuk dan rapat' yang dijawab oleh Gery.


Andria mulai dengan aktivitasnya sehari-hari, dia masuk kuliah dan kadang-kadang singgah ke cafe doughlas membantu seperlunya lalu kembali lagi kerumahnya, tiba-tiba dia bertemu dengan Margareth salah satu temannya yang dulu sama-sama tinggal di flatnya.


"Hai Andria, lama tidak berjumpa denganmu, bagaimana kabarmu"? tanya Meg.


Andria tersenyum, "Aku baik Meg, dan bagaimana denganmu"? tanya Andria.


"Seperti biasa kantor flat, kantor lagi dan flat lagi..sangat membosankan". Bunyi ponsel Meg membuatnya menatap layar ponselnya, dan seketika Andria juga menatapnya, matanya tertuju kepada gambar yang dilihatnya, "Oh kau mengenalnya? dia itu pemilik perusahaan tempat aku bekerja". Kata Meg acuh.


Andria sedang menatap gambar Alec sedang makan siang bersama dengan seorang wanita yang dikenal oleh Andria dia adalah Jessie kecil, mereka terlihat sangat akrab meskipun hanya makan siang bersama tetapi itu membuat Andria sangat geram, dia punya waktu bersama wanita lain sedangkan dia tidak memiliki waktu untuk mengangkat telepon Andria.


Dengan perlahan Andria naik ke dalam bus dan duduk di ujung dekat jendela, "Apakah perasaan Alec telah berubah? apakah dia berubah pikiran untuk menikahinya? Andria memegang perutnya, entah mengapa air matanya menetes, dia sakit hati dengan sikap Alec, "Jadi kau ingin bermain-main denganku alec? oke aku akan ikut permainanmu", Ucap Andria marah.