Her Secret

Her Secret
Rahasianya



Bangunan berwarna coklat yang berbentuk segi empat itu tertutup oleh salju, beberapa petugas kebersihan sedang membersihkan salju-salju yang menumpuk di jalanan, agar memudahkan pengendara yang akan lewat. Doughlas bersandar di mobilnya sambil mengisap cerutunya, lalu kemudian menatap kembali bangunan yang sudah menahan ibunya bertahun-tahun.


Langkah sepatu terdengar menggema di koridor sempit itu, seorang pria sedang menunggu di depan kaca yang menghubungkan langsung diantara mereka. Doughlas sedang duduk di kursi sembari menatap jam tangannya, dia mengalihkan perhatiannya ketika mendengar pintu terbuka.


Mereka hanya saling memandang, setelah beberapa menit akhirnya doughlas buka suara sambil menatap ibunya.


"Apa kabar mom, kau baik-baik saja"? tanyanya.


"Kau sama sekali tidak menolong ibumu ini doughlas, dimana rasa sayangmu kepada ibumu ini", Ucap Rowena.


Doughlas hanya menatap miris ibunya yang rupanya tidak memiliki rasa penyesalan sedikitpun di wajahnya.


"Mom ! mengapa kau sampai melakukan hal itu, Aku tidak ingin kau menyakiti Julia, dia adikku". Kata doughlas.


"Ck, Adik? jangan membuatku tertawa, dia akan menjadi penghalangmu, tapi sudahlah semua telah berlalu, kau anak tidak berbakti, lebih kau pergi, aku tidak butuh dijenguk". Bentaknya.


Doughlas mengambil napas panjang, "Aku akan datang lagi". Ucapnya singkat dia lalu pergi dan keluar dari ruangan itu.


~


Kediaman Anderson 01.12 Vancouver


"Alec? bangun..kenapa kau tidur di sini"? ucap Andria sambil menggoyangkan tubuh alec.


Alec yang sedang tiduran di sofa sambil menonton film dia lalu menarik Andria ke pelukannya. "Kemarilah aku kedinginan tidur di sini". Ucapnya sambil menarik perlahan tubuh Andria dengan perutnya yang sudah membesar ke sofa itu lalu menyembunyikan wajahnya di leher Andria.


"Alec? sebaiknya kau tidur di kamar, kau nanti terkena demam"!


"Hmm, nanti sayang".


Andria menyandarkan tubuhnya lalu mengusap wajah alec yang tertidur, "Aku menyukai wangimu sayang". Kata Alec sambil memeluk erat Andria, dengan perlahan Alec berdiri membawa Andria kembali ke kamarnya, suara kecupan dan desahan Andria mengiringi suara Alec yang menggema di kamar itu, mereka merasakan gairah dan hembusan nafas satu sama lainnya hingga Andria harus mengingatkan Alec bahwa dia harus melakukannya perlahan mengingat tubuhnya sedang hamil.


~


Bunyi ponsel di atas meja membuat Mr. Anderson mengangkatnya, "Halo detektif Roy, bagaimana hasilnya, apakah ada sesuatu yang mencurigakan"?


"Dua orang detektif sedang mencari tahu sir tentang kasus itu". Kata seseorang dari seberang telepon.


"Kau tahu yang harus kau lakukan Roy ! kasus itu di tutup, kau mengerti"! perintahnya.


"Baik sir".


Udara di malam itu terasa dingin Mr.Anderson


mengingat dengan jelas kejadian mengerikan yang terjadi di depan matanya. Dia memijat-mijat keningnya lalu pikirannya membawanya menerawang kembali ke 10 tahun yang lalu saat dia baru saja pulang dari Eropa.


'Dia mendengar suara aneh dari ruang aula yang tertutup, suara tangisan dari balik pintu dia hendak membukanya tetapi ada suara lain yang berbicara.


"Bukan salahmu Julia, bukan ! aku yang melakukannya, aku yang meletakkan jerigen berisi bensin itu di sana". Julia lalu menggeleng keras, "Tapi aku yang menaruhnya terlebih dahulu doughlas sehingga mereka semua mati...". Tangis Julia pecah tidak bisa di hentikan, "Shh, Jangan menangis Julia, bukan salahmu kau hanya membawanya tetapi aku yang menumpahkannya, ini adalah rahasia di antara kita, aku akan menyembunyikan rahasiamu dan kau akan menyembunyikan rahasiaku, ingatlah ini julia, ingat itu...Aku menyayangimu". Ucap doughlas lalu memeluk adiknya erat.


Saat itu tubuh Mr. Anderson menggigil, setelah mendengar pengakuan Julia dan doughlas, dengan segala cara Mr. Anderson menyembunyikannya, menghapus jejak-jejak mereka pada kecelakaan itu, bahkan menghabisi siapa saja yang ingin menggali kasus ini, dia menutup rahasia ini rapat-rapat, tidak boleh ada yang mengetahuinya, bahkan Julia sendiri, dia membawa julia ke psikiater untuk melupakan kejadian itu.


Tapi, seseorang berusaha membuka kasus itu kembali. Ponselnya bergetar, "Bagaimana? tanyanya.


"Beres sir tidak ada saksi".


"Bagus"! Ucapnya.


~


Udara dingin menyerbu kulit dibulan desember, salju-salju yang menumpuk serta angin yang berhembus kencang membuat tubuh terasa menggigil. Meskipun begitu setiap orang tetap melakukan aktivitasnya seperti Andria saat ini yang sedang berada di rumah sakit, mereka berdua sedang menunggu kelahiran anak keduanya..


"Alec? Bagaiamana dengan kein"? tanya andria.


"Tenanglah sayang sekarang ini kein bersama neneknya, kau jangan khawatir".


Kau akan disini menemaniku kan"? tanyanya lagi.


Alec mengecup bibirnya, "Tentu saja sayang...aku akan menemanimu sampai putri kita lahir". Ucapnya, suara ketukan dari pintu membuat mereka berdua berbalik, Alec membukanya dan menatap wajah doughlas yang sedang tersenyum.


"Hai Andria, bagaimana kabarmu"? tanyanya.


"Hei dough aku baik dan kau lihat sendiri sebentar lagi kami akan menyambut putri kami". Dia tersenyum tulus, matanya menatap hangat Andria.


"Kau harus sehat, aku datang kemari untuk berpamitan kepada kalian, hari ini aku akan ke Eropa mungkin aku akan tinggal di sana cukup lama", Ucapnya.


Andria menatapnya, ada sedikit kenangan yang melekat di ingatannya tentang doughlas tapi dia tidak yakin ingatan apakah itu.


"Doughlas terima kasih telah datang kemari,". Ucap Andria.


"Always Andria, karena kau adikku", Bisiknya.


Alec memandang keduanya seperti ada sesuatu diantara mereka berdua meskipun mereka tidak mengatakannya tetapi Alec dapat merasakannya.


"Jaga Andria baik-baik Alec, aku pergi". Ucapnya.


Alec mengangguk dan kemudian menutup pintu kamar. Dia berpikir sejenak kemudian dia kembali memalingkan wajahnya kepada Andria.


"Ada apa Alec"? Tanyanya.


"Emm entahlah sepertinya kalian memiliki rahasia, kau mau memberitahuku"? ucapnya.


"Rahasia? kami tidak memiliki rahasia apapun sayang, tidak ada". Ucap Andria sambil memeluk alec. Andria memalingkan wajahnya ketempat doughlas menghilang dari pintu kamarnya, wajahnya dibingkai dengan senyuman.


'ini adalah rahasia di antara kita, aku akan menyembunyikan rahasiamu dan kau akan menyembunyikan rahasiaku, ingatlah ini julia, ingat itu...Aku menyayangimu'.


"Aku akan mengingatnya doughlas". Bisik Andria perlahan.


Sekarang kami hidup berbahagia bersama keluarga kecilku, aku bersama dengan orang-orang yang mencintaiku dan aku mencintainya, aku berharap semoga kami selalu hidup berbahagia, sehingga apa yang kurasakan sewaktu kecil tidak di rasakan oleh kedua putra dan putriku.


~Fin~


💕💕💕


Trims buat tmn2 Readers yg sudah baca cerita ini semoga kalian suka endingnya, btw jgn lupa mampir ya di storyku selanjutnya judulnya :


~ 'I Will Catch You'


~ My two face


~ Jenderal Kimi ga


Saran dan comentnya and votenya slalu ku tunggu😉👍