Her Secret

Her Secret
Kegilaan Leon 2



Mereka berdua turun dari mobilnya dan memandang mansion keluarga Alexander, beberapa penjaga menghampiri mereka.


"Siapa anda?" Tanyanya.


"Biarkan mereka masuk." Ucap Gery dan mempersilahkan doughlas dan Ronan yang mengikuti Gery di depannya, Ronan sedikit ternganga melihat mansion yang Berdiri kokoh layaknya kastil dengan puluhan penjaga berdiri mengawasi siapa saja yang mendekati kediaman Alexander.


"Wow, aku merasa seperti di dalam film." Ucap Ronan sambil memperhatikan jalanan yang dilaluinya, pancuran besar air di taman nan luas dengan deretan pohon yang rapi menghiasi tempat itu.


"Silahkan masuk sir, sebentar lagi tuan Alec akan tiba." Ucap gery, lalu segera meninggalkan mereka berdua duduk di ruang yang tamu yang sangat luas dengan perapian yang menemani mereka.


Langkah Alec membuat keduanya berbalik, mata alec menatap doughlas dan Ronan, meskipun sedikit canggung tapi masa lalu tetaplah masa lalu meskipun Alec ingin melupakannya tetapi dia menjaga jarak terhadap Ronan yang juga menyukai Andria dahulu, tetapi itu hanyalah masa lalu, kini mereka berdua memiliki masing-masing orang yang dicintainya.


"Apa kabar Alec, bagaimana kabarmu?" Tanya doughlas menjabat tangannya.


"Aku baik, terima kasih." Matanya tertuju pada Ronan, dia mengulurkan tangannya kepada Ronan dan sedikit tersenyum.


"Aku gembira mendengar Andria masih hidup dan kembali padamu." Ucap Ronan tulus.


"Terima kasih." Ucap alec.


Mereka bertiga duduk di ruang tamu itu, beberapa pelayan sudah menyiapkan hidangan di atas meja.


"Jadi, kau tahu apa yang menahan Leon berada di Seattle, dia tidak punya urusan berlama-lama tinggal di kota ini." Tanya doughlas.


"Aku selalu memantau pergerakan mereka, dan apa saja yang dikerjakan Leon di Seattle, baru-baru ini aku mendengar jika dia sendirian menyusup ke mansionmu, apa yang diinginkannya?"


Alec menghembuskan napasnya kasar.


"Andria." Jawabnya.


"Apa? Kau bilang Andria?" Ucap doughlas heran, begitupun Ronan yang mendengarnya.


"Dia ingin membawa Andria dari sini dan membawanya ke italia." Ucap alec terdengar marah.


Wajah doughlas mengeras. "Leon sialan itu betul-betul tidak main-main jika dia menginginkan sesuatu Alec, kau harus berhati-hati, aku akan mengirimkan orang-orangku untuk menambah penjagaan Andria."


"Pria sinting." Ucap Ronan heran.


"Dimana Andria sekarang?" Tanyanya.


"Sebentar lagi dia akan datang." Ucap alec, tidak lama kemudian Andria turun dari tangga dengan begitu cantik, dress panjang berwarna pastel yang begitu indah dan feminim yang dikenakan andria membuatnya terlihat anggun dan begitu menawan.


Dia turun dari atas tangga dan menatap dua pria asing yang tidak dikenalnya, dia sedikit berdiri agak jauh dari mereka tetapi sedikit senyum tipis menghias bibirnya.


"Kemarilah sayang." Ucap alec kepada Andria.


Andria melangkah di sisi Alec dan masih menatap kedua pria dihadapannya.


"Andria sayang mereka doughlas dan Ronan." Ucapnya.


Siapa mereka? Pikir Andria menatap pria-pria tampan yang berdiri di depannya, raut wajahnya senang tetapi ada kesedihan di wajahnya.


"Dia doughlas kakakmu." Ucap alec.


"Kakakku?" Ucap Andria memandang alec.


Doughlas merasa aneh harus memperkenalkan dirinya di depan Andria.


"Ya, meskipun kita memiliki ayah dan ibu yang berbeda tapi aku menganggapmu adikku." Ucapnya sambil tersenyum.


Matanya kini tertuju pada Ronan yang berdiri di sebelahnya. "Dia Ronan, dia....er kau pernah tinggal di rumahnya sewaktu kau masih sekolah sayang." Ucap alec.


Suara langkah kaki Gery membuat alec menatapnya.


"Ada apa Gery?"


"Sir, Leon de Lucas beserta orang-orangnya ada di depan mansion sir, kami sudah menghadang mereka.


Alec menggertakkan giginya, rahangnya menegang, tangannya memegang Andria dan membawanya langsung dari tempat itu. Sementara itu doughlas dan Ronan bergegas keluar ke halaman mansion ingin mengetahui apa yang diinginkan Leon.


Doughlas melangkahkan kakinya menuju ke arah Leon.


"Hati-hati dough, mereka membawa senjata." Bisik Ronan.


Sementara itu alec membawa Andria masuk ke dalam kamar Abel, di sana ada kein dan Abel yang bermain. Tunggu di sini sayang, jangan pergi kemanapun, dan kenakan ini." Alec memberikan kalung di leher andria.


"Aku menempatkan penjaga di semua tempat, dan di depan kamar kau tidak usah khawatir sayang, aku akan segera kembali." Ucap alec mengecup Andria sebentar dan keluar dari kamar.


"Alec hati-hatilah." Teriaknya.


Alec tersenyum tipis dan segera menutup pintu. Andria mengambil Abel di pelukannya beserta kein, dia memeluk dua anaknya dan menunggu kedatangan Alec kembali.


~


"Apa yang kau inginkan Leon." Ucap doughlas berdiri tidak jauh darinya tapi tetap menjaga jarak.


"Aku hanya datang untuk melihatnya terakhir kali lalu aku akan kembali ke Milan." Katanya.


"Kau tahu dengan jelas Andria adalah istri dari Alexander yung dan mereka sudah memiliki putra dan putri, apa kau gila ?!"


"Aku tidak peduli, bagiku dia adalah juliaku." Ucap Leon.


Alec keluar dari mansionnya dan diikuti oleh orang-orang yang berada di belakangnya, senjata sudah ada di dalam jaketnya dan begitupun orang-orangnya.


Dia melengkungkan bibirnya melihat kedatangan sang pemilik mansion, "Aku tidak datang untuk bertarung, aku hanya ingin melihat Juliaku." Ucap Leon lalu membuka kacamatanya.


"Juliamu tidak ada di sini, dia adalah istriku, sebaiknya kau pergi dari sini atau aku Tidak akan tinggal diam, kau pikir kau berada di mana?!" Ucap alec memandang tajam Leon seakan ingin menenggelamkan dirinya ke dasar tanah.


"Pergilah Leon, sebelum aku betul-betul akan menyulitkanmu keluar dari negara ini." Ucap doughlas.


~


"Mommy ada apa?" Tanya kein yang berada di pelukan andria, "tangan mommy bergetar?" Ucap kein lagi.


"Tidak apa-apa sayang semuanya akan baik-baik saja." Bisik Andria, sementara abel sudah terlelap di pangkuan andria.


Seseorang membuka pintu, seorang pelayan wanita masuk dengan membawa peralatan makan kepada mereka.


"Kau ingin makan sayang?" Tanya Andria menatap cemilan dan susu dan teh dalam teko yang dihidangkan untuk mereka.


"Tidak mom." Ucap kein.


"Kau bisa membawanya keluar sekarang." Ucap andria tapi sedetik kemudian matanya tidak berpindah dari wajah yang dikenalinya, rambut pirang dengan mata biru memandangnya dengan tajam


"Kau... Morelli." Ucapnya.


Dia tersenyum, lalu menodongkan pistol tepat di kepala Andria.


"Jangan bersuara atau anak-anakmu akan jadi sasaran empukku." Ucapnya.


"Apa..apa yang kau inginkan?" Ucap Andria gugup sambil mendorong kein ke punggungnya agar berlindung.


"Yang kuinginkan?


"Tunggu!" Ucap andria.


"Biarkan anak-anakku pergi dari sini, dan kau akan dapatkan apa yang kau inginkan, jangan lukai mereka dan aku berjanji aku akan mengikuti keinginanmu." Ucap Andria dengan bibir bergetar.


"Cukup adil."


Andria menarik kein dan menyuruhnya untuk menggendong Abel dan segera keluar dari kamar ini.


"Kenapa mommy, ayah bilang aku harus menjaga mommy." Ucapnya wajahnya melirik ke arah wanita yang memegang senjata ke arah mereka.


"Ikuti kata-kata mommy sayang." Bisik Andria cepat.


Tiba-tiba kein berjalan dan menggigit tangan wanita yang menodongkan senjata ke arah mereka, seketika bunyi letusan senjata terdengar, membuat mereka yang berada di luar mansion begitu terkejut.