Her Secret

Her Secret
Kekhawatiran Alec 2



"Kein ! kau harus mengetuk dulu sebelum masuk ke kamar." ucap alec dengan marah menatap putranya.


"Aku sudah mengetuk beberapa kali dad tapi tidak ada suara yang kudengar." Kata kein membela diri.


"Sudahlah sayang, kau sudah sarapan?" tanya Andria kepada kein.


"Emm aku mau mommy yang membuatkan." ucap kein, mata alec bersinar menatap putranya yang akhir-akhir ini sangat manja kepada Andria, Alec hampir lupa memarahi kein karena keinginannya yang harus di penuhi sehingga Andria harus menghadapi bahaya, apalagi Gery terluka, dia harus bicara pada putranya.


"Kein ayah ingin bicara denganmu!" Andria menatap alec dengan pandangan bertanya. "Ini pembicaraan antara ayah dan anak oke." ucap alec.


"Oke dad." kata kein dengan menyeret tubuh kecilnya mengikuti sang ayah ke ruangannya.


Andria menatap keduanya lalu segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


~


"Kein mengapa kau tidak mendengarkan ibu dan ayah?" kata alec sambil bersedekap menatap putranya yang tidak jauh berbeda dari wajahnya itu.


"Mmm but mommy sudah berjanji padaku, dia berjanji membawaku di tempat bermain." ucap kein juga menatap ayahnya tanpa takut.


"Kau tahu kan karena permintaanmu itu akhirnya paman Gery terluka dan ibumu dan kau berada dalam bahaya." Kein tertunduk "Sorry Daddy." ucapnya pelan.


"Jika ayah tidak ada, apa yang kein akan lakukan pada ibu dan adikmu?" tanya alec sambil bersedekap menatap putranya.


"Aku...aku akan melindunginya menggantikan Daddy." ucap kein tanpa ragu.


"Jadi ! kein akan bersikap baik? dan melindungi mommy dan adikmu?" tanya alec.


Kein mengangguk patuh menatap ayahnya. "Kemarilah." ucap alec sambil merentangkan kedua tangannya.


Dia memeluk sayang kepada kein, pelukan erat sambil mengecup puncak kepalanya, "Ayah menyayangi kein, tapi jika kein berbuat salah, ayah akan menghukum oke." ucap alec mengelus rambut putranya.


"Oky Daddy." senyumnya.


"Aku akan melindungi mommy dan Abel, aku berjanji." ucap kein sambil melompat dengan semangat. Alec tertawa melihat putranya bergaya seperti seorang pahlawan.


"Kita ke bawah untuk sarapan, ibumu pasti sudah menunggu kita." ucap alec sambil menggandeng putranya.


~


Suara musik yang memecah keheningan dengan dentuman yang memekakkan telinga bagi siapa saja yang mendengarnya, udara berkabut karena asap rokok yang memenuhi tempat itu dengan wangi parfum yang bercampur aduk hingga memusingkan kepala, pria itu berjalan dengan tegas dan tegap wajah tampan dan tubuh proporsionalnya membuat siapa saja berbalik melihat ketampanan pria yang berjalan dengan diiringi orang-orang yang berpakaian hitam.


"Tuan silahkan lewat sini." Seseorang berjalan tergopoh-gopoh memberikan petunjuk ke tempat yang lebih privat dan mewah. Pintu dibuka oleh pelayan yang berbaju hitam dan pria itu masuk dengan di suguhkan wanita-wanita rupawan dengan tubuh seksi yang menunggunya sambil memamerkan lekuk tubuh indahnya.


"Tuan ini adalah wanita VIP yang di sediakan untuk tuan." Kata pelayan botak berdasi kupu-kupu yang berkata sambil setengah membungkuk.


Dia mengedarkan pandangannya menatap wajah cantik nan seksi wanita yang menggoda dan sengaja menonjolkan lekuk tubuhnya. "Kau boleh pergi." ucapnya.


Leon menatap wajah wanita yang sekarang lebih antusias setelah melihat dia melemparkan uang bagai melemparkan sesuatu yang tidak penting. Bau parfum menusuk hidungnya sehingga ia begitu pusing, Sial ! mengapa aku tidak tertarik sedikitpun? pikirnya.


"Keluar semua ! keluar ! bentaknya.


Wanita itu berlari-lari, takut melihat kemarahan di wajah tampannya. "Ugh sial !" Dia mengusap rambutnya ke belakang, dan masih mengingat wajah cantik Andria yang menari-nari di kepalanya.


"Varoni siapkan mobil, aku tidak bisa berlama-lama di tempat terkutuk ini, bau ini membuatku pusing." perintahnya.


"Baik tuan." Varoni Bianco menuruti segala keinginan tuannya, dia adalah tangan kanan Leon de Lucas dan sudah bekerja dengannya selama 10 tahun, kaca matanya membingkai di wajahnya yang kental dengan wajah latin yang tampan.


Leon bergegas meninggalkan tempat itu, meskipun tatapan menggoda masih bertebaran di sekitarnya. Leon masuk kedalam mobil dengan diiringi oleh orang-orangnya. "Kembali ke mansion Bruno."


"Baik tuan."


Mobil force one berwarna hitam melaju kencang di jalanan sepi di pusat kota Vancouver, dia menutup matanya dan wajah wanita itu muncul lagi di hadapannya Seakan-akan menariknya seperti magnet yang tidak bisa di tolaknya.


"Berhenti ! ucap Leon kepada supirnya yang tiba-tiba berhenti di sisi jalan.


"Turun!" ucapnya. Dia lalu keluar dari mobilnya dan mengendarainya sendiri, memutar mobil force itu pergi ke suatu tempat yang diinginkannya.


~


Andria menyiapkan makan malam untuk keluarganya kali ini meskipun mereka memiliki koki di rumahnya tetapi Alec dan kein lebih menyukai masakan Andria, malam itu Andria membuatkan makanan ala Meksiko yang dilihatnya dari resep di google, andria memutuskan membuat burritos untuk keluarganya, tiga piring burritos dan salad lengkap dengan buah-buahan yang menghiasi meja makannya.


Sementara mereka makan, Andria menyuapi Abel yang duduk di sebelahnya, meskipun Abel mengacak-acak makanan di piringnya hingga berhamburan dimana-mana, "Makanlah sayang biar aku yang menyuapi abel." ucap alec ketika santapan di atas piringnya sudah habis, kali ini alec kewalahan menyuapi Abel yang kini sedang aktif-aktifnya menghambur-hamburkan makanannya.


~


Sebuah mobil force berhenti tidak begitu jauh dari kediaman Alexander, tangannya berada di kepalanya menatap dari kejauhan mansion mewah yang ditinggali oleh wanita itu, pancaran mata coklatnya yang terkejut, marah dan ketakutan hinggap di pikiran Leon.


Seorang penjaga yang berdiri di depan gerbang menatap curiga mobil mewah yang berhenti di kegelapan malam di bawah pohon, "Sial!" umpatnya. Dia memutar mobilnya dan akhirnya pergi dari sana.


ponselnya berdering, "Halo varoni, oke siapkan dokumennya di ruanganku, aku akan segera kembali." Dia akhirnya pergi meninggalkan rasa penasaran yang mendalam kepada wanita cantik bermata coklat.


~


Wanita itu menyandarkan tubuhnya di dinding tembok yang lembab, dia memainkan rambutnya yang mulai memutih, matanya menerawang jauh memikirkan berbagai rencana ketika dia keluar dari tempat terkutuk ini. Seorang penjaga berpakaian biru sedang membuka jeruji itu. "Ada tamu untukmu." ucapnya.


"Ugh, akhirnya..kenapa dia lama sekali." gumamnya sambil memperbaiki rambutnya yang mulai kusut tidak terawat. Dengan di temani penjaga dia akhirnya masuk keruangan kecil dengan kaca besar membentengi mereka.


Wajah varoni yang datar membingkai di wajahnya, Tanpa menanyakan kabar pria ini langsung berbicara ke intinya. "Tuan Leon menolak membebaskan Anda, jadi anda tidak usah menunggunya, mengenai hal lainnya tuan Leon bermurah hati memberikan kompensasi kepada anda ketika anda keluar nanti, mengingat anda pernah menjadi istri almarhum kakaknya yang telah wafat dan....


"Omong kosong, aku tidak perlu kompensasi apapun aku hanya ingin keluar dari sini bodoh..katakan kepadanya keluarkan aku dari sini !! KELUARKAN AKU DARI SINI!" teriak rowena seperti kesetanan, akhirnya 4 orang penjaga datang dan menyeretnya keluar dari sana dan membawanya kembali ke jerujinya.


Varoni mengambil ponselnya dan menghubungi tuannya, "Tuan saya sudah selesai dengan urusan nyonya rowena, Baik tuan."