
Acara itu berlangsung beberapa jam membuat Andria sangat lelah, setelah Alec berpidato dia tertahan oleh rekan-rekan bisnisnya, alec berbincang-bincang dengan beberapa rekan bisnisnya sehingga Andria keluar dari ball room untuk mencari udara segar.
Acara itu diadakan di lantai 27 hotel Vancouver dengan pemandangannya yang spektakuler, Andria berdiri dan menatap pemandangan malam kota Vancouver, "Aku tidak tahu jika kau masih bertemu dengan pria itu Andria".
Suara berat Ronan membuatnya berbalik memandang mata biru yang dalam, dia menghampiri Andria menatapnya lekat dengan mengambil napas, seperti seorang yang terluka. "Kau di sini Ronan". Ucap andria, melihatnya sedikit terhuyung.
"Sejak kapan kau bertemu dengan dia? tanya Ronan mengacu pada alec, entah mengapa dia tidak mau menyebut nama atasannya sendiri. Andria sedikit menunduk, lalu menatap wajah Ronan.
"Akhir-akhir ini". ucap Andria.
Ronan menatap lekat wajah Andria, "Kau cantik, aku mengingatmu ketika kita pertama kali bertemu". Dia tersenyum tipis mengingat peristiwa itu.
"Oh ya aku lupa bagaimana diriku dulu", senyum Andria. Ronan tidak melepaskan pandangannya kepada Andria. "Kau tahu, senyummu yang sekarang ini, dulu sangat sulit terlihat". Tunjuk Ronan pada senyuman cantik Andria.
Ronan mengambil tangan Andria dan menggenggamnya, "Tidak bisakah kau kembali ke Seattle bersamaku"? Mata birunya berubah menjadi sayu dengan permohonan.
"Ronan aku...maafkan aku aku tidak bisa mungkin nanti aku akan mengunjungi Mrs. Weltson dan meminta maaf padanya, tapi sekarang...maafkan aku". ucap Andria berusaha melepaskan tangannya dari Ronan yang masih menggenggamnya erat.
"Kau ingin bersama pria itu? jadi kau menolakku? tiba-tiba saja wajah Ronan yang lembut berubah menjadi marah, rahangnya mengeras. Dia dengan kasar menarik pinggang Andria dan merekatkan di tubuhnya.
"Ronan, lepaskan aku..kau mabuk"! ucap Andria mengeraskan suaranya.
"Apa kau ingin bersamanya karena uangnya"? tanyanya kasar dia mendorong Andria ke tembok dan menghimpitnya.
"Apa? Kau gila Ronan lepaskan aku"! suara Andria terdengar keras mendesak berusaha lolos dari himpitan Ronan.
Dengan kasar Ronan mencoba mencium Andria tetapi tiba-tiba saja sebuah tangan memegang bahunya dan pukulan keras melayang di rahangnya.
"Jangan. menyentuh. milikku ! Ucap alec keras, Alec berdiri dihadapannya dengan tangan terkepal, pandangan matanya seakan tidak puas dengan satu pukulan yang dilayangkan di wajah ronan.
Ronan memegang rahangnya, dan berusaha bangun dari lantai, untung saja tidak ada seorangpun di sana.
"Kau tidak apa-apa"? Ucapnya kasar sambil menarik lengan Andria mendekat ke tubuhnya. "Ayo pergi"! Alec menariknya meninggalkan Ronan yang masih terduduk di lantai memandang Alec tajam.
"Bagaimana dengan Ronan? Alec, berhenti menarikku". Ucap Andria berjalan dengan kesulitan karena gaun panjangnya, tetapi tangan alec yang menariknya keras membuatnya berjalan cepat.
"Gery siapkan mobilnya ! perintahnya.
Tidak lama kemudian mobil Mercedes hitam telah berada di hadapan alec, tangannya menggenggam Andria dan membiarkannya masuk ke mobil lebih dahulu, suasananya begitu tegang, Andria melirik pria arogan yang ada di sampingnya, wajahnya masih terlihat marah.
Seperti lupa dengan keberadaan Gery, alec menarik Andria ke pangkuannya dan menciumnya dengan keras, Andria mencoba mendorongnya tetapi semakin Andria melawan semakin gencar Alec mencium Andria agar bibirnya terbuka.
Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Gery saat ini, dia sedang mengemudikan mobil dan mendengar suara kecupan dan erangan dari belakang mobil. Akhirnya Alec melepaskan ciumannya, dan menatap Andria.
"Dia tidak menyentuhmu"?
Andria menggeleng, "Tidak"! ucapnya.
"Bagus ! Aku akan memecatnya sekarang juga kalau dia berani menyentuh milikku". Ucap alec marah.
Milik? pikirnya. Andria mencoba kembali duduk di kursi tetapi Alec tidak membiarkannya, "Alec ! turunkan aku". ucap Andria mulai kesal dengan tingkah Alec yang semaunya.
"Tenanglah andria jangan bergerak-gerak, kau tahu kau bergerak di mana"? Mata alec menyipit menatap Andria yang sejengkal dari wajahnya. Kecupan kilat melayang di bibir Andria, dengan santainya Alec kembali memainkan ponselnya dan menelepon pria bernama walch, tanpa menurunkan Andria dari pangkuannya, Alec berbicara mengenai rapat besok dan apa yang harus walch siapkan.
Dia masih berbicara dengan pria bernama walch tentang keuntungan dari pihak Leneux Enterprise jika mereka bekerja sama dengan EO enterprise.
Andria merasa tidak nyaman duduk di pangkuannya, dia kesulitan untuk bergerak. Sesekali Alec menarik tali dari bahu Andria memainkan tangannya di punggungnya, dan mengecup bahu Andria.
"Ok walch aku ingin semuanya selesai". Dia menutup ponselnya, Andria mencoba kembali ke kursinya tapi Alec kembali menahannya. "Kenapa kau tidak berbaring Andria, aku akan membangunkanmu jika kita telah tiba".
Andria menaikkan alisnya menatapnya tidak percaya. "Apa yang kau pikirkan? bisik alec memeluk erat Andria.
"Kau ! ucap Andria.
"Aku? senang mendengarnya". Ucap alec memiringkan kepalanya lalu menatap andria.
"Apa yang akan kau lakukan padaku jika aku tertidur". Ucap andria, Alec melengkungkan bibirnya, "Kau pikir apa yang akan aku lakukan Andria"? Tangannya mulai mengusap punggung Andria yang terbuka dan mengusapnya lembut membuat Andria melengkungkan punggungnya.
"Aku bilang jangan bergerak"! senyumnya terlihat nakal yang mulai memainkan jarinya dan menyusup ke dalam gaun Andria. "Alec "! tegur Andria kesal. Tapi pria ini tidak memperdulikan kata-kata Andria dia memeluk Andria dan meletakkan kepalanya di dadanya menyuruhnya untuk tidur.
Tanpa Andria sadari dia betul-betul tertidur dan sudah berada di atas tempat tidur berukuran king size, tempat yang sama ketika Alec menelanjanginya. Gaunnya telah diganti dengan gaun tidur pendek yang nyaman tetapi terlihat seksi berbahan satin. Wajah Andria sudah bersih kembali tanpa make-up yang menempel, rambutnya tergerai bebas, dia turun dari tempat tidur dan sadar kamar ini milik alec, dia menatap foto berukuran besar dengan wajah alec yang melipat kedua tangannya dengan tersenyum tipis, terlihat begitu tampan.
Di atas nakas ponsel Andria tergeletak, Andria mencoba melihatnya dan beberapa nomor yang sudah di simpannya sudah terhapus termasuk nomor Ronan dan doughlas, Andria menggeram, pria bossy itu bertindak semaunya saja. Tapi kemana dia? Andria membuka pintu kamarnya dan hanya melihat keremangan cahaya di ruangan itu. Suara-suara terdengar dari kamar yang tidak jauh dari tempat andria, dia berjalan lalu mendengar pembicaraan Alec dengan dua orang pria yang entah siapa.
"Kau yakin dia ada kaitannya dengan Mr Anderson"? Tanya alec.
"Sepertinya kebakaran yang terjadi di san Fransisco itu bukan kecelakaan tuan Alec terdapat beberapa bukti yang cukup besar jika insiden itu memang di sengaja". Kata seorang pria dengan suara berat.
"Apa maksudmu? jadi kau bilang Andria sengaja membakar rumah Okada? dia masih berumur 10 tahun". Ucap alec terdengar marah.
"Bukan itu maksud saya sir, coba perhatikan gambar ini". dia menunjuk sebuah jerigen bensin yang cukup besar yang sudah separuh hangus. "Anak kecil tidak akan sanggup mengangkat tempat itu, seseorang dengan sengaja meletakkannya di sana ketika Miss andria sedang bermain".
"Jadi, apa yang kau temukan tentang Mr Anderson? Tanya alec lagi.
"Saya yakin Miss Andria juga sudah mengetahui hubungan dia dengan Mr. Anderson ketika melihat bukti-bukti yang dikumpulkan di kamarnya. Kata suara serak yang dalam, Mr. Anderson adalah ayah kandung dari Miss andria dan saya yakin itu setelah memeriksa hasil DNA mereka berdua. Salah satu pria menyodorkan kertas pada alec, 99,8 %, positif dia adalah putri kandungnya. Katanya lagi.
"Masalah kecelakaan itu kami masih menyelidikinya sir". Kata pria serak itu. Alec mengambil kertas itu dan menyimpannya di lacinya. "Baik aku tunggu kabar selanjutnya". Andria bersandar di tembok dan segera pergi dari sana, malam begitu larut dia tidak bisa pergi begitu saja, suara pintu kamar yang dibuka membuat Andria memejamkan matanya. Alec mematikan lampu tidur dan masuk kedalam selimut dan menarik Andria kepelukannya.