Her Secret

Her Secret
Penyelidikan



Mobil force berwarna hitam tengah menunggu di depan restaurant Asia, tangan Leon dengan keras memegang lengan Andria membuatnya sedikit berjengit.


"Lepaskan aku." ucap Andria mencoba melepaskan tangannya dari Leon, "Masuk." Perintahnya, Andria yang keras kepala menatap tajam wajahnya.


"Masuk Julia." Ucapnya lagi, Andria akhirnya masuk ke dalam mobil kemudian Leon masuk dan menutupnya keras dia menekan tombol yang berada di depannya sehingga kaca gelap menutup agar mereka yang duduk di depan tidak mendengarkan pembicaraannya dengan Andria.


"Jadi, kau ingin lari dariku?" ucapnya tenang tapi ada sedikit nada ancaman dari setiap kata-katanya.


"Kau bisa melihatnya sendiri." ucap Andria menantangnya.


Leon melengkungkan mulutnya, "Orangku dimana-mana Julia, kau tidak akan bisa pergi kemanapun, apalagi kau tidak mengenal siapapun di kota ini, tidak ada seorangpun yang mengenalmu, hanya aku Julia !"


"Andria ! namaku Andria."


ucapnya lagi. Leon berdecak sambil menatap jalanan dari jendela mobil, "Namamu Julia, tetapi orang-orang terbiasa memanggilmu dengan sebutan Andria, Kau tidak mempercayaiku?"


"Aku tidak pernah mempercayaimu." ujarnya.


Leon hanya menatapnya, wajahnya terlihat begitu marah, tapi seketika matanya jatuh di bibir merah yang bergetar menatapnya, entah sejak kapan Leon selalu memikirkan bibir itu, dia kemudian mengalihkan perhatiannya kembali kepada pemandangan dari luar jendela dan memutuskan tidak mau berdebat dengannya.


~


Pagi itu salju menumpuk di pekarangan Mr. Weltson, dia membersihkan salju-salju itu dengan sekop kepinggir jalan agar orang-orang bisa berjalan dan melewatinya Matanya yang keriput tiba-tiba menatap istrinya yang duduk di teras seperti termenung seperti memikirkan sesuatu. "Ada apa sayang?" tanyanya, dia berjalan mendekat dan menghentikan kegiatannya.


Nyonya Weltson menghembuskan napasnya, "Semalam aku pergi berbelanja ke toko Asia bersama nyonya meneer, kami berpisah di depan restaurant Asia karena aku ingin membeli beberapa makanan asia di sana kau tahukan aku suka masakan Asia, lalu aku bertemu dengan Andria." Ucapnya.


"Andria? tanyanya.


"Ya, aku bertemu dengan andria, dia tampak dewasa dan begitu cantik tapi ada yang aneh dengannya, dia..dia tidak mengingatku bahkan mengingat namanya pun dia tidak ingat, aku begitu terkejut lagi ketika seorang pria menariknya paksa, dia mengaku tunangan Andria, tapi menurutku bukan, dia kasar sekali memperlakukan andria.!" ucap Mrs Weltson membulatkan matanya kemudian menghembuskan kembali napasnya.


"Kau yakin dia adalah Andria yang pernah tinggal di tempat kita?" tanyanya.


"Tentu Bob, aku Sangat yakin..dia Andria kita."


"Kau sudah berbicara dengan ronan?" tanyanya.


"Belum sayang, aku nanti akan mengatakannya kalau dia pulang." Ucap Mrs. Welton, dia kemudian berdiri dari tempat duduknya dan kembali masuk ke dalam rumahnya sambil menggerutu tentang pria kasar yang memperlakukan Andria.


~


Salju masih menumpuk di halaman mansion Leon de lucas menutupi mobil-mobil yang berderet berbaris di sana, Andria baru saja berkeliling dari dinginnya cuaca diluar mansion karena dia begitu bosan berada di dalam kamarnya. Andria masuk ke ruangan yang memiliki perapian dengan api yang berkobar, dia mencoba menghangatkan tubuhnya dari sengatan dingin yang sudah menjalar ke tubuhnya.


Beberapa pelayan dan bodyguard ada di sana setiap saat mengikuti kemana Andria pergi. Tiba-tiba pintu itu dibuka oleh seseorang membuat Andria berbalik dan menatap Leon yang melangkah ke arahnya, beberapa penjaga dan pelayan keluar dari tempat itu, meninggalkan mereka berdua disana.


"Kau habis berjalan-jalan? di cuaca seperti ini?" tanyanya.


Andria tidak menjawabnya, dia hanya mendekatkan tubuhnya di dekat perapian. Tiba-tiba tangan besar memeluk pinggang Andria dan merekatkan dirinya ke dalam pelukannya.


"Apa yang kau lakukan? lepaskan aku?" ucap Andria dia mencoba melepaskan kedua tangan yang merengkuh tubuhnya.


"Hanya sebentar Julia." ucapnya berbisik pelan di telinga Andria.


Andria tidak ingin mendengarkan perkataan Leon dia masih memberontak di pelukannya tetapi pelukan pria itu semakin erat, "Jangan memancingku Julia, tetap tenang sayang." ucapnya lagi.


~


Terdengar ketukan beberapa kali dari kantor alec.


"Masuk." Ucapnya.


Walch masuk dan berdiri didepan Alec yang seperti melamun memikirkan sesuatu.


"Sir rapat akan segera dimulai."


Alec belum menanggapi perkataan walch, pikirannya melayang kepada ucapan putranya kein, anak itu tidak pernah berbohong, kein selalu mengungkapkan semuanya, apa yang dia suka dan tidak di sukainya dia akan mengatakannya dengan lantang, dia tidak mungkin berbohong ketika mengatakan melihat wanita yang mirip dengan Andria.


"Sir, bagaimana dengan rapatnya?" ucap walch lagi.


"Tunda rapatnya, aku ingin kau menyelidiki sesuatu untukku walch." ucap alec dia memperbaiki duduknya lalu menautkan jari-jarinya dia atas mejanya.


"Aku ingin kamu menyelidiki kasus kematian istriku Andria, periksa semuanya apapun itu sampai hal terkecil sekalipun jika ada kejanggalan, segera laporkan padaku." Ucap alec pada walch.


Hanya seperkian detik wajah terheran walch terpampang di wajahnya tetapi sekejap wajahnya kembali datar.


"Baik sir."


Walch kemudian pergi lalu menutup pintu, Alec memutar kursinya memandang pemandangan kota Vancouver dari balik kaca besar yang terpampang dihadapannya. "Aku masih sangat berharap kalau kau betul-betul belum pergi Andria." gumam Alec.


~


Suara sepatu terdengar dari pekarangan rumah Mr Weltson kali ini mereka sekeluarga akan makan malam untuk menyambut istri ronan yang sebentar lagi akan melahirkan.


Dengan tergopoh-gopoh Mrs, Weltson membuka pintu, agar anak dan menantunya bisa masuk dengan cepat ke rumahnya yang hangat, salju begitu lebat hari ini hingga separuh orang di kota itu tidak keluar dari rumahnya.


"Masuklah sayang kalian pasti kedinginan." ucapnya memapah tubuh menantunya hingga sampai ke tempat duduk, "Pakai syal ini sayang kau pasti kedinginan."


Mereka duduk di meja makan sambil berbincang-bincang, "Oh ya Ronan beberapa hari yang lalu ibumu bertemu dengan Andria, kau tahu dimana dia tinggal sekarang?"


Tiba-tiba tangan ronan yang ingin mengambil cake di atas meja berhenti di udara, matanya seketika terkejut, wajahnya tiba-tiba menjadi muram.


"Ada apa Ronan? tanya Mrs Weltson.


"Itu tidak mungkin mom". Dia setengah tertunduk tidak ingin menatap wajah ibu dan ayahnya, dia tidak membicarakan tentang andria begitu lama kepada kedua orang tuanya apalagi kasus yang menimpa keluarga Andria.


"Apa maksudmu tidak mungkin? Kemarin ibu sempat memeluknya meskipun wajahnya kebingungan dan tidak mengenalku, bahkan dia tidak mengingat namanya sendiri ibu sempat begitu heran melihatnya."


"Itu tidak mungkin, mom mungkin salah mengenali orang karena....sudah dua bulan yang lalu andria telah wafat mom, dia di temukan tewas di kediaman ayahnya." kata Ronan sedih.


"Omong kosong ronan mata ibu cukup sehat untuk mengenali seseorang, kemarin ibu dengan mata kepala ibu sendiri mengobrol dengannya meskipun sebentar, ibu malah sempat memeluknya, tetapi seorang pria yang mengaku tunangannya menarik tangan Andria dan membawanya pergi.


"Benarkah? tapi.... bagaimana bisa?"


Sebaiknya nanti saja kita bicarakan masalah ini, atau kau bisa mengatakannya kepada kerabatnya ronan, mungkin itu ide yang bagus, bisa saja kan wanita yang di temukan tewas itu bukan Andria!" Ucap ayahnya.


Mata Ronan seketika ragu tapi ada sedikit keinginan untuk mencari tahu kasus kematian andria yang juga masih menyisakan keraguan atas kematiannya.