Her Secret

Her Secret
Seseorang di kegelapan



Hujan deras di kota Vancouver menyisakan suasana kabut dan basah yang tidak menyenangkan bagi sebagian orang yang belum berada di kediamannya, derasnya hujan membuat orang-orang dengan cepat berlindung di mana saja agar mereka tidak terkena air hujan.


Lewat tengah malam hujan akhirnya berhenti meskipun gerimis masih menyisakan butiran yang mampu membuat baju siapa saja kebasahan. Pria itu berdiri di bawah gerimis hujan di dekat mobil hitam kusamnya sambil memperhatikan kamar yang berada di lantai dua yang telah padam, dia mengisap cerutunya sesekali melirik jam yang ada di pergelangan tangannya.


Dia memarkirkan mobilnya di persimpangan jalan tidak lama kemudian sebuah mobil Audi berwarna hitam melewati mobilnya dan berhenti tepat di depan kediaman Anderson, seorang pria keluar dari mobil Audi mewah itu.


"Gery, jemput aku jam 6 tepat".


"Baik sir, Gery sedikit membungkuk lalu kembali masuk ke dalam mobilnya meninggalkan Alec yang sedang memegang ponselnya dan menekan angka 1, beberapa kali Alec menunggu tapi belum juga ada jawabannya. Alec kembali menelepon Andria dan akhirnya dia menjawabnya.


"Aku berada di depan gerbang rumahmu". Klik tanpa menunggu jawaban Andria dia menutup ponselnya. Dengan hanya memakai baju tidur dengan jaket membalut tubuhnya Andria membuka pagar rumahnya, andria menatap alec lalu melipat kedua tangannya.


"Jangan berwajah seperti itu Alec ini bukan ideku, tapi ide nenek dia tidak bisa membiarkan calon pengantin wanita masih berkeliaran di rumah pengantin pria, itu aturan di keluarga Anderson katanya, jadi sebaiknya berhentilah berwajah masam".


Alec berdecak, dia lalu menarik Andria kepelukannya dan memberikan kecupan ringan dibibirnya. "Ayo masuk, aku kedinginan tukang tidur", Ucap alec tersenyum.


"Tukang tidur? aku tidak.... kata-katanya terputus dengan gendongan Alec di tubuhnya, "Alec? nanti ada yang melihat kita"! ucap andria.


"Biarkan saja, lagi pula ini sudah sangat larut tidak ada yang memperhatikan". Kata Alec tenang meskipun begitu dia menyadari sesuatu, sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari rumah Andria dan seorang pria di dalamnya tengah mengawasi mereka di kegelapan.


Alec menutup pintu dan naik ke atas tangga menuju kamar Andria, "Sstt, langkah kakimu begitu berisik Alec". Ucap Andria yang berada di pelukannya.


"Karena kau begitu berat Andria", balas Alec.


Andria melotot, "Aku tidak berat Alec"! dia memegang erat leher Alec sambil berbisik. Setelah menurunkan Andria, Alec kembali mengintip dari balik jendela memperhatikan mobil kusam itu yang ternyata sudah pergi, mungkin kebetulan saja, pikir alec yang mengamati suasana di luar yang gelap.


Alec melepaskan kemeja dan dasinya lalu menaruhnya di atas kursi kemudian dia naik ke atas tempat tidur bergabung bersama andria, dia menarik Andria ke dalam pelukannya hingga hidung Andria menyentuh dadanya yang bidang.


"Alec? mengapa kau datang? bukankah aku mengirimkan pesan untukmu"? tanya Andria.


"Kau sudah tahu aku selalu bermimpi buruk jika kau tidak berada di sampingku, sekarang tidurlah Andria sebelum aku berubah pikiran dan membuatmu menjerit di bawahku". Ucap alec yang mengeratkan pelukannya lalu menutup kedua matanya.


Andria mencubit kecil tubuh alec, tetapi wajahnya merona mendengarkan kata-kata alec, membuat jantungnya berdegup kencang, apakah Alec dapat merasakan debaran jantungnya?


Alec lalu berbisik, "Aku tahu apa yang kau inginkan Andria, tapi malam ini kau harus menahannya itu hukuman untukmu". ucapnya sambil mengeratkan pelukannya sehingga Andria tidak dapat bergerak untuk sekedar mencubitnya.


Tidak menunggu waktu yang lama mereka berdua akhirnya tertidur, hujan masih turun di luar sana menyisakan udara dingin dan basah, tetapi seseorang masih berada di dalam mobilnya mengisap cerutunya dan mengambil ponselnya.


"Prianya datang sebaiknya kita menunggu sampai waktu yang tepat, Oke". Dia menutup ponselnya lalu kembali melajukan mobilnya melintasi kerasnya hujan di jalanan besar kota Vancouver.


~


'Siang ini kita bertemu di mansionku Gery akan menjemputmu, aku ingin makan masakanmu'.


Andria lalu bangkit dari tempat tidurnya, lalu segera mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi, setelah bersiap-siap akan berangkat ke kampus tepat ketika dia menutup pintu kamarnya dan menguncinya, suara-suara teriakan terdengar dari kamar ayahnya.


Teriakan itu adalah suara dari Rowena, entah apa lagi yang diributkannya, Andria berjalan menuju kamar ayahnya, lalu berdiri tepat di depan pintu kamar ayahnya.


'Mengapa Peter...mengapa kau membuatku seperti ini, aku sudah begitu lama mencintaimu jauh sebelum Kenneth mencintaimu, tapi mengapa hanya wanita itu yang kau pikirkan dia sudah tiada ! Suara pecahan kaca membuat Andria mundur beberapa langkah tepat ketika Rowena membuka pintu kamar ayahnya, mereka saling bertatapan.


Rowena lalu menutup kembali pintu itu lalu menatap Andria sambil menyilangkan kedua tangannya di dadanya. Wajahnya tersenyum angkuh bibirnya yang merah terangkat sedikit,


"Jadi, hobimu sekarang menguping? ucapnya sambil memperhatikan wajah Andria yang masih tenang tanpa sedikitpun terlihat rasa takut di wajahnya.


"Tundukkan pandanganmu gadis bodoh kau pikir kau sedang berhadapan dengan siapa, melihat wajahmu saja membuatku muak kau sangat mirip dengan Kenneth". Andria maju beberapa langkah masih dengan tatapan datarnya.


Rowena mundur tanpa sadar, "Apa yang...


"Ibu !? mengapa ibu berkata seperti itu kepada Andria"? suara doughlas menghentikan langkah Andria, wajahnya yang datar sedikit melengkungkan bibirnya ke arah Rowena sehingga Rowena sedikit terkejut tetapi cepat-cepat dia menguasai dirinya kembali.


"Memang apa yang aku katakan ! berhenti bicara omong kosong doughlas, segeralah berangkat ke kantor". Dia melirik Andria, tiba-tiba tubuhnya terasa meremang ketika Andria menatapnya seperti itu.


Dia meninggalkan Andria dan doughlas dan segera masuk kedalam kamarnya.


"Em Andria maafkan ibuku, bicaranya memang kasar tapi dia tidak bermaksud seperti itu". Ucap doughlas sedikit ragu dengan kata-katanya sendiri.


"Tidak apa-apa dough tidak usah kau pikirkan, kau tidak ke kantor"? tanya Andria menatap doughlas masih dengan jubah mandinya.


"Ya aku sedang bersiap-siap", doughlas tersenyum tipis lalu mengacak rambut Andria dan kembali menuju kamarnya. Andria lalu memegang dinding yang ada di sebelahnya, kepalanya kembali sakit dan berdentum-dentum, suara seseorang terdengar dari dalam kepalanya.


Perempuan itu lagi, dia datang hampir setiap hari ke rumah lalu masuk begitu saja ke ruangan ayah, Julia kecil berjalan mengendap-endap dan mengintip dari balik tembok, melihat wanita itu duduk di pangkuan ayahnya entah apa yang mereka lakukan, wanita itu berbalik dan tersenyum miring mereka saling menatap, kebencian merasuki tubuh Julia, setelah kematian ibunya Julia kecil tidak berinteraksi dengan orang di sekelilingnya, diperparah dengan hadirnya rowena, setiap dua kali dalam sebulan ayahnya membawa julia ke psikiater, Julia hanya memeluk boneka kelinci pemberian ibunya sambil menatap benci wanita yang sedang duduk di hadapannya'.


Bunyi ponsel mengalihkan perhatian Andria hingga ia kembali sadar, kilasan ingatannya sedikit demi sedikit dapat dilihatnya meskipun masih samar-samar. "Rowena" gumam Andria dengan menggertakkan giginya.


~


Siang itu Andria sudah berada di mansion alec setelah masak dan menyiapkan semuanya di atas meja, Andria kemudian berjalan-jalan dan mengelilingi mansion itu sambil menunggu kedatangan Alec, Andria kini berada di perpustakaan di lantai dua, ruangan itu cukup luas dengan buku-buku yang tersusun rapi di setiap rak-raknya, Andria mengingat Alec pernah membawanya ke villanya yang penuh dengan rak-rak buku sehingga dia dapat menemukan buku yang di carinya dan akhirnya menemukan Okada.


Andria menatap sebuah laci kecil berwarna coklat dengan hati-hati dia membukanya, sebuah kotak segi empat yang cukup besar berada di dalamnya, Andria lalu membukanya. "Pistol"? ucapnya. Andria memegangnya sebentar lalu menelitinya. Kemudian menyimpannya kembali di tempatnya setelah mendengar deru mesin mobil yang berhenti di depan mansion alec.