Her Secret

Her Secret
Melekat di Otaknya



Az Kim Alexandria



Ronan sedang berdiri di teras rumah, sebentar saja melirik kembali jam di tangannya, sekarang tepat pukul 11 malam dan Andria belum juga pulang, menunggu membuatnya betul-betul marah, kemana dia? rambut pirangnya yang mulai memanjang di acaknya berkali-kali.


Mobil Fortune hitam terparkir tepat didepan kedai makanan Mrs Wetson, Andria segera keluar dari mobil, dengan berjalan terseok-seok dia akhirnya sampai juga, pancaran mata Ronan tajam memandangnya. Bibirnya berubah menjadi begitu tipis.


Andria berjalan lalu menghampirinya, Dia melipat tangan di dadanya, Andria berjalan masih memegang kepalanya yang berdenyut-denyut.


"Kau kemana saja?" tanya Ronan pada Andria.


Dengan mengerutkan alisnya Andria kembali menatap Ronan yang masih bersedekap.


"Aku sedikit pusing, jadi aku beristirahat sebentar." Katanya sambil memegang gagang pintu.


"Beristirahat dimana?" tanyanya lagi. Andria memutar matanya. Apakah dia harus menjelaskannya? pikir Andria.


"Pria bernama Alec menolongku sewaktu aku pusing di toko buku, itu saja." Jawaban Andria tidak memuaskan Ronan, mata birunya masih menatap tajam kepada Andria.


"Benarkah? kenapa kau pusing, kau sakit?" kata Ronan yang masih menghalangi langkah Andria.


"Ya, aku sedikit pusing dan aku ingin segera beristirahat." Kata Andria tajam. Kini Ronan membiarkan Andria masuk, dia menahan kemarahannya, dia takut sesuatu yang buruk menimpa gadis itu di kota sebesar Seattle ini.


"Makanlah Andria, kau pasti belum makan." Andria berbalik menatapnya.


"Erm..aku sudah makan di rumah pria itu." Kata Andria kembali menaiki tangga menuju kamarnya.


Ronan duduk di dapur memikirkan apa yang dikatakan Andria. Tidak biasanya Mr. Alec melakukan hal seperti ini, Apakah dia mengenal Andria? pikir Ronan. Aku harus beri peringatan kepadanya, jika dia masih ingin tinggal di sini dia harus mematuhi peraturan di rumah ini.


Alec bersandar sambil memegang minuman, wajah gadis itu masih segar di ingatannya. Dia menatap tangannya yang memegangnya.


"Sangat lembut." gumamnya.


Kembali dia menggelengkan kepalanya. "Sial !" umpatnya. Dengan meneguk sekaligus minuman yang ada di tangannya, lalu mengambil jaket coklatnya. "aku ingin sedikit hiburan, mungkin beberapa wanita di club dapat menghilangkan wajah Andria."


Rahangnya mengatup sehingga garis di wajahnya nampak jelas, Alec menemui temannya di Club setelah menerima panggilan di ponselnya.


"Hei kau datang juga Mr. Alec, apa yang membuatmu berubah pikiran." Dia menepuk sofa yang ada di sebelahnya, Alec duduk di sana menatap beberapa wanita yang mulai berjalan kearahnya sambil mengedipkan matanya.


"Aku sedikit bosan rob." Alec mengambil segelas minuman dan meneguknya sekaligus.


"Kau datang di tempat yang tepat, tapi ini seperti bukan dirimu Alec." Kata Rob mendengus.


"Ya aku tahu." Kata alec memutar matanya. "Jadi, apa kau berhasil mengatasi tuan Rogers?" Sepertinya dia tidak ingin kau menyentuh LN enterprise." Rob bersandar lalu menghembuskan napasnya.


"Dia betul-betul keras kepala, aku hanya ingin membantunya, yah walaupun aku ingin sedikit melebarkan sayapku di LN enterprise."


"Nikahi putrinya, bukankah tuan Rojes memiliki seorang putri?" tanya Alec padanya.


Rob tertawa tergelak. "Tidak akan, meskipun aku menginginkan LN enterprise aku tidak akan menikahi putrinya yang hobby berganti pria setiap seminggu sekali."


Beberapa wanita mulai mengelilingi mereka, tapi entah mengapa Alec tidak tergoda sedikitpun, wajah Andria sudah melekat ketat di otaknya, wajah cantiknya dan kulitnya yang halus serta mata coklatnya yang cantik Membuatnya mengabaikan wanita di club itu.


"Sebaiknya aku pergi Rob, kepalaku sedikit pusing." Alec berjalan meninggalkan Robby yang mendengus pada Alec.


"Ok, aku akan mengontakmu jika LN enterprise sudah berada di tanganku." Alec hanya menaikkan tangannya lalu berjalan keluar dari club itu.