
Aku membeku, dia mengetahui latar belakangku, tapi tak ada yang membuatku muak selain dengan panggilan Miss Aznya. Dia menungguku untuk menjawabnya.
Aku membalasnya dengan tersenyum. seringai jahat dari wajahku tak sanggup kututupi lagi.
"Senang anda mengetahuinya, Hm...dan kenapa CEO terkenal seperti anda ingin mengetahui tentang latar belakangku? atau anda biasa di sebut CEO penguntit?" Aku mencoba mengendalikan kemarahanku.
Sial ! Sikapnya sangat santai, dia memainkan jari-jarinya di dagunya, ada jejak senyum
bermain di sana.
"Aku bisa menjawabnya dengan kata 'Tertarik', meskipun aku tidak yakin dengan diriku sendiri." Dia mengangkat bahu dan menertawakan perkataannya sendiri.
"Kalau begitu, selamat bersenang-senang dengan penguntitan anda yang tentu saja membuang-buang waktu anda yang berharga." Aku menjawabnya sinis dan melangkah ingin pergi.
"Tunggu ! Aku belum selesai bicara." Bentaknya. Aku berbalik dan menyeringai.
"Aku sudah selesai, selamat siang Mr....maaf aku tak mengetahui nama anda." Cemoohku, lalu berbalik meninggalkannya.
Dengan marah dan sedetik aku mendengar umpatan keras. Aku tidak peduli, kesanku kepadanya adalah kebencian yang besar.
"Ini belum selesai miss Az." pikirnya kejam. dia membanting gelas di tangannya ke lantai
sehingga kaca bertebaran dimana-mana masih memandangi pintu pada saat gadis itu keluar, lalu dia tertawa keras, heran dengan reaksinya sendiri, dia betul-betul musuh yang sepadan denganku.
~
Ronan Weltson
Hal pertama yang ingin kuucapkan padanya adalah bahwa dia sangat mempesona, tapi
lidahku keluh, hanya kata 'cocok' yang keluar dari mulutku. Dan hal pertama yang ingin
kutanyakan padanya adalah, pembicaraan apa yang sedang berlangsung antara dia dengan
Mr. Alec yang lebih tua 8 tahun itu, meskipun tentu sama saja dengan usiaku.
Dia keluar dari balkon dengan marah, tanpa menatapku yang berdiri di dekatnya, dia pergi, tak mempedulikan kalau kunjunganya belum selesai, aku mengikutinya di belakang, tidak ingin mengganggunya dengan seribu pertanyaanku. Ketika jalanya sedikit melambat, aku mencoba menghampirinya. Sebenarnya apa yang membuatnya begitu marah? setelah berbicara dengan Mr. Alec suasana hatinya memburuk.
"Hai, kau mau pulang?" kataku hati-hati.
Dia memandangku lama, seakan dia baru melihatku. Mata coklatnya yang dalam sangat menggangguku, aku melihat kesedihan di
matanya, kalau dipikir-pikir aku sama sekali
tidak tahu tentangnya, mata coklat dalam itu
akhirnya tersadar dari lamunanya.
"Erm...ya aku mau pulang." katanya lambat.
Hm...matanya sedikit melunak, aku mengantisipasi terhadap reaksinya jika dia terlihat marah membuatku selalu mempertimbangkan pertanyaanku.
"Aku juga mau pulang, mau kuantar?" tanyaku hati-hati. Sejenak dia ingin menggeleng tapi sadar kalau dia lupa bawa uang, akhirnya dia mengangguk. Aku tersenyum dan dengan cepat mengambil mobil sportku dan membawanya kehadapannya.
Dia masuk tanpa menungguku untuk membukakan pintu mobil. "Em...Boleh aku bertanya?" kataku tanpa memalingkan wajahku dari jalanan. Aku melihatnya menatapku dan mengangguk.
"Mm..tadi aku melihatmu bersama Mr. Alec di balkon, kau mengenalnya?" Wajahnya tiba-tiba menyeringai.
"Tidak, aku tak mengenalnya." tambah andria jengkel.
"Oh ya, kupikir kau mengenalnya." Aku mengerutkan alisku dan berpikir apa yang membuat Mr. Alec berbincang bincang denganny? aku belum pernah berbicara langsung padanya, dia sangat sulit untuk di temui, dan dia sering keluar dari daratan Amerika.
Tentu saja jawabannya ada di depan hidungku, tapi itu terlalu naif, masa dia tertarik dengannya, memang sih andria sangat cantik sambil melirik ke wajah andria, tapi tidak mungkinkan kalau itu alasannya.
Sambil menyetir tanpa sadar ronan menatap sesekali andria yang memandang jalanan dari dalam mobil.
"Kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya andria pada ronan yang setiap beberapa menit berbalik, andria tentu saja menyadarinya.
Andria berbalik menatapnya.
"Oh ya, aku tak mendengar ini dari nyonya Weltson." Ronan memberikan wajah serius tapi dengan sikap santai.
"Barusan ibu meneleponku, sewaktu kau bicara dengan Mr. Alec."
"Aku tidak lapar." Ucap andria, dia harus pergi lagi dengan dandanan seperti ini, itu membuatnya tidak sabar untuk segera pulang.
"Kulihat kau tak makan tadi, di rumah juga tidak, ibu akan marah kalau mengetahui aku membuatmu kelaparan." ucapku.
Andria menatap ronan, masih berpikir dan dia memang belum makan dari siang ini.
"Ok." Ucap Andria menyetujuinya, Ronan tersenyum.
"Bagus, sekarang kita cari restoran saja, kau ingin makan apa andria?" Andria melihat senyum ronan yang terus melekat di wajahnya.
"terserah." jawab Andria.
'Gadis ini apakah dia tak pernah sekalipun tersenyum? dia selalu menampakkan wajah permusuhan dan berwajah sedih.' pikirku.
Restoran mewah bergaya tudor dan bangunan spanyol sangat terkenal dengan
menunya yang fantastis. Ronan memutuskan makan direstoran itu. Mereka mengambil kursi di sudut jendela, ruanganya di penuhi dengan nuansa gold dan merah, lampu permata redup, melihatnya saja sudah terasa mahal dan mewah.
"Boleh aku yang pilihkan menunya andria?" ucap Ronan. Dengan cuek andria mengangguk dan memandang ke jendela besar di luar. Ronan menatap andria, apa yang dipikirkannya? wajahnya yang selalu terlihat sedih dan datar, peristiwa apa yang membuat sikapnya seperti ini?
~
Seorang pria menatap tajam kepada mereka, Seketika perasaan gembiranya karena kontrak kerja samanya telah berhasil dan dia bersama dengan adiknya merayakannya di restoran itu telah meluap, sikap pemarahnya yang dominan telah mengambil alih, dia memandang tajam mereka, memandang dengan seksama wajah gadis yang membuatnya terus mengumpat dan uring
uringan meskipun dia mengingkarinya .
"Alec ! Kau kenapa? ada yang membuatmu marah lagi?" tanya seorang gadis berambut pirang dengan wajah kekanak kanakanya, dia mengikuti mata kakaknya memandang kedua pria dan wanita yang sepertinya usia wanita itu tidak terpaut jauh dengannya.
"Alec kau mengenal mereka?" tanyanya.
Alec menjawab tapi matanya tak beralih dari wajah andria.
"tidak juga". kata Alec, jane mengernyitkan alisnya, 'tidak juga'? pemahaman seketika muncul di wajah cantiknya.
"Kakak menyukai gadis itu ya, sepertinya usianya tak beda jauh denganku." Tiba-tiba Alec berseru marah dan mengalihkan pandangan pada jane adiknya.
"Jangan bicara yang bukan-bukan." Itu tidak mungkin dia menggeleng. Jane menatap kakaknya, baru kali ini jane melihat sikap kakaknya yang pemarah dan hanya mementingkan bisnis bisa tertarik pada gadis yang usianya terpaut jauh darinya.
"Boleh kita makan sekarang Mr. Alec? atau kau akan membuat makanan ini gosong dengan tatapan marahmu pada mereka." ucap jane sambil memotong steak di depannya, jane merenggut marah melihat kakaknya yang tak bisa mengalihkan matanya dari wanita itu.
"Kalau kau begitu penasaran, kenapa kau tidak menyapanya saja? atau kau membutuhkan bantuan kecilku, kakakku tersayang?"senyum jahilnya tiba-tiba muncul. Alec melotot padanya.
"Cepatlah makan jane." bentaknya.
Jane cemberut jengkel melihat sikap bossy kakaknya ini. Jane kembali menatap wajah gadis yang usianya tak terpaut jauh darinya.
"Sepertinya aku pernah melihat gadis itu deh, di mana ya? Alec seketika berbalik melihat jane memiringkan kepalanya seperti berpikir.
"Di sekolah, di bar atau di perpustakaan?" Lalu dia menaikkan jarinya.
"Aku tahu, pantas saja seperti aku pernah melihatnya, hm..dia mirip dengan Ana Brown, kakak tahukan tetangga kita waktu kecil."
Alec mengerutkan alisnya. "Ana brown? tetangga yang mana?" Dia menggelengkan kepalanya.
"Keluarga Brown yang tinggal di sebelah rumah kita, tapi hanya setahun mereka berada di sana dan pindah ke alaska, kakak ingat?"
"Aku tidak yakin kalau itu yang kau maksud jane, dia sama sekali tidak mirip, makanlah cepat, Ayah dan ibu sudah menunggu kita di rumah."
"Ok Mr.bossy." sambil memutar bola matanya menatap sikap bossy kakaknya.