Her Secret

Her Secret
Pertunangan



Setelah pertemuannya dengan Alec, Andria merasa sedikit curiga mengapa dia bisa bertemu dengannya jika pria itu tidak mengatur semuanya. Sambil memikirkan itu semua dia beranjak dari tempat tidurnya lalu mengambil handuk dan membungkus tubuhnya dan segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Setelah berendam di bathtub Andria keluar dari kamar mandi lalu mengerling ponselnya yang berdering, dia mengambilnya dan melihat nomor yang tidak dikenalnya.


"Halo? ucapnya.


"Andria? aku akan menjemputmu, aku ingin makan siang denganmu". Suara berat yang memaksa itu tentu saja alec, mengapa dia bersikap seperti tidak terjadi apa-apa diantara mereka.


"Kau makan siang saja sendiri". Geram Andria langsung menutup ponselnya. ukh pria egois itu apa yang diinginkannya, bukankah dia telah memiliki tunangan yang begitu cantik? mengapa dia masih menggangguku.


Setelah berpakaian Andria masuk ke ruangan ayahnya atas permintaannya.


"Duduklah sayang ayah ingin bicara denganmu". ucapnya, dia kelihatan lelah dan melepaskan kacamatanyabyang berbingkai.


"Ada apa ayah"? tanya Andria penasaran.


"Minggu depan perusahaan ayah akan mengadakan pesta, aku ingin kau hadir, ayah akan menyatakan secara resmi dan memperkenalkanmu kepada semua orang bahwa kau adalah putriku dan ....mungkin erm jika kau tidak keberatan Julia, ayah ingin memperkenalkanmu dengan tunanganmu". Katanya dengan suara yang ragu, dia melihat ekspresi wajah Andria.


"Er.. tunangan? ayah mempersiapkan tunangan untukku tapi ayah..." Andria tidak menyangka kejutan ini membuatnya shock.


"Maafkan ayah Julia, aku ingin kau menyetujui permintaan ayahmu ini". Ucap Peter dengan memasang wajah permohonan maaf kepada Andria.


Andria keluar dari ruangan ayahnya, dan sedikit shock mendengar permintaannya. Apa? seorang tunangan? bagaimana bisa..aku belum sebulan tinggal di sini dan tiba-tiba pertunangan? Andria memijat keningnya.


ponselnya kembali berdering, ugh mengapa pria ini tidak menyerah?


"Aku akan datang secara langsung ke rumahmu jika kau tidak keluar Andria".


Pria keras kepala ini seenaknya saja. "Datang saja, lagi pula aku tidak di rumah, kau bisa makan siang dengan nenekku". Andria menutup ponselnya marah.


Andria bergegas pergi ke taman agar tidak ada seorangpun yang mencarinya jika alec datang nanti. Dengan membawa beberapa buku dan tas berisi makanan dan minuman Andria naik sepeda menuju taman di belakang rumahnya.


Andria berhenti di sebuah bangku panjang yang dipenuhi daun-daun maple yang kering, dengan cepat dia membersihkan bangku itu dan duduk di sana, "Cari saja aku kalau kau bisa menemukanku Alec". Senyum Andria yang mulai membuka novelnya, dia mulai menggemari membaca novel ketika berada di Quebec city, Melia memperkenalkan ratusan novel yang di jual ketika mereka sedang berjalan-jalan di Montreal.


Setelah satu setengah jam dirasa waktu yang cukup lama untuk berada di taman akhirnya Andria menyimpan kembali buku-bukunya kedalam tas dan kembali dengan menggunakan sepedanya.


"Anda ingin makan siang sekarang nona"? tanya salah seorang pelayan, tapi Andria menggeleng, "Sebentar lagi, aku masih kenyang". Ucapnya, dia lalu kembali ke kamarnya dan menguncinya, dirinya begitu gerah sehabis berada di taman, Andria membuka satu persatu bajunya hingga tersisa pakaian dalamnya saja.


Dia mengambil handuk yang tersampir di atas kursinya, dia melihat sesuatu bergerak dari sudut matanya, dia lalu berbalik dan Andria begitu terperanjat, Alec sedang duduk santai di sofa dengan merentangkan kedua tangannya dan menatap Andria di hadapannya yang hanya mengenakan pakaian dalam.


"Apa yang kau lakukan di sini"! teriak Andria.


Dengan terburu-buru Andria merekatkan handuk kecil itu di tubuhnya. Alec masih memandanginya tanpa berbicara sedikitpun.


sepertinya dia sedang mengontrol dirinya.


Andria mundur beberapa langkah, sebelum dia berlari menuju ke dalam kamar mandi, Alec telah memeluk Andria di pelukannya.


Matanya yang tajam mengunci erat mata andria, "Kau tahu betapa berbahayanya diriku sekarang ini Andria? aku bisa memilikimu sekarang jika aku mau, jadi jangan bergerak biarkan aku memelukmu seperti ini". Ucap alec dengan gigi menggertak.


Dia menyembunyikan wajahnya di leher Andria dan menghembuskan napasnya yang panas hingga Andria merasa tergelitik dan merasa aneh mendengar desahan napas alec.


Dengan perlahan dia menempelkan bibirnya ke Andria membuat Andria panas dingin, "Aku ingin mengatakan ini sejak tadi sayang. Kunci kamarmu ketika kau pergi, beruntung jika aku yang masuk, aku tidak ingin seseorang masuk dan melihatmu telanjang seperti tadi, kau mengerti Andria".


Andria mendorong tubuh alec tapi pelukan Alec sangat erat, hasilnya Andria harus berbicara hanya beberapa inci dari wajah alec. Beruntung? aku merasa lebih sial, dan aku tidak telanjang aku memakai...." Andria menghentikan ucapannya, melihat Alec tersenyum miring melihat Andria berbicara dengan kesulitan di pelukannya.


"Sebaiknya lepaskan aku, karena aku akan teriak", Ancamnya.


"Teriak saja, aku suka suara teriakanmu". Kata Alec menantang.


"Apa yang kau inginkan alec, mengapa kau melakukan ini padaku? kau sudah memiliki seorang Tunangan". Bentak andria.


"Tunangan? ya.. sebentar lagi aku akan memilikinya". Kata Alec yang menjelajahi wajah Andria dengan bibirnya.


"Kau Brengsek Alec". Wajah Andria memerah, dia begitu marah padanya. Kecupan ringan di kedua mata Andria dan di bibirnya membuat Andria melotot pada alec yang tertawa dan melepaskan perlahan tubuh Andria.


"Sepertinya aku melewatkan makan siangku berkat seseorang". Ucap alec yang berjalan menuju pintu kamar, dia kembali berbalik menatap Andria, "Ingat kata-kataku Andria kunci kamarmu, Gery akan menjemputmu makan malam denganku". ucapnya santai lalu menutup kamar Andria.


"Pria brengsek"! umpat Andria. Napasnya naik turun, "Dia datang dengan semaunya, apa? makan malam dengannya? dia bahkan tidak meminta maaf telah membohongiku".


~


Wanita itu melipat kedua tangannya, dia berdecak melihat Alec yang baru saja keluar dari kamar Andria. "Putrimu nakal juga Peter".


Dia tersenyum angkuh, Rowena terlihat lelah setelah berpesta semalaman di dalam hutan bersama pria yang menjadi kekasih simpanannya.


Tepat pukul 7 malam Gery sudah berada di ruang tamu menunggu Andria, dua orang pelayan menyiapkan dandanan Andria tanpa memperdulikan kata-kata yang keluar dari mulut Andria untuk Alec.


"Makan malam? mengapa aku harus makan malam dengannya"? ucap Andria yang menaikkan dagunya agar make up-nya menjadi merata. Malam ini Andria mengenakan gaun sifon berwarna krem dengan tali tipis yang transparan, rambut panjangnya di gerai begitu saja tetapi sedikit bergelombang.


Andria telah siap, dia melihat Gery telah menunggunya di ruang tamu, dia sedikit menunduk dan tersenyum tipis ketika melihat Andria.


"Selamat malam Miss, tuan telah menunggu anda". Gery dengan sopan berjalan didepan dan membukakan pintu mobil untuk Andria.


"Setelah masuk dalam mobil Andria mengerling gery, "Kita akan kemana gery"? tanyanya.


"Erm itu... tuan memintaku agar mengantarkan anda ke penthousenya". ucapnya datar.


"Berhenti ! ucap Andria.


"Ada apa Miss"? tanya Gery berbalik menatap Andria.


"Mengapa di penthousenya? aku tidak mau kesana, lebih baik batalkan saja makan malam ini". Ucap Andria kesal.


"Telpon untuk anda Miss". Gery memberikan telpon dan Andria mengambilnya.


"Kau ingin aku selalu mengejutkanmu setiap kali kau masuk di dalam kamarmu"? kata Alec dari seberang telepon. "Makan malam sebentar lagi siap, aku menunggumu". telepon lalu di tutup.


'Ugh, kau brengsek alec dasar tukang ancam', gumamnya. "Erm lanjutkan perjalanannya Gery". kata Andria dengan kesal.