
Negara itu berada di bagian eropa selatan yang telah terkenal seantero dunia, italia memiliki banyak bangunan terkenal juga sejarah yang menjadi pusat perhatian dunia.
Sebuah bangunan besar yang begitu mirip dengan arsitektur Colosseum, menjadi tempat berdirinya sebuah clan yang terkenal di roma, langkah sepatu terdengar begitu ramai mengikuti seorang pria berperawakan tinggi dengan garis rahang tegas dengan mata coklat yang dalam.
Salah seorang pria berjas silver dengan cepat membuka pintu agar tuannya bisa masuk, "Bagaimana varoni, kau sudah menemukan wanita itu?" tanyanya sambil duduk di atas kursi kekaisarannya.
"Aku sudah menemukannya sir." Dia lalu menyodorkan sebuah dokumen lalu memberikannya kepada pria itu.
"Ck, wanita ini selalu membuat masalah, kita sebenarnya tidak perlu berurusan dengan wanita ini tapi, aku perlu informasi penting darinya." ucapnya sambil bersandar dan menautkan kedua jarinya.
Apakah kakakku akan senang jika aku membawa putranya kembali ke tempat sebenarnya?", pikir pria itu.
"Varoni siapkan semuanya kita akan ke Kanada malam ini."
"Baik sir."
~
Andria sedang bercengkrama bersama kedua anaknya sambil menonton film kesukaan mereka, Andria membuatkan beberapa cemilan bebas gula kepada anak-anaknya. Ketika di dapur kein memandang ibunya lalu bersandar di pintu sambil memainkan kakinya.
"Mom? aku....erm bolehkah aku pergi bermain sebentar saja yaaaaa? Walter dan Josh sudah menungguku di taman mom." Ucapnya dengan menatap Andria dengan mata sendu sambil menautkan kedua tangannya.
Andria berbalik menatap putranya, "20 menit tidak lebih kein." ucap Andria tegas.
"Tapi mom 20 menit itu kurang, bagaimana kalau di tambah 10 menit?" ucapnya membujuk.
"Kein honey sebentar lagi salju akan turun dan kau bisa terkena demam." Andria menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana kalau di tambah 5 menit saja?" bujuknya lagi pada Andria.
"Ok, di tambah lima menit." Kein melompat kesenangan. "Kenakan jaket yang tebal topi dan sarung tangan kein." teriak Andria ketika kein telah berlari keluar dari dapur.
Andria menatap dari jendela rumahnya kein yang berlari lalu menutup pagar rumah, Andria tersenyum kecil menatap putranya.
"Sepertinya Abel belum bangun." gumamnya.
Ponsel Andria berbunyi hingga mengalihkan kesibukannya dari memasak, melihat nama suaminya tertera di layar ponselnya membuat Andria tersenyum.
"Halo sayang, kau dimana?" tanya Andria.
"Aku di kantor andria sebentar lagi rapat tapi aku ingin mendengar suara merdumu." suara Alec serak menggoda.
"Ugh dasar tukang rayu, aku sedang memasak Alec.."
Suara kekehannya terdengar dari seberang telepon, "Aku ingin mencumbumu sekarang juga dan berada di dalam dirimu sayang." ucap alec dengan suara serak.
"Baik, aku tutup." kata Andria sedikit aneh mendengar rayuan alec, tapi rona merah di pipinya tiba-tiba muncul.
"Hehe, baiklah sayang besok malam aku akan pulang, berikan ciumanku untuk kein dan Abel honey, aku mencintaimu."
"Tentu honey, aku mencintaimu Alec." Andria lalu menutup ponselnya kemudian dia tersenyum dan memegang kedua pipinya seperti seorang yang baru jatuh cinta.
"Ugh gara-gara Alec pikiranku sudah kemana-mana." gumam Andria yang naik kelantai dua di rumahnya ingin melihat Abel di kamarnya.
~
"Rowena ada tamu untukmu." ucap officer itu dengan suara tegas.
"Cih, siapa lagi yang menjengukku? aku sama sekali tidak memiliki kerabat selain anak brengsek itu." Rowena di bawa oleh dua officer ya g berada di samping kiri dan kanannya.
Ketika sampai di ruangan kecil dengan kaca yang besar yang menjadi penghubung diantara mereka, tiba-tiba napas Rowena seperti tercekat, matanya membelalak heran dengan sorot pandangan tidak percaya.
"Le..Leon? ucapnya tergagap.
Pria bermata coklat yang dalam sedang menatapnya dengan pandangan sulit untuk di tebak, guratan halus di wajahnya membuat dirinya sedikit menyeramkan dengan mata tajam dan garis keras di rahangnya, tidak ada senyum yang menyertai wajah tampannya.
"Dimana putramu!" ucapnya tanpa basa basi.
Mata Rowena membelalak masih terkejut dengan kehadiran pria ini.
"Putraku? aku...aku mengirimnya ke suatu tempat, di tempat yang aman." ucap Rowena berbohong.
Pria ini memicingkan kedua matanya, lalu memiringkan sedikit kepalanya menilai kata-kata Rowena, "Kau berbohong." tuduhnya.
"Aku...aku tidak berbohong, aku ingin putraku di tempat yang aman." Rowena tahu pada akhirnya clan de lucas akan datang mencarinya, dia akan mencari keturunan de lucas.
"Apa yang kau inginkan Rowena?" tanyanya.
Matanya tiba-tiba menyala senang. "Kebebasan, bebaskan aku." ucapnya.
Suara kekehannya terdengar mengerikan di telinga Rowena. "tipu muslihat apa yang kau rencanakan Rowena, jangan pernah bermain-main dengan clan de lucas." kata pria itu.
"Tidak, aku tahu siapa kau..aku tidak bermain-main yang kuinginkan hanyalah kebebasan." kata Rowena dengan mata membelalak.
"Baik, kebebasan bukan yang kau inginkan, aku akan mengeluarkanmu tapi ingat putra kakakku harus ada di Milan dalam seminggu." ucap Leon.
"Aku mengerti." Dengan harapan yang membumbung tinggi Rowena kembali di bawa ke jerujinya tinggal menunggu kebebasan yang akan datang padanya Sebentar lagi.
~
"Jika dia berbohong, kau tahu apa yang akan kau hadapi Rowena." gumam pria itu dia kemudian beranjak meninggalkan tempat itu, mata coklatnya yang dalam melihat-lihat dokumen yang diserahkan padanya, matanya tertuju pada sebuah foto wanita cantik dengan warna kulit putih gading, "Wanita ini..anak tiri Rowena, dia pasti tahu keberadaan putra rowena." gumamnya.
Waktu menunjukkan pukul 7 malam hari mobil Mercedes hitam sedang mengamati kediaman Alexander yung sambil melirik wanita itu dari kejauhan. "Kalau bukan Rowena maka wanita itu pasti tahu dimana saudara laki-lakinya." dengan gerakan pada tangannya mobil itu akhirnya melaju meninggalkan kediaman Alexander.
Leone masih menatap wajah Andria dari dokumen yang ada di tangannya dan menatap wajah alec suaminya.
~
Leon tiba di kediamannya, beberapa orang berpakaian hitam menyambutnya dengan menundukkan sedikit kepalanya, kepala clan de lucas tentu menjadi pusat perhatian siapa saja apalagi wanita-wanita yang tidak lepas memandangi ketampanannya dan kemewahan yang dia tampilkan.
"Kami sudah menyiapkan kedatanganmu tuan, apakah anda ingin bersama dengan seorang wanita malam ini?" tanya salah satu pria yang berdiri kaku di hadapannya.
"Tidak, aku bosan dan tidak ingin bersama seorang wanita, Siapkan orang-orang ke perbatasan de lucas di Milan, karena mungkin saja mereka akan menyerang kita jika mereka tahu aku berada di Vancouver
"Baik tuan." ucapnya.
Besok aku akan bertemu dengan wanita itu, dia harus menjawab dimana keberadaan putra rowena. Pikir Leone sembari menyesap minuman yang di tuangkan untuknya sambil memandang langit malam di Vancouver.