Her Secret

Her Secret
Berangkat ke pesta



Andria menatap dirinya di cermin mencoba membuat dirinya Serapi mungkin, rambut panjangnya disisir dengan rapi, dan sedikit make up yang diberikan oleh Mrs Weltson. Memakai denim dengan t-shirt hitam panjang dipadu dengan jeans butut berwarna hitam tetapi kini warnanya berubah menjadi abu-abu cerah.


Andria keluar dari kamarnya tepat pukul 7 malam, mereka semua menatap Andria, pria bernama Ronan memicingkan matanya menatapnya. Tiba-tiba dia berhenti mengunyah makanannya.


Az kim Alexandria



"Kau ingin pergi Andria?" tanyanya. Andria mengangguk.


"Erm..ya aku...maksudku temanku mengadakan pesta dan mereka mengundangku." Ucap Andria, Ronan sedikit memiringkan kepalanya berpikir, tetapi tatapannya tidak lepas darinya.


"Akan kuantar." kata Ronan jelas, kedua temannya berbalik memandang Ronan tidak percaya. "Wow, Ronan apa kau tahu yang Andria maksudkan? dia akan ke pesta bersama seseorang jadi kau tidak perlu mempersulit keadaan." Seru Riley sambil menggeleng.


Ronan tidak memperdulikan kata-kata Riley, "Kau tahu alamat temanmu itu?" tanyanya lagi.


Ronan Weltson



"Emm, ya tentu aku tahu." Kata Andria ingin menyudahi tanya jawab membosankan ini.


"Jam berapa kau akan pulang?" tanyanya sambil menatap jam di pergelangan tangannya.


Riley menggeleng sambil menutup wajahnya. "Apa kau tidak pernah menjadi remaja Ronan? tinggalkan Andria sendiri biarkan dia menikmati pestanya, astaga kau betul-betul seperti seorang ayah yang cerewet." Dengusnya.


Ronan tetap tidak memindahkan matanya dari Andria. "Erm aku berangkat." Dengan cepat Andria keluar dari ruang tengah menuruni beberapa anak tangga yang terbuat dari batu lalu ke gudang mengambil kembali sepedanya.


"Ada apa denganmu Ronan? dia tahu apa yang akan dia lakukan." Kata Riley heran.


"Dia tinggal di rumahku Riley, jadi aku harus tahu apa yang Andria lakukan." Kata Ronan jengkel. Wanita yang duduk di sebelahnya hanya menaikkan alisnya menatap Ronan sambil memegang dagunya, bertanya-tanya apakah dia seperhatian ini jika itu dirinya?


"Pria itu jelas masalah bagiku, dia cerewet sekali", gumam Andria. Sebenarnya Andria enggan pergi ke pesta yang sama sekali tidak membuatnya tertarik, apalagi pria itu sama sekali tidak dikenalnya.


Tapi andria ingin tahu permainan apa yang akan mereka mainkan kali ini? pikirnya. Andria mengendarai sepedanya melaju dengan perlahan. Tanpa dia ketahui mobil hitam Fortune sedang mengikutinya.


Seorang pria menatap Andria dari jauh dan segera berlari menghampirinya, "Hai Andria kau datang?" kata Chris dengan tersenyum Senang.


"Ya, aku diundang jadi aku di sini." Kata Andria tenang. Dia menepuk bahu Andria dan memegang sepedanya. "Ayo masuk." Dengan langkah gontai Andria masuk dengan sedikit ragu.


"Dia juga berpesta?" gumam Alec, menatap tidak suka pria yang menepuk bahu Andria. Garis muncul diantara alisnya. "Apakah pesta semacam ini legal? maksudku dimana orang tua mereka?" gumam Alec menatap rumah itu dengan gemerlap lampu yang menyala dengan terang.


Alec Alexander Young



Alec bersandar di mobilnya, memperhatikan Andria yang masuk kedalam rumah itu. Suasana gaduh terdengar sampai di luar rumah membuat Alec tidak sabar ingin mengetahui apa yang terjadi. Dia mengetuk-ngetukkan jarinya di jendela mobilnya.


Andria memandang sekelilingnya, dia sama sekali tidak mengenal orang-orang yang ada di pesta, seorang pria menghampiri andria dan Chris. "Hai Andria kau datang?" Ia mengangkat alisnya tersenyum miring kepada Andria, keramahannya tidak lagi sama sewaktu siang tadi.


Seorang gadis berambut pirang bergabung dengan mereka, dia menyeringai menatap penampilan Andria, dia mendengus dan memeluk pria bernama Alferd dengan mesra.


"Apa yang kau lakukan honey, aku tidak tahu kau mengundang gadis...", dia melihat Andria dengan tatapan merendahkan. "Kotor dan bau ini? apa yang akan dikatakan teman-temanku nanti??" Dengan nada yang dramatis.


Chris menggeleng memandang jengkel ke arah Alferd, "Apa yang kau rencanakan Al?" tanya Chris dengan tatapan tidak suka.


Andria tersenyum miring, dia tahu peristiwa seperti ini akan terjadi, tentu saja dia tidak akan heran.


"Apa yang kau maksudkan dengan kotor? dia kelihatannya baik-baik saja." Memandang Andria dengan pandangan melecehkan. Chris maju ke arah Alferd tangannya mengepal, tetapi tangan Andria memegang lengan Chris.


"Katakan, apa maksudmu mengundangku?" kata Andria tenang.


"Kau tidak tahu? lihat wajah Katty? kau menampar pipi cantiknya, kau harus menerima pembalasan kami dan aku tidak perduli kau seorang wanita." Seru Alferd, Katty dengan wajah tragis memegang pipinya dengan ekspresi sedih.


"Kau ingin membalasku? kata Andria menatap mereka dengan menampilkan wajah poker facenya. "Kalau begitu cobalah!" seringai jahat muncul di wajahnya.


@


Jangan lupa comentnya tmn2 Readers ☺️