Her Secret

Her Secret
"Aku mencintaimu"



Andria merasakan hembusan nafas yang normal dan teratur di sebelahnya, tangannya memeluk Andria erat sehingga sulit bagi Andria untuk sekedar bergerak, wangi tubuh alec menggelitik hidungnya ingin rasanya dia menempelkan wajahnya di pelukan Alec yang sedang tertidur dengan bibir terbuka tapi entah mengapa sampai sekarang perasaan hatiku masih sulit dan berat untuk kunyatakan secara langsung pada pria ini, dia hanya menerima begitu saja dekapan, pelukan, serta ciumannya yang membuatku selalu mabuk.


Tapi bukan itu yang menjadi prioritasku saat ini, Kecelakan itu dan Mr. Anderson..ya selama setahun ini aku menyelidiki tentangnya dan semua bukti yang kukumpulkan benar adanya Dia ayahku, ayah kandungku...


Tapi, mengapa dia tidak berusaha menemukanku? mencariku? bukankah dia memiliki segalanya sama seperti alec, untuk menemukanku tidaklah sulit, atau dia memang tidak berusaha mencariku? mengapa? atau memang dia berpikir aku telah tiada?


Jam menunjukkan tepat pukul 5 pagi waktu setempat dan Andria sudah terbangun memikirkan segalanya, semua yang di dengarnya semalam. Andria memutar kepalanya lalu menatap Alec yang tertidur lelap di sampingnya, apa yang akan kau lakukan Alec dengan mengetahui identitasku?


Andria mengangkat tangannya lalu membelai kening alec lalu menjalankan belaiannya dari mata hidung hingga kebibirnya. "Aku mencintaimu". bisik Andria dengan suara lembut, aku hanya bisa mengatakannya seperti ini, maafkan aku.


~


Alec terbangun karena merasa haus, cahaya matahari sudah begitu terang hingga dia menyipitkan matanya karena cahaya matahari membuatnya silau. Dia akhirnya sadar tempat tidur Andria kosong, "Kemana dia"? ucap alec dengan suara serak.


Setelah masuk ke bathroom dan keluar dengan keadaan fresh, Alec mengenakan kemejanya lalu jamnya setelah itu dia mengenakan dasinya yang sesuai. Dia lalu turun ke lantai bawah mencari Andria, dia pikir Andria sedang berada di meja sarapan.


"Dimana Andria? Alec duduk sambil menyesap kopinya. Seorang pelayan wanita paruh baya menjawab pertanyaan Alec, "Pagi-pagi sekali nona Andria sudah pergi tuan".


Alec mengernyitkan dahinya, "kenapa dia selalu begitu terburu-buru". Alec lalu mengambil ponselnya dan menghubunginya.


"Dia tidak mengangkatnya". Desis alec. Dia segera berdiri dan mengenakan jasnya berwarna biru gelap.


"Gery! ke cafe Couve". Perintahnya.


"Baik sir". Hari ini dia ada meeting dengan beberapa rekan bisnisnya tapi sepertinya melihat Andria lebih penting baginya saat ini.


~


Masih mengenakan jas yang dikenakannya semalam dia mulai bergerak merasakan sakit kepala seperti ada yang mengikatkan batu dikepalanya. Ronan berusaha menjernihkan pikirannya, dia memijat rahangnya yang sedikit memerah akibat tinju Alec semalam.


"Hai, kau akhirnya bangun". Suara riley membuat Ronan tersadar. "Jam berapa sekarang ril". tanyanya.


"Emm Cukup pagi, kau masih bisa sarapan bro". Riley menyesap kopinya dan menggigit sandwichnya.


"Ukh sial ! kepalaku seperti mau pecah". Ucap Ronan sambil membuka jas yang di kenakannya semalam.


"Tentu saja kalau semalam kau minum seperti orang kesetanan, oh ya ada apa dengan rahangmu sepertinya seseorang menyerangmu semalam". Tanya Riley yang memainkan ponselnya.


"Semalam? tiba-tiba ingatan ketika dia mendorong Andria ke tembok dan kata-kata kasarnya serta alec yang memukulnya muncul begitu saja di memorinya.


Dengan terburu-buru Ronan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, dengan tergesa-gesa dia menelepon ponsel Andria tapi tidak tersambung. "Sial ! apa yang kulakukan semalam padanya"! aku sudah gila"! ucap Ronan keras membuat Riley menatapnya heran.


Setelah mengenakan pakaiannya ronan mengambil kunci mobilnya dan segera meluncur ke cafe couve. Semoga saja Andria dapat memaafkanku, Vodka sialan itu membuatku sinting..


Sementara itu Andria yang tengah bersiap-siap untuk berangkat kerja mendengar ketukan beberapa kali dipintunya. Dia mengerutkan keningnya, lalu dengan cepat mengenakan kemejanya yang berwarna peach.


Dia membuka pintunya dan mendapati Alec sedang menatapnya tajam. "Alec? ucap Andria heran melihatnya muncul sepagi ini di flatnya. Dia memicingkan matanya menatap Andria, tanpa permisi dia langsung masuk ke dalam kamarnya.


"Kau selalu begitu Andria, pergi begitu saja". Ucap alec yang berdiri dihadapannya.


"Aku...aku hanya tidak ingin membangunkanmu alec". Ucap Andria yang memainkan jemarinya.


"Tinggal bersamaku"! kata Alec tiba-tiba.


"Wartawan dengan cepat mengendusnya Andria, dia akan mencari tahu siapa wanita yang menjadi partnerku semalam, aku tidak ingin mereka mengusikmu dan tempat ini sama sekali tidak aman". ucap alec yang mulai membelai kening Andria.


"Wartawan? maksudmu mereka akan menjadikanku gosip bahwa wanita yang menjadi partner pestamu tinggal di tempat kumuh seperti ini? itu tentu saja akan merusak reputasimu". Andria bersedekap menatap alec tajam.


Alec menghembuskan napas dengan kasar. "Jangan membuat kesimpulan terlalu cepat Andria, aku hanya mengkhawatirkanmu, kau tidak tahu bagaimana mengerikannya mereka hanya untuk mengorek informasi, mereka akan mengganggu hidupmu".


"Tapi..Alec aku tidak bisa".


"Ya, kau bisa, kau tidak perlu membawa pakaianmu ambil saja barang-barang yang penting".


Alec menarik tangan Andria menuju ke jendela lalu menatap seorang pria mengenakan mantel hitam panjang yang berjongkok dan menutupi dirinya dengan koran. "Lihat ! mereka paparazi, mereka akan memotretmu kapan saja".


Andria mendorong alec dengan marah, "Dan ini kesalahanmu yang membawaku kepestamu Alec". Andria memijat keningnya.


Alec memeluk pinggang Andria dan merekatkan dirinya padanya, "Ikut aku please"! dengan suara memohon.


"Baiklah, tapi sepulang dari kerja, aku ingin kerja hari ini". Ucap Andria meskipun wajah alec menyiratkan ketidaksetujuannya, tetapi dia mengangguk juga.


"Baik sayang, aku akan menjemputmu". Dia mengecup bibir andria dan menarik tangannya. "Aku akan mengantarmu".


~


Ronan tengah menikmati kopinya di dalam cafe, hari ini doughlas terlambat bangun dia melihat ronan mengetuk-ngetuk cafenya yang masih belum buka. "Kau belum pulang"? kata Ronan yang menatap jalanan dari jendela kaca cafe.


"Ya, berkat seseorang". Kata doughlas menguap, "Apa yang ingin kau bicarakan dengan Andria sepagi ini ronan? Douglas duduk dihadapannya menatapnya dan sepertinya pria ini membuat kesalahan pada Andria.


"Em itu aku.." Perkataannya terhenti mereka berdua menatap mobil SUV mewah berwarna hitam sedang berhenti di seberang jalan tepat di depan cafe.


"Siang ini aku menjemputmu sayang". Kata Alec mengusap kening andria, dia menarik dagu Andria dan menciumnya dengan lembut.


Alec membuka pintu mobilnya dan membukakan pintu mobil untuk Andria. Dari kejauhan mereka berdua menatap Andria dan alec, wajah Ronan seketika berubah warna, matanya yang tajam berubah merah sudut bibirnya terangkat.


"Aku tidak tahu Andria memiliki seorang pacar seorang pemilik enterprise Linuxe, siapa yang tidak mengenal Alec Alexander yung, tapi mengapa dia masih di sini jika kekasihnya seorang pengusaha hebat di amerika? gumam doughlas dengan menyandarkan dagunya pada tangannya, ketidaksukaan merayap juga di wajahnya, setahunya dia mengenal Andria selama setahun ini, dia hanyalah gadis biasa yang cantik, tapi siapa sangka dia dapat menjadi kekasih seorang miliarder muda terkenal di Amerika.


Alec menarik pinggang Andria dengan mesra dia mencium Andria hingga tubuhnya menempel di mobil Alec, "Jam 1 Ok". Ucap alec dia tersenyum miring, Andria mengangguk, Alec lalu masuk ke dalam mobilnya dan Andria menatapnya dari kejauhan.


"Love birds huh". Gumam doughlas sambil menghembuskan napasnya keras.


Mereka melihat Andria tersenyum tipis saat berjalan menuju cafe Couve. Ronan seketika mengurungkan niatnya untuk datang meminta maaf kepada Andria atas perlakuannya semalam.


Andria membuka pintu cafe dan menatap dua orang pria sedang menatapnya, dia melihat Ronan enggan menyapanya hanya menyesap kopinya, suasana tiba-tiba menjadi canggung.


"Erm pagi". Ucap Andria. Ronan lalu berdiri dan berjalan menghampirinya. Tangannya menarik Andria kasar keluar dari cafe, doughlas berdiri menatap khawatir kepada Ronan.


"Ronan? apa yang akan kau lakukan". tanyanya.


"Aku perlu bicara dengannya berikan aku waktu". Ucap Ronan, doughlas terlihat khawatir melihat kemarahan Ronan. Andria menghentak tangan Ronan yang menyakitinya, tapi Ronan kembali memegang pergelangan tangannya dan menariknya keluar. "Kita perlu bicara Andria"!


~