
Bau yang menyengat dari obat-obatan di rumah sakit menghantam hidung Andria yang sedikit demi sedikit kembali kepada kesadarannya, bunyi mesin dari alat medis membuatnya sedikit berbalik ketika dia sudah bisa membuka kelopak matanya, pusing membuat alisnya saling bertautan, sakit di kepalanya kini di rasakannya. 'Apa yang terjadi? dimana aku? pikirnya, seketika kebingungan merayap di wajahnya, dia mencoba duduk tetapi kepalanya kembali pusing.
Seseorang membuka pintu kamar dan mereka saling bertatapan, Andria belum bicara sama sekali hanya menatap pria berkacamata dengan wajah datar yang menghiasi wajahnya.
"Anda sudah sadar?" ucapnya.
"Saya akan memanggil tuan Leon." ucapnya lagi.
"Siapa Leon? tanyanya.
"siapa kau?"
"Tunggu sebentar saya akan memanggilkan tuan Leon." Dia akhirnya pergi menyusuri koridor mansion yang di jaga oleh separuh penjaga di setiap sudutnya dan berhenti di sebuah pintu besar yang merupakan ruangan pribadi tuannya.
Suara ketukan membuat Leon yang berkutat dengan pekerjaannya mengalihkan perhatiannya.
"Masuk!" ucapnya.
Varoni masuk dan sedikit menunduk padanya,
"tuan, wanita itu sudah sadar."
Seketika wajah Leon yang tadinya serius karena pekerjaannya kini berubah, dia tersenyum tipis dan segera bangkit dari tempat duduknya. Lalu melangkah menuju ke tempat perawatan Andria.
Andria telah duduk di tempat tidur itu meskipun pusing masih menderanya. Suara pintu kamar yang dibuka membuat Andria berbalik menuju sumber suara.
"Kau sudah siuman? aku sempat cemas karena sudah seminggu kau belum sadar." ucap leon.
"Siapa kau?" tanya Andria.. matanya masih membelalak menatap Leon.
"Apa hubunganmu denganku?" tanya Andria.
Wajah Leon sedikit terkejut, kemudian dia berbalik dan menyuruh varoni memanggil dokter dengan cepat.
"Tenanglah, kalau kau sudah sembuh betul, aku akan memberitahukan siapa dirimu." ucap Leon menarik kursi kosong dan duduk dihadapan Andria. Dia menatap andria, tangannya tiba-tiba menyentuh kening andria.
Andria sedikit menghindar dari tangan pria yang bernama Leon ini, "Kau sedikit demam." ucapnya.
"Nama...siapa namaku." tanyanya. Wajah kebingungan terpancar dari wajah cantiknya, sedikit kegelisahan merayap di wajahnya, dia merasa bukan di tempat yang tepat, ini salah ! tapi sulit untuk mengatakannya hanya perasaannya yang merasa seperti itu.
"Namamu Juliana." ucap Leon tanpa ragu.
"Juliana?" ucap Andria mengulangi perkataan Leon.
"Sebaiknya pertanyaan-pertanyaanmu di simpan dulu, jika kau sudah baikan kau boleh bertanya apapun Julia." ucapnya sedikit menyeringai dengan kebohongannya. Andria menatapnya aneh, pria ini seperti menyembunyikan sesuatu kepadaku, setiap kata-katanya membuat Andria mencurigainya.
"Apakah benar namaku Juliana?" ucapnya sambil berbaring kembali.
Setelah dokter memeriksa kondisi andria, dia kembali menemui Leon di ruang kerjanya.
"Jadi, apakah kondisinya akan seperti itu terus menerus? tidak ada ingatan yang tersisa?" tanya Leon.
"Luka yang diakibatkan oleh benda berat dan keras yang menimpa kepalanya membuatnya kehilangan memori, kasus seperti nona Andria....
"Nona Juliana!" potong Leon.
Perkataan dokter itu terpotong akibat gebrakan meja yang dilakukan oleh Leon, "Apa maksudmu hanya sementara saja? bukan permanen?" bentaknya.
"Er...tuan kami masih harus memeriksa dengan teliti lagi, er kasus seperti nona Juliana harus di tinjau....
"KELUAR !" bentaknya.
Dokter dan yang lainnya terkejut mereka langsung keluar ketika suara pria dihadapannya berteriak keras dan mengumpat marah. Hatinya yang tadi begitu senang dengan cepat berubah, entah mengapa dia begitu emosi dengan perkataan dokter tadi, "Sial!" mengapa wanita itu begitu mempengaruhiku?"
Suara ketukan dari luar ruangan membuat Leon berbalik. "Masuk!" ucapnya.
"Tuan Leon ada informasi dari milan, Mikhail Romanov berulah lagi, dia menyerang orang-orang kita, beberapa senjata yang mereka selundupkan di perbatasan membuat orang-orang kita kalah jumlah dan sebagian investor mundur dengan teratur mereka tidak ingin mendapatkan masalah dengan Romanov."
Leon mengambil cerutunya tanpa menyalakannya, lalu smirk jahat diwajahnya membingkai dengan tatapan mata coklatnya yang dalam, "Hubungi Romanov biar aku sendiri yang berbicara kepadanya, dia harus tahu dengan siapa dia berhadapan." Dia meremas keras cerutu di tangannya.
"Baik tuan."
~
Andria terbangun lagi kali ini tubuhnya sedikit baikan, dia mencoba berdiri dengan keadaannya yang masih lemah. "Aku ingin ke kamar mandi." Ucapnya.
Dia menyusuri tempat tidur sambil memegang sisi tempat tidur dan berjalan dengan masih sempoyongan. Dia hampir saja terjatuh Tiba-tiba tangan yang besar memegangnya, menahan diri Andria dari terjatuh di lantai.
"Kenapa kau berjalan-jalan, kau masih sangat lemah." ucap pria itu.
Andria menatap wajah pria itu dari jarak dekat, goresan luka kecil di pipinya terlihat jelas.
"Aku...aku mau ke kamar mandi." ucapnya cepat.
"Kenapa tidak ada pelayan yang menemanimu?" ucapnya marah.
"Tidak perlu aku bisa ke kamar mandi sendiri."
"Tidak ! kau masih lemah, kau jangan bergerak kau masih belum sembuh." Dengan bantuannya dia membawa Andria ke kamar mandi, dan bersandar di tembok ketika Andria menutup kamar mandinya. Tiba-tiba Andria membuka lagi kamar mandi dan menatapnya dengan jengkel.
"Kenapa kau berdiri di situ?" ucap Andria dengan marah, tentu saja Andria akan merasa risih jika seseorang berdiri di dekat kamar mandi dan mendengar aktivitas yang akan dilakukanya.
"Aku hanya ingin menunggumu." ucapnya.
"Tidak ! jangan berdiri di dekat sini, pergilah ke sana." sambil menunjuk ujung dekat pintu keluar.
Leon mengerti maksud Andria dia melengkungkan bibirnya, lalu menuruti keinginannya. 'Berani sekali dia memerintahku' gumam Leon sambil bersedekap di tempat yang di tunjuk Andria.
~
Kein berada di pelukan nyonya alexander, dia tidak berhenti memanggil ibunya, begitupun Abel menangis setiap hari mencari-cari ibunya, suara tangisan dari kedua anaknya membuat nyonya Alexander menyeka kembali air matanya, "Begitu cepat ibumu pergi sayang." ucapnya sedih.
Alec yang setiap hari pulang larut malam mencoba menyibukkan dirinya dengan pekerjaan-pekerjaanya agar kesedihan akan kehilangan Andria terobati, dia mencoba untuk menenggak minuman agar rasa rindu pada istrinya dapat terobati sejenak, tapi hal itu tidak memberikan manfaat yang banyak baginya, suara kein dan Abel yang menangis membuatnya sadar bahwa dia adalah seorang ayah yang harus kuat untuk anak-anaknya.
Alec pulang larut malam, dia melepas mantelnya lalu segera membuka kamar putra dan putrinya. Alec menghampiri kein yang sudah tertidur dan mengecup pipinya lalu beralih ke Abel yang sedang menghisap jempolnya, Alec menarik jempol dari mulut Abel dan sedikit tersenyum kemudian mengecup kembali putrinya. Dia lalu keluar dari kamar anak-anaknya, matanya menangkap foto berukuran besar Andria yang tersenyum bebas dan begitu cantik.
Kesedihan kembali membayanginya, hatinya begitu perih dan sakit, dia menghalau air mata yang akan menetes di pipinya, lalu berjalan kembali keruangannya.