
Kobaran api menyala-nyala hebat di kediaman Anderson, Alec dan orang-orangnya tengah memandang mansion yang dijilat api dengan kobarannya yang raksasa, tangannya bergetar hebat menelepon kembali ponsel Andria tetapi sama sekali tidak terhubung juga.
Beberapa mobil pemadam kebakaran telah datang dan segera memadamkan api yang sudah menghancurkan kediaman Anderson, Alec tidak ingin mempercayai sesuatu yang buruk menimpa istrinya, dia terus menelepon ponselnya yang tidak ada jawaban sama sekali. Setelah api dapat dijinakkan dan akhirnya padam, mereka mulai menyusuri kediaman Anderson yang sudah hangus terbakar itu.
Beberapa orang berlarian menuju alec, wajahnya pucat membingkai ketika menemukan sesuatu yang mengerikan yang dilihatnya.
"Sir! sebaiknya anda melihat ini." ucap pria itu.
Dengan langkah perlahan-lahan Alec beranjak dari tempat berdirinya menuju ke tempat yang di tunjukkan pria itu.
Matanya tertuju kepada sosok jasad yang hangus dan tidak berbentuk lagi, seluruh tubuhnya hangus terbakar hingga siapapun tidak bisa lagi mengenalnya.
Alec masih terdiam kaku di tempatnya sampai matanya tertuju pada tangan yang terpasang cincin emas di jarinya. Dia lalu menunduk menatapnya lalu melepaskan dari jarinya. Alec melihatnya dengan seksama cincin dengan inisial nama mereka berdua, 'A&A' tiba-tiba tangannya bergetar hingga cincin itu terlepas dari tangannya.
"Tuan! Kami menemukan barang yang terjatuh di bawah lemari hingga tidak sepenuhnya terbakar sir." ucap walch, dia lalu memberikan tas wanita yang begitu di kenalnya.
Itu adalah tas coklat milik Andria, dia membuka-buka tas yang setengah terbakar itu dan menemukan dompet dan identitas Andria di dalamnya. Air matanya berjatuhan, dia tidak percaya dengan apa yang kini dilihatnya, dia tidak mau mempercayainya. Seperti rohnya di tarik dengan paksa dari jasadnya, Alec menangis sambil tertunduk dalam.
"Itu tidak mungkin terjadi, andriaku tidak akan mati seperti ini, aku tahu itu."
"ANDRIA", teriak Alec dengan pilu, memekakkan telinga yang mendengarnya, orang-orang berkumpul di sekitarnya sambil menundukkan pandangannya. Wajah sedih menghiasi tempat itu.
Alec memeluk erat tas milik Andria dan mengambil cincinnya, dia belum bisa menerima kenyataan yang ada di depan matanya. Hatinya begitu sakit dan perih, hal ini tidak mungkin terjadi, dia menolak untuk mempercayainya.
~
Ruangan putih dengan tempat tidur berwarna gold berukuran king size memberikan nuansa yang begitu elegan, di atas pembaringan itu wanita yang sedang di rawat masih tertidur dengan pulas dengan beberapa peralatan medis di tubuhnya.
Seseorang membuka pintu kamar berjalan dan mendekatkan dirinya sambil menatap wajah wanita yang selalu hadir memenuhi kepalanya.
Wajahnya yang biasanya kaku dan dingin serta temperamen tiba-tiba berubah menjadi hangat ketika sorot matanya menatap wanita yang terkulai di atas pembaringan itu membuatnya seperti terhipnotis olehnya, pria ini menolak memberitahu Keluarga wanita itu akan keberadaannya.
"Bagaimana kondisinya?" tanyanya kepada dokter yang masuk beserta perawat yang mengikutinya.
"Luka di kepalanya cukup serius sir, benturan dikepalanya cukup keras, kita harus menunggu kondisinya membaik dan kami akan memeriksanya lebih lanjut." Setelah mengecek kondisinya dan memeriksanya mereka semua keluar dari ruangan. Mata coklat yang dalam itu masih betah berlama-lama menatap wajah cantik wanita ini, entah mengapa dia menolongnya dan lebih anehnya lagi membawanya ke kediamannya dan menolak mengembalikan wanita ini kepada keluarganya.
"Aku ingin tahu apa yang akan kau katakan ketika kau siuman nanti Andria." Tiba-tiba dia terkekeh dengan tindakan yang di lakukannya, aku Leon de Lucas bukan pria seperti ini membawa wanita ini dan merawatnya, tapi mengapa kau begitu buruk mempengaruhiku Andria, kau tidak boleh masuk lebih dalam lagi ke dalam hatiku.
Sorot matanya begitu tajam, dia berbalik meninggalkan kamar itu dan kembali kepada kewarasannya.
"Bukan urusan kita bagaimana tuan bertindak Morelli, kita hanya menjalankan apa yang dititahkan pada kita, jangan pernah bertanya apa yang dilakukannya jika kau masih sayang nyawamu." Jawab varoni yang menunggu tuannya dari balik pintu.
Pintu coklat itu terbuka, dia berjalan tanpa menatap keduanya yang sedang menunggunya. "Tuan, ada laporan dari milan, kontrak kerja sama yang diajukan oleh Ruzzo Enterprise berada di bawah naungan yang sama dari Golden enterprise milik keluarga Alexander yung, bagaimana sir apakah anda menerima kontrak kerja samanya atau kita abaikan saja.
Smirk jahat darinya membuat wajahnya yang kaku nampak begitu dingin, "Aku akan menerima kontrak kerja samanya, aku ingin melihat bagaimana besarnya kekuatan Alexander yung ketika berhadapan dengan Lucas Holdingku, jangan lengah sedikitpun periksa semua data yang terkait dengan mereka, dan cari tahu apa yang diinginkan oleh perusahaan itu.
"Baik sir"
~
Kejadian yang menimpa keluarga Alexander yung menjadi berita besar di media, jalinan keluarga Anderson dan Alexander membuat beritanya dimuat besar-besaran, dua keluarga terpandang yang memiliki status yang tinggi dimasyarakat bahkan di mata para pengusaha-pengusaha dunia, karena mereka begitu terkenal.
Kesedihan dari keluarga besar itu ketika membawa jenazah di dalam peti membuat media tidak berhenti memotret pemandangan menyedihkan itu, meskipun begitu pihak keluarga tentu saja tidak mau terganggu dengan aktivitas media, puluhan penjaga membentengi mereka hingga sebagian mereka hanya memotret dari jarak cukup jauh.
Alec tertunduk pilu, masih duduk di samping peti yang tertutup dan wajah istrinya membingkai di balik foto besar di atas peti itu. seseorang memegang bahunya mencoba memberikan rasa bela sungkawanya.
"Tuan Alex, saya sangat bersedih atas kejadian yang menimpa istri anda." ucap wanita itu, Alec mencoba menahan kesedihan yang begitu besar yang di terimanya.
Wanita itu mengenakan pakaian berwarna hitam dengan rok pensil yang melekat di pinggulnya.
"Terima kasih Jessy." ucap alec lalu kembali menatap peti itu.
"Bagaimana keadaan kein dan Abel tuan Alec?" tanyanya.
Alec tidak menjawabnya, dia hanya memandangi terus wajah cantik istrinya dari balik foto besar di atas peti.
Wanita itu melangkah pergi dan duduk dibelakang Alec memandangnya dengan sorot mata pengharapan yang terpancar dari wajahnya, dia tahu bagaimana kesedihan yang menimpa pria yang mencuri hatinya ini bahkan sampai sekarang dia selalu yang menjadi satu-satunya di hatinya. 'Akhirnya kesempatan besar datang untukku, meskipun kau akan bersedih dalam waktu lama, aku akan hadir di balik kesedihanmu itu hingga akhirnya kau akan menerimaku Alec.'
~
Sudah seminggu, tetapi Andria belum bangun juga dari tidur panjangnya, setiap hari Leon memberikan waktunya yang sibuk untuk melihat kondisinya, "Mengapa kau belum siuman?" ucapnya.
"Tuan leon, 15 menit lagi rapat akan dimulai, para pemilik saham sudah hadir di sana dan langsung menuju holding enterprise tuan." Ucapnya dengan suara datarnya.
Leon menatap sekali lagi wajahnya, kemudian melangkah pergi meninggalkannya. Senyum menghias di bibirnya. Berita lokal dari Vancouver yang menyatakan bahwa wanita itu telah wafat membuat getaran aneh di hatinya, entah kenapa hatinya terasa ringan dan senang. "Aku mungkin sudah gila." ucapnya dari dalam mobilnya sambil bersandar pada lengannya memandang jalanan besar kota Vancouver.