
Bukan namanya Alexander yung jika dia hanya diam mematung menyaksikan adegan didepannya berlangsung, dia lalu turun dari mobilnya dan berdiri dihadapan Andria dan chris.
"Aku ingin bicara denganmu Andria". Kata alec tanpa memperdulikan Chris di sampingnya. Andria terpaku menatapnya, ucapan apapun belum keluar dari bibirnya. "Er, aku sedang ada urusan dengan Chris". jawabnya.
"Urusan apa? tanyanya, matanya lalu berpindah ke chris menatapnya intens. "Urusan sekolah, kami harus selesaikan tugas sekolah kami". jawab Andria.
"Andria akan kerumahku Sir, dia akan...
"Panggil aku alec,". potongnya, suasananya menjadi canggung mereka bertiga berdiri di sisi jalan, "Kalian mengerjakan tugas bersama"? tanyanya lagi.
"Andria hendak meminjam bukuku sir, maksudku Sir Alec". Jawabnya canggung.
"Buku apa? kau tidak memilikinya"? tanya alec lagi, chris memperlihatkan buku yang di pegangnya kepada alec, tanpa ragu Alec menarik tangan andria. "Gery ! bawa sepeda Miss Andria". perintahnya.
"Baik sir".
Mata Andria membulat menatap tangannya yang dipegang erat oleh alec, tanpa disadarinya dia sudah ada di dalam mobilnya.
"Aku harus pergi, tugas sekolahku belum selesai". Andria memandangnya seakan-akan alec tuli, dia tetap menjalankan mobilnya tanpa memandang Chris yang masih berdiri di emperan toko sambil memandang mobilnya yang sudah melaju.
"Kau tidak mendengarku? seru Andria. Alec tidak menjawabnya dia terus menatap jalanan di depannya tanpa memperdulikan Andria. "Kau benar-benar menyebalkan". Andria menggeleng dia lalu memandang pemandangan lewat kaca mobil.
Perjalanannya cukup jauh, mereka berkendara hampir sejam, Andria tidak perduli lagi jika kesempatan ada didepan matanya dia akan melarikan diri darinya dimanapun itu pikir Andria.
"Ini villaku". Kata alec menatap Andria dia lalu berjalan menuju villa sementara Andria hanya berdiri mematung di dekat mobil. Alec lalu berbalik, dia kembali ke sisi Andria dan menarik tangannya. "Kau akan tahu kenapa aku membawamu kemari". Kata alec tenang.
Andria mengikuti langkahnya sementara tangannya masih dipegang oleh Alec. Dia membuka pintu villa yang berwarna mahoni dengan garis lurus serta melingkar unik di tiap sisinya. "Aku lapar, kau juga pasti belum makan sesudah pulang sekolah".
Andria hanya menatapnya, entah apa yang dipikirkan pria ini, dan mengapa aku mengikutinya dan menurutinya begitu saja, apakah aku sudah gila? pikir Andria. Dia berbalik matanya tajam memandangi wajah andria membuatnya salah tingkah. Sebuah kecupan mendarat di sudut bibirnya, membuat Andria terbelalak dan membeku di tempatnya.
"Ayo masuk, kau bisa berkeliling sementara aku memasak makanan". Andria hanya mengangguk padanya, masih membeku dengan kecupan kilat dari alec.
Andria mulai menjelajahi tempat itu, semuanya terasa elegan dan mewah, jendela kaca yang besar terbentang luas sehingga kita dapat menikmati pemandangan dari luar. "Indah", gumam Andria. Dia mengamati satu persatu foto yang berada di lemari kaca, dan melihat alec kecil yang masih balita sedang naik sepeda di temani oleh seorang wanita di sampingnya. Dia pasti ibunya, pikirnya.
Matanya tertuju pada sebuah tangga kayu, dia mulai naik ke atas dan melihat dua pintu kamar yang saling berhadapan, dengan jendela besar yang berada di antara kedua pintu.
Andria membukanya dan menatap ruangan besar yang dipenuhi buku-buku di setiap sudutnya, rak-rak buku tersusun dengan rapi begitupun judul buku dan tahunnya, di tengah-tengahnya terdapat meja baca yang cukup besar dengan kaca sebagai latar belakangnya.
Andria mengamati satu persatu buku-buku itu, lalu mengingat perkataan alec bahwa dia akan menyukai tempat ini. Andria mencoba mencari buku yang ditugaskan oleh sir Johansson, dengan mengetik di sebuah tablet yang menempel di dinding kayu, dengan mudah Andria menemukannya. Buku itu berada di rak ketiga sebelah kiri.
Andria mendengus, "Kepalaku mulai sakit melihat buku tebal ini". gumam andria, dia kembali menyusuri rak-rak buku hingga matanya menangkap sesuatu, buku itu memiliki sampul dari kulit, jumlah halamannya pun cukup tebal dan berwarna merah.
"Buku..buku ini, kenapa ada di sini"? kata Andria tiba-tiba saja tangannya gemetar dan mulai membuka satu persatu buku yang sudah lama dicarinya. Dia lalu membuka liontin yang dikenakannya, dan membaca inisial dari balik logam, "O & A". Andria lalu memegang buku tebal berwarna merah itu dengan nama yang tertera Okada Kim Alexandria". gumamnya.