Her Secret

Her Secret
Lucy si gadis pirang 2



Aku sedang duduk seorang diri di central park, menatap orang-orang yang berlalu lalang, untuk mendinginkan kepalaku yang sebentar lagi akan meledak karena begitu marahnya, entah mengapa situasi di rumah itu membuatku canggung bersama mereka, semenjak gadis bernama Lucy hadir di sana.


Lucy melakukan sesuatu yang membuat Mrs Weltson memandangku dengan tatapan seperti itu, dia melimpahkan kesalahannya padaku sungguh ingin kutarik rambut pirangnya.


Pagi itu...


Seperti biasa aku pergi kedapur untuk membantu Mrs Weltson membuat sarapan. "Kau bangun pagi sekali Andria bagaimana dengan tidurmu"? tanyanya.


"Tidurku nyenyak Mrs Weltson". Aku membantunya membawa sarapan di meja makan, cangkir tertata dengan rapi dan pukul 7 pagi semua orang sudah sarapan di meja dan duduk bersama.


Lucy duduk menggandeng tangan Ronan seakan-akan mereka pengantin baru yang baru saja keluar dari kamarnya. Gadis itu mengerling padaku dengan tatapan jijik, "Bibi, bolehkah aku mengajak Andria keliling untuk berbelanja sebentar"? kata-katanya terdengar menyenangkan meskipun begitu tatapan matanya tidak berkedip menatap Andria yang masih makan sandwichnya.


"Tentu sayang, apalagi mulai hari ini Andria sedang libur musim gugur iya kan sayang"? Andria menganggukkan saja kepalanya. Tidak lama kemudian kami berangkat berdua dengan diantar oleh Ronan ke pusat perbelanjaan di Seattle, kami akhirnya turun dengan melambai kepada Ronan.


Tiba-tiba matanya yang sinis menatapku, dengan pandangan mencela. "Apa yang kau lakukan hingga mereka mau menampung jalang sepertimu? jangan berpura-pura menjadi gadis yang baik, kata mereka kau berasal dari panti asuhan, mereka melihatmu di depan Tokonya, sungguh malang nasibmu mengapa kau datang kerumah mereka membawa kesusahan di keluarganya harusnya kau jual saja dirimu di tempat pelacuran tapi tidak ada yang mau bersama jalang sepertimu, kau cocoknya berakhir dijalan saja".


Andria menatap mulutnya yang berbicara tanpa terkontrol itu, kemarahan Andria tidak bisa lagi di bendungnya, Andria maju selangkah mendekati Lucy.


"Apa yang akan kau lakukan jalang"! Dia mendorong tubuh Andria tapi malah tubuh kecilnya sendiri yang terdorong hingga dia masuk ke dalam gang sempit, wajahnya terlihat mulai ketakutan, sepatu bootnya menginjak air becek yang tergenang.


Andria dengan keras mendorongnya hingga tubuhnya basah oleh air kotor di dekat sampah, tiba-tiba saja dia terisak, dia menelepon Ronan agar menjemputnya sambil menangis parau.


"Ronan...Ronan kau di mana? tolong aku? please.. datanglah andria..Andria dia..". Klik


Dia mematikan ponselnya dengan senyum jahat diwajahnya, dia menyeringai. "Nah, habis kau sekarang gadis bodoh"!


Dia lalu meringkuk dan tertawa riang, "Ah aku tidak sabar mengeluarkanmu dari rumah bibi, gadis sepertimu hanya parasit yang bergantung di rumah orang, apa kau tidak merasa malu"?


Andria menamparnya dengan tamparan yang cukup keras hingga membekas. Wajahnya terkejut dia memegang pipinya dengan marah, meskipun dia ingin menyerang Andria tapi tubuh kecilnya tidak sanggup melawannya.


Suara tapak kaki dibelakang andria membuat keduanya berbalik.


"RONAN ! tolong aku...dia mengataiku dan memukulku". Dia merintih dan memegang pipinya, Ronan segera membantunya untuk berdiri.


"Apa yang terjadi? matanya menatap Andria tajam. "Mengapa kau memukul lucy, Andria"!


Lucy menangis di pelukan Ronan, Andria hanya berdiri terpaku menatap Lucy yang berakting dengan sempurna semua kesalahan di limpahkan ke Andria.


"Bawa aku pulang ronan, aku takut melihatnya nanti dia menyerangku lagi, lihat pipiku". Dia menunjukkan pipi merahnya kepada Ronan yang memang berbekas dan tergores oleh kuku Andria.


"Ada apa denganmu Andria". Ronan menggeleng dan memapah Lucy masuk kedalam mobil. Andria hanya berdiri di dalam gang.


"Tunggulah di sini Andria, sepertinya lucy tidak bisa semobil denganmu, setelah aku mengantarnya aku akan kembali". Dia lalu berbalik dan pergi.


Andria tersenyum kaku, Dia mengacak rambutnya, wanita itu betul-betul membuatku marah.


Andria tidak memperdulikan kata-kata Ronan dia hanya berjalan di sekitar trotoar lalu berhenti di taman dan masuk ke central park yang luas, sangat sulit menemukan seseorang di sini ketika kau ingin menenangkan diri.


Andria terduduk di bangku seorang diri menatap langit-langit dan pepohonan yang menguning. Apakah aku harus pergi dari rumah itu? tapi kemana? pikirannya membawanya kepada alec, dia memberiku kunci apartemen, perlukah aku menggunakannya?


Ponsel Andria berdering, Ronan meneleponnya, Andria mengangkatnya dan mendengar suara Ronan yang mencarinya dan menanyakan dia berada di mana.


"Aku bertemu dengan temanku, mungkin sebaiknya aku menginap di sana untuk sementara waktu". Ucap Andria tanpa menunggu kata-kata Ronan, Andria menutup ponselnya.


~


"Andria ! Halo...halo ! ANDRIA !


"Sial ! Ronan mengelilingi pusat perbelanjaan di Seattle tetapi dia tidak menemukan Andria di sana setelah mengelilingi beberapa kali tempat itu, Ronan akhirnya kembali.


Wajahnya terlihat khawatir dan masih menghubungi nomor Andria tapi dia tidak mengangkatnya sama sekali.


Andria berjalan dengan menyeret kakinya Ke alamat yang diberikan Alec padanya, dia menatap sebuah apartemen yang menjulang, andria menekan angka 7 di dalam lift dengan bunyi berdentang dia akhirnya keluar dari lift itu lalu mencari nomor apartemen yang sesuai dengan nomor dikuncinya.


Dia akhirnya menemukannya, lalu masuk ke dalam ruangan yang sudah tertata dengan rapi dipenuhi dengan barang-barang yang di sediakan Alec untuknya begitupun baju-baju sepatu dan tas di dalam lemari, semuanya tersedia dengan lengkap.


Andria duduk di sebuah sofa yang empuk tanpa sadar dia meringkuk dan tertidur pulas,


Matahari kian tinggi, meskipun terlihat mendung di luar sana, Andria terbangun di pagi itu, dia meregangkan tubuhnya, lalu menatap jam di ponselnya, tepat jam 8 pagi, andria melihat banyak panggilan masuk kepadanya. Ronan meneleponnya dan mengirimkan teks kepadanya menyuruhnya pulang, sementara itu Alec juga menghubungi nya. Andria mengelilingi apartemen yang diberikan Alec padanya, "segampang itu dia memberikanku tempat ini, apa yang ada di kepala pria itu"? gumam andria, dia kemudian berjalan ke dapur dan membuka kulkas yang besar dan tentu saja semua yang dibutuhkan andria lengkap didalamnya.


Dia membuat sarapan hanya roti isi dan telur dadar yang di goreng, lalu menuang susu di gelas. Andria menatap pemandangan luar jendela sambil mengunyah makanannya, untuk sementara aku akan tinggal di tempat ini, pikir Andria.


~


Gery mengetuk beberapa kali kantor di ruangan Mr. Alexander Nicholas Yung setelah mendengar sekertarisnya berbicara akhirnya dia masuk. Alec sedang menelepon sambil menghadap ke jendela besar di belakang kursinya. Gery menunggu hingga ia selesai menelepon. Lalu berbalik menatap Gery yang telah berdiri di hadapannya.


"Ada kabar apa Gery"! tanyanya.


Dia sedikit menunduk, "Miss Andria sekarang berada di apartemen tuan Alec, sepertinya semalam dia tidur di sana".


Sebentuk senyuman merayap di bibir alec, "Benarkah? apa yang terjadi"?


"Saya belum mendapat alasan yang jelas tuan Alec".


"Tidak masalah"! Dia mengambil ponselnya dan menelepon Walch. "Batalkan rapat untuk hari ini". Dia menutup ponselnya dan bergegas keluar dari kantornya.


~


"Tempat ini begitu luas, pikir Andria dia mencoba menghilangkan keheningan dengan mendengarkan musik yang dikeraskan. Kemudian dia beranjak ke kamar untuk mandi, setelah setengah jam berada di kamar mandi Andria segera keluar dia betul-betul menikmati waktu kesendiriannya. Hanya mengenakan handuk mini berwarna putih dia lalu mengeringkan rambutnya yang basah, sambil berjalan ke ruang tengah untuk mengambil minuman.


"Kau mandi begitu lama Andria"! Suara bariton yang berat membuat Andria terkejut sehingga pegangan botol plastik di tangannya terlepas, dia memandang seseorang yang duduk dengan santainya di sofa memperhatikan gerak gerik Andria sejak keluar dari kamar.


"Apa..apa yang"! Andria lalu menatap dirinya yang setengah telanjang hanya mengenakan handuk kecil yang menutupi separuh tubuhnya yang penting.


Alec tersenyum miring, tentu saja dia menatapnya intens dengan pandangan lapar di wajahnya.


Sebelum Andria berbalik tangannya telah di cekal oleh Alec, lalu menarik pinggang Andria dan mengeratkan pelukannya. Ciuman kilat mendarat di bibir andria, "Kau mencoba menggodaku Andria"? Dia melengkungkan bibirnya tersenyum senang dengan ketidakberdayaan andria di pelukannya.