Her Secret

Her Secret
'Julia'



Sikap burukku biasanya muncul ke permukaan jika aku sedang kesal, aku mencoba menjadi wanita normal yang bisa bersikap lembut dan lebih ramah kepada siapa saja, hal itu kupelajari dari pelanggan-pelanggan wanita yang datang ke cafe, begitupun douglas yang dengan sabar memperkerjakanku dengan atitudeku yang buruk ketika pertama kali berjumpa dengannya.


Hari ini entah mengapa aku begitu kesal, aku tahu kalau aku tidak begitu mengetahui tentang alec, apa yang disukainya atau dibencinya bahkan nama panjangnya saja sampai Minggu yang lalu aku baru betul-betul mengingatnya, aku hanya mengetahui namanya Alexander atau Alec, 'Alec Alexander yung', Gumamku sambil menyandarkan daguku pada tanganku, seperti melamun.


"Kau menyebut sesuatu Andria"? tanya alec yang sedang menatap laptopnya dan kertas-kertas yang menumpuk di depannya.


"Tidak ada, kenapa"? jawab Andria.


"Tidak ada? katanya ragu, "sebentar lagi aku selesai, kita akan makan malam di luar". Alec lalu kembali mengalihkan pandangannya ke laptopnya.


'Dia pria membosankan', bisik Andria lagi.


Alec mengangkat wajahnya sambil mengernyitkan alisnya menatap Andria, "Aku jelas mendengarmu menyebut 'pria membosankan'?


Andria menaikkan alisnya dan menggeleng, "Kau mungkin salah dengar Alec, aku tidak mengatakan apapun". ucap Andria yang bersandar di sofa memainkan remote tv di tangannya.


Kali ini suasana hening membuat Andria menatap alec yang kehilangan fokus saat bekerja, "Ada apa? aku sama sekali tidak mengatakan apapun". kata Andria menyakinkannya, Alec tidak mengatakan apapun dan kembali fokus pada laptopnya.


'Alexander Yung?


'yung seperti nama orang yang berasal dari Korea? dia pasti bercanda', bisik Andria lagi, kali ini alec tengah berdiri di belakang Andria sambil melipat kedua tangannya, Alec dengan jelas mendengar ucapan Andria yang berbisik.


"Got you"! ucapnya di belakang Andria membuatnya terkejut. "Kau jelas mengucapkan sesuatu tentangku Andria". Dia melengkungkan mulutnya. "Sekarang aku tidak bisa menyelesaikan pekerjaanku berkat seseorang". Dia menarik wajah andria dan menciumnya lembut, "Pria membosankan eh? jadi menurutmu aku ini pria membosankan? ucap alec yang kini memojokkan Andria hingga dia terkurung di kedua lengan Alec.


"Erm..aku hanya mengatakannya karena aku lapar". kata Andria mencari alasan.


"Terlambat ! aku harus menghilangkan lebih dahulu rasa bosanmu bukan"? Alec menarik tubuh Andria dan membawa andria berbaring di atas tubuhnya, jantung Andria berdetak kencang.


Setelah ciuman yang begitu panjang, akhirnya Alec mengistirahatkan Andria dalam dekapannya. "Kau lapar? kita akan mencari makan diluar". ucapnya sambil mengusap rambut Andria yang tengah berbaring.


"Andria? kau mendengarku?


"Hem..aku tidak lapar lagi". ucap andria sambil menutup kedua matanya. Alec tersenyum tidak lama kemudian mereka berdua tertidur sambil berpelukan hingga pagi menjelang.


~


Seseorang tengah berdiri di depan flat Andria menunggunya hingga malam begitu larut, tetapi dia tidak datang juga, seketika sesuatu yang dibawanya untuk diberikan kepada Andria dia hempaskan begitu saja di lantai hingga hancur berantakan, dengan wajah begitu kecewa Ronan akhirnya beranjak dari flatnya.


"Sejauh itukah hubunganmu dengannya Andria? gumam ronan begitu marah, "Aku tidak akan membiarkanmu berakhir dengannya andria, tidak akan..meskipun nanti kau akan terluka karenaku". Dia berjalan di tengah malam buta lalu mengemudikan mobilnya begitu kencang.


~


Pagi menyambut dengan hangat, Andria membuka matanya lalu merasakan hembusan nafas dari sebelahnya, dia kemudian berbalik menatap alec yang masih tertidur dengan pulas sambil memeluk erat Andria. 'Mengapa dia begitu berat'? bisik Andria mendorong tubuh alec sangat pelan agar dia tidak terbangun.


Bukankah dia berada di sofa semalam bersama alec? mengapa dia berada di kamar Alec? "Dia mengangkatku"? ucapnya.


"Ya, dan kau sangat berat". Suara Alec yang serak membuat Andria berbalik, dia sudah bangun dan tangannya langsung saja menyambar tubuh Andria dan memeluknya. "Alec ! tegur Andria.


"One second, Ok". Kata Alec yang memeluk Andria begitu erat. Andria tersenyum tipis dan membalas pelukan alec di tubuhnya.


"I love you Andria".


"kau mendengarku"? Dia memberikan jarak agar dia dapat melihat langsung wajah Andria.


"Katakan kau mencintaiku", ucap alec. Andria tersenyum tapi menutup kedua matanya. "Hei say it", Andria"?


"Aku akan mengatakannya jika hujan turun malam ini". ucap Andria sambil menunduk di dekapan alec.


"Ugh, kau begitu berputar-putar Andria, katakan saja sekarang, aku ingin mendengarnya". Alec mengguncang pelan tubuh Andria yang masih menutup kedua matanya.


"Huff, Ok malam ini aku ingin mendengarnya, dan kau harus mengatakannya hujan ataupun tidak"! gerutu Alec yang masih memeluk erat Andria.


~Kediaman Anderson


"Tuan pulang semalam? tanyanya kepada pelayan wanita yang menuangkan teh di cangkirnya.


"Tidak nyonya". Dia kemudian berdecak lalu mengambil ponselnya dan menghubungi sekertarisnya.


"Dimana tuan Anderson? dengan gigi menggertak. "Apa? dia masih di kantornya lagi"? Dia membanting ponselnya dan menyelesaikan sarapannya, "Dan dimana doughlas? mengapa dia belum pulang juga", Teriaknya.


Pria paruh baya itu sedang duduk di kursinya, wajahnya begitu lelah hingga garis pada wajahnya tampak terlihat, dia melonggarkan dasinya dan bersandar pada kursinya sesekali memijat pangkal hidungnya. Dia kemudian membuka laci di mejanya lalu mengambil foto dan menatapnya dengan wajah sedih.


"Julia? maafkan dad, maafkan aku yang tidak bisa melindungimu".


Pria bermantel itu sedikit menunduk lalu melepas topinya. "Bagaimana penyelidikanmu"? tanyanya.


"Aku sedikit menemukan informasi mengenai insiden 10 tahun yang lalu sir, Mr.Okada yang pernah menjadi tetangga anda di California yang menjadi korban pada waktu itu bertempat tinggal di Portland Oregon".


"Benarkah"? Dia mengusap wajahnya agar kesadarannya kembali.


"Apakah anda ingin bertemu dengannya? dia saksi satu-satunya yang bertemu dengan nona Julia terakhir kali sir". Ucap pria itu.


"Aku ingin menemuinya, atur pertemuanku dengannya segera"!


"Baik sir".


~


Andria membuat sarapan buat mereka berdua dan setelah menyelesaikan sarapan dia bersiap-siap akan bekerja, "Kau yakin Andria masih ingin bekerja dengan pria British itu? tanyanya.


"Aku masih ingin bekerja di sana Alec, memang kenapa, kau terlihat begitu khawatir"? Andria mengambil tasnya dan menghampiri Alec yang sedang memasang dasinya.


Andria memakaikan dasi Alec dengan sedikit berjinjit. "Entahlah, sepertinya aku pernah melihat wajahnya di suatu tempat".


"Benarkah? ucap Andria yang selesai memasang dasinya. "Ok selesai".


"Aku tidak melihat masalah dengan doughlas, dia pria yang baik", jawabnya.


"Namanya doughlas? tanyanya. Andria mengangguk dan menarik tangan alec agar cepat ke pintu depan, "Cepat Alec kau akan terlambat".


"Aku pemilik dari perusahaanku Andria , apa kau lupa? siapa yang berani menghukumku jika aku terlambat"? kata Alec dengan tersenyum puas.


Andria hanya menggeleng dan tersenyum melihat sikap arogannya.


~


Perusahaan Linuxe sudah lama bekerja sama dengan EO enterprise, dan mereka sama-sama menghasilkan keuntungan yang memuaskan, Alec kembali ke kantornya bersama beberapa rekan bisnisnya setelah mengadakan rapat.


Mereka berjalan bersama dan berhenti ketika menunggu lift datang, "Selamat siang, senang bertemu denganmu Mr. Alexander, saya perwakilan dari Auditama grup, kami sangat bangga dapat bekerja sama dengan perusahaan besar kalian". Alec menjabat tangannya lalu beralih ke samping dan memandang wanita berambut coklat, "dan anda pasti nona Weakhly CEO cantik dari EO enterprise bukan"?


"Senang berjumpa dengan anda, pria paruh baya itu tersenyum tipis dan menggumamkan sesuatu kepada Alec.


"Aku sangat senang sekali jika Mr. Alec menerima undangan makan siang denganku, putriku yang baru saja pulang dari Perancis akan menemaniku makan siang, bagaimana jika anda bergabung bersama kami, lagi pula sudah saatnya anda memikirkan masa depan anda bukankah yang aku katakan masuk akal?".


Alec menatapnya tajam, tetapi tiba-tiba Jessie maju selangkah di hadapan alec, "Tidak, terima kasih Mr rough karena Mr. Alec akan makan siang denganku".


"Owh, jadi memang gosip yang aku dengar itu benar"? ucapnya.


Alec tidak begitu mendengarkan dia sedang sibuk dengan ponselnya.


"Antara Linuxe dan EO bukan hanya kerja sama bisnis belaka? bukan begitu Nona Weakhly"? Tiba-tiba saja pipinya bersemu merah, tetapi tidak menampiknya. "Kami permisi Mr. rough dan....


"Saya minta maaf aku harus pergi, sebentar lagi makan siang". Alec pergi begitu saja. "Gery ! siapkan mobil, perintahnya melalui ponselnya.


"Sepertinya hanya di pihak nona Weakhly saja kurasa? aku punya putra asuh dari Belanda maukah anda makan siang bersama kami? kata Mr rough, Wajah Jessie memerah dia sedikit menggeram, matanya menatap tajam Alec, dia tahu dia akan pergi bertemu dengan gadis itu.


"Mr. Alexander, tunggu...Mr Alec tunggu sebentar", Teriak Jessie.


Alec berbalik dan menatapnya, "Maafkan aku memanggilmu tapi, maukah kau makan siang bersamaku? ada yang ingin aku bicarakan".


Alec menatapnya, "Lain kali saja Weakhly aku harus segera pergi". Ucap alec menunggu mobil Gery.


"Kalau begitu kita bicara di mobilmu saja, kumohon Alec, ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu".


"Baik ! bicarakan di sini sebelum Gery datang, katakan apa yang ingin kau bicarakan Weakhly".


Dengan menautkan jari-jari tangannya Jessie memberanikan dirinya dan menatap alec dengan pandangan lemah dengan wajah sensual. "Aku....aku menyukaimu Alec, aku tahu kau bersama Andria tapi aku menyukaimu sudah sejak lama".


"Terus"?


"Apa? matanya membulat mendengar jawaban alec.


"Aku mendengar semua yang kau katakan kepada Andria sewaktu dirumahku Weakhly, dan aku tidak menyukai kata-katamu terhadap Andria, jangan mencampuri urusan pribadiku, atau aku akan berpikir ulang kembali untuk menjalin kerja sama dengan EO enterprise, jaga sikapmu kau hanya perwakilan dari grupmu jangan melewati batas".


Alec langsung saja masuk kedalam mobilnya ketika Gery sudah datang menunggunya. Tinggal Jessie yang memandangnya dari kejauhan. "Aku tidak akan menyerah Alec, aku akan menyingkirkan gadis itu meskipun aku tidak bisa bersamamu".