
Dering ponsel bergema di mobil Alec, tanpa menatap layar ponselnya dia mengambilnya dan suaranya yang tinggi sedikit membentak.
"Halo!" ucap alec yang mengira penelepon adalah salah satu orangnya.
"Alec? Alec kau dimana?" tanya andria.
Suara cemas Alec kemudian berfokus pada suara yang begitu dirindukannya.
"Andria? apa yang terjadi? kau dimana sekarang?" ucapnya khawatir.
"Aku sudah berada di rumah, di kediaman kita Alec, kemarilah aku akan menceritakannya."
Wajah cemas Alec masih belum mengerti dengan apa yang dikatakan andria, tetapi dia mengikuti apa yang Andria katakan.
"Kembali ke mansion." perintahnya.
"Baik tuan."
Ketika Alec telah tiba di kediamannya, Andria lalu menghambur dan melompat di pelukan Alec, wajah khawatir seketika berubah menjadi menuntut, sebuah pelukan tidak cukup mewakili rasa khawatirnya, dia menggendong Andria di tubuhnya, sementara orang-orang yang melihatnya membalikkan kepalanya atau menunduk.
Pelukan erat alec membuatnya kesulitan bernapas. "Alec? ucap Andria memasang wajah putus asa mendorong keras tubuh alec yang menghimpitnya.
"Aku baik-baik saja sayang, kein juga baik dia sedang tidur di dalam." ucapnya melihat wajah gemetar Alec yang masih membisu.
Dia masih mengangkat tubuh Andria sampai masuk ke dalam rumah, lalu meletakkan tubuhnya di atas tempat tidur, "Alec? ucap Andria yang melihat wajah alec yang masih khawatir.
Tanpa mendengarkan perkataan Andria Alec sudah berada di pelukannya, kekalutan atas kehilangan Andria membuatnya ingin melepaskan segala kerisauannya, sehingga mereka akhirnya larut dalam percintaan yang dalam membuat teriakan-teriakan andria menggema di kamar itu, pekikan dan desahan mewarnai dua insan yang saling melepaskan kerinduan.
Setelah hari yang panjang, Andria baru membuka kedua matanya ketika malam telah tiba, sakit di sekujur tubuhnya membuatnya meringis, beberapa memar di lengan dan beberapa tubuhnya membuat Andria mencubit pipi Alec, dia betul-betul tidak menahan-nahannya, hingga bagian sensitif Andria terasa sangat sakit dan ngilu sehingga andria kesulitan untuk bergerak.
Cubitan di pipi Alec membuatnya terbangun, dia menatap wajah cantik Andria yang duduk di sampingnya sambil meringis.
"Maafkan aku sayang, aku...aku tidak bisa menahan diriku lagi." Alec terduduk di sampingnya dan mencium Andria begitu erat, "Katakan padaku, apa sebenarnya yang telah terjadi?"
Andria lalu menjelaskan semuanya, tentang pria bernama Leon dan pencariannya terhadap doughlas, lalu dia melepaskan kami begitu saja. Alec mengernyitkan alisnya, sangat curiga terhadap pria bernama Leon itu, dia akan memeriksa data-data tentangnya. pikir alec.
Alec menatap beberapa lebam berwarna kebiruan di tubuh istrinya, lalu mengecup di setiap jengkal tubuhnya. "Maafkan aku sayang, aku betul-betul kehilangan kontrol hingga menyakitimu." ucap alec di sela-sela ciumannya.
meskipun begitu tubuh Andria semakin lama semakin panas dan tidak tahan untuk tidak menggeliat, hal ini sangat di sadari oleh Alec, dia tersenyum dan akhirnya melanjutkan percintaan mereka sambil tersenyum menatap istrinya yang begitu liar terhadapnya.
~
Leon sedang menyesap minumannya sambil menatap ke pemandangan kota Vancouver, entah mengapa wajah wanita itu begitu membekas di otaknya dan sulit untuk di singkirkan, dia berdecak kembali menuang minuman di gelasnya hingga penuh lalu meneguknya kembali. "Ck, mengapa wajahnya terus terbayang? dia sudah menjadi seorang ibu dan istri apakah karena selama ini aku sudah lama tidak bersama dengan wanita hingga pikiranku kemana-mana.
Dia akhirnya bangkit mengenakan kemeja dan jaket berwarna hitam yang membungkus tubuh atletisnya yang sempurna.
"Aku akan berburu hari ini, wanita tidak akan bisa menjauh dariku." ucapnya sambil kembali meneguk minumannya dia lalu mengambil kunci mobil dan mengendarai mencari udara segar agar wajah Andria tersapu dari kepalanya.
~
"Ya sir, ini data lengkap yang anda minta."
Alec lalu membacanya, seketika tubuhnya meremang dia tahu clan yang tertulis jelas di depan matanya, "Clan de Lucas!" ucapnya.
"Ya sir, clan yang menguasai separuh kota di Milan dengan ratusan kelompok bersenjata yang di danai oleh Lucas Holding Corporation, dan beberapa negara pendukung yang mendanai aktivitas clan ini, Leon de Lucas adalah pemimpin clan baru beberapa tahun dia menjabatnya karena kakaknya telah meninggal."
"Rowena pernah menjalin hubungan dengan pemimpin clan ini sehingga dia mencari tuan doughlas yang masih keturunan clan de Lucas." Jelas walch.
Alec bersandar sembari menatap nama pria yang menculik Andria dan putranya, "Leon de Lucas, pria ini yang menculik Andria bukan?"
"Ya sir, pria ini berbahaya sir saya harap kita tidak memiliki hubungan apapun dengan mereka." ucap walch cepat, tatapan Alec berkilat berbahaya.
"Dan aku tidak akan membiarkan dia dengan seenaknya memperlakukan istriku seperti itu, dia harus berhadapan denganku." ucap alec begitu marah.
"Tambah penjagaan di setiap sudut dan jangan biarkan siapapun mendekat, perketat sistem walch, aku tidak ingin istriku berada dalam bahaya lagi." perintah alec.
~
Andria mengucek matanya yang masih terasa berat, dia meraba-raba di sampingnya terasa kosong dan ringan, suara Alec menggema di ruang kerjanya Sepertinya dia berbicara dengan walch.
Andria menatap jam di nakas lalu melihat cuaca di luar berkabut padahal jam sudah menunjukkan angka 8, "ugh tubuhku sakit semua, apa yang dilakukan Alec padaku semalam? mengapa begitu sakit." ucap Andria meringis setiap kali Bergerak.
Dia berjalan terhuyung-huyung, membuka kimononya begitu saja di depan cermin lalu menatap tubuhnya yang di penuhi memar kebiruan.
Andria memutar tubuhnya lalu melihat tubuh bagian belakangnya di cermin, mulutnya sedikit terbuka ketika matanya tertuju pada bagian bokongnya yang berwarna kebiruan. "Memang apa sih yang Alec lakukan sampai tubuhku memar-memar begini." desis Andria lalu merasa seseorang menatapnya dari pintu.
"Masih pagi sayang, kau mencoba menggodaku sepagi ini." Ucap alec sambil menaikkan satu alisnya. "Aku tidak keberatan tapi bagaimana dengan tubuhmu? apakah masih sakit?" tanyanya sambil berjalan ingin meraih Andria ke pelukannya.
Dengan cepat Andria mengambil kimononya lalu memasang di tubuhnya. "Jangan mendekat Alec, apa yang sebenarnya kau lakukan pada tubuhku? mengapa aku sampai memar begini?" ucap Andria dengan marah.
Tanpa memperdulikan kemarahan Andria, Alec menarik tubuh andria di pelukannya, dia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher andria kemudian menghirup wangi tubuh selalu di pujanya.
"Jangan marah sayang, kemarin aku begitu khawatir sampai hampir menyakitimu, aku terlalu mencemaskanmu, bagaimana jika sesuatu terjadi padamu, bagaimana aku bisa melanjutkan hidupku?".
Andria lalu memeluk erat Alec yang masih mendekam di pelukannya hingga Andria memekik. "Alec, kein akan segera bangun, lepaskan! aku mau mandi." ucap Andria yang masih berada di pelukan Alec.
"Mm oke sayang lima menit lagi." ucapnya. Suara pintu yang diketuk, tetapi keduanya tidak mendengarkan ketukan itu, akhirnya kein membuka pintu begitu saja.
"Mommy Daddy?? aku mau bermain..." wajahnya terkejut melihat ayahnya memeluk erat ibunya.
"Dad lepaskan mommy, kau menyakitinya." ucap kein dengan wajah marah memandang alec.