Her Secret

Her Secret
Ingatan Andria



Mansion Alexander,


Suasana di depan halaman mansion Alexander nampak begitu tegang, klan Leon yang tidak mau pergi sebelum mendapatkan apa yang diinginkannya masih berdiri kokoh di tempat itu, tetapi saat bunyi letusan senjata dari arah mansion terdengar membuat semua orang yang ada di sana begitu terkejut, alec berbalik dan berlari begitu kencang diikuti oleh mereka semua menuju ke tempat Andria.


~


Suara senjata itu membuat Andria menutup telinganya, dan menggapai-gapai kein yang terjatuh di lantai, dia memegang tubuh kein dan melihat tubuh putranya.


"kau terluka? Kein apakah ada yang sakit?" Ucap Andria, kein menggeleng cepat.


tembakan dari Morelli mengenai atap kamar. Dia menggeram morelli yang digigit tangannya oleh kein tidak diam begitu saja, dia memukulkan gagang senjata yang di pegangnya kepada Andria begitu keras sehingga pelipisnya merah dan mengeluarkan sedikit darah.


Kein menangis, "Mommy!!! Teriak kein.


Morelli mengunci pintu sehingga penjaga yang ada di sana tidak bisa masuk. Suara kein yang menangis membuat Andria tersadar dari sakit yang dirasakan di kepalanya.


"kein...kein jangan menangis sayang mom di sini." teriak Andria.


Mata tajam Andria seketika menatap wajah Morelli dengan sekejap dia berdiri dari posisinya yang terduduk kemudian satu pukulan mendarat di hidung Morelli.


Tubuh Morelli terdorong ke belakang membuat kesempatan untuk Andria mengambil senjatanya, Morelli tidak diam begitu saja dia menangkis serangan Andria yang begitu kuat, dan tendangannya seperti seseorang yang biasa bertarung.


'Ada apa dengan wanita ini? Tiba-tiba saja dia menjadi begitu kuat berbeda sekali dengan dirinya yang biasanya terlihat rapuh dan harus selalu di Lindungi.'


"Jangan sentuh anak-anakku jalang!" Ucap andria lalu sekali lagi memutar tangan Morelli dengan ahlinya dan mengambil senjata dari tangannya, mendorongnya hingga terjatuh di lantai dengan satu pukulan dari gagang senjata dia langsung jatuh pingsan.


Napas Andria memburu, dia melempar senjata itu menjauh dan merengkuh tubuh putranya yang menangis, sekali lagi dia meneliti tubuh putranya ketika tidak ada yang terluka dia mengambil napas lega.


Suara tendangan pada pintu membuat Andria terkejut, Alec menerjang masuk ke dalam seketika matanya menatap andria yang memeluk kein dan darah yang mengalir di pelipisnya.


Dia menghambur kepada istrinya memegangnya. "Andria, kau tidak apa-apa?" Kau terluka....


"Gery, cepat panggilkan dokter." Teriak Alec.


"Aku baik-baik saja alec hanya sedikit lecet." Ucapnya, beberapa orang sudah menyusul ke tempat itu menatap Andria, "Apa yang terjadi? Kau terluka??" Tanya doughlas melihat Andria yang duduk di lantai bersama alec, matanya beralih menatap wanita yang pingsan di lantai.


"Bukankah wanita itu berasal dari klanmu?" Tanya doughlas menuduh Leon yang anehnya juga ada di sana, matanya tidak lepas dari Andria.


"Dia baik-baik saja?" Tanyanya.


"Istriku baik-baik saja, dan berhenti menatapnya !" Ucap alec.


"Varoni !"


"Ya tuan."


"Bawa dia ke klan, kupikir dia sudah kembali ke Milan." Ucap Leon menatap varoni.


Beberapa orang membawa tubuh Morelli yang pingsan lalu pergi dari sana, dan sekali lagi dia menatap Andria yang membenamkan wajahnya di tubuh alec.


"Wanita yang menyerang julia sudah aku usir dari klan ku dia bukan bagian dari klan de lucas." Ucapnya tanpa mengalihkan matanya dari Andria.


"Doughlas aku menunggumu di Milan kita akan bertemu di sana." Ucapnya.


Sebelum dia beranjak, dia menatap Andria dan senyum tipis tercermin di wajahnya.


"Selamat tinggal Julia." Bisiknya, dia berbalik dan akhirnya meninggalkan tempat itu.


Andria sedikit mengerlingnya dan menatap punggungnya yang pergi menjauh. Alec membawa Andria keluar dari tempat itu dan kembali ke kamarnya, sementara kein dan Abel berada bersama neneknya yang baru saja kembali dari Vancouver.


"Duduklah, biar aku mengobatimu sayang." Ucap alec.


"Jangan bergetar Alec, aku tidak apa-apa." Bisiknya.


Dia memutar tubuh alec perlahan mereka saling menatap, seketika Andria berjinjit dan mengalungkan tangannya di leher Alec dan mendaratkan kecupannya.


~


"Apakah Andria baik-baik saja?" Tanya ronan yang masih berada di ruang tamu.


"Ya, dia baik-baik saja." Jawab doughlas.


"Huff syukurlah, tidak ada yang terluka, jadi..mengapa pria bernama Leon ingin bertemu denganmu?" Tanyanya.


"Entahlah, mungkin ingin membahas masalah klan, seharusnya Leon sudah harus memiliki keturunan untuk mewarisi klan de Lucas berikutnya tapi sayangnya dia belum memilikinya, dan niatnya kepada Andria untuk dia nikahi pupus sudah, dia harus segera menikahi wanita lain dan mewarisi klan berikutnya." Ucap doughlas.


~


"Alec? Panggil Andria.


"Ada apa sayang?" Ucap alec mengambil kotak obat dan mencoba mengobati luka di kening Andria.


"Aku mencintaimu." Bisik andria.


Alec tersenyum, meskipun begitu masih ada ketegangan di wajahnya.


Andria memegang lengannya, lalu menghentikan alec dari mengobatinya dia menarik Alec kedalam pelukannya.


"Aku tidak apa-apa Alec, jangan khawatir." Ucap andria Sambil menatap wajah pria yang dicintainya ini. Kecupan Andria membuatnya lupa akan ketakutannya, mereka saling melepaskan kerinduan dan hanyut dalam pusaran cinta, Andria ingin melepaskan ketakutan dan ketegangan yang dirasakan oleh Alec, sehingga tanpa di tahannya lagi, Alec melakukannya begitu kasar dan menuntut, membuat Andria hanyut dan terbawa dalam gairah Alec yang menggebu-gebu.


Mereka saling berpelukan dan saling menatap setelah melepaskan diri dari percintaan mereka, entah berapa lama Alec memiliki tubuh andria hingga setiap kali Andria bergerak dia berjengit.


"Kau tidak apa-apa." Tanya alec


Andria mengangguk, "aku tidak apa-apa." Bisiknya.


"Tapi, mungkin kali ini aku tidak bisa banyak bergerak." Bisik Andria lagi. Dia memeluk Andria, ketegangan Alec Sepertinya telah hilang sedikit, dia kelihatan rileks dan nyaman.


Ketukan beberapa kali membuat alec berdecak, "mengapa mereka tidak membiarkan kita saja, aku masih ingin berlama-lama memelukmu sayang." Keluh Alec sambil melepaskan pelukannya dari Andria, dia bangun dari tempat tidur dan mengambil bajunya dan celananya dan mengenakannya dengan cepat di hadapan Andria.


Andria tidak melepaskan pandangannya dari menatap suaminya.


"Menikmati pemandangan?" Ucap alec, tersenyum miring.


"Aku sudah menikmati pemandanganmu seperti ini bertahun-tahun Alec, dan aku tidak pernah bosan." Senyumnya.


Andria tertawa tapi langsung terkejut dengan sakit yang dirasakannya.


"Jangan banyak bergerak sayang, kau.....


Wajah alec tiba-tiba terkejut begitu saja, dia lalu menghampiri Andria dan membantunya untuk duduk.


"Kau mengingatnya sayang? Ingatanmu sudah kembali?" Tanya alec dengan wajah bersinar menatap Andria.


Andria menganggukkan kepalanya lalu tersenyum, Alec lalu memeluknya erat dan mengecupnya.


"Terima kasih sayang kau sudah mengingatnya kembali." Mereka saling memandang dan merekatkan kening mereka, terdengar ketukan tidak sabar dari pintu.


"Mommy?? Dad??" Teriak kein dari luar pintu.


Alec membuka pintu kamar dan segera kein dan Abel yang berada dalam gendongannya menghambur masuk ke dalam kamar mencari ibunya.