
Alec sedang duduk di meja kantornya, terdengar ketukan dari luar pintunya. "Masuk". ucapnya. Seorang pria masuk dengan membawa dokumen lalu menyerahkannya kepada alec.
"Ini data yang anda minta sir". Kata walch sedikit menunduk.
"Ok walch, dan siapkan semuanya, saya ingin acaranya dilangsungkan di Vancouver". Perintah alec.
"Baik sir".
Walch lalu berbalik dan menutup pintu kantornya. Alec mengambil dokumen yang di serahkan walch padanya dan mulai membacanya, "Mr, Anderson? aku tentu tahu siapa dia, sama sepertiku seorang pemilik dari beberapa perusahaan besar di Amerika, tetapi aku tidak tahu tentang kehidupan keluarganya, dan mengapa Andria mencari tahu tentangnya"? Ucap alec yang membaca setiap detail tentang Mr Anderson, mereka rekan bisnis yang cukup baik untuk menjalin kerja sama dengannya.
"Apa yang ingin andria ketahui tentang keluarga Anderson"?
Tepat pukul 1 siang Andria hendak ke seberang jalan untuk makan siang disana, terdengar klakson mobil dari arah belakangnya membuat Andria berbalik. Alec membuka pintu mobilnya dan segera menghampiri andria.
"Kita makan siang, aku belum makan". Ucapnya sambil memegang tangan andria. Dia menarik Andria menuju mobilnya Tanpa bertanya padanya. Andria menghembuskan napasnya.
"Ada apa"? tanya alec mengerlingnya sesekali sambil menyetir mobilnya.
"Kau selalu saja seenaknya, kau harusnya bertanya dulu padaku", Ucap Andria kesal. Alec tersenyum miring, "Kau pasti belum makan siang dan aku juga jadi apa masalahnya Andria"? Andria enggan membalas ucapannya jadi dia diam saja mendengarkan sikapnya yang bossy seperti biasanya.
Mereka tiba di restaurant mewah yang ada di Vancouver, seorang pelayan membawa mereka di salah satu meja yang cukup private. "Alec memesan semuanya tanpa perlu andria membuka suara.
Alec menautkan jari-jarinya dan menatap Andria dia lalu memiringkan Sedikit kepalanya bertanya-tanya apa yang dicari Andria dengan mencari tahu informasi tentang keluarga Anderson? Apa yang di rahasiakannya? pikir alec.
Hidangan pembuka telah tersaji dihadapan mereka berdua Fruit salad dan cocktail dingin. Alec tersenyum memandang Andria yang mulai mencicipinya. "Bagaimana, kau suka? tanyanya. Andria mengangguk dan mulai memakan hidangan pembuka itu. Alec tersenyum sambil mulai melahap hidangannya.
Setelah semua hidangan telah disajikan, dan mereka telah menyantapnya, Alec menuntun Andria keluar dari restaurant sambil memegang tangannya. "Kita akan kemana Alec? aku harus kerja", ucap Andria.
"Hari ini aku ingin kau menemaniku, ok". Senyumnya mengembang di wajahnya, Andria tidak sanggup menolak senyum itu. Setelah beberapa waktu Alec menghentikan mobilnya di penthousenya dan segera turun membukakan pintu untuk Andria.
"Untuk apa kita ke sini"? tanya Andria menatap tempat dimana ingatan ketika Alec menelanjanginya terekam kembali di otaknya.
"Ayo masuk", Perintah alec. Ketika mereka berdua masuk Seorang pria dengan gaya anggun dan gemulai datang menghampiri keduanya.
"Selamat siang tuan Alec, kami sudah siap" Ucap pria gemulai itu langsung menatap Andria dengan wajah berseri-seri. "Aku ingin semuanya Sempurna". tegas Alec yang menekan ponselnya tanpa memandangnya.
"Kami akan melakukan yang terbaik tuan", katanya dengan sedikit menunduk. "Aku akan menemuimu sejam lagi sayang". Ucap alec mengecup kening Andria lalu pergi begitu saja.
Andria dengan wajah bingung menatap pria cantik ini di depannya, "Selamat siang erm..."
"Panggil aku Helen sweet heart". Ucap pria itu sambil mengelilingi Andria dan menilainya.
"Ok, waktunya bersiap-siap sayang". Andria di bawa olehnya beserta beberapa wanita dengan seragam berwarna merah yang mengikutinya dari belakang. Ruangan itu begitu besar dengan perlengkapan make up yang lengkap serta beberapa gaun indah yang tergantung berjejer rapi.
Makeup yang minimalis dan natural tapi terkesan elegan, Helen kemudian membawa gaun indah bertekstur lembut dan halus dengan warna pastel yang lembut gaun itu memberi kesan seksi dan elegan dengan bagian dada sedikit menyembul dan bagian bahu yang terbuka, hanya tali transparan yang melekat di kedua bahu Andria, rambutnya di di tata dengan digelung lalu rambut di bagian kening Andria dibiarkan terlepas membuatnya terlihat sangat anggun.
Andria menatap dirinya di depan cermin dengan sedikit tercengang. Wajah cantik yang memandangnya melalui pantulan cermin membuat Andria tidak percaya itu adalah dirinya.
Pintu dari ruangan itu terbuka, Alec telah siap dengan setelan jasnya yang berwarna Hitam, dia terlihat sangat tampan. Alec terdiam hanya menatap Andria intens, dia menghampirinya dengan matanya yang tidak pernah berpaling.
Alec menggenggam tangan Andria dan mengecupnya, pandangan matanya tidak terlepas dari wajah Andria. Dengan kikuk Andria berdiri sambil sedikit menutupi dirinya di bagian dadanya yang terbuka.
"Kau sangat cantik sayang". Senyum alec lalu mengambil tangan Andria yang menutupi bagian dadanya. "Jangan menutupi kecantikanmu". bisiknya di telinga andria membuat andria bersemu merah.
Perlahan Alec mengecup bibirnya dan melekatkan keningnya ke kening Andria. "Kita akan pergi kemana Alec"? tanyanya.
Alec tersenyum miring, dia lalu membukakan pintu mobil untuknya lalu dia naik berikutnya.
"Kita akan ke pesta ulang tahun perusahaanku". Gumamnya sambil menggenggam tangan Andria tanpa mau melepaskannya.
Jantung Andria berdegup begitu kencang, Apa? ulang tahun perusahaan? dan dia membawaku, apa yang harus aku katakan, berdiri disana menjadi wanitanya dan dipandangi oleh puluhan orang yang siap bertanya siapa wanita di sampingnya itu?
Alec menggenggam tangan Andria sementara tangan yang lainnya sibuk memainkan ponselnya. Tidak lama kemudian kami tiba di salah satu hotel termewah di Vancouver, Gery membuka pintu mobil untuk Alec dan tidak lama kemudian alec mengulurkan tangannya kedalam mobil, Andria mengulurkan tangannya pada alec dengan melihat senyum menenangkan di wajahnya.
Andria menekan rasa khawatirnya, aku akan baik-baik saja, pikir Andria mencoba berjalan tenang di samping alec. Setelah masuk ke ball room orang-orang memandang ke arah Alec dan Andria. Puluhan pasang mata tentu saja memandang kepada alec yang merupakan pemilik perusahaan ini. "Jangan gugup sayang aku ada di sampingmu". gumam Alec menggenggam tangan Andria yang berkeringat.
~
"Siapa wanita itu? Kata seorang wanita dengan rambut pirang bergelombang yang tengah menyesap minumannya, seorang wanita dengan wajah cantik dengan gaun merah menyala tersenyum miring menatapnya.
"Aku tahu siapa wanita itu? dia wanita yang merebut tunanganku". ucap Karen pada wanita-wanita yang bergosip di sana. "Aku tidak tahu apa yang Alec lihat darinya". ucapnya sambil mengibaskan rambut merah bergelombangnya.
"Ck ck tentu saja Alec tidak akan memilih wanita murahan untuk menjadi kekasihnya apalagi tunangannya, bukankah kau wanita yang tidur dengan Jason tempo hari? tentu saja aku tahu siapa kau, jangan pernah mengaku-ngaku menjadi tunangan kakakku atau aku akan mengusirmu dari sini". Jean membelalakkan matanya dan berbicara keras agar semua orang di sana mendengarnya.
Karen menyimpan minumannya lalu menatap marah pada Jean, "Kau ! tunggu saja kau gadis kecil". Umpat Karen lalu melenggang pergi keluar dari ball room.
"Ups, aku harus hati-hati". Jean dengan santainya menaikkan bahunya, dan tersenyum kepada tamu-tamu yang ada di sana yang mendengarkan celotehannya.
~
"Ronan? bukankah wanita yang berada di samping tuan Alexander itu Andria? ucap Riley ternganga menatap Andria yang terlihat sangat cantik.
"Apa hubungan diantara mereka berdua"? tanyanya. Ronan hanya menatapnya tanpa berkata apapun tapi rahangnya mengeras, matanya menyala dengan amarah. Dia meneguk Vodka dengan sekali teguk. "Hei Ronan kau baik-baik saja kawan"? ucap Riley yang akhir-akhir ini melihat Ronan terlalu banyak minum setelah Andria pergi darinya.
Alec dan Andria duduk di meja yang telah disediakan di bagian depan, "Kau terlihat begitu cantik jika gugup Andria. Bisik alec kepada Andria, tangannya mulai mengusap paha Andria di bawah sana. membuat Andria sedikit terkejut Wajah Andria tetap tenang akan tetapi Andria mencubit keras tangan alec di bawah sana. Pria mesum ini tidak berubah sama sekali, pikirnya.