Her Secret

Her Secret
Menemukan julia



Malam itu begitu larut, keheningan malam membuatnya menjadi lebih merindukannya, alec terbangun dari tidurnya, dia sudah terbiasa dengan Andria yang berada di sebelahnya ketika dia tertidur, Alec mengacak-acak rambutnya hingga berantakan, dia lalu mengambil cerutu dan menyalakannya lalu mengisapnya, dia tidak pernah mengisap cerutu selama alec bersama Andria, dia berdiri di balkon menatap pemandangan Vancouver yang terbentang dihadapannya.


Bunyi ponsel mengalihkan perhatiannya, dia segera mengambilnya. "Ada kabar"? tanyanya.


"Sepertinya nona andria sudah pergi sir, flatnya sudah kosong beberapa hari yang lalu". Ucap salah satu orangnya di seberang telepon.


Alec menutup ponselnya keras, dia menggenggam cerutu yang masih berasap di tangannya, matanya menatap tajam ke arah foto di atas meja, wajah Andria yang tersenyum bersama alec di sampingnya, dia segera membantingnya dilantai hingga berserakan.


Ponsel alec kembali bergetar, "Sir, aku mendapat informasi jika salah satu dari orang-orang Mr.Anderson sedang mencari gadis bernama Kim Alexandria". Alec menaikkan satu alisnya.


"Benarkah? cepat juga Mr. Anderson". gumam Alec.


Alec memakai kemejanya dan segera berangkat ke Seattle, tetapi sebelum itu dia harus bertemu dengan Mr. Anderson, ada yang harus di katakannya.


~Tiga bulan kemudian....


"Andria kapan kau akan berkeliling kota ini? tiga bulan Andria ! tiga bulan kau hanya mendekam di cafe konyol ini, ayolah honey saatnya berpesta untuk dirimu sendiri". Kata Melia setengah memohon seperti seorang anak kecil yang merajuk.


"Ok Meliah aku ikut, hari ini kita akan kemana"? tanya Andria sambil melepas celemeknya dan menaruhnya di atas kursi.


"Untuk hari ini kita akan berjalan-jalan di sekitar area Terrasse Dufferin yang menghadap ke sungai St. Lawrence kau tidak akan melupakan pemandangan indah itu Andria, kau bisa membawa doughlas ke sana jika dia datang nanti, tempat itu sangat romantis". Kata Melia bersemangat.


"Doughlas? mengapa aku harus mengajaknya ke tempat romantis Melia? tanya Andria heran.


Andria lalu tersenyum, "Aku tidak memiliki hubungan dengannya seperti yang kau pikirkan".


"Ouch benarkah? aku pikir kau...ah sudahlah ! sebaiknya kau bersiap-siap honey kita akan berangkat sebentar lagi". Dia bertepuk tangan seperti seorang anak kecil yang begitu gembira.


Kami berdua mengendarai mobil untuk sampai ke St.lawrence, hanya 15 menit perjalanan dan kami telah tiba di kota yang betul-betul fantastis bagiku, sebuah bangunan kuno yang tak terlupakan, jalanan bernuansa vintage dekat dengan bangunan parlemen berarsitektur unik serta air mancur tourney. "Wah, aku tidak bisa membayangkan jika aku sekarang berada di tempat terkenal ini". ucapan andria membuat Melia mengerucutkan bibirnya.


"Kau harus banyak jalan-jalan Andria sayang". Setelah ini kita akan naik kereta gantung ke lower town dan menjelajahi toko-toko yang ada di sana, pasti sangat menyenangkan". Andria tertawa melihat Melia sedikit berlari dengan roknya yang mengembang.


Setelah puas berjalan-jalan dan menjelajahi toko-toko di lower town kami akhirnya singgah di sebuah restaurant tentu saja dengan bangunannya yang klasik. Hidangan yang kami pesan adalah Haitian Tassot, daging kambing atau sapi ala Haiti yang klasik serta smoked meat sandwich. Keduanya merupakan makanan yang terkenal di Quebec, setelah makan kami melanjutkan perjalanan kami di jalan Quebec city melihat beberapa barang-barang antik yang dijual di sana.


Setelah berjalan-jalan di kota Quebec, Melia mengajakku ke sudut kota montreal di sana akan diadakan Montreal International Jazz Festival, dan katanya di sana sangat ramai, Setelah sampai, Melia melompat-lompat mendengar musik keras yang terdengar di kota itu.


Andria ikut bertepuk tangan di sebelah Melia yang sepertinya sudah lupa jika Andria berada di sampingnya dia sibuk ngobrol dengan seorang pria.


Andria memegang ponselnya yang berdering, dia berjalan menuju salah satu tempat yang agak sepi, tapi sebelum dia mengangkat ponselnya tiba-tiba beberapa pria berpakaian hitam berjas mengelilinginya, membuat Andria berjalan mundur, terkejut menatap keberadaan mereka.


"Si..siapa kalian"! ucap andria.


Salah seorang menghampiri Andria di keremangan tempat itu, wajahnya yang lonjong dengan tubuh tegap menatap andria, "Nona Az Kim alexandria"? tanyanya.


"Apa..apa yang kalian inginkan"? ucap Andria tergagap.


"Iya, ada apa"? kata Andria mencoba bersikap tenang tetapi jantungnya berdebar kencang, dia memikirkan kelompok-kelompok mafia yang biasanya ada di film-film.


"Ikut kami nona", ucapnya dengan suara berat.


"Kenapa? Siapa kalian"! tanya Andria dengan suara bergetar.


"Seseorang ingin bertemu dengan anda".


"Siapa"? tanya Andria.


"Ikut dengan kami, dia ingin bertemu dengan anda". Dengan ragu andria mengikuti pria tegap yang berada di depannya, anehnya orang-orang yang berada di sekeliling Andria yang mengenakan jas hitam tiba-tiba lenyap begitu saja.


Di sebuah tempat yang cukup besar dengan bangunan yang menjulang di sekitarnya, telah terparkir beberapa mobil mewah berwarna hitam, Andria berdiri memandang mobil-mobil itu. Salah seorang dari mereka membuka pintu mobilnya dan segera menutupnya kembali, wajahnya tentu saja sangat kukenal dia adalah Mr. Anderson ayah kandungku.


Dia berjalan perlahan, wajahnya nampak kelihatan tua dan terlihat rapuh, di matanya ada sedikit air yang tergenang, wajahnya menyiratkan kesedihan yang mendalam.


Dia memandangku dengan wajah sangat sedih.


"Rupanya selama ini kita selalu bertemu, mengapa aku tidak menyadarinya? menyadari bahwa wajahmu yang cantik itu sangat mirip dengan Kenneth ibumu, Julia".


Andria terkejut....dia tidak menyangka jika pria yang menjadi ayahnya ini juga mencarinya. Dia pikir selama ini dia dibuang begitu saja dan tidak diinginkan.


"Kau Julia! Kau adalah putriku". Katanya dengan suara yang parau, "Kau pasti sudah mengetahui siapa aku, kau mencariku..maafkan ayah, selama ini tidak menyadari keberadaanmu anakku". Dia akhirnya memeluk Andria dan menangis di pelukannya, Andria masih membeku dia begitu terkejut.


"Kau adalah anakku, putri kecilku yang diculik 10 tahun yang lalu oleh pria bernama Okada, kau tahu Julia, semenjak kehilanganmu ayah terpuruk begitu dalam, putus asa mencarimu.


"Kau mau memaafkan ayah Julia, kumohon maafkan ayah". Suaranya bergetar memandang Andria.


Andria menatapnya, dengan perlahan andria membuka mulutnya. "Ayah..", ucapnya pelan.


"Ya, panggil aku ayah Julia".


"Ayah"! katanya lagi, tidak terasa air mata mengalir di pipinya, selama ini dia selalu memandang Mr. Anderson dari jauh, ketika dia berada di flatnya secara diam-diam dia mengikuti Mr. Anderson mengamatinya dan memperhatikan wajahnya, Andria memang sangatlah mirip dengan ibunya tetapi dia mewarisi mata ayahnya yang berwarna coklat dengan warna rambut yang sama.


Mereka berpelukan di bawah sinar lampu dari perayaan festival yang diselenggarakan di Montreal. Seseorang mengamati mereka berdua dari kejauhan, matanya tajam memandang andria yang memeluk Mr. Anderson, dia melengkungkan bibirnya.


"Tuan, apakah anda ingin bertemu dengan miss andria"?


"Belum saatnya gery", ucapnya. "Aku harus melakukan sesuatu agar dia tidak lari lagi dariku, meskipun dia nanti membenciku tapi pada akhirnya dia harus kembali padaku dan berada di sisiku".


"Kembali Gery, kita akan menunggunya di Vancouver". ucap alec yang masih belum memutuskan pandangannya ke wajah Andria.


tiba-tiba mulutnya berubah menjadi garis keras dia terlihat marah, "Mengapa dia begitu kurus? apa doughlas tidak memberinya makan"? ucap alec marah, dia menutup matanya, "Kita kembali Gery, sebelum aku merubah pikiranku", perintah alec yang menyandarkan kepalanya di kursi belakang mobil, dia begitu tidak sabar menunggu hari dimana dia akan memiliki Andria kembali.