Her Secret

Her Secret
Kegilaan Rowena



Rowena berteriak murka di dalam selnya, wajahnya kusut Masai mendengarkan perkataan pria itu, "Tidak, aku harus keluar dari sini." teriaknya hanya dia harapan satu-satunya yang Rowena punya, siapa.. siapa yang memberitahu keberadaan doughlas padanya? matanya terpancar mengerikan satu nama terbersit di kepalanya, "Julia!" wanita itu...wanita itu yang telah merenggut kebebasanku, lihat saja apa yang akan kulakukan untuk menghancurkan hidupmu julia."


~


Pagi itu Alec akan berangkat ke kantor, Andria sudah mempersiapkan segala sesuatu kebutuhan suaminya, sambil menggendong Abel yang berada di pelukannya, Alec telah duduk di meja dan sarapan bersama kein putranya.


"Daddy, akan membawaku ke sekolah kan? tanyanya.


"Tentu kein." ucap alec membuat kein tersenyum senang. Andria mengantar mereka hingga di depan pintu rumah sambil membenarkan dasi suaminya, kemudian mengecupnya mesra. "Sampai jumpa Daddy kakak kein ucap Andria sambil memegang tangan Abel yang bergerak-gerak di pelukannya.


"Sekarang waktunya untuk kita berdua sayang hanya Abel dan mommy." ucap Andria sambil menggendong Abel lalu mengecup kedua pipinya.


Andria mengintip dari balik jendela lalu mengedarkan pandangannya, beberapa penjaga di tempatkan di setiap sudut mansion, Andria merasa tidak begitu nyaman dengan kehadiran mereka yang berdiri tegak bagaikan patung yang tidak bernyawa, mereka betul-betul menjaga posisi mereka.


"Huuf, Sepertinya aku tidak akan pergi berbelanja dalam waktu yang cukup lama." Ucap Andria sambil kembali ke dapur membuat makanan untuk Abel.


~


Rowena terus berteriak-teriak memanggil nama Leon, sehingga beberapa penjaga memegangnya karena Rowena menyakiti dirinya, dia mencoba menusuk-nusuk pergelangan tangannya hingga berdarah. "Bawa ke rumah sakit, sekarang!" Ucap salah satu penjaga.


Rowena menghempaskan dirinya hingga terjatuh dilantai yang dingin, tubuh kurusnya kini di angkat oleh beberapa penjaga yang membopongnya ke rumah sakit, darah menetes di pergelangan tangannya, perawat yang mengobatinya segera membersihkan luka-lukanya, tetapi ada yang aneh dari wajah wanita itu, smirk tengah mengembang di wajah kurusnya perlahan matanya membuka dengan rencana yang mengerikan di kepalanya.


~


Salju nampak memumpuk, udara sejuk tetapi begitu dingin, tiba-tiba dering telepon Andria membuatnya melihat ponselnya yang bergetar, dia lalu melihat nama ayahnya tertera di sana dan segera mengangkatnya.


"Dad?" Suara andria terdengar khawatir, "Nenek? ada apa?" ucapnya.


"Ba..baik saya segera ke sana secepatnya." Andria berlari-lari segera mengenakan pakaiannya, dia mengenakan baju yang begitu tebal untuk menahan udara dingin di luar sana.


Beberapa pelayan dan nanny Abel turut khawatir melihat nyonyanya berlari dengan tergesa-gesa, "Lily jaga abelyn, jika tuan Alec datang katakan padanya nyonya andria berangkat ke kediaman Anderson."


"Baik...baik nyonya."


Mengambil kunci mobil dan segera masuk ke Audi berwarna birunya, beberapa penjaga menahannya dengan merentangkan kedua tangannya.


"Nyonya, anda tidak boleh keluar..."


Andria memencet klakson mobil dengan keras, "Minggir ! minggir aku harus pergi kalian bisa mengikuti aku dari belakang aku harus segera pergi." teriaknya.


Beberapa pengawal langsung saja naik ke mobil di belakangnya untuk mengikuti nyonyanya, dengan cepat Andria mengendarai mobilnya menuju kediaman ayahnya.


Sudah 20 menit Andria mengendarai mobilnya, ponselnya berdering beberapa kali, dia lalu mengangkatnya.


"ANDRIA, KAU DIMANA SEKARANG !!" teriakan Alec di ponselnya membuat Andria terkejut.


"Menuju rumah ayahku Alec, aku takut terjadi apa-apa dengan dad, aku baik-baik saja Alec jangan khawatir, ok!" ucapnya tergesa-gesa.


~


Matanya menatap tubuh dia pembaringan, dengan cepat dia mengganti pakaian perawat itu dengan miliknya lalu di samarkan dengan lipstik dan masker yang menutupi wajahnya.


Rowena mendorong troli berisi peralatan medis, tidak ada yang menyadari penyamarannya membuatnya tersenyum senang.


Udara kebebasan menyambutnya, dia keluar dari tembok besar sialan itu menuju ke satu tempat yang akhir-akhir terngiang-ngiang di kepalanya.


"Peter kali ini kau akan menyesalinya." ucapnya, setelah naik bus yang cukup lama tibalah Rowena di kediaman Anderson, penjagaan di sana sudah berkurang, dan tentu saja saja dia mengetahui jalan rahasia agar bisa dengan mudah masuk ke dalam kediaman itu.


Matanya melirik ke kanan dan kekiri, lalu masuk ke dalam kamarnya, dia lalu menutupnya perlahan-lahan. "Sial, tubuhku bau keringat... sebaiknya aku mandi dulu."


Suara langkah kaki yang memasuki mansion terdengar begitu terburu-buru, Andria masuk dan langsung menuju kamar ayahnya.


"Nenek? nenek, ayah dimana kalian?" suara Andria memecah keheningan, tiba-tiba ponselnya berdering kembali.


"Kalian sudah berada di rumah sakit? aku..aku akan segera ke sana. Andria berlari menuruni tangga dan tiba-tiba tubuhnya membeku menatap sosok yang menunggunya di sana, wajah kurus dan pucat membingkai wajahnya, senyum mengejek serta pandangan merendahkannya menatap Andria dengan pistol di tangannya.


"Lama tidak bertemu Julia sayang?"


Senyumnya merekah dengan seringainya yang kejam. Andria mengedarkan pandangannya mencari-cari siapa saja yang ada di sana tetapi sepertinya mereka semua sudah meninggalkan tempat ini dan berangkat ke rumah sakit.


"Jangan bergerak sayang atau peluruku akan menembus kepala cantikmu, Andria tidak mengindahkan peringatan Rowena, dia menyerangnya dan menabrak tubuh kurus itu, meskipun Andria sudah menjadi seorang ibu, dia masih bisa menghajar siapa saja yang menghalanginya apalagi Rowena yang kurus dan terlihat Tidak berdaya itu.


Mereka bergulat di lantai Andria ingin merebut senjata Rowena yang terlepas di kedua tangannya, mereka saling menyerang dengan mencakar atau memukul bagian mana saja tubuh yang dapat di jangkaunya.


Rowena menggapai vas bunga cukup besar dan menjatuhkan ke tubuh andria, suara pecahan kaca membuat Andria tidak bergerak, bagian tubuh dan kepalanya terkena vas yang cukup besar itu dengan keras, dia tidak sadarkan diri di lantai dengan darahnya yang merembes ke permukaan.


"Cih, kau kalah cepat bodoh". Umpat rowena menatap tubuh tidak berdaya Andria yang terlihat kesakitan. Rowena mengambil cincin yang tersemat di jari Andria kemudian mengenakannya, dia terkekeh senang melihatnya terkulai tidak berdaya.


Langkah kakinya teredam dengan beberapa orang yang mengikuti pria itu. Pria itu adalah Leon dan beberapa bodyguardnya, setelah menyerang bodyguard Andria di pintu depan kini mereka menatap Rowena yang menodongkan senjata api ke arah Andria yang pingsan tidak berdaya.


"Letakkan senjatamu Rowena." ucapnya dengan suara serak dan berat. Rowena lalu berbalik menatap pria dihadapannya, dengan pandangan terkejut.


"Leon? kau datang?" ucapnya dengan mata besarnya penuh pengharapan. jentikan jari dari Leon membuat orang-orangnya bergerak ke arah Rowena dan menyerangnya hingga dia jatuh pingsan. Langkah kakinya tertuju kepada wanita yang selalu hadir mengisi kepalanya tanpa diminta.


"Andria?"


Dia menatap wajah cantik yang kini dipenuhi darah, dengan tangannya sendiri dia mengangkat tubuh Andria meskipun darahnya menetes ke pakainya.


"Bakar tempat ini." ucap pria itu, matanya tertuju pada rowena dengan seringainya yang kejam.


"Baik tuan."


Ponsel Andria masih berdering, membuat Leon menatap nama 'Husband' di layar ponselnya, dengan wajah tidak senang dia menginjak ponselnya hingga hancur.