
~Alec Alexander yung
Hari dimana Andria menghilang dariku membuatku seperti gila, selama setahun ini aku terus mencarinya bahkan menyewa detektif untuk menemukan keberadaannya. Aku mengelilingi beberapa kota di Amerika untuk mencarinya tetapi selama setahun ini aku sama sekali tidak menemukan keberadaannya.
"Sir, aku sudah menemukan teman Miss Andria, ini data tentangnya. Alec yang sedang membelakangi Gery akhirnya berbalik dan mengambil kertas dan membacanya. "Dia berasal dari Asia"? gumam alec, "Pria ini pasti tahu dimana Andria, temukan dia". perintah Alec.
"Baik sir".
Setelah beberapa bulan akhirnya Alec menemukan titik terang, Gery mendapatkan informasi darinya jika Andria sekarang berada di Vancouver, Kanada. Dan itu membuat Alec berdesis. "Kau ternyata di sana Andria"?
"Gery ! Siapkan semuanya malam ini kita akan ke kanada. Dan hari ini seorang wanita berteriak memanggil nama andria, Seketika aku berbalik dan menatapnya dia bersembunyi di balik tembok tentu dia menyadari keberadaanku.
Dan hari ini dia kembali dan berada dipelukanku, aku tidak akan melepaskanmu Andria. pikir alec memeluknya erat.
"Turunkan aku", Alec ! teriaknya.
Alec masuk kedalam ruangannya dan menurunkan Andria tetapi tidak melepaskan tubuhnya. Mereka saling menatap, Seakan akan alec mengunci mata Andria agar tidak berpaling.
"Kau tahu berapa lama aku mencarimu Andria? selama ini aku mengelilingi setiap kota di Amerika mencarimu. Mengapa kau pergi"! ucap alec masih memegang tubuh Andria.
Andria memalingkan wajahnya. "Jawab pertanyaanku Andria". bentaknya.
"Aku hanya ingin pergi darimu, apakah aku memiliki alasan lain"? jawabnya.
"Benarkah hanya itu"? kata Alec dengan mengatupkan mulutnya.
"Ya, aku hanya ingin pergi darimu, aku.....
Kata-katanya terhenti, Alec mencium Andria, apapun alasannya dia tidak perduli, dia melepaskan emosinya kepada andria,
Dia membaringkan tubuhnya dan tubuh andria. Alec begitu merindukan Andria, hingga dia menuangkan kerinduannya tanpa menahan-nahan dirinya di tubuh Andria.
"Alec ! gumam Andria mencoba menghentikan alec, tapi alec tidak mendengarkan Andria, dia tetap menyiksa tubuh Andria, Suara desahan dan erangan memenuhi kamar itu, Andria mencoba menutupi tubuhnya, satu persatu pakaian yang ia kenakan berjatuhan di lantai, isakan terdengar dari mulut Andria, membuat Alec tersadar atas apa yang di lakukannya.
"Andria ! gumamnya, dia melihat tubuh Andria bergetar tanpa sehelai benangpun, dengan cepat alec menyelimutinya, dia memeluk Andria lalu berbisik di telinganya dan mengecup keningnya. "Andria maafkan aku"! gumamnya.
Andria masih terisak dengan tubuh membelakangi Alec yang memeluknya dari belakang, Setelah keheningan yang begitu lama dan kegelapan telah mendominasi ruangan itu, membuat Alec beranjak dari tempat tidurnya lalu menyalakan lampu kamarnya.
Andria masih belum mau bergerak, dia tidak mau menatap alec, "Aku menunggumu untuk makan malam Andria". ucapnya, tidak berapa lama Alec keluar dari kamarnya.
Andria menarik selimutnya dan menutupi dirinya yang tanpa mengenakan apapun, dia memungut satu persatu bajunya yang tergeletak di lantai dengan menyedihkan. Dia masuk ke kamar mandi menatap dirinya yang pucat, beberapa tanda berbekas di tubuh Andria membuatnya malu untuk melihat tanda yang diberikan Alec kepadanya.
Andria bergegas mengenakan kembali pakaiannya dan keluar dari kamar mandi. Alec telah menunggunya di ruang makan. Dia berbalik ketika melihat Andria keluar dari kamarnya.
"Aku tidak lapar, aku ingin pulang". ucap Andria tanpa memandang wajah alec.
"Kau tidak akan kemana-mana Andria, kau akan makan malam bersamaku, sekarang"! perintah alec. Pria ini sangat bossy, Andria menggeleng tidak percaya, mengapa dia begitu memaksaku. Alec menghampiri Andria yang masih berdiri di depan pintu kamar, "Kemarilah, setelah sekian lama kita tidak bertemu, aku ingin kita makan bersama". Ucap alec.
Andria akhirnya duduk dihadapannya, kemeja yang di pakainya sedikit sobek di bagian lengan akibat tarikan kasar Alec tadi siang, Alec mengerling dan menyadarinya.
"Erm..kau tidak apa-apa? gumamnya sambil memperhatikan sekitar leher Andria yang di penuhi bercak merah karena ulahnya.
Andria tidak mau memandang wajahnya dan tidak menjawab pertanyaan Alec.
"Kau tidak berubah andria masih saja keras kepala". Gumam Alec memperlihatkan kejengkelannya. Andria memandang makanan yang menggiurkan di atas meja tapi tangannya masih belum bergerak untuk menyentuh piringnya. Alec menghembuskan napasnya, tiba-tiba ponselnya berdering dia segera meninggalkan tempat duduknya dan menerima panggilan di ponselnya, beberapa menit kemudian dia kembali.
"Aku harus pergi Andria, tunggulah sebentar di sini aku akan segera kembali". Ucapnya sambil kembali memakai jasnya. Andria lalu berdiri.
"Tidak ! aku mau pulang sekarang". Ucap andria keras kepala, Mengapa aku harus menurutinya. "Baiklah, aku akan mengantarmu", Ucap alec.
"Aku bisa pulang sendiri"!
"Dimana alamatmu? Kata Alec yang lagi mengemudikan mobilnya.
"Turunkan saja aku di dekat cafe yang tadi siang kau datangi, rumahku tidak jauh dari sana". gumamnya
Alec menggeleng tapi tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Beberapa menit berlalu alec menepikan mobilnya di depan cafe couve, Andria keluar dari mobilnya begitupun Alec.
"Jadi dimana rumahmu? kau tinggal dimana"?tanyanya.
"Tidak jauh dari sini". Andria meninggalkan begitu saja Alec lalu berjalan menuju cafe, Sepertinya doughlas masih belum pulang lampu di cafe masih menyala.
"Andria? apa yang membawamu malam-malam ke cafe? sebentar lagi aku akan tutup beb". Tanya doughlas menghampirinya, Andria tersenyum lemah, "Aku akan segera pergi doughlas, aku hanya mampir sebentar".
"Hei hei, kau tidak apa-apa?, sepertinya kau sakit". Dia memegang kening Andria dan Tengkuknya. "Ya kau sedikit demam beb".
"Lepaskan tanganmu darinya"! Suara Alec membuat keduanya berbalik, Alec melangkah cepat menghampiri Andria, lalu menatap tajam doughlas.
"Siapa dia Andria"? tanya doughlas dengan tenang.
"Kau sendiri siapa"? gumam Alec.
Andria lalu berdiri dan menatap doughlas. "Aku pulang doughlas"! Matanya melirik kepada alec.
"Hati-hati di jalan beb". Alec mengernyitkan alisnya, "Beb"? gumamnya sambil mengikuti Andria dari belakang.
"Kau akan kemana Andria"?
"Pulang"! jawabnya acuh. "Kupikir kau akan pergi"?
"Aku membatalkannya, aku ingin tahu kau tinggal di mana". Kata Alec yang tiba-tiba saja mengambil tangan Andria dan menggenggamnya.
Andria berhenti di depan gedung kumuh dengan papan nama yang tertera di sana 'Seedy'.
"Kau tinggal di sini? 'Seedy'? gumam Alec yang mengikuti kemana Andria pergi. "Kau yakin kau tinggal di tempat ini? namanya sesuai dengan keadaannya". kata Alec yang memperhatikan tembok-tembonya yang retak, dan catnya yang memudar.
"Kau bisa pulang, jika kau tidak tahan melihat tempat ini". Ucap Andria yang tidak perduli pendapat Alec.
"Malam Andria ! kau bisa menggunakan lift itu sekarang, sudah tidak macet lagi". Seru Bob dari belakang posnya.
"Thanks Bob". Seru Andria sambil melambai padanya.
Andria memencet tombol biru, liftnya lalu terbuka mereka berdua masuk ke dalam lalu menekan angka 5, liftnya kemudian menutup.
Andria mengerling Alec begitupun sebaliknya, tiba-tiba saja suara aneh terdengar dari mesinnya dan liftnya berhenti bergerak tetapi pintunya tidak terbuka sama sekali.
"Bob? kau mendengarku, liftnya macet lagi". Seru Andria.
"Ok, aku mendengarmu andria, ini tidak akan memakan waktu lama, aku akan segera memperbaikinya". Suara Bob terdengar dari pengeras yang terhubung di lift.
"Tempatnya bagus juga". sindir Alec menatap Andria.
"Aku tidak menyuruhmu mengikutiku". balas Andria. Matanya menyipit menatapnya. Lift akhirnya bergerak tetapi berhenti lagi membuat Andria terkejut tubuhnya tidak seimbang hingga menimpa tubuh alec. "Kau tidak apa-apa"? kata Alec yang menangkap tubuh Andria.
Alec tidak melepaskan tubuh andria, matanya berkilat tajam menatapnya. Alec langsung saja menyerang bibirnya dan mengangkat tubuh andria hingga andria mengaitkan kakinya ke pinggang alec, dia menyandarkan tubuh Andria pada lift dan mengambil apa saja yang ada di bibir Andria, seakan tidak ada hari esok.
Napas panas menyeruak di antara mereka, Alec melanjutkan ciumannya hingga dirinya mengerang dibibir Andria, tanpa mereka sadari pintu lift terbuka, suara batuk terdengar dari luar pintu lift. "Cari kamar bung". Terdengar bisikan dari mereka yang ingin masuk ke dalam lift.
Alec menurunkan Andria dari tubuhnya, dan menariknya keluar dari lift. "Jadi, dimana flatmu Andria"? tanyanya. Andria menatapnya tajam lalu menendang kakinya tanpa memperdulikan alec yang mengerang dia lalu berjalan menuju pintu kamarnya.