
Andria terbangun pagi-pagi sekali setelah merapikan dirinya dia turun kelantai bawah, dan menatap para pelayan yang sedang sibuk menyiapkan sarapan.
"Cucu tersayangku, kemarilah kita sarapan bersama". Mrs. Anderson memeluk Andria dan mencium pipinya. "Bagaimana tidurmu sayang?
"Sangat nyenyak, bagaimana dengan grandma"? tanya Andria sopan.
Tiba-tiba Mrs. Anderson mengambil sapu tangannya, lalu menghapus jejak air matanya, "Grandma kau baik-baik saja"? tanya Andria.
"Aku baik sayang, aku begitu bahagia kau sekarang berada di tengah-tengah kami, kau tahu bagaimana terpuruknya ayahmu ketika kau menghilang". Andria lalu berdiri dan memeluk neneknya, "Aku baik-baik saja grandma jangan menangis, ok"?
Dia tersenyum dan menepuk pipi Andria, "Kau memang cucuku yang perhatian".
Seorang wanita baru saja turun dari kamarnya dengan memakai pakaian tidurnya, rambutnya tergerai dibahunya, nampak sekali jika dia sepertinya kelelahan. Wajah grandma tiba-tiba saja berubah, raut wajahnya menggambarkan ketidaksukaannya pada wanita yang juga ibu dari doughlas.
"Selamat pagi Julia". Matanya masih menatap andria seakan tidak percaya dia ada di sini. "Kau pasti tidur nyenyak honey, aku dengar sebelum ini kau tinggal di flat sempit di sekitar Stanley park, bagaimana rasanya tidur di kasur yang empuk"? tanyanya dengan tersenyum sambil menggeleng seakan Andria berada di sana hanya sebuah lelucon baginya.
"DIAM"! Teriak grandma wajahnya kaku dan tubuhnya gemetar mendengar perkataan Rowena.
"Berani-beraninya kau berbicara seperti itu kepada cucuku"!
Andria menarik lengan neneknya, "Grandma its ok, erm..kita sarapan". Tetapi neneknya memeluk kepala Andria erat.
"Wanita ini, ingat posisimu di rumah ini"! Matanya berkilat tajam, mereka saling menatap benci.
Rowena berdiri dengan melengkungkan bibirnya yang tipis, dia lalu memutar matanya.
"Lauren ! teriaknya. "Bawa sarapanku ke kamar, aku sedang tidak ingin mendengarkan ceramah tentang keturunan Anderson".
"Kau! kau !....
Rowena melenggang naik menuju kamarnya.
tanpa memperdulikan mereka yang ada di sana, termasuk doughlas yang sedang berdiri sambil bersandar di dinding mendengar semua perkataan ibu dan neneknya.
~
"Kau sudah lama mengetahuinya Andria? tanya doughlas kepada Andria di taman, mereka saling berbincang, doughlas baru saja kembali dari London dan baru saja mengetahui segalanya dari ayahnya.
"Mengapa kau tidak mengatakan kepadaku Andria? kata doughlas yang duduk di sampingnya.
Andria lalu tersenyum, "Jika seorang gadis tiba-tiba mengatakan bahwa dia adalah adikmu apakah kau akan percaya begitu saja"? kata andria.
"Erm...yah, mungkin aku tidak akan percaya, tapi jika kau yang mengatakannya mungkin aku akan percaya, soalnya kau jarang bercanda Andria". kata doughlas sambil tersenyum senang.
"Aku senang akhirnya ayah menemukanmu, dan er tentang ibuku, kau tidak perlu memikirkan kata-katanya Andria, dia memang selalu seperti itu". Kata doughlas mengacak rambut Andria.
"Jadi? namamu Andria atau Julia"? tanya doughlas suaranya terdengar sedang bercanda.
"Yang mana saja, aku tidak keberatan". kata Andria menaikkan bahunya.
"Aku lebih menyukai memanggilmu Andria, nama itu lebih akrab di telingaku". kata doughlas menguap. "Nikmati tempat ini Andria, aku ingin tidur". Doughlas berjalan sambil melambai kepada Andria.
~
Mobil SUV hitam baru saja memarkirkan mobilnya didepan sebuah restaurant mewah di Vancouver. Gery membukakan pintu mobil dan alec turun dari mobilnya dia lalu mengangkat ponselnya yang berdering, lalu dengan cepat memeriksa beberapa foto yang dikirim, foto Andria bersama doughlas yang sedang berbincang di taman kediaman Anderson.
Alec lalu menutup ponselnya keras, dia lalu masuk ke dalam restaurant dengan Gery dan beberapa orang yang mengikutinya dari belakang.
"Selamat siang sir, Mr. Anderson sudah menunggu anda di dalam".
Alec langsung saja masuk dan melihat Tuan Anderson berdiri dan menyambutnya. "Selamat untukmu Mr. Anderson kau sudah menemukan putrimu". Kata Alec yang telah duduk dihadapannya.
"Aku bisa menemukan Julia berkat anda Mr Alexander". Senyum di wajahnya terlihat khawatir, dia lalu berkedip beberapa kali terlihat tidak nyaman di tempat duduknya.
"Kalau begitu bisakah anda menepati janji anda"? kata alec tanpa ragu.
"Janji tetaplah janji Mr. Anderson". Potong Alec.
"Baiklah, aku...aku akan mempersiapkannya Minggu ini, ini janjiku tentu aku tidak bisa mengingkarinya".
"Bagus ! aku sangat menantikannya". Senyum kemenangan tidak bisa di tutupi di wajah alec.
"Em ajak putrimu makan malam denganmu malam ini". Kata alec, "Aku ingin membahas ulang kerja sama kita Mr. Anderson".
"Baiklah, aku akan berbicara dengan Julia ketika aku pulang nanti".
~
"Makan malam? tanya Andria kepada ayahnya ketika dia baru saja tiba di rumahnya.
"Ya Andria sayang aku ingin kau bersiap-siap, temani ayah malam ini". Kata Peter sambil menepuk lembut kepala Andria, "Ayah menunggumu di depan sekitar sejam lagi sayang". Dia lalu naik ke lantai dua dan masuk diruangannya.
"Ok, aku tidak harus gugup aku hanya menemaninya makan malam dan pulang". Kata andria, dia terkejut melihat doughlas melipat kedua tangannya di belakangnya.
"Perlu bantuan? aku bisa membantumu, misalnya memilihkan gaun yang cocok untukmu aku pandai dalam hal itu". Kata doughlas berkedip.
"Em Ok doughlas, itu sangat membantuku".
Setelah memperhatikan setiap gaun yang berada di kamar Andria akhirnya doughlas memilih gaun yang akan dikenakan Andria malam ini gaun indah yang panjang berwarna biru krystal gelap yang lembut tanpa lengan, setelah beberapa pelayan membantu Andria bersiap-siap, kini andria tampil sangat menawan, membuat doughlas bersiul pelan.
"Pilihanku memang selalu tepat, iya kan"? kata doughlas yang memilihkan kalung cantik dari tempat perhiasan Andria, "Kenakan ini, kau akan lebih mempesona", Ucapanya.
"Nah, sekarang kau sudah siap Andria, Sepertinya ayah sudah menunggumu di bawah". Andria kemudian turun dan orang-orang yang menatapnya menatap kagum, "Cucuku memang yang tercantik". Katanya sambil menautkan kedua tangannya.
"Bersenang-senanglah sayang, kau pantas mendapatkannya". Kata nenek Andria melambai.
Mereka akhirnya masuk kedalam mobil, Andria melirik kepada ayahnya yang terlihat gelisah, "Ayah baik-baik saja"? tanya Andria.
Dia kemudian tersenyum menenangkan, "Tentu sayang".
Akhirnya kami tiba di Grand hotel Vancouver, Andria menatap hotel yang menjulang tinggi itu, dia melangkah bersama ayahnya, dan seorang pelayan mengantar mereka berdua di lantai 27 di sebuah restaurant yang cukup privat.
Mereka berdua duduk, Andria menatap kagum pemandangan yang terbentang yang berada di sampingnya, sampai-sampai dia tidak menyadari orang yang di tunggu telah hadir di depannya.
"Apakah anda menunggu lama Mr. Anderson"? tanyanya.
"Kami baru saja tiba Mr. Alexander". senyumnya. Andria membelalakkan matanya menatap pria yang melirik padanya, Alex sedang menyodorkan tangannya kepada Andria.
"Senang berjumpa denganmu Miss Julia". Ucap alec dengan senyum dibibirnya.
Andria terlihat terkejut, tapi tidak mengatakan apa-apa, dia menjabat tangan alec cepat, Andria sedang mendengarkan pembicaraan bisnis yang tidak dimengertinya.
Ayahnya dan Alec serta beberapa rekan bisnisnya cukup sibuk dengan pembicaraan mereka membuat Andria ingin pergi sebentar. Sesekali Alec mengerling ke Andria ketika dia sedang berbicara.
"Erm, ayah aku ke kamar mandi sebentar". Andria lalu beranjak dari kursinya, pandangan alec tidak pernah terlepas dari gerak gerik Andria.
"Apa yang terjadi mengapa alec ada di sini"? gumamnya sambil menatap dirinya di cermin dan mencuci kedua tangannya di westafel.
tiba-tiba suara pintu yang di tutup dan dikunci membuat Andria berbalik dan menatapnya dengan terkejut.
"Apa yang kau lakukan di toilet wanita Alec"? suara Andria cukup besar hingga alec tanpa menunggu lama menarik Andria kedalam pelukannya.
"Aku sangat merindukanmu Andria". Alec merekatkan pelukannya meskipun Andria sedikit meronta di tubuhnya.
"Alec lepaskan aku"! teriak Andria.
"Tidak ! Aku tidak akan melepaskanmu, kali ini aku akan memilikimu Andria". Dengan satu hentakan keras Alec mencium Andria dan berlama-lama di bibirnya, ciuman itu begitu lama, hingga Andria memukul-mukul dada alec.
Setelah ciuman alec yang begitu panjang, Alec akhirnya melepaskan pagutannya di bibir Andria, napas mereka saling berirama, "Kau sangat cantik malam ini Andria". Ucap alec, dia mengecup kening Andria lalu dia berbalik dan keluar dari toilet itu, meninggalkan Andria dengan napas yang memburu.