
Hari ini sebuah pesta di adakan di mansion Leon de Lucas, dekorasi yang mahal dan megah nampak berkilau di aula besar itu, Andria hanya menatap pemandangan itu dari jarak yang begitu jauh dari tempat berdirinya, suara langkah kaki yang mendekat padanya membuat Andria berbalik dan menatap pria yang tersenyum kepadanya.
"Pertemuan akan di adakan di mansion ini, semacam pesta untuk klan de lucas." Ucapnya.
Andria tidak menanggapinya, banyak pertanyaan berputar di kepalanya, tetapi Andria berpikir tidak akan bertanya kepada pria dihadapannya ini, kebohongan terpancar dari wajahnya tidak ada ketulusan di sana.
"Setelah pesta ini selesai kita akan ke Seattle, urusanku di Seattle memakan waktu yang cukup lama, jadi sebaiknya kau ikut denganku." ucapnya lagi.
"Kenapa aku harus ikut denganmu?" tanya Andria menatap tajam padanya.
"Ya, kau harus ikut kemanapun aku pergi, kau adalah tunanganku Julia, kau harus berada di sisiku setiap saat, resikonya terlalu besar jika kau menjauh dariku, musuhku ada di mana-mana dan aku tidak ingin hal yang buruk menimpamu." ucap Leon sambil memasukkan kedua tangannya di jaket panjangnya.
Andria tersenyum miring tanpa memandangnya, "Apa betul aku Tunanganmu? aku tidak merasa seperti itu ! aku merasa hanyalah seseorang yang dikurung di tempat besar ini, tidak ada kebebasan sama sekali, dan terpenjara di tempat ini." ucap andria.
Sedikit senyuman terpancar dari wajah Leon, tetapi senyum yang terpancar begitu mengerikan. "Jadi, kau merasa seperti di kurung di tempat ini? kau harusnya berterima kasih kepadaku berkatku nyawamu bisa di selamatkan." ucap Leon yang menahan amarahnya.
"Setelah pesta usai kita akan ke Seattle, kau suka atau tidak!". ucap Leon, dia lalu melangkah pergi meninggalkan Andria yang menatapnya dari kejauhan.
"Begitu kesempatan ada di depan mataku aku akan melarikan dari sini brengsek." gumam andria sambil memicingkan matanya.
'Andria'?
'Mommy?'
Andria tiba-tiba berbalik menatap koridor kosong yang dilaluinya untuk sampai di kamarnya. "Apa itu tadi?" gumam Andria memegang kepalanya yang terasa berat. Dia terus berjalan menyusuri koridor dan menemukan tangga berwarna coklat yang meliuk dan berhenti di sana.
"Nyonya anda baik-baik saja?" ucap seorang wanita memegang bahu Andria yang terduduk di tangga.
Andria mengernyitkan alisnya lalu menatap wajah cantik berambut pirang dihadapannya.
"Nyonya? kau memanggilku nyonya? kau...kau tahu tentangku?". Mata Andria berbinar seketika menggenggam tangan wanita itu.
"Maaf nona aku....er saya permisi." Dia lalu menghindari Andria dan segera turun dari tangga itu menuju tempat yang tidak bisa di jangkau oleh Andria.
"Wanita itu memanggilku nyonya? apakah dia mengetahui siapa aku?" gumam Andria yang berdiri dan melangkah menuju kamarnya memikirkan segala sesuatunya, rencana terbersit di kepalanya, kalau Tidak ada seorangpun yang mau memberitahu tentang jati diriku, maka aku akan mencarinya sendiri. pikir andria membaringkan tubuhnya di tempat tidur, cahaya yang dipancarkan dari pantulan dari luar membuat kamar Andria sedikit berwarna jingga, suara musik yang terdengar mengalun lembut membuat andria memejamkan kedua matanya , dia akan menunggu sampai pria itu lengah dan akan pergi dari tempat ini.
~
"Ayolah Kein, ayahmu sudah mengajak kita ke Disneyland, kau harus ceria sayang, ayolah pakai jaketmu agar tubuhmu menjadi hangat." ucap nyonya Alexander membujuknya.
"Oh ya, nenekmu tadi meneleponmu dia sangat merindukanmu sayang, dia titip salam sayang dan kecupan untukmu.
Kakekmu juga pasti merindukan cucu-cucunya, meskipun tuan anderson masih belum sadar setelah mendengar kejadian itu, dia pasti selalu merindukanmu kein." Ucapnya.
"Kita pergi sekarang mom." ucap alec yang menggendong putrinya dan memegang botol susu milik Abel di tangan yang satu.
"iya sayang kita pergi, kau senang kan kein, kau bisa menikmati semua wahana yang ada di sana." senyum nyonya Alexander.
Mereka semua sekarang berada di dalam mobil, perjalanan menuju ke Disneyland di kota Vancouver membutuhkan waktu hampir sejam perjalanan. Kein menyandarkan tubuhnya di kaca jendela sesekali menatap jalanan yang di penuhi salju yang menumpuk.
Mobil berhenti di lampu merah, kein menatap mobil force berwarna hitam yang begitu pas sejajar dengan mobilnya, tiba-tiba saja seorang wanita membuka kaca mobilnya lalu menatap jalanan di sekitarnya dan akhirnya bertemu mata dengan kein. Wajah kein seketika terkejut matanya membelalak menatap wanita yang begitu mirip dengan ibunya.
"Mommy?" gumam kein pelan. Wanita itu mengernyit menatapnya kemudian di tersenyum tipis lalu kembali menutup kaca di jendela mobilnya.
"Dad?? mommy dad...aku melihat mom." teriak kein membuat nyonya Alexander terkejut begitupun Alec.
"Kein, apa yang kau katakan sayang? jangan bicara seperti itu." ucap nyonya Alexander sambil melirik ke arah Alec yang langsung menepikan mobilnya di sisi jalan.
Dia terdiam cukup lama sambil mencoba menenangkan dirinya, Alec mengambil napas panjang, "Jangan berbicara yang tidak-tidak kein, kalau kau teriak seperti itu lagi ayah akan langsung kembali ke mansion, tidak ada liburan lagi." ucap alec dengan suara sedikit keras.
"Tapi aku betul-betul melihat mommy di mobil hitam itu." teriaknya.
"Cukup kein, tidak ada liburan kita kembali ke mansion Sekarang!" ucap alec lalu memutar mobilnya tanpa mendengarkan protes dari ibunya yang memeluk kein.
~
Jalanan begitu bersalju dan udara begitu dingin menyengat, Andria mengenakan beberapa lapisan baju dengan jaket coklat panjang menutupi tubuhnya serta syal, sarung tangan dan sepatu bot kulit senada yang melengkapi penampilannya.
Dia telah berada di atas mobil dan sedang menuju ke bandara bersama Leon, andria mengedarkan pandangannya melihat jalanan yang dipenuhi salju seketika dia menatap wajah mungil bocah kecil yang begitu terkejut ketika menatapnya.
Andria mengernyitkan alisnya, mengapa anak itu menatapku seperti itu? pikirnya.
"Tutup jendelanya julia, kau nanti akan terkena demam." ucap Leon tanpa memandangnya dan terus menatap layar ponselnya.
Suara dengusan terdengar dari andria, dia membalik tubuhnya seperti membelakangi leon, wajah kecil yang terkejut menatapnya seakan melekat di kepala Andria, mengapa anak itu menatapku seperti itu? pikir Andria yang meletakkan tangan di dagunya.
Mereka telah tiba di landasan pacu bandara tepat di sebelah pesawat Boeing 878-7 dengan bertuliskan pada badan pesawat
De Lucas Holding, beberapa bodyguard berdiri menyambut kedatangan Leon bersama yang lainnya, Andria menatap heran pesawat raksasa yang berdiri gagah di hadapannya, dia mengerling Leon di sampingnya.
Orang seperti apa sebenarnya Leon de Lucas? pikirnya, beberapa bodyguard mempersilahkan mereka masuk kedalam pesawat yang membuat Andria kembali berdecak kagum dengan apa yang dilihatnya.
Tidak ada bangku penumpang di setiap sudutnya digantikan dengan beberapa ruangan yang elegan dan mewah, di dalam pesawat dua tempat duduk khusus yang menyediakan segala fasilitas mewah, design yang bernuansa gold dan coklat serta kaca besar di di dinding pesawat memberikan pemandangan spektakuler bagi siapa saja yang melihatnya, ini terlalu berlebihan pikir Andria yang duduk di salah satu kursi yang di persilahkan oleh seorang pramugari.