
Deretan mobil berbaris di sekitar pelataran mansion Leon de Lucas, kali ini mereka harus bergegas berangkat ke Italia karena orang--orang Mikhail Romanov nampaknya tidak bermain-main ketika menyabotase salah satu aset Leon de lucas di Milan, hal itu membuat Leon marah besar.
Dia begitu ingin membawa Andria dan di satu sisi dia ingin menyelesaikan masalah yang menimpa clannya di Milan.
"Aku yang akan menyusup kembali ke sana." Ucap Leon sambil mengisap cerutunya lalu menghembuskannya di udara.
"Tapi sir, tingkat keamanannya bukan main-main sir, mereka memperketat setiap tempat." Ucap varoni.
"Ah, kau lupa itu keahlianku varoni, 'berburu' apa kau lupa julukanku? dan aku tidak melepaskan mangsaku ketika aku sudah membidiknya kau mengerti." Ucapnya sambil tersenyum.
Kegilaan Leon entah mengapa membuat varoni sedikit khawatir, meskipun dia tahu bahwa tuannya dapat melakukan segalanya tapi keamanan di kediaman Alexander cukup tinggi dan bukan main-main.
Varoni membungkuk lalu keluar dari ruangan itu. Dia mengerling Sebentar pintu yang menutup dan segera pergi dari sana, dia tidak akan membiarkan tuannya dalam bahaya dia harus menyiapkan segala sesuatunya kalau sesuatu dapat terjadi, dan dia tidak akan membiarkan clan de Lucas hancur hanya karena wanita itu.
~
Malam itu hujan kembali turun dan membasahi bumi di wilayah timur laut Pasifik Amerika yaitu kota Seattle yang juga di sebut sebagai emerald city karena banyaknya pepohonan di kota itu serta di sebut juga Rain city karena tingginya intensitas curah hujan di kota itu.
Mansion yang berdiri kokoh itu dengan keamanan yang super ketat dan penjagaan 24 jam meskipun hujan mengguyur dengan deras.
Seseorang mengisap cerutunya dan memantau dari jauh langkah yang harus di lakukannya, dia tertawa memperlihatkan gigi putihnya, mengapa aku seperti ini hanya karena seorang wanita? aku membahayakan klan dan sekarang berada di tempat ini.
~
Malam itu Alec tidak melepaskan Andria begitu saja, setelah seharian penuh kein dan Abel bersama ibunya, akhirnya Alec memiliki kesempatan untuk bersama Andria setelah kedua anaknya tertidur lelap.
Suara napas mereka menggema di kamar itu, hasrat Alec yang kuat membuat dirinya menenggelamkan jauh-jauh tubuhnya di kelembutan Andria. Malam itu begitu panas bagi keduanya yang melepaskan hasrat masing-masing.
Andria terbangun dan membuka kedua matanya, dia menatap alec yang tidur di sampingnya dan memeluknya dengan posesif, Andria memegang pipinya.
"Aku betul-betul gila." Bisiknya pelan.
Andria mengenakan kimono tidurnya dan mengambil air di atas meja, setelah minum, bayangan seseorang dari balik jendela membuat Andria mundur beberapa langkah. Mata coklatnya yang dalam ketakutan menatapnya, "Alec? Ucap Andria berbisik.
Tiba-tiba tangan besar itu menjangkau tubuh Andria dan menariknya keras di tubuhnya. Andria memberontak dan memegang apa saja agar tubuhnya dapat bertahan di tempatnya.
"Alec ! Mmph.." Tangannya menutup mulut Andria tetapi Andria dengan cepat menyikutnya lalu berteriak keras, ketika merasakan bekapan mulutnya terlepas.
"ALEC!" teriak Andria keras sehingga Alec terbangun dan menghampiri Andria dan menariknya keras kembali ke pelukannya, dengan satu pukulan keras dari alec, Leon terhempas kebelakang. Dia terkekeh menatapnya.
Dia menarik sesuatu dari dalam mantelnya dengan cepat, sebuah pistol di arahkan kepada alec dan Andria. Wajah alec begitu murka tetapi dia tidak bisa bergerak karena pria itu membidik langsung tepat di tubuh alec dan Andria dalam jarak yang cukup dekat.
"Jika kau tidak ingin terluka, berikan dia padaku, sekarang!" Ucapnya.
Matanya menatap tajam pada alec dan menatap tidak suka kepada pelukan Andria di tubuh alec.
"Lebih baik kau melukaiku!" Desis alec. "Jangan pernah kau mencoba mengambil milikku." Geram alec menatapnya Seperti ingin membunuhnya.
"Turunkan senjatamu." Ucap seseorang dibelakang Leon, Gery menodongkan senjata di kepala Leon.
"Sekarang!" Bentak Gery sambil mendorong lebih keras pistol ke kepala Leon.
Alec membawa Andria mundur menjauh dari mereka, mata tajam Leon masih menatap andria, beberapa penjaga sudah datang ke tempat itu sambil mengeluarkan senjata masing-masing.
Sebuah tembakan terdengar, Alec menarik Andria menjauh, beberapa anak buah Leon hadir di sana, mereka saling serang dengan tembakan, Leon kembali kabur, dengan cekatan dia berlari dari serbuan senjata yang mengarah ke arahnya dan berhasil masuk ke dalam mobilnya.
"Sial !" Umpat Leon.
~
"Andria! sayang kau tidak apa-apa?" Tanya alec memegang pundak Andria dan menatapnya lekat-lekat.
"Aku..tidak apa-apa, hanya terkejut saja." Meskipun kehadiran Leon membuatnya ketakutan tapi menatap wajah alec dan ketika dia menyentuh Andria membuatnya memikirkan kegiatan percintaan mereka, sehingga wajah Andria kembali menjadi merah merona.
"Tubuhmu panas sayang." Ucap alec memegang kening dan menarik dagu Andria melihat wajahnya berubah kemerahan.
"Sepertinya kau demam." Ucap alec.
Andria menepis tangan alec, dia terlalu malu untuk menatap langsung mata hitam alec. Seseorang mendekat kepada mereka.
"Sir, mereka telah pergi." Ucap Gery menunduk.
"Mengapa orang itu bisa menyusup kemari?" Bentak alec. "Hubungi walch dan segera ke ruanganku." Perintah alec.
"Baik sir."
Alec menarik tangan Andria dan segera pergi ke kamar kein dan Abel. "Sebaiknya kau di sini sayang." Alec memeluk erat tubuh andria. Tubuhnya kembali bergetar merasakan ketakutan yang sama ketika kehilangan Andria.
Andria dapat merasakan getaran ketakutan di tubuh alec, dia mengusap punggungnya dan membenamkan wajahnya di dada bidangnya.
"Jangan menghilang dari pandanganku Andria, duniaku akan hancur jika kau tidak berada di sisiku." Ucapnya.
Andria dapat merasakan debaran jantungnya, dia menatap wajah pria dihadapannya ini meskipun dia masih belum mengingat kembali masa lalunya tetapi Andria tahu bahwa dia mencintai Alec.
"Aku mencintaimu." Ucap Andria sambil berbisik.
Alec tersenyum miring, "Aku tahu." Bisiknya.
Sekali lagi Alec membawa Andria ke dalam percintaan yang panas dan membawa Andria mencapai puncak kenikmatan bersama.
~
Hotel Garden Seattle...
Wanita itu menatap pemandangan kota Seattle dari jendela dengan penuh kebencian, dia tersenyum miring dan menggelengkan kepalanya.
"Hanya karena wanita itu Leon, kau mengeluarkan aku dari klanmu bahkan kau tidak memikirkan pengorbananku kepadamu selama ini, hanya karena wanita itu, sudah lama aku setia padamu, tapi...kau melemparku begitu saja hanya karena wanita itu tahu rahasia kecil tentang dirinya, sial !" Umpat wanita itu.
Seseorang membuka pintu kamarnya dan masuk membawa kotak di tangannya.
"Morelli untuk apa kau meminta ini? Bukankah di klanmu sudah banyak di sediakan?" Tanya pria itu.
"Tutup mulutmu, ikuti saja apa yang aku katakan jangan banyak bertanya." Bentak Morelli pada pria kurus yang meletakkan koper itu di atas tempat tidurnya.
"Terserah." Ucapnya dia lalu keluar dari kamar itu dan menutupnya.
Morelli menatap koper yang dibawa oleh pria tadi dan membukanya. Sebuah senjata terpampang di hadapannya.
"Satu kali bidikan saja wanita itu akan menghilang untuk selamanya." Senyumnya merekah.
@
Jangan lupa like vote and comentnya yaaaa 💕 🙄😆😀😎