
Vancouver internasional airport.
Pria itu berjalan sambil menyeret travel bagnya, dia menatap jam yang ada di pergelangan tangannya tepat pukul 1 siang waktu Vancouver, dia kembali berjalan dan berhenti sebentar karena badai salju sejam lagi akan berhenti, dia memutuskan untuk duduk di salah satu kursi sambil merekatkan mantel tebalnya.
"Halo ronan, maaf aku baru menghubungimu sekarang, ya aku baik-baik saja, sekarang aku berada di Vancouver, ya aku sudah mendengarnya dan aku belum bisa mempercayainya, baik kirimkan saja di emailku, tentu sampai jumpa." Ucap doughlas menutup kembali ponselnya dan menatap dari jendela kaca pemandangan salju yang turun dengan lebat.
~
Hari itu Alec sama sekali tidak bisa konsentrasi di tempat kerjanya kepalanya terus berputar tentang kata-kata kein mengenai andria, dia akhirnya memutuskan mengambil mantelnya dan beberapa berkas penting yang akan di kerjakannya di rumah ketika dia tiba nanti.
Seperti biasa orang-orang alec sudah menunggunya di depan pintu ruangannya, dia membuka pintu dan berjalan menuju lift tapi seseorang memanggil namanya, wanita itu sejak tadi menunggu di ruang tunggu karena Alec hari ini tidak ingin di ganggu siapapun.
"Alec!" Ucapnya sambil berdiri ketika melihat pintu kantornya membuka.
Alec berbalik dan menatapnya, dia tidak begitu terkejut dengan kehadiran Jessy, ibunya sudah menceritakan kedatangan Jessy yang datang ke mansionnya.
"Ada apa Nona Weakhly!" Ucap alec membuat jarak kepadanya tanpa ada nada keakraban di suaranya.
"Bisakah kita bicara sebentar saja?" Ucapnya.
"Aku sedang terburu-buru, maaf aku tidak punya waktu, kalau kau ingin mengatakan sesuatu katakan sekarang." Ucap alec.
"Aku hanya ingin meminta maaf atas kedatanganku yang tiba-tiba ke rumahmu Alec, aku...aku hanya ingin menghibur anak-anakmu yang bersedih, mereka pasti sangat sedih karena....
"Apakah hal ini yang ingin kau katakan!" Ucap alec dingin.
"Tidak, aku ingin meminta maaf karena kata-kataku ketika datang ke kediamanmu Alec."
"Lupakan, lagi pula aku tidak mengharapkan kau datang kerumahku, kita tidak sedekat itu untuk saling menghibur atau untuk saling berkunjung, kau mewakili perusahaan LN enterprise ingat!" Ucap alec menatapnya bingung.
"Kalau tidak ada lagi yang ingin kau katakan saya harus segera pergi." Alec melangkah pergi tetapi tangan wanita itu menahan lengan alec di tangannya.
"Sebenarnya bukan itu tujuanku ingin bertemu denganmu Alec, aku...aku ingin mengatakan kalau aku mencintaimu Alec, sudah sejak dulu aku begitu mencintaimu..jauh sebelum kau bertemu dengan Andria aku sudah mencintaimu."
Ucapnya dengan mata sayu, air matanya tiba-tiba saja mengalir, dia tertunduk sambil menangis mengharapkan perasaan yang sama dari alec.
"Aku mencintaimu Alec, kumohon pertimbangkan perasaanku padamu." Dia memandang alec dengan harapan di kedua matanya.
"Kita hanyalah rekan kerja nona Weakhly, aku tidak pernah menggapmu lebih dari itu, dan perkataanmu tentang putraku sudah mewakili isi hatimu nona Weakhly, saya sarankan untuk selanjutnya kita tidak bertemu lagi, itu demi kebaikanmu sendiri dan demi perusahaan tempatmu bekerja, selamat malam."
Alec melangkah pergi, orang-orang yang menunggu alec masih berdiri agak jauh darinya menunggu kedatangannya, sedikit mengerling wanita yang menitikkan air matanya di dekat jendela itu.
"Apa yang harus aku lakukan agar kau membalas perasaanku Alec." Ucapnya sambil menghapus air matanya, dan menatap lift yang telah menutup.
~
Bunyi bel terdengar di malam itu meskipun salju yang menutupi separuh jalanan tetapi tidak menghentikan pria itu untuk melaporkan segala yang ditemukan selama penyelidikannya mengenai kasus kematian nyonya Alexander.
Seorang pelayan membuka pintu dan dia mengetahui bahwa pria ini adalah orang kepercayaan tuan Alexander.
"Silahkan masuk sir, tuan Alexander ada di ruangannya, silahkan." Kata pelayan itu memberikan jalan padanya untuk mengikutinya.
"Masuk". Ucapnya dari dalam ruangannya.
Pelayan itu membukakan pintu untuk walch, alec segera menghentikan pekerjaannya, wajahnya yang biasanya datar membentuk ekspresi di wajah walch.
"Sir, saya sudah menyelidikinya bahkan sampai hal yang paling kecil sekalipun, ini laporan yang telah saya kumpulkan sir, dan informasi yang paling penting dari semua itu adalah bahwa menurut identifikasi forensik bahwa hasil golongan darah berbeda dengan golongan darah nyonya Andria, dan yang paling terpenting bahwa dokter sudah memastikan wanita yang tewas terbakar di kediaman tuan Anderson usianya di atas 40 tahun sir, dan dia memiliki gigi emas di gigi bagian atasnya setelah dilakukan identifikasi lebih lanjut.
Tangan alec bergetar dengan cepat dia membuka semua hasil laporan dari walch dan begitu terkejut membacanya, usianya di atas 40 tahun, golongan darah A, sedangkan golongan darah Andria adalah B.
"semua bukti-bukti ini menunjukkan bahwa wanita yang tewas itu bukanlah Andria tapi wanita lain, tapi Andria berada di tempat yang sama ketika kejadian itu terjadi, tapi dimana Andria?"
Suara Alec bergetar hebat, dia lalu berdiri ingin menemui putranya kein dan ingin bertanya tentang wanita yang mirip Andria tetapi bunyi ponselnya membuatnya tertahan dan menatap layar di ponselnya dengan nama Ronan Weltson. Dia lalu mengangkatnya.
"Halo, ya..aku baik Mr Weltson." ucap alec.
"Aku langsung saja Mr Alexander, beberapa hari yang lalu ibuku bertemu dengan seorang wanita yang mirip dengan Andria, dan ibuku sangat yakin dia adalah Andria, aku tahu apa yang menimpa keluargamu tapi aku pikir aku harus memberitahukan kabar ini padamu."
Tangan alec masih bergetar mendengarnya. "Dimana..dimana ibumu melihatnya? Tanya alec dengan suara bergetar.
"Di Seattle, tepatnya di restaurant Asia, kata ibuku dia sedang makan seorang diri di sana sampai ada seorang pria yang mengaku sebagai tunangannya."
"Di Seattle? Seorang pria?" Ucap alec, "Baik, terima kasih atas informasimu Mr Weltson. Dia menutup ponselnya dan memandang walch.
"Siapkan pesawatku walch, malam ini kita akan ke Seattle."
"Baik sir."
~
Andria berjalan-jalan di sekitar taman dan mendapati suara pertengkaran seseorang.
"Aku tidak menyukai Leon yang seperti ini, aku mengikutinya bukan untuk menjaga seorang wanita yang hilang ingatan, lagi pula mengapa Leon tertarik padanya? Dia kan sudah memiliki suami dan dua orang anak."
Mata Andria terbelalak mendengar itu semua dia melangkah pelan kearah suara, mereka berdua berbalik begitu terkejut dengan kehadiran Andria.
"Katakan ! Jelaskan apa yang kau katakan tadi." Ucap Andria terdengar marah.
Wanita itu mendengus, "seperti yang kau dengar, aku tidak suka jika setiap saat menjaga dan memantaumu, aku bukan pengasuhmu ! Bukan seperti ini yang kuinginkan bergabung dengan Clan de Lucas."
"Apa maksudmu aku memiliki suami dan anak-anak?"
"Jangan dengarkan dia nona, dia cuma asal bicara." Ucap Bruno yang menarik Morelli menjauh sebelum mulutnya bicara lebih dari pada ini.
Morelli menatap tajam kepada andria, baru kali ini dia menampakkan ketidaksukaannya kepada Andria.
Andria terduduk di bangku taman, meskipun cuaca begitu dingin dia masih termenung memikirkan kata-kata Morelli padanya.
"Aku memiliki seorang suami dan anak? Tapi dimana mereka sekarang? Apakah pria itu menculikku dari keluargaku? Andria begitu marah, dia ingin segera pergi dari tempat sialan ini.