Her Secret

Her Secret
Cemburu



Mereka tiba sore hari di Seattle tepat di depan rumah Mrs Weltson, Ronan menghembuskan napasnya lalu menatap Andria yang duduk di sampingnya, "Jangan memberi tahu apapun kepada ibu Andria, aku tidak ingin dia khawatir".


Andria mengangguk. "Er..kau baik-baik saja? maksudku tidak ada sesuatu yang terjadi kan"? tanya Ronan dengan canggung.


"Aku tidak mengerti apa yang kau maksudkan"? ucap Andria.


"Lupakan, aku berharap tidak ada yang terjadi", gumam Ronan Sambil membuka pintu mobilnya.


Cahaya keemasan terlihat masuk didalam kamar andria sore itu, dia berbaring miring memikirkan segala hal yang terjadi di Portland, Kata-kata pria tua itu masih terngiang-ngiang di telinganya. Andria menatap langit di sore itu tanpa sadar ia tertidur pulas.


Terdengar ketukan beberapa kali dari pintu kamarnya, Andria sama sekali tidak mendengarkan ketukan itu, dia sangat kelelahan, suara pintu kamar yang dibuka dengan suara decitan.


Ronan menatap Andria yang tertidur dan meringkuk di atas tempat tidur masih dengan baju yang sama di pakainya tadi pagi. Ronanpun menghampirinya dan sedikit mengguncang tubuh Andria dengan lembut.


"Andria? bangunlah ! suara lembut Ronan tidak terdengar oleh Andria, dia masih tertidur pulas dengan rambutnya yang berantakan menutupi sebagian wajahnya.


Ronan menatapnya, perlahan tangannya mengusap wajah Andria, "Andria? bangunlah kau harus makan malam".


Andria membuka matanya yang berat, cahaya lampu dari kamarnya membuat Andria memicingkan matanya, menatap seseorang yang duduk di sampingnya.


"Ada apa"? ucap Andria.


"Sebentar lagi makan malam andria, mandilah, aku menunggumu di bawah". Ronan tersenyum sambil mengibaskan rambut Andria yang menutupi wajahnya.


"Erm Ok aku akan segera ke bawah". Kata Andria canggung. Ronan tersenyum tipis lalu keluar dari kamar Andria. Dia lalu terduduk matanya masih memandang pintu kamar. Mengapa dia bersikap seperti itu? ada apa dengannya? dia tadi begitu marah padaku, tiba-tiba sekarang dia begitu lembut. pikir Andria yang masuk ke kamar mandi.


Ronan telah menunggunya di meja makan dengan 2 piring berisikan tacos dengan isian daging sapi, daging ayam, tomat selada dan keju dengan pelengkapnya yaitu saus guacamole. Andria kini duduk dihadapan ronan, dia memandang disekelilingnya.


"Di mana Mr dan Mrs.Weltson"? tanya Andria menatap kosong dapur dan ruang depan.


Ronan menggigit tacosnya setelah menambahkan sedikit saus.


"Ayah dan ibu berangkat ke Montana, mereka menghadiri pesta pernikahan teman Dad disana, makanlah sebelum dingin, aku memesan tacos aku tidak tahu kau menyukainya atau tidak". Kata Ronan sambil menyantap tacosnya dengan lahap.


Andria memakan tacosnya dan dia menyukainya, "Ini enak". gumamnya di balas setengah senyum oleh Ronan. Setelah membereskan sisa piring makan malam andria, Ronan membuat dua cangkir susu coklat hangat lalu diberikannya kepada Andria, agar dia dapat berbincang-bincang dengannya.


"Kapan kau ujian Andria"? tanya Ronan.


"Bulan ini, mungkin". Kata Andria malas membahas tentang sekolah.


"Kau punya rencana untuk kuliah"? tanya ronan yang menatap Andria yang menyesap minumannya.


"Aku tidak tahu, erm..mungkin aku akan mencari keluargaku, aku tidak memiliki rencana untuk kuliah, mungkin aku akan bekerja". ucap Andria tanpa memandang wajah Ronan yang menatapnya tajam.


"Kenapa? jadi maksudmu kau ingin pergi dari sini"? gumam Ronan dengan wajah tidak suka.


"Aku sudah cukup banyak menyusahkan kalian, apalagi dengan menyekolahkan aku". Kata Andria yang sedikit ragu dengan ucapannya.


"Andria tatap mataku, apakah aku terlihat kesusahan, kami sangat senang dengan kau hadir di keluarga kami, apalagi mom dia menyayangimu, jadi jangan berpikir kau menyusahkan kami". Ucap Ronan dengan suara sedikit dikeraskan.


"Erm..terima kasih maaf aku baru mengucapkannya sekarang". gumamnya sambil tertunduk, Andria sadar dia hanya seorang gadis yang tidak memiliki apapun, jika saja Keluarga ini tidak menolongnya entah apa yang terjadi padanya.


Ronan berdiri dari tempat duduknya, dia menghampiri Andria dan berlutut di sampingnya sambil memegang erat tangannya, "jangan sungkan, kami sudah menjadi keluargamu jadi apapun itu kau harus menceritakannya kepada kami, kau mengerti Andria".


Andria mengangguk sedikit Senyuman di bibirnya, entah mengapa perasaan dingin didalam hatinya sedikit demi sedikit mencair, dia sudah terbiasa dengan sikap hangat keluarga ini.


Ronan mengambil gelas Andria yang kosong lalu mencucinya, "Sebaiknya kau tidur Andria besok kau harus sekolah".


Dia seperti Mrs Weltson, selalu mengingatkan tentang sekolah atau pelajaran, Andria berdiri dari tempat duduknya dan membersihkan meja setelah itu dia beranjak dari dapur, "Erm..selamat malam". gumam Andria pada Ronan.


Ronan tersenyum padanya, "Selamat malam Andria". Sebuah panggilan berdering beberapa kali di atas meja, Andria mengambil ponselnya dan menatap nama Alec di sana.


"Alec? apakah dia menyimpan nomornya di ponselku"? ponselnya berdering kembali, kali ini Andria mengangkatnya.


"Halo,.....ucap Andria.


"Kau ada dimana"? tanya alec dari seberang telepon.


"Aku ada di kamar, kenapa"?.... beberapa detik Suaranya menghilang.


"Halo....?


"Kau bersama siapa di sana"? tanyanya lagi.


"Pria itu di sana"? tanyanya.


"Dia sedang di dapur, mencuci piring". kata Andria jujur padanya.


"Cuci piring? Dimana ibu dan ayahnya?


Andria mengernyitkan alisnya mengapa dia bertanya seperti itu?


"Orang tuanya sedang pergi, kami baru saja selesai makan malam", Alec terdiam lagi.


"Jadi, kalian hanya berdua di rumah itu"?


"Ya,...


"Ok ! klik


Dia menutup ponselnya begitu saja, membuat Andria terheran, ada apa dengannya? tidak lama kemudian Andria mengingat ciumannya sewaktu di Portland, pipinya tiba-tiba saja memanas, dia membuka jendela kamarnya untuk menikmati udara malam, tapi dia begitu terkejut mobil Alec sedang terparkir tidak jauh dari rumah Mrs Weltson.


Wajah alec dari kejauhan dapat dilihatnya, begitupun Alec melihat andria, mereka saling menatap dari jarak jauh, tiba-tiba ponselnya berdering kembali.


"Kau melihatku Andria? tanyanya.


"Ya, aku melihatmu, apa yang sedang kau lakukan di sana"?


"Aku hanya ingin melihat wajahmu". ucap alec membuat Andria salah tingkah.


"Besok aku akan menemuimu, tidurlah ! perintahnya.


Andria hanya mengangguk tapi Alec dapat melihatnya dari kejauhan, mereka saling menatap tidak lama kemudian alec mengemudikan mobilnya.


Aku tidak tahu perasaan apa ini? pria itu tiba-tiba mengisi hari-hariku dengan kemunculannya di manapun aku berada, ciumannya yang tiba-tiba serta pelukannya, andria memegang wajahnya yang menghangat apakah aku mulai menyukai pria mesum itu?


~


Alec sedang sibuk dengan beberapa rapat yang harus di lakukannya di beberapa tempat, setelah siang hari dia menengok kembali jam yang ada di pergelangan tangannya, "Gery ! jemput nona Andria sepulang sekolah". Kata Alec tanpa melihatnya yang masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Miss Andria akan menunggu anda di mana sir? tanya Gery.


"di seberang kantor ini ada cafe, bawa dia ke sana Sebentar lagi aku akan menyusul".


"Baik".


"Tunggu ! kirimkan aku beberapa foto kegiatan Andria selama di sekolah".


"Baik sir".


Bell berbunyi, Andria seperti biasanya menyimpan beberapa buku cetak yang tebal kedalam lokernya, kemudian bergegas ke pintu depan sekolahnya, dia begitu terkejut melihatnya sedang berdiri di depan pintu gerbang sekolahnya.


Tawa Andria lalu terbit, dia sedikit berlari dan memeluknya, "Gun wu?? Kau di sini? tatapannya beralih ke wajah gunwu teman semasa tinggal di panti St.gardenia.


Dia balas memeluk Andria dan tersenyum senang, "Kau pasti tidak mengenalku kan dengan penampilanku yang sekarang? Gun wu memamerkan dirinya yang terlihat atletis, beda sekali dengan gun wu si gendut yang sering di ejek karena begitu gendutnya, sudah beberapa tahun semenjak gunwu ikut bersama pamannya.


"Ya, kau terlihat berbeda, kau apakan lemak-lemakmu? kata Andria sambil meninju bahunya yang berotot. Gun wu adalah teman senasib bersama Andria selama di panti asuhan, dia berasal dari Korea selatan, tetapi entah mengapa dia berada di panti St. Gardenia di kota Seattle tetapi tidak lama kemudian dia dijemput kembali oleh pamannya.


"Aku mengunjungi panti, tapi kata mereka kau sudah pergi entah kemana, dan aku melihatmu tempo hari berjalan bersama seorang pria, siapa dia? tanya gunwu yang sedang asyik menikmati es krim yang dibelinya, mereka berdua duduk di taman dekat sekolah.


"Siapa yang kau maksudkan? seorang pria? kata Andria mengernyitkan alisnya.


"Pria matang yang tampan". Kata gun wu sambil berkedip pada Andria.


"Mungkin Ronan, aku tinggal di rumahnya". Gun wu ternganga, apa maksudmu tinggal bersama seorang pria Andria"? ucapnya heran.


"Apa yang kau pikirkan gun wu, tepatnya aku tinggal dengan orang tuanya". gumam Andria.


"Jadi, bagaimana dengan kehidupanmu lebih baik"?! tanyanya.


"Seperti yang kau lihat, aku sekolah, tidak berkelahi atau membuat keonaran". Mereka bercanda sambil tertawa-tawa.


Gery mengambil foto dari kejauhan lalu mengirimkan hasil fotonya ke ponsel alec. Bunyi Ding terdengar dari ponselnya, dia menatap wajah gadis yang tertawa gembira bersama dengan seorang pria Asia yang seumuran dengannya.


Dia menutup ponselnya keras, "Ok lanjutkan penjelasannya walch". perintah Alec dengan wajah yang tiba-tiba berubah berbahaya.