Her Secret

Her Secret
Bersembunyi Darinya



Tempat itu begitu privat, di sebuah lokasi yang betul-betul ketat penjagaannya, dua orang dengan berpakaian hitam sedang berdiri diantara pintu sedang berjaga di sana.


Mr. Anderson lalu duduk di depan meja yang tidak terlalu besar, minuman sudah tersedia di hadapannya. Bunyi langkah kaki membuatnya menatap pintu masuk, seorang pria Asia yang cukup tua menatapnya wajahnya menunjukkan ketidaksukaan kepada Mr Anderson. 'Anak dan ayah sama saja', gumamnya kecil.


"Kau pasti Mr.Okada, kau pasti tahu mengapa aku ingin bertemu denganmu".


"Ck, mana aku tahu kenapa kau ingin bertemu denganku". ucapnya kasar.


"Aku bisa memberimu apa saja, uang? bukan masalah bagiku, tapi...katakan padaku apa yang terjadi 10 tahun yang lalu, kau adalah saksi terakhir yang melihat keberadaan Julia, anakku".


"Dan aku tahu, tidak ada mayat anak perempuan yang ditemukan pada saat kebakaran itu terjadi". Ucapnya tenang.


Tiba-tiba Okada tertawa keras, "Seharusnya kau lebih memperhatikan orang-orang yang ada di sampingmu, uang? wanita itu memberiku uang bertahun-tahun untuk tutup mulut tetapi setelah beberapa lama dia malah mengurungku di penjara".


"Wanita? apa maksudmu"? ucap Mr. Anderson dengan cepat menarik kerah baju Okada.


Okada hanya memandanginya dengan memandang sinis, "Yang perlu kau ketahui, anak itu baik-baik saja, dia sama denganmu mencari identitasnya sendiri". Kemudian dia kembali tertawa keras.


Wajah Mr. Anderson memerah dan dia begitu kaget, "Julia masih hidup?? Di..dimana dia? dimana kau bertemu dengannya, DIMANA"??? Teriaknya.


"Hehe, dua tahun yang lalu di Portland, dia mencari tahu tentang orang tuanya".


"Apa?? katakan..katakan padaku apa yang dikatakannya, CEPAT KATAKAN PADAKU?? Dia menarik keras baju Okada hingga tubuhnya menabrak meja di depannya.


"LEPASKAN AKU"! teriak Okada.


Perlahan Mr. Anderson melepaskan Okada, tapi matanya tertuju kepadanya, "yang perlu kau tahu aku sudah lama mendekam dipenjara, kau pasti tahu kenapa"? kata Okada remeh, "Aku hanya membalaskan kematian putra dan istriku".


Mr. Anderson menatapnya tajam, "Dan aku tidak segan memasukkanmu kembali ke penjara jika kau masih menutup mulutmu". ucapnya tegas.


"Hehe, berikan apa yang kubutuhkan dan aku akan memberikanmu informasi penting lainnya". Salah satu pria di belakang Mr. Anderson membawa sejumlah besar uang di dalam koper kecil, begitu Okada melihatnya dia lalu terkekeh, 'Saatnya balas dendam kepada wanita itu'. gumamnya pelan.


"Yang perlu kau ketahui, nama anak itu sama dengan nama belakangku". Kata Okada sambil mengangkut koper di tangannya. Tiba-tiba Mr. Anderson berdiri dan memukul wajahnya, "Aku akan membunuhmu jika kau membohongiku". Okada tersungkur dilantai tapi masih terkekeh hingga Mr, Anderson keluar dari tempat itu.


"Travis ! panggilnya.


"Cari ! dan temukan nama gadis dengan nama Kim Alexandria". perintahnya.


"Baik tuan "!


Mr Anderson berada di dalam mobilnya dan mengingat kembali pembicaraannya dengan Okada, "Wanita? siapa wanita yang dia maksudkan"? gumamnya.


~


"Andria? apakah itu kau?


Doughlas keluar dari cafe dan menemukan Andria basah kuyub berdiri di depan cafe dengan tubuh menggigil.


Doughlas segera memapah Andria masuk kedalam cafenya. Dia segera mengambil handuk dan menutupi tubuh Andria, "Apa yang terjadi? ada apa denganmu"? tanyanya khawatir.


Andria hanya menggeleng, tubuhnya masih menggigil, doughlas terburu-buru ke ruang ganti dan mengambil beberapa lembar pakaian untuk Andria.


"Gantilah pakaianmu Andria, nanti kau sakit! ucapnya. Dengan perlahan Andria mengambil pakaian itu lalu berjalan dengan sempoyongan tetapi Andria terjatuh dan pingsan.


"Andria ! Andria, doughlas memanggil Andria khawatir, dengan cepat doughlas membawa andria kedalam mobilnya dan membawa Andria ke rumah sakit karena tubuhnya sangat panas.


Mobil hitam itu berhenti tepat di depan cafe, alec terlihat terburu-buru menuju ke cafe yang telah tertutup. "Andria ! teriaknya. setelah beberapa saat dia masuk lagi kedalam mobilnya.


"Ke flat Gery"! perintahnya.


Dia berlari menuju lantai 5 dan bergegas ke flat Andria, "Andria? Andria buka pintunya, kumohon Andria buka pintunya". Alec menggedor-gedor pintu Andria yang tertutup rapat.


Seorang wanita membuka pintunya dan menatap Alec. "Sudah lama Andria belum kembali ke flatnya", kata wanita itu. Alec menatapnya dan kembali ke mobilnya.


"Walch, lacak nomor yang kukirimkan padamu sekarang"! perintahnya. Dia menutup ponselnya dan berpikir kemana Andria ketika hujan deras seperti ini?


Bunyi ponsel alec kemudian terdengar kembali.


"Sial ! kemana Andria?


Doughlas duduk di sebelah Andria sambil terkantuk-kantuk, setelah meminum obat yang diberikan oleh dokter, Andria akhirnya tertidur pulas dan demamnya sedikit demi sedikit telah turun, doughlas memegang kening Andria.


"Yup, demammu sudah mulai turun Andria". ucapnya meskipun Andria takkan menjawabnya karena sedang tertidur.


~


Andria mencoba membuka matanya, tubuhnya terasa berat, lalu dia memandang doughlas yang tertidur di sampingnya sambil melipat kedua tangannya.


Karena gerakan Andria doughlas akhirnya terbangun, "Hei beb kau sudah bangun"? dia memegang kening Andria, "Good, demammu sudah turun, dokter bilang kau bisa pulang hari ini". Doughlas meregangkan tubuhnya.


"Aku masih ngantuk"! ucap doughlas.


"Doughlas trims karena menolongku lagi". ucapnya. Doughlas hanya melambaikan tangannya tanda tidak perlu sungkan.


"Doughlas? ucap Andria.


"Maukah kau membantuku sekali lagi? ucap andria.


"Yup tentu Andria, katakan saja".


"Kau pandai menyembunyikan seseorang? ucap Andria.


"Menyembunyikan? apa maksudmu Andria"? tanya doughlas dengan wajah bingung.


"Aku ingin kau menyembunyikanku darinya".


"Darinya? doughlas lalu sadar siapa yang dimaksud oleh Andria.


"Kalian bertengkar ya"? tanyanya.


"Lebih dari sekedar bertengkar, aku ingin sementara waktu menghilang darinya". ucap Andria.


"Mengapa kau menghindar? jika kau sudah tidak ingin bersamanya, kau harus mengatakannya dengan jelas Andria, jangan menghindarinya". saran doughlas.


"Bukan karena itu saja, aku hanya ingin menenangkan pikiranku sebentar saja, aku tahu betul sifat Alec, dia akan terus mencariku dimanapun aku sembunyi". Kata Andria sambil menghembuskan napasnya.


"Dia pria posesif eh"? kata doughlas menguap.


"Emm, lebih dari itu, suka mengontrol posesif dan seenaknya sendiri". kata Andria sambil tersenyum.


"Kau masih mencintai pria itu Andria". ucap doughlas. Andria hanya memandang kosong langit-langit rumah sakit.


"Mungkin ya, untuk itulah doughlas kau mau membantukukan"? tanya Andria.


Doughlas berpikir sebentar, "Ok, aku punya satu cafe lagi yang berada di Quebec city, lumayan jauh dari sini, kau bisa menjaganya di sana dan tinggal di sana, lantai dua di cafe itu kamarku tapi aku sangat jarang berada di sana". kata doughlas kembali menguap.


"Trims doughlas, kapan aku bisa kesana? tanyanya.


"Kau ingin secepatnya? kata doughlas. "Aku akan mengantarmu setelah kau merasa baikan, barang-barangmu nanti akan menyusul".


"Trims doughlas, kau sangat membantuku..kau seperti kakak bagiku". ucap Andria matanya tergenang oleh air mata. 'Entah mengapa akhir-akhir ini aku sangat lemah' pikir Andria kepada dirinya.


Doughlas menepuk-nepuk kepala Andria lembut dan tersenyum tipis.


Sesuai dengan janji douglas, setelah demam Andria turun mereka langsung menuju Quebec city, lokasi yang di tempuh cukup jauh, hingga menghabiskan waktu 4 sampai 5 jam perjalanan dari tempat tinggal Andria di dekat Stanley park.


~


"Cari ! dan temukan dia ! perintah alec, beberapa orangnya kini berdiri dihadapannya dengan memakai pakaian hitam sedang menunduk.


Mereka bergegas naik ke mobil masing-masing, sekitar 7 mobil SUV telah berpencar di kota Vancouver, dan beberapa sedang berjaga di sekitar cafe dan flat Andria.


Alec melonggarkan dasinya dan membanting jas dan dasinya di lantai, "Sial ! Baiklah Andria kau bisa berlari sejauh mungkin tapi pada akhirnya kau akan kembali kepadaku lagi". janji Alec, mulutnya melengkung membentuk senyuman.