
Malam itu Alec begitu gelisah entah mengapa wajah Andria selalu terbayang-bayang dihadapannya. Matanya menyipit mengingat pembicaraan mereka berdua. "Menyuapinya? gumam Alec, dia lalu terduduk matanya mencari-cari ponselnya lalu melirik jam di atas nakasnya, tepat pukul 2 pagi, Andria pasti sudah tidur. Alec mengacak-acak rambutnya lalu kembali berbaring menunggu pertemuannya esok hari dengan Andria.
~
Pagi-pagi sekali Andria sudah siap sebelum mereka semua terbangun, dia mengikat tali sepatunya dan menggandeng tas ranselnya, dia melangkah pelan ke dapur dan menempelkan memo di kulkas 'Aku berangkat Mrs Weltson, maaf tidak membuat sarapan'. Dia kemudian berjinjit lalu perlahan membuka pintu dihadapannya, dia menuruni undakan batu kemudian perlahan dia berjalan di trotoar menunggu bus menuju terminal dan membeli tiket kereta ekspres menuju Portland lalu mengambil bus di sana menuju pusat kota di Oregon.
Dia merekatkan jaket tubuhnya lalu tidak lama kemudian bis berhenti di halte. Dia segera naik ke bis, membayangkan perjalanan jauhnya seorang diri membuat adrenalinnya berpacu.
"Tidak masalah..aku dahulu sering bepergian jauh". Gumam Andria menyakinkan dirinya sendiri.
Waktu menunjukkan pukul 7. 50, sebentar lagi dia akan datang, pikir Alec yang menatap jam di tangannya, dia menyilangkan kakinya menunggu beberapa saat, tetapi Andria tidak muncul juga, dia mengambil ponselnya dan menghubungi andria, "Nomornya tidak aktif"? gumam Alec. Dia lalu berdiri memakai Jaket bepergiannya, dia kembali menatap jamnya 8.14, "Gery ! siapkan mobil". Titah Alec padanya, Segera Gery turun kelantai bawah menyiapkan Fortune hitamnya, dia akan berkendara seorang diri, Alec masuk kedalam mobil wajahnya kian menegang.
"Gadis itu tidak datang". Geramnya, dia memukul dashboard mobilnya lalu melaju dengan kencang menuju alamat Mrs Weltson. Tidak lama kemudian dia sampai di depan rumahnya, dia menatap lurus ke toko itu, tidak ada tanda-tanda Andria ada di sana lalu dia menatap seorang wanita yang sedang berbincang-bincang bersama seorang pria, samar-samar dia mendengar pembicaraan mereka.
"Bob sayang jangan terlalu banyak minum kopi sisakan untuk husley dia biasanya lupa makan sesuatu jika sedang sibuk memancing".
Dia mengecup pipi suaminya, "Tenanglah sayang, Andria tidak berangkat ke sekolah? tanyanya ketika melihat sepeda merah yang masih terparkir di depan rumahnya.
Nyonya Weltson menggeleng, "Ini hari Minggu sayang, dan Andria telah berangkat bersama teman-temannya untuk mengerjakan tugas, dia akan bersenang-senang bersama mereka, mungkin besok dia akan pulang". Mr Weltson mengangguk dan membenarkan tali pancingnya.
Suara decitan mobil terdengar dari kejauhan, Alec segera memutar mobilnya, lalu mengacak rambutnya, "Dia pergi, Sial ! harusnya aku tahu itu, dia betul-betul gadis keras kepala". Alec menuju ke jalan Halte street, dia akan membeli tiket kereta ekspres menuju portland, pikir alec kesal. Mobil Fortune itu melaju dengan kecepatan tinggi.
~
Andria telah membeli tiket kereta, sebentar lagi keretanya akan datang, tidak lama kemudian Andria sudah naik dan mencari kursi yang nyaman, di dalam kereta tidak begitu banyak penumpang, dia memandang rumah-rumah yang terlewati dan gedung-gedung dari dalam kereta, dia mengambil minuman dari dalam tasnya dan meneguk sekali untuk menghilangkan dahaganya, tetapi botol minumannya telah berpindah tangan, seseorang tengah duduk di sampingnya lalu meneguk minumannya.
Tubuh Andria seketika menempel pada sudut kursinya, pria ini gila rupanya, pikir Andria.
"Mengapa kau tidak menepati janjimu"? tatapan matanya seakan menyalahkan Andria. Dia terdiam menunggu jawaban Andria, matanya yang hitam tidak terlepas dari wajah Andria.
"Kupikir aku harus pergi sendiri saja". gumam Andria dengan suara kecil. Dia tidak mau menatap alec, "Kau memutuskan semuanya dengan egois Andria, aku tidak suka jika kau tidak menepati janjimu".
Andria mulai kesal dengan kata-katanya, Dia ingin membalas perkataan alec tapi sebuah kecupan kilat mendarat dibibirnya, alec menatapnya dengan tatapan tajam. "Jangan membalas perkataanku dengan alasan-alasanmu Andria". Gumamnya, dia mengeluarkan ponselnya dan meminta kepada petugas kereta agar memberikan ruang VIP untuknya.
Dia berdiri dan menarik tangan Andria menuju tempat yang di pesannya. "Aku di sini saja". Andria menarik keras tangannya sehingga terasa sakit. "Jangan membantahku Andria, ikut denganku". Alec kembali menarik tangannya dan berjalan di sepanjang koridor kereta dan akhirnya masuk ke tempat yang lebih privat dan tentu saja dengan suasana yang sama sekali berbeda, di tempat ini tampak mewah, lagi pula Mereka hanya berdua di tempat VIP itu.
"Alec duduk di sofa empuk dan menyandarkan kakinya di depan sofa, dia masih memegang tangan Andria. "Jangan bergerak-gerak". Gumam Alec sambil menekan tombol di ponselnya. Tangannya melekat erat ditangan Andria, pria ini begitu kuat, ingin sekali andria meninjunya tapi salah-salah Alec akan menyerangnya lagi. "Halo Reg, aku akan berkunjung ke Oregon beberapa hari aku ingin kau siapkan semuanya". Dia lalu menutup ponselnya, "Kau lapar"? tanyanya.
"Lepaskan dulu tanganku lalu aku akan menjawabnya". Nada tajam Andria membuat alec semakin mengeratkan genggamannya. "Aku akan memesan makanan, kau pasti belum sarapan". Tidak lama kemudian seorang pria masuk dengan mendorong kereta kecil yang berisikan bermacam-macam jenis makanan dia lalu memberikan sepiring penuh sandwich dan secangkir kopi dan teh, dia lalu menundukkan sedikit kepalanya tetapi pelayan itu mengerling andria.
"Makanlah Andria". Perintahnya, matanya tidak terlepas dari ponselnya, "lepaskan dulu tanganku sir, aku tidak bisa makan kalau kau memegangnya seperti ini". Dia berbalik lalu menatap kedua tangan kami yang saling bertautan. "Sir? dia menaikkan satu alisnya. "Kau bisa menggunakan tangan yang satunya". katanya enteng.
Pria mesum ini membuat Andria begitu jengkel. "Jangan dihabiskan nanti kau sakit perut". Matanya mengerling di sandwich yang tinggal empat potong di atas piring.
Dengan paksa Andria menarik tangannya yang sudah keringatan dari tangan alec. Pagi ini aku tidak sarapan, dan dia melarangku makan banyak. Andria memalingkan wajahnya. Terdengar hembusan napas dari alec, dia menyesap kopinya. Andria tahu matanya masih lekat memandang Andria yang melipat kedua tangannya erat-erat di tubuhnya.
Ponselnya berdering beberapa kali, "Alec ! Ok Mr. Jack aku menyetujui proposal yang di ajukan sekertaris anda kemarin, kita akan bertemu di Oregon sebentar lagi". Dia lalu menutup ponselnya, Andria mengerlingnya pria ini begitu sibuk tetapi kenapa dia bersikeras naik kereta denganku? aku pikir dia gila dan mesum, apakah dia tidak pernah melihat wanita cantik di kantornya? mengapa aku yang masih sekolah? dengan lugas pikiran bahwa dia menyukaiku muncul kepermukaan, dia selalu menghubungiku, tiba-tiba saja menciumku dan muncul dihadapanku, alasan apalagi dari pria ini selain dia tertarik padaku??