Her Secret

Her Secret
Jessie kecil



~Kediaman Anderson


"Siapa yang menginginkan makanan seperti ini, apa kau sama sekali tidak bisa masak? sudah 10 tahun kau menjadi istrinya tapi mengapa kau begitu bodoh". Teriak seorang nenek tua dengan rambut tinggi mencuat, keriput di wajahnya tidak bisa ditutupi dengan polesan make up-nya, matanya memicing hanya dengan memandang menantunya ini.


"Sudah 10 tahun kau menikah tapi tidak ada keturunan yang kau berikan kepada keluarga Anderson, harusnya Peter memeriksanya ke dokter sebelum menikahinya, apa gunanya jika anak british itu yang menjadi penggantinya, keturunan Anderson betul-betul akan lenyap. Dia memilin saputangan merahnya dan melempar pandangannya keluar jendela.


"Erwin ! dimana pelayan itu?


Erwin berlari tergopoh-gopoh dengan badannya yang gempal. "Ya, nyonya.


"Bawa aku ke luar aku ingin udara segar".


"Baik".


Suara bantingan pintu terdengar keras, wanita itu memukul meja berkali-kali napasnya berhembus keras. "Kenapa dia tidak mati saja bersama cucu sialannya itu, sudah 10 tahun tapi dia masih memperlakukanku layaknya orang luar, aku sudah menjadi istri sah keluarga Anderson, tidak ada yang menghalangiku lagi". Bentak wanita itu di kamarnya.


Suara pintu yang terbuka dan seorang pria berjalan dengan rambut geriting yang hitam yang selalu diikatnya, "Mom aku suka kalau kau memaki, aksen britishmu terdengar jelas".


"Diam dough ! ibu sangat marah pada wanita tua itu".


"Sudahlah mom, biarkan nenek marah-marah, biasanya kan memang seperti itu, tidak usah mendengar caciannya".


"Dan kau ! Berhenti mengelola cafe bodohmu itu, kau harusnya lebih serius menangani perusahaan ayahmu". Doughlas memainkan bola di tangannya sambil bersandar di sofa.


"Sebentar lagi aku akan ke kantor mom, jadi jangan mengusik cafeku".


Wanita itu menghapus air matanya dengan kasar, "ibu akan membuatkanmu sarapan, cepatlah mandi". Dia keluar dari kamar menuju ke dapur, "Nenek tidak akan pernah mengakui kita mom seberapa besarnya usahamu menjadi nyonya di rumah ini". gumam doughlas yang masih duduk di sofa.


~


"Mr. Alexander rapat akan segera di mulai". Seorang wanita dengan rambut pirang dengan model Bob sedang berdiri membawa berkas-berkasnya. Alec lalu berdiri dan keluar dari ruangannya. Dia mengerling seseorang di samping kanan yang sedang bercakap dengan seorang pria, cih pria itu lagi, pikir alec.


Ronan menatapnya sekilas dan bercakap dengan Riley.


"Mengapa kau meminta untuk dimutasikan kemari ron? bukankah kau hanya datang menghadiri ulang tahun perusahaan"? Matanya menatap Ronan dengan curiga. "Yah, tidak usah kau beritahu alasannya, sudah terlihat jelas dari wajahmu, karena Andria bukan?


Riley menggeleng menatap sahabatnya ini. "Kau sudah berbicara dengannya? tanya Riley


"ya sudah, lebih tepatnya setiap kata yang keluar dari mulutku hanya menyakitinya". Dia memandang keluar jendela, mengingat pembicaraannya dengan Andria yang berakhir dengan kata-kata kasar yang terlontar dari mulutnya, setelah berbicara kasar pada Andria dia pergi meninggalkannya dan menyesal dengan semua yang dikatakannya.


"Buat dia jadi milikmu bodoh ! kau terlihat begitu frustasi karenanya, harusnya kau mengatakannya lebih awal kepada gadis itu". Riley berbicara dengan tenang, tapi mata Ronan menatapnya tajam.


"Buat jadi milikku? apa maksudmu Riley, aku bukan pria seperti itu". Kata Ronan marah.


"Terserah kau saja, sebelum pria lain yang memilikinya, dan kau akan menyesal "! ucap Riley serius, dia sudah bosan melihat tingkah Ronan yang terlihat kacau hanya karena Andria. Ronan meneguk kopinya memikirkan kata-kata Riley dengan sungguh-sungguh.


~


Andria sedang duduk di cafe menunggu waktu makan siang, lebih tepatnya matanya selalu menatap mobil yang lewat karena Alec akan menjemputnya pukul 1 siang.


Terdengar langkah sepatu seseorang yang menghampiri Andria.


"Miss"!


Andria berbalik dan menatap Gery, "Hai Gery, kenapa kau di sini"?


"Mr. Alec ingin aku menjemput anda Miss, silahkan ikut saya". Katanya sopan.


Andria mengambil tasnya dan segera mengikuti Gery. Dia membukakan pintu mobilnya lalu menutupnya setelah Andria masuk. "Kita akan kemana gery"?


"Mr, alec belum selesai dari rapatnya Miss, dia ingin anda erm ke penthousenya untuk memasak untuknya".


Andria mengerjap, ukh pria bossy itu semaunya saja. "Ok Gery", Senyum andria.


Mereka akhirnya sampai di penthouse Alec, Andria masuk begitu saja dan langsung menuju ke dapurnya. "Tekan angka 1 di ponsel ini Miss jika anda membutuhkan sesuatu". ucapnya sopan dengan wajah datar seperti biasanya.


Dia lalu menunduk dan keluar dari pintu depan.


Andria meletakkan tasnya di sofa lalu memakai celemek berwarna cream dia membuka kulkas, semua bahan tersedia di sana, tapi masakan apa yang akan dibuatnya? pikir andria.


Dia mengeluarkan berbagai macam bahan yang akan dimasaknya, setelah setengah jam masak Andria menyiapkan semua di atas meja sambil menunggu alec. Siang ini Andria membuat masakan ala montreal, Quebak yaitu daging ayam tanpa tulang lalu diberi tusukan sate disayat dan diselipkan di dalam roti pita dengan sayuran acar dan hummus, serta poutine yaitu kentang goreng yang dicampur dengan keju serta saus.


Andria menatanya dengan sederhana sambil melirik jam di pergelangan tangannya. sekarang pukul 01.48 dan Alec belum datang juga. Suara mesin mobil yang terparkir di depan penthousenya membuat Andria berdiri, akhirnya dia datang juga pikir Andria.


Andria menatap alec dan seseorang yang berjalan di sampingnya, seorang wanita cantik kelihatan sangat senang ketika sedang bercakap-cakap dengan Alec, tiba-tiba mata alec menatap Andria yang berada di dapur dengan senyum dia menghampirinya dan mengecup keningnya.


"Kau betul-betul membuat sesuatu"? membuatnya tersenyum miring sekali lagi mengecup keningnya. Wanita dengan rambut coklat berdiri dengan sedikit tersenyum. Andria bertanya-tanya siapa wanita ini, dia terlihat santai lalu menghampiri Andria dan alec.


"Hai, kau pasti Andria". Senyumnya mengembang. "Aku jessie Weakhly senang bertemu denganmu Andria, akhirnya aku bisa melihat wanita yang membuat alec luluh". Dia tertawa sambil melirik alec.


"Hai, aku Andria senang bertemu denganmu". ucap Andria.


"Aku rekan bisnis alec, kami sudah berteman sejak lama", Senyumnya.


Alec memeluk pinggang Andria dan menatap semua hidangan yang di sediakannya. "Boleh kita makan bersama sayang"? tanyanya.


Andria mengangguk, "Ya tentu saja". Mereka duduk bertiga di meja makan sambil sesekali Alec bertanya bagaimana hari Andria di cafe, setelah itu perbincangan kembali kepada mereka berdua mereka membahas masalah perusahaan yang sama sekali andria tidak mengerti.


"Wow, kau yang masak ini Andria? tanya jessie, "Sangat lezat", Ucapnya. Alec tersenyum, "tentu saja sangat lezat". Alec memakan semua yang dihidangkan Andria di atas meja.


"Bukankah kau tidak bisa makan keju Alec"? kata Jessie, berikan padaku biar aku yang memakannya. Andria melirik alec yang mengoper makanannya kepada wanita itu. "Aku heran melihatmu yang alergi makan keju, Andria tidak tahu kau alergi keju"? ucapnya lagi.


Andria memandang Jessie dengan senyum sempurna yang diberikannya kepada alec sementara alec mengangkat ponselnya yang berdering.


Setelah Alec menjauh wanita bernama Jessie menatap Andria, "Kau kuliah dimana Andria"? tanyanya.


"Aku tidak kuliah, begitu selesai sekolah aku langsung kerja". Jawab Andria jujur, dia ingin mengetahui apa yang diinginkan wanita dihadapannya ini yang mengangkat setengah alisnya.


"Oh benarkah? Kau kerja dimana"?


"Aku bekerja di sebuah cafe dekat Stanley park". ucap Andria.


Hening sejenak membuat suasana cukup canggung. Tiba-tiba saja wanita ini berkata sesuatu yang aneh dengan menatap Andria tajam.


"Kau tahu sudah berapa lama aku berada di samping alec bertahan sebagai rekan bisnisnya Andria? sudah lebih dari 5 tahun Andria, aku tahu tentangnya apa yang dibencinya dan apa yang disukainya, aku menunggu waktu....hanya waktu yang cukup untukku menjadi wanitanya dan tiba-tiba dia datang dengan menyebut namamu, kau betul-betul tidak sepadan dengannya". suaranya kaku mendesis.


Andria tersenyum miring, "Kalau begitu kau bodoh ! mengapa kau begitu lama menunggu bertahun-tahun untuk menjadi wanitanya? lagi pula Alec menganggapmu hanya rekan bisnis".


Wanita itu ternganga mendengar Andria. "Kau..kau! suaranya mengecil tapi membentak.


"Mau mendengar sebuah lagu"? kata Andria santai sambil memainkan garpu di tangannya...


"Wanita bodoh yang memendam perasaannya, hanya menatapnya dari kejauhan berharap pria itu akan berbalik menatapnya sungguh malang si Jessie kecil..hatinya terluka tapi berpura-pura baik-baik saja didepan pria pujaannya dialah si Jessie kecil".


Jessie gemetar dengan amarah.


"Kenapa? katakan kepada alec apa yang kuucapkan, Jessie kecil yang malang...jangan pernah mengusikku atau kubengkokkan hidungmu yang selalu mendengus".


Jessie dibakar kemarahan, dia berdiri dengan gemetar menatap Andria yang tersenyum terhadapnya. "Kau wanita gila ! desisnya.


"Benarkah? tapi tidak segila dirimu, menguntitnya bertahun-tahun, perlukah aku menjelaskan perasaanmu kepada alec"? ucap Andria masih bermain dengan garpunya tanpa memandang wanita di sebelahnya.


Dia menahan air matanya dan Langsung berbalik dengan tubuh gemetar.


"Dimana Jessie Andria? kata Alec yang sudah kembali duduk bersamanya.


"Katanya ada urusan penting". Ucap Andria kesal menatap alec, aku perlu bicara dengan pria ini tentang siapa saja wanita yang boleh datang ke rumahnya.