
Wanita itu mendorong perlengkapan alat pel dan menyiram sedikit pembersih lantai di bajunya, dia mendorong troli yang berisi alat-alat kebersihan berupa sapu, sikat lantai kayu, alat pel dan perlengkapan kebersihan lainnya. Dia mengenakan pakaian layaknya seorang cleaning servis, membungkukkan tubuhnya lebih rendah dan menunduk hingga tidak ada seorangpun yang menyadari siapa wanita itu.
Setelah beberapa menit berlalu wanita yang berada di dalam toilet mengenakan perhiasan emas yang berada di lehernya, sebuah kalung mahal pemberian Leon kepada Andria, dengan senang wanita berumur 30 tahun itu menatap dirinya yang mengenakan gaun Andria sambil berputar-putar di depan cermin.
Morelli berdiri dengan gelisah, mengapa wanita itu begitu lama di dalam sana? apakah dia sakit perut? tetapi Morelli merasakan firasat buruk dia lalu membuka pintu itu dengan keras dan mendapati seorang wanita yang mengenakan pakaian yang sama yang di kenakan oleh Andria. Dia setengah berlari dengan mata melotot dia memegang wanita yang terkejut menatap Morelli.
"Dimana wanita itu? dimana dia?" bentaknya pada wanita yang ketakutan dengan suara Morelli yang bergema keras di dalam bilik toilet khusus wanita itu.
"Aku...aku tidak tahu dia kemana, dia hanya...memberikan ini semua asalkan aku memberikannya baju seragamku." ucapnya terbata.
"Sial." umpat Morelli, dia lalu berlari keluar ruangan menjelajahi di setiap sudutnya, lalu memegang earphone di telinganya kemudian berbicara kepada seseorang.
"Varoni wanita kabur, dia mengenakan pakaian cleaning servis." ucap Morelli yang masih sibuk berlarian di setiap koridor mencari-carinya.
Varoni yang mendengar itu semua mengerahkan orang-orangnya di setiap sudut lalu memerintahkan mereka berpencar dan mencari Andria. Suasana itu tidak luput dari perhatian Leon karena mendengarkan langkah kaki yang berlarian di luar ruangannya. Pintu di buka oleh varoni, dia menunduk lalu melaporkan kepada tuannya.
"Tuan, nona Julia kabur, dia mengelabui penjaga dengan mengenakan pakaian cleaning servis." Ucap varoni datar.
Sikap Leon masih tenang tetapi urat-urat dilehernya bermunculan, "Cari dia sampai dapat, aku tidak perduli bagaimana kalian menemukannya, cari dia dan temukan dia." Ucap Leon dengan wajah terkatup rapat. Dia masih duduk tenang sambil menyesap anggurnya.
"Andria, meskipun memorimu telah hilang kau sama sekali tidak mempercayai semua perkataanku." gumamnya.
"Menarik!" Senyumnya.
Andria tidak begitu saja keluar dari tempat itu dia bersembunyi di salah satu lemari sapu yang nyaris penuh dengan alat-alat kebersihan, dia mendengar suara-suara sepatu yang berlarian di koridor, 'Cih, mereka begitu panik'. Andria masih sembunyi di sana, lalu terdengar seseorang membuka ruangan itu, Andria memegang gagang pintu agar seseorang tidak bisa membukanya.
"Kau mendengar keributan di luar?" ucap salah seorang wanita paruh baya yang melepaskan seragamnya.
"Ya, Sepertinya terjadi sesuatu, mereka mencari seseorang?" kata wanita yang lain berbicara menatap wanita itu.
"Mana aku tahu, Sepertinya mereka orang penting, sebaiknya kita tidak ikut campur." ucap wanita itu.
Setelah menunggu begitu lama, Andria merasakan tempat itu semakin gelap dia perlahan membuka lemari itu dan mengintip, ruangan itu begitu gelap lampu telah di padamkan, "Sepertinya sudah aman." ucap Andria menatap ruangan itu mencari-cari apa saja yang bisa dia kenakan untuk keluar dari sana, karena penyamarannya sekarang ini pasti sudah diketahui oleh orang-orang Leon.
Andria beruntung menemukan kemeja putih lengan panjang dengan jeans yang di letakkan di lemari ganti wanita tadi, "untung saja mereka tidak menguncinya." ucapnya.
Setelah merubah penampilannya, Andria lalu membuka pintu itu lalu mengintip kembali dan merasakan keadaan betul-betul aman, kemudian dengan berjalan tergesa-gesa dia masuk ke pintu belakang dapur restaurant itu yang untungnya lagi belum terkunci.
Andria berjalan dengan cepat di trotoar sambil memeluk dirinya yang kedinginan, dia lalu singgah di sebuah toko pakaian dan membeli jaket untuk menutupi tubuhnya. Dia menutup seluruh tubuhnya dengan jaket lalu mengenakan masker agar tidak ada seorangpun yang mengenalinya.
"Sekarang apa? aku sudah pergi dari pria itu, aku akan kemana?" gumamnya sambil berjalan di sepanjang jalan kemudian menatap restauran Asia dan memilih untuk mengisi perutnya yang keroncongan sebab dia tidak sempat makan tadi siang.
Tempat itu tidak begitu luas, deretan panjang meja dan kursi memenuhi tempat itu dan juga tidak begitu banyak pengunjung yang makan di tempat itu, cuaca begitu dingin siapapun tidak akan keluar dari rumahnya, mereka pasti memilih mendekam dan menghangatkan diri di rumah masing-masing.
Andria melepaskan jaketnya dan menunggu pesanannya yang akhirnya datang, dengan lahap Andria menyendok makanannya.
"Andria?? suara wanita itu begitu terkejut dia berhenti sebentar agar dia tidak salah memanggil orang.
Andriapun sangat terkejut hingga ia terbatuk dengan makanan yang masih penuh di mulutnya.
"Kau tidak mengingatku? aku Mrs Weltson, ibu Ronan." ucapnya.
"Andria? kau menyebutku Andria?" ucap Andria terbata-bata.
Mrs. Weltson mengernyitkan alisnya, "Ya sayang namamu andria, ada apa denganmu kau sakit?" ucapnya.
Mrs Weltson menghampirinya lalu dengan sedih memeluk Andria sambil menepuk-nepuk punggungnya, "Aku bersyukur kau baik-baik saja Andria, semenjak kau pergi dari rumah, aku begitu sedih..Ronan jarang membicarakanmu." ucapnya cepat.
Andria Tidak mengerti semua perkataan wanita ini, "Kau mengenalku? tanya Andria.
"Tentu saja aku mengenalmu sayang, kau akan kemana?" tanyanya.
"Aku akan...." tiba-tiba matanya melebar menatap seorang pria yang berjalan kearahnya, dengan menyunggingkan senyumnya dia menatap Andria lalu menghampirinya.
"Ternyata kau di sini sayang, aku mencari-carimu sejak tadi." Ucap Leon dengan suara kepura-puraannya yang di lembutkan.
"Permisi nyonya, dia adalah tunanganku..kami sedang bertengkar sedikit tapi dia lari begitu saja." ucapnya dengan akting yang semeyakinkan mungkin.
"Oh ini tunanganmu andria? kalian sangat er..." kata-kata nyonya Weltson terpotong karena Leon segera menarik paksa Andria dari tempat duduknya.
Nyonya Weltson begitu terkejut menatap pria dihadapannya yang memperlakukan Andria begitu kasar. "Hei, mengapa kau kasar sekali kepada andria!?" ucapnya marah.
'Turuti kata-kataku atau kau ingin melihat wanita dihadapanmu itu terluka?' bisiknya. Andria begitu benci dengan pria ini, dia melepaskan dengan paksa tangan Leon yang memegang lengannya.
"Nyonya er..aku baik-baik saja, senang berjumpa dengan anda." Ucap Andria sambil berbalik Sebentar lalu melangkah mengikuti Leon.
~
Perancis, Or`leon City
Terdengar langkah kaki yang terburu-buru menuju suatu ruangan kemudian pria itu mengetuk-ngetuk beberapa kali.
"Masuk."
"Tuan, er...berita dari Vancouver, entah mengapa tidak ada seorangpun yang memberitahu tuan tapi, sesuatu yang buruk menimpa keluarga anda tuan doughlas." Ucapnya.
"Apa maksudmu Steve?"
"Er,...Ayah tuan sakit keras ibu...ibu anda melarikan diri dari penjara."
Douglas lalu berdiri dari tempat duduknya, sejak kapan surat ini ada di tanganmu?" tanyanya dengan suara menggelegar di ruangan itu.
"Sepertinya seseorang menyembunyikannya tuan, sudah sebulan yang lalu, itu....
"Ada apa Steve?" Ucap doughlas dengan menahan amarahnya.
"itu...Saudari tiri anda tuan, di temukan tewas di kediamannya sendiri di rumah tuan Anderson." Ucapnya sambil menunduk ketakutan.