Her Secret

Her Secret
Penyekapan



Setelah beberapa hari Andria berada di rumah sakit dia akhirnya diperbolehkan pulang, Alec tidak membiarkan Andria kembali ke rumah ayahnya, sekarang ini Andria tengah berbaring di ranjang menatap matahari terbenam dari kaca jendela. Alec membuka pintu kamar dan melihat perubahan sikap Andria, dia tidak mengetahui mengapa Andria sepanjang hari hanya terdiam.


Alec mengecup kening Andria lalu menatapnya, "Andria? ada apa sayang"? bisik alec.


Andria berbalik lalu menatap Alec seakan dengan menatapnya kegelisahannya dapat menghilang, "Alec? apakah kau bahagia ketika kau mendengar aku hamil"? bisik Andria, Alec lalu tersenyum, "tentu Andria, mengapa kau bertanya seperti itu? kau pikir aku tidak menginginkan bayi kita"? ucap alec sambil mengusap rambut Andria.


Andria lalu memeluk alec tanpa mengucapkan apapun lagi, dia hanya memeluk alec dengan erat. Sikap andria membuat alec bingung sepertinya dia menyembunyikan sesuatu darinya.


~


Minggu ini akan menjadi hari penting bagi andria dan alec, mereka akan melangsungkan pernikahan mereka, beberapa desainer terkenal datang ke mansion alec agar Andria mencoba gaun pengantinnya, semua terlihat indah di mata Andria, hingga ia bingung gaun yang mana yang akan dikenakannya.


setelah beberapa jam yang membingungkan dengan penjelasan dari desainer itu akhirnya Andria memilih gaun pengantin bergaya Perancis panjang berekor model hepburn dengan bahu terbuka terlihat sederhana tetapi tampak anggun dan sangat elegan.


Sedangkan alec sekarang berada di kantornya menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin tetapi ada satu hal yang Andria tidak mengerti mengapa alec menempatkan beberapa penjaga di sekitar mansionnya, sesekali Andria mengintip dari jendela. Andria ingin memastikan satu hal kepada Rowena, untuk itu dia harus keluar dari mansion ini tapi tanpa sepengetahuan Alec.


Andria kembali ke perpustakaan Alec dan membuka laci meja milik alec dan kotak yang tersimpan didalam laci itu masih ada, Andria mengambilnya lalu membuka kotaknya lalu pistol yang tidak pernah dipegang sebelumnya di ambilnya lalu di sembunyikan di tasnya.


Andria mengirimkan pesan kepada alec bahwa dia akan menemui ayahnya dan neneknya untuk makan siang, dengan cepat Andria mengenakan pakaiannya sebelum alec datang, akhir-akhir ini alec begitu protektif terhadapnya, dia tidak akan membiarkan Andria melakukan apapun yang membuat tubuhnya letih, ketika itu Andria melewati penjaga dengan berjalan santai, lalu memegang ponselnya lalu berpura-pura menelepon Alec, "Oke sayang aku akan menemuimu di kantor, aku sudah berada di jalan Alec". Ucap Andria dengan mengeraskan suaranya sehingga penjaga itu tidak curiga sama sekali.


Bunyi ponsel Alec di abaikannya, Alec sudah meneleponnya berkali-kali. Lalu bunyi Ding membuat Andria menatap layar ponselnya, dan pesan dari alec akhirnya muncul, 'ANGKAT TELEPONMU ANDRIA', ugh kelihatannya dia sangat marah, kumohon Alec kali ini saja biarkan aku, ada sesuatu yang ingin aku pastikan sendiri, apakah aku betul-betul seorang pembunuh? tetapi sesuatu mengguncang tubuh Andria hingga dia terjatuh ke sisi jendela mobil, dua mobil hitam melaju dengan kencang berada di masing-masing sisi kendaraan Andria.


Supir itu menjadi panik dan berteriak-teriak kepada pengemudi yang tidak memperdulikan teriakan sang supir, nampaknya dari awal dia mengincar Andria, mereka memaksa mobil yang di kendarai Andria menepi, setelah menepi di sisi jalan yang sepi, pengemudi dari masing-masing mobil itu keluar dengan membawa senjata dan menodongkan ke arah supir dan Andria, mereka otomatis mengangkat kedua tangannya.


Andria mengangkat kedua tangannya karena todongan senjata tepat di kepalanya. "Masuk ke dalam mobil". Kata pria yang menutup wajahnya dengan topeng. Andria melirik kepada supir yang terlihat ketakutan, dia mengikuti permintaan mereka dan masuk ke dalam mobil hitam kusam.


Dengan satu pukulan di tengkuknya Andria jatuh pingsan. "Halo bos target ada di tanganku sekarang", Ucapnya.


"Bagus, bawa dia ketempat yang di tentukan". ucapnya dari seberang telepon.


"Baik". Setelah menutup ponselnya, dia mengambil ponsel Andria dan membuangnya begitu saja di jalan, ponsel Andria berdering nyaring, membuat alec betul-betul sangat khawatir.


~


"Antonio, lacak nomor dan temukan lokasinya! aku ingin kau menemukannya dengan cepat". Geram Alec, dia membanting ponselnya, lalu keluar dari kantornya dan segera naik di mobil yang dikendarai oleh Gery.


Ponsel alec berbunyi, dengan cepat dia mengangkatnya.


"Bagaimana? apakah kau mengetahui lokasinya"? kata Alec.


"Ponsel ini berada di jalan timur laut Oregon dekat federal highway administrasi 2 km dari pompa bensin sir". Ucap antonio, dia adalah salah satu orang kepercayaan Alec yang bertugas melacak apa saja yang dibutuhkan oleh tuannya.


"Bagus". Alec menutup ponselnya dan memberitahu kepada Gery tempat yang akan mereka tuju. "Andria kau benar-benar tidak mendengarkan aku", Kata Alec geram.


~


Andria melihat dari balik jendela dan menatap suasana tempat dirinya di sekap, Sepertinya dia berada di sebuah kabin dekat pinggir laut, karena Andria dapat mendengar suara ombak dan merasakan desiran angin yang cukup kencang.


"Bagaimana? apa kata bos". Ucap salah satu pria berwajah Meksiko itu. "Kita harus menunggu perintah selanjutnya, kita tidak boleh menemuinya", Ucap pria itu.


~


Alec berhenti tepat di jalan yang di tunjukkan oleh Antonio, dia menatap dan mencari-cari keberadaan Andria, dia kembali menghubungi ponselnya.


"Sir"? Ucap Gery, dia mengambil ponsel Andria yang berada di atas kerikil di sisi jalan.


"Sepertinya sesuatu menimpa Miss Andria". Alec menatap ponsel yang dipegang oleh Gery, seketika dirinya berdiri kaku, tubuhnya kembali gemetar, dia mengambil ponsel Andria dan menatapnya.


Dunianya terasa berputar dan perutnya seakan di tonjok, "Apa yang terjadi? andria ! ucap alec dalam keadaan gemetar.


"Sir, saya akan mencari rekaman cctv di seberang jalan, kita akan segera menemukan lokasi nona Andria". Gery dengan cepat berlari dan menelepon seseorang, sedangkan Alec dengan tubuhnya yang masih gemetar dia mencoba menenangkan dirinya dan mengambil ponselnya menghubungi seseorang.


"Sir, saya mendapatkan rekaman sisi tv beberapa jam yang lalu, Alec lalu melihat Andria yang di paksa turun dari mobil yang di kendarainya, dia mengangkat kedua tangannya lalu masuk ke dalam mobil hitam kusam, Alec menggeram ketika salah satu pria itu memukul tengkuk Andria dan mengangkatnya ke dalam mobil.


"Gery ! Kau tahu apa yang harus kau lakukan bukan ? ucap alec dengan dingin.


"Ya sir".


"Kerahkan semuanya, lacak dan temukan lokasi Andria, mereka akan menerima akibatnya jika bermain-main denganku".


"Baik sir". Ucap Gery.


~


Sudah menjelang sore hari sedangkan Andria masih belum ditemukan, Alec mengerahkan semua orang-orangnya di seluruh wilayah Vancouver, dan menyelidiki pria yang sempat terekam cctv, meskipun dia memakai topeng tetapi pria itu memilki sebuah tato di lengannya, tidak lama kemudian mereka menemukan informasi mengenai pria-pria itu.


"Temukan mereka, Jika sesuatu terjadi pada Andria, bunuh mereka semua". Kata Alec pada salah seorang pria berwajah kurus dengan rambut hitam panjang. "Baik sir", Ucapnya.


Andria masih duduk di sana, mencoba membuka ikatannya, untung saja tas yang dikenakannya tidak di ambil oleh penculik itu.


Andria menggigit bibirnya tangannya sangat sakit akibat goresan dari tali yang diikatkan pada kedua lengannya, tetapi Andria mencoba menahannya, dia harus melarikan diri dari tempat ini.


"Dimana gadis itu"! Suara seorang wanita terdengar dari luar kabin membuat Andria dapat menebak siapa pelaku yang menculiknya.


Wanita itu berjalan santai dengan mengenakan gaun merahnya dengan bibir merah merona, dia berjalan dengan angkuh mendekati andria.


"Hei my little girl, bagaimana keadaanmu? Dia menarik satu kursi dan duduk di hadapan Andria, jangan salahkan aku berbuat seperti ini, siapa yang menyuruhmu untuk kembali ke kediaman Anderson, kau seharusnya tetap tenang di tempatmu yang dulu". Wanita itu memutar kedua matanya, "Sayang sekali Julia, aku harus membuatmu menghilang untuk kedua kalinya". Wanita itu tersenyum puas, Andria hanya menatapnya tajam, tetapi anehnya andria tersenyum membuat Rowena sedikit terkejut.


"Akhirnya aku mengingat kejadian itu, kau ingin tahu siapa yang menghabisi keluarga Okada? kau pasti akan senang mendengarnya", Ucap Andria membuat Rowena menggeram marah tetapi sedikit rasa penasaran terpeta di wajahnya.