Her Secret

Her Secret
Debaran jantung andria



Sebuah mobil Mercedes-Maybach S 650 terparkir di pelataran mansion clan de Lucas, pria itu berjalan tenang ketika menghampiri mansion de Lucas, di tempat itu di penuhi penjaga. Mereka menghentikan pria itu, dengan tersenyum dia memandang mereka, dengan fasih dia berbahasa Italia kepada varoni yang kebetulan berhadapan dengannya.


'Di mana bosmu aku ingin berbicara dengannya' ucapnya.


'Siapa kau?' tanyanya.


'Aku doughlas de Lucas'.


Ucapnya lantang. Wajah varoni sedikit terkejut dia menatapnya, wajahnya memang begitu mirip dengan kakak tuan Leon yang pernah memimpin clan ini sebelumnya.


Langkah seorang pria mendekat ke tempat mereka.


"Apa maksudmu doughlas de Lucas? Siapa yang mengizinkanmu menggunakan nama de Lucas?" Ucap Leon menatap wajah pria di hadapannya.


Doughlas tersenyum, "Karena aku memang keturunan dari de Lucas sebelum tuan Mentrivano de Lucas wafat kami sempat bertemu, dan satu lagi, mengapa kau mencariku? Aku sudah cukup memberitahu bahwa aku tidak ingin berurusan dengan klan kalian, tapi sepertinya tidak bisa lagi kuhindari.


Doughlas melihat Leon dengan mata tajam dan kebencian bersarang di wajahnya, setelah menyelidiki kasus andria, doughlas akhirnya tahu segala sesuatu yang terjadi pada saat itu, kematian ibunya juga karena ulah klan ini.


"Kau membunuh ibuku Leon, dan kau menyembunyikan adikku." Ucap doughlas marah tetapi wajahnya tetap menatap Leon dengan datar.


"Tentu saja aku tidak bisa membiarkanmu." Ucap doughlas melangkah hingga menghapus jarak di antara mereka.


~


Kein dan Abel tidak pernah lepas dari Andria kemanapun ibunya pergi mereka berdua tidak pernah terlepas dari mereka.


"Biarkan mommy beristirahat sayang." Ucap alec masuk ke dalam kamar dan melihat kein dan Abel selalu mendampingi ibunya. Alec dan Andria saling memandang, ada kecanggungan di wajah Andria, meskipun dia adalah istrinya tapi ingatannya belum pulih, dia memandang alec sebagai pria baru baginya.


"Tidak..tidak apa-apa, aku senang bersama dengan kein dan Abel". Ucap Andria tanpa memandang alec.


Dengan wajah cemberut kein menatap ayahnya.


"Malam ini kein ingin tidur bersama mommy begitupun Abel, ya mom!" Ucapnya, wajahnya memelas meminta kepada andria.


Andria tersenyum lalu menarik hidung kein, "tentu saja sayang." Ucapnya, Alec mengetahui jika andria merasa asing kepadanya tetapi dia berusaha memakluminya karena Andria belum mengingat tentang mereka, tetapi dia akan berusaha agar ingatan Andria kembali.


"Baiklah kita tidur berempat saja." Ucap alec naik di atas tempat tidur dan berbaring di sisi Andria mengambil Abel dan bermain-main dengannya sambil mengecup pipinya, suara tawa Abel yang lucu bergema di kamar itu.


"Kenapa..kenapa kau tidak tidur di sofa di sana, di sini terlalu sempit untuk berempat." Kata Andria tanpa melihat Alec, dia masih belum bisa percaya kalau pria di sampingnya ini adalah suaminya.


"Tempat tidur ini cukup besar untuk kita berempat sayang." Ucap alec sambil memeluk Abel yang menarik-narik rambut ayahnya.


"Erm waktunya tidur kein." Ucap alec yang menatap putranya, dia berada di tengah-tengah bersama dengan abel di antara mereka.


"Oky dad." Ucap kein sambil menguap.


"Selamat tidur mommy." Ucap kein mengecup pipi Andria.


"Selamat tidur kein." Bisik Andria yang menyelimuti kein. Matanya tiba-tiba tertuju pada alec yang masih menatapnya sambil memiringkan tubuhnya.


Andria mengalihkan perhatiannya, dia tidak mau menatapnya, Abel sudah tertidur di pelukan alec, tinggal mereka berdua yang saling melihat canggung.


"Aku..aku mau ke kamar mandi." Ucap Andria merasakan jantungnya berdetak kencang.


Dia masuk kedalam kamar mandi dan seketika memegang jantungnya yang berdetak kencang, mengapa aku seperti ini? andria segera membasuh wajahnya agar dia dapat tenang.


"Kau mengejutkanku." Ucap Andria.


Andria melangkah melewatinya, tetapi tangan alec memegang lengannya.


"Andria kau betul-betul tidak mengingat tentang kita?" Ucapnya. Matanya tajam menatap manik mata Andria, "Aku...maafkan aku, aku masih belum mengingat apapun." Dia menunduk, tangan alec begitu lembut menariknya di pelukannya lalu memeluknya erat.


"Jangan memaksakan dirimu sayang, biarkan kau mengingatnya pelan-pelan." Ucap alec lalu menatap wajahnya.


kecupan mendarat begitu saja di bibir Andria. Setelah Andria sadar dia sudah berada di sebuah kamar yang lebih gelap, tubuhnya mengingat dekapannya seperti tubuh andria terhipnotis, andria telah larut dalam gairah cinta Alec malam itu.


~


Pagi itu Andria membuka kedua matanya, tubuhnya terasa berat dan panas karena pelukan seseorang, akhirnya andria menyadari apa yang terjadi semalam, dia begitu terkejut melihat alec berada di sampingnya hanya tertutupi selimut bersama dengan dirinya.


Andria lalu berteriak, dan mengambil semua selimut agar tubuhnya tertutup seluruhnya, lalu mengambil bantal melemparkannya ke arah Alec bertubi-tubi hingga alec bangun dan segera menangkis serangan Andria padanya.


"Pria mesum, apa yang kau lakukan padaku semalam!?" Teriak Andria.


Alec menarik bantal yang dipukulkan padanya, apalagi sekarang dia tidak mengenakan apapun membuat Andria berteriak ketika menatapnya dan memalingkan wajahnya. Alec tersenyum menggodanya, dia mulai mendekati Andria, merasa Alec mendekat padanya Andria mundur ke sudut tempat tidur dan mengambil apa saja untuk melempar Alec.


"Memang kenapa sayang? Aku ini suamimu, kita selalu melakukannya berkali-kali." Ucap alec membuat Andria melotot marah padanya mendengar kata-katanya, mengapa dia bisa menikahi pria mesum ini? Pikir Andria.


Andria merekatkan selimut di tubuhnya agar dirinya tertutupi seluruhnya. "Kau..kau bilang aku harus mengingat pelan-pelan, dan apa yang kau lakukan sekarang? Seharusnya kau menunggu sampai aku betul-betul mengingatmu."


Ucap Andria menatap kepada alec dengan marah.


Seketika Alec berhenti mendekat dia mengacak-acak rambutnya.


"Maafkan aku sayang, aku tidak bisa...tidak bisa menahan lebih lama lagi." Gumam alec di hadapannya.


"Jangan mendekat atau aku akan.."Andria melirik di sekitarnya tidak ada lagi bantal atau apapun yang bisa di lemparkan ke arah Alec.


"Kenapa tidak kau lemparkan saja dirimu sayang." Goda alec, Andria melotot menatapnya.


Tarikan keras Alec kepada Andria membuatnya teriak, Andria sekarang berada di pelukannya.


"Aku mencintaimu Andria, dan kau mencintaiku, hanya itu yang harus kau ingat mulai sekarang, kau mengerti sayang." Bisik alec di telinga Andria, membuat pipi Andria kembali merona.


Ketukan keras membuat Andria tersadar, dengan cepat dia mendorong tubuh alec dan kembali membungkus tubuhnya dengan selimut. Dengan santainya Alec berdiri dihadapan Andria tanpa mengenakan apapun lalu mengambil handuk dan dililitkan di pinggangnya, dia membuka pintu kamarnya.


"Dimana mom, dad?" Ucap kein sambil menggendong Abel di pelukannya, Abel menangis mencari mommy."


Ucap kein lagi. Alec lalu menggendong Abel ke pelukannya, kein mengedarkan pandangannya lalu melihat ibunya dan berlari mendekat padanya.


"Kenapa mommy ada di sini? Kita kan harusnya tidur bersama?" Kata kein cemberut. Andria mengecup pipi kein dan memeluknya.


"Jangan salahkan ibu sayang, salahkan dia." Sambil menunjuk ke arah Alec, Andria berbisik di telinga kein.


"Daddy? Bisik kein pada ibunya. "Ya, dia yang membawa ibu kemari." Kein menatap cemberut pada ayahnya.


"Kalau begitu mulai sekarang kein yang akan menjaga mommy." Bisik kein di telinga Andria membuat Andria tersenyum mendengarnya, Alec yang masih menggendong abel menatap keduanya yang saling berbisik. Dia menyipitkan matanya menatap mereka.


"Apa yang kalian rencanakan?" Ucapnya.