
Flat berlantai 5 itu terlihat kumuh dengan bangunannya yang retak di sana sini, meskipun begitu tempat ini sudah menjadi tempat tinggal Andria selama hampir setahun selain murah tempatnya begitu strategis karena dekat dengan tempat kerja Andria.
Sekarang tepat pukul 8 pagi, Andria bersiap-siap akan berangkat kerja, setelah sarapan Andria sudah berada di luar flatnya dan menguncinya, dia berjalan menuju tangga batu karena lagi-lagi liftnya macet, terdengar langkah seseorang yang berlari dengan terburu-buru, dia menabrak tas Andria hingga terjatuh.
"Ouch sorry, aku begitu terburu-buru". Senyumnya dramatis. Aku hanya mengangguk tidak mempermasalahkannya. Wanita itu lalu tersenyum melambai padaku dan meneruskan langkahnya yang terburu-buru. Aku melirik jam di pergelangan tanganku, belum saatnya, pikir Andria. Dia berjalan sekitar 15 menit menuju tempat kerjanya di cafe Couve, kebetulan saja cafe itu begitu strategis selain dekat dengan Stanley park juga berdekatan dengan gedung-gedung perkantoran, sehingga banyak dari mereka akan membeli kopi atau sekedar menghabiskan waktu bersama teman-teman kantornya untuk bercengkrama.
"Kau datang pagi Andria". Gumam doughlas dengan wajah ngantuk dan rambut acak-acakan. Pria ini berkewarganegaraan Inggris dengan logat british yang kental, usianya 31 tahun dengan rambut hitam keriting yang selalu diikatnya, setiap kata yang diucapkannya bagiku selalu tidak masuk akal tetapi membuatku tertawa.
"Katakan kepada Mei, andria aku akan melepas masa kesendirianku pada Juni, dan akan menikah dengan Juli". Gumamnya ngawur.
"Dan bagaimana dengan Agustus? tambah Andria sambil memakai celemek hitam dan rambutnya di ikat tinggi sehingga menampilkan kecantikan di wajahnya.
"Kau tidak ingat? aku baru saja menceraikannya". Andria menggeleng, sambil tersenyum. "Sebaiknya kau pulang doughlas, matamu Sebentar lagi akan tertutup".
Dia melambaikan tangannya pada Andria naik ke dalam mobilnya dan mengendarainya.
Cukup lama Andria sudah bekerja di cafe itu, sehingga dia diberi kepercayaan untuk mengajari pekerja lainnya yang bekerja di sana.
"Dua Latte dengan cream dan satu espresso". Ucap seorang wanita yang napasnya memburu, kacamatnya yang berbingkai tebal miring dihidungnya karena berlari begitu cepatnya.
"Hei bukankah kau yang tinggal di flat seedy?yang tadi pagi? tunjuknya padaku.
Aku sedikit tersenyum, "Ya, kau begitu terburu-buru tadi pagi'.
"Sorry aku belum memperkenalkan namaku, aku Margaretha, kau bisa memanggilku Meg".Senyumnya.
"Namaku andria". Jarinya mengetuk-ngetuk meja kasir, dia kelihatan terburu-buru lagi.
"Kau terburu-buru? tanya Andria . Matanya melebar penuh kecemasan. "Kau benar, bos ku di kantor akan mengamuk lagi jika aku terlambat membawa pesanannya".
Dengan cepat Andria memberikan pesanannya lalu menerima beberapa lembar uang darinya. "Aku pergi Andria kapan-kapan kita bertemu lagi, oh ya ini kartu namaku". Dia kemudian pergi sambil terburu-buru dan melambai.
"Dia sibuk sekali", gumam Andria, dia mengambil kartu nama Margaretha dan membacanya, "Linuxe enterprise"? gumam Andria. Matanya mengerling sesuatu, dia melupakan tasnya? Andria mengambil ponselnya dan menghubungi meg, tetapi kelihatannya dia belum menyadari jika tasnya ketinggalan.
Setelah beberapa kali menelepon Meg, akhirnya dia mengangkatnya, "Halo Meg, kau melupakan tasmu". Terdengar suara Meg yang terkejut.
"Ok, tidak masalah aku akan mengantarnya, aku akan kembali menghubungimu jika aku telah tiba di sana".
Andria melepaskan celemeknya dan segera mengambil tasnya, "Jef, aku keluar sebentar aku harus mengembalikan tas pelanggan yang ketinggalan".
Hari ini Andria mengenakan kemeja pink lembut dengan jeans hitam terbaiknya, rambutnya yang panjang tergerai bebas sehingga dia kelihatan begitu cantik. Tidak lama kemudian Andria menemukan perusahaan itu, "Wah, dia bekerja di tempat sebesar ini"? gumam Andria segera masuk ke dalam perusahaan itu, dia menunggu Meg di lobi dan berdiri di sudut tembok lalu menekan ponselnya, "Hei Meg aku sekarang berada di lobi".
Suara lift yang berdentang membuat Andria berbalik menatapnya, Dia berjalan dengan diikuti beberapa orang yang mengenakan jas yang ada dibelakangnya, wajahnya masih sangat tampan dengan rambut yang tertata rapi, matanya menatap lurus ke depan.
"Andria ! teriak Meg yang terburu-buru berlari kepadanya.
"Sial ! mengapa dia datang di waktu yang tidak tepat, Andria mengerling Meg dan dia bersyukur Alec sudah pergi, "Aku minta maaf kau harus datang ke sini".
"Bukan masalah Meg, Ok aku harus pergi". Kata Andria terburu-buru setelah memberikan tasnya. Dia melambai kepada Meg dan berjalan terburu-buru di sepanjang jalan. Ugh syukurlah dia tidak melihatku, pikir Andria.
Dia mengenakan kembali celemeknya dan mengikat kembali rambutnya. Suara langkah kaki terdengar dan berhenti tepat dihadapan Andria yang berdiri di meja kasir. "Anda ingin memesan apa sir". Mata Andria menatapnya dan terbelalak.
Alec telah berdiri di hadapannya dengan wajah yang sulit untuk ditebak, Otot dirahangnya kaku, dan tanpa senyuman, hawa dingin memancar di sekelilingnya, "Espresso", Gumamnya. Matanya tidak berpindah dari wajah andria, dia terus menatapnya tajam. Andria terpaku di tempatnya, "Emm es.. espresso? Ok". Dengan sedikit gemetar Andria membuatkan espresso untuknya, Andria sama sekali tidak menatapnya. Setelah selesai dia memberikan pesanannya kepada alec, tetapi Alec sama sekali tidak bergerak dia hanya terus menatapnya.
Dia lalu memberikan selembar Dollar tanpa menunggu kembaliannya dia lalu pergi.
Andria mengambil uang itu diatas meja lalu memasukkan ke meja kasir. Andria membeku di tempatnya, dia sama sekali tidak menyapa Andria, apalagi menegurnya.
Andria mengambil napas panjang, mungkin lebih baik begini kembali menjadi orang asing.
Setelah pertemuannya dengan Alec, Andria kehilangan konsentrasinya, tepat pukul 1 siang dia keluar dari cafe Couve dan segera berangkat ke tempat kerja berikutnya, tepatnya di sebuah restoran Western dia bekerja sebagai waiters, tempat itu tidak begitu terkenal karena restoran seperti ini banyak dijumpai di sepanjang kota Vencouver, Andria tengah sibuk menyiapkan dirinya, setelah itu dia langsung mengambil piring-piring dan merapikannya. Suasananya begitu sepi tidak ada satupun pelanggan yang datang, Andria tengah membersihkan meja agar nampak bersih.
Suara pintu yang terbuka dan seseorang berjalan menghampiri Andria yang sedang merapikan meja dan kursi. Andria menatapnya, Alec kembali berdiri dihadapannya, wajahnya yang tampan mendominasi ruangan itu.
"A..Alec"? gumamnya dengan pelan. Wajahnya mengeras begitu marah menatap Andria. "Ikut aku". Tiba-tiba saja tangan alec menarik Andria dengan paksa keluar dari tempat itu, "Lepaskan tanganku Alec ! apa yang kau lakukan"?? teriak Andria.
Alec tidak memperdulikan teriakan Andria, dia menghentaknya keras ke dalam dekapannya, "Turuti kata-kataku Andria atau aku akan kehilangan kendali dan menyakitimu". Ucap alec menarik Andria dengan emosi agar masuk ke dalam mobilnya.
Dia begitu pemaksa, tangan Andria sakit ditariknya. Dia mengerling tangan Andria yang merah karena tarikannya tadi. "Gery, kembali ketempatku". perintahnya.
"Baik tuan".
Dia sedikit menunduk ketika menatap Andria
Tidak ada pembicaraan selama di perjalanan, Alec tidak menatap Andria dia hanya memainkan ponselnya sedang sibuk membalas pesan.
"Aku harus kerja, turunkan aku"! ucap Andria kepada Gery.
"Jangan membuatku marah Andria". ucap alec tanpa memandangnya. Apa maunya pria ini? dia kembali dengan gayanya yang pemaksa.
Mobil Alec berhenti disebuah penthouse mewah, Alec segera keluar dari mobilnya tanpa menunggu Gery membukakan pintu untuknya.
Tanpa menunggu alec membuka pintu mobil untuknya, Andria keluar dari mobil dan memandang tajam ke arah Alec. "Apa yang kau inginkan? aku harus kerja "! Ucap Andria keras. Matanya berkilat marah, Alec menggertakkan giginya, dia lalu menggendong Andria di tubuhnya, membuat andria memberontak di tubuh alec.
"Apa yang kau lakukan, Alec"! Turunkan aku"! teriaknya. Gery memalingkan wajahnya tidak bisa berbuat apa-apa melihatnya.
"Kau akan menyesal Andria karena pergi dariku"! gumaman kecil alec membuat tubuh Andria bergetar, apa yang akan dia lakukan padaku? pikirnya.