
"Kringgg....Kringgg...kringg", Kau tidak perlu mengangkatnya Gery, mereka tidak akan pernah berhenti aku sudah muak dengan berita yang di sebarkan oleh media, berapa hari lagi hasilnya akan keluar gery? tanya alec yang mengacak-acak rambutnya.
"Dua hari lagi sir". Kata Gery yang berdiri di hadapan alec.
"Bagaimana keadaan rose? dia memainkan pulpen di tangannya sambil menatap beberapa kertas yang harus ditandatangani.
"Kondisinya masih lemah sir". ucap Gery lagi.
Alec mengingat-ingat kembali apakah dia pernah tidur dengan rose? seingatnya waktu Andria menghilang, setahun lalu dia mabuk berat dan saat terbangun dia sudah berada di samping rose yang memeluknya erat, dia bahkan tidak ingat bagaimana dia bisa bercinta dengan rose, selama bersama dengan rose hanya ciuman-ciuman yang rose lakukan, Alec tidak pernah mengajak rose sampai ke tempat tidur.
Alec tentu saja yakin anak yang dikandung rose bukanlah anaknya, tapi keadaan berkata lain, rose mengumumkan di media dia telah hamil dan dia adalah ayah yang dikandung bayi rose.
"Sial ! kau sudah menghubungi walch apakah ada kabar yang dia dapat"? tanyanya lagi.
"Belum sir". Alec memijat pangkal hidungnya, lalu bersandar dikursi kerjanya. Sudah beberapa Minggu dia menghubungi Andria tapi gadis keras kepala itu sama sekali tidak mau mengangkat telepon darinya, apalagi Mr. Anderson menghindari bertemu dengannya.
"Wanita itu jelas berbohong, apa yang diinginkan rose!? kita ke rumah sakit Gery".
"Baik sir".
Wanita itu terbaring lemah, masih dengan perutnya yang sedikit membuncit. Alec duduk dihadapannya menunggunya siuman. Rose mengerjap dan membuka kedua matanya, seketika senyuman mengembang di wajahnya.
"Alec? kau datang...aku sangat merindukanmu". Ucapnya dengan suara serak.
Alec belum berbicara masih menunggu keadaannya yang sadar betul, wanita ini selalu tidur setiap kali Alec datang ingin berbicara padanya.
"Emm..aku sedikit lelah, mungkin karena berat ditubuhku mulai bertambah". Ucapnya sambil mengelus perutnya.
"Louis Agger, pemain sepak bola yang berasal dari Inggris adalah teman kencanmu beberapa bulan ini setelah aku memutuskan pertunangan denganmu, apakah itu benar"?
Wajahnya terkejut, dia sedikit memalingkan wajahnya, "Alec..mengapa kau seperti ini padaku, anak ini adalah anakmu, apakah kau tidak ingat kita pernah tidur bersama sewaktu pesta pertunangan kita". ucapnya dengan suara lebih tinggi.
"Itu terjadi setahun yang lalu, kau ingat dan aku mabuk saat itu, apakah perlu aku menghancurkan semuanya yang telah ayahmu bangun sampai kau mengakui kebohonganmu. Testnya akan keluar sebentar lagi, meskipun kau tidak mengakuinya di media, test DNA tidak bisa dibohongi bukan"? ucap alec tajam.
"Ataukah aku harus menghancurkan karir Louis Agger hingga kau mengakui kebohonganmu, aku bukan pria yang pemurah rose, kau tidak mengenalku ! aku menunggu konfirmasimu ke media, aku memberimu waktu 24 jam penuh jika kau masih menyayangi ayah dan kekasihmu lakukan dengan segera atau semuanya akan aku hancurkan"! Ucap Alec tajam.
Dia lalu berbalik dan menutup pintu kamar itu, rose berdecak dan segera mengambil teleponnya di dalam laci dan menghubungi seseorang. "Aku tidak bisa melanjutkannya lagi, taruhannya ayahku dan louis, selamat tinggal". Ucap rose sambil melemparkan ponselnya ke dinding rumah sakit.
~
Andria mengerjap dia tertidur di perpustakaan rumahnya, sejak mengikuti perkuliahan, dia begitu lelah apalagi tiga kali seminggu dia membantu doughlas di cafenya, "Jam berapa sekarang"? bisik andria, dia beranjak dari kursinya lalu mematikan lampu kemudian melangkah menuju kamarnya, suara-suara aneh terdengar dari balik kamar Rowena ibu doughlas, Andria mengintip dibalik tembok dan menatap seseorang yang juga berdiri di balik kamar rowena, dan dia adalah doughlas.
Wajahnya begitu marah, dia kemudian memukul kaca hingga berserakan dimana-mana, setelah itu dia pergi. Suara desahan dan erangan terdengar dari balik kamar rowena, mengapa suara itu bisa terdengar? sedangkan ayahnya keluar kota dan.....
Andria lalu menutup mulutnya, kemudian dengan berjinjit Andria segera pergi dan masuk ke kamarnya. 'Dia berselingkuh entah dengan siapa tetapi tanpa rasa takut dia menghabiskan malam bersama pria lain tepat di depan kamar ayahku'. Andria begitu geram.
Andria merasa kasihan kepada ayahnya. Andria berbaring di kegelapan kamarnya mencoba menutup matanya.
~
Pagi itu Andria melajukan mobilnya setelah perkuliahannya selesai, dia singgah di cafe doughlas hanya untuk membuat kopi latte lalu segera menuju taman di Stanley park, hari ini dia ingin berjalan-jalan dan merilekskan dirinya hal itu sering dilakukannya ketika masih tinggal di flatnya yang dulu.
"Bagaimana kabarmu Andria"? tanya alec.
"Baik". Jawab Andria yang juga tidak mau memandang Alec.
"Mengapa kau tidak mengangkat telepon dariku?
"Untuk apa kau meneleponku kupikir kau sedang sibuk mengurusi banyak hal". Sarkas Andria padanya.
"Apakah kau mendengar tentangku di media? dia lalu menatap wajah andria.
"Mungkin", ucap Andria.
"Dan kau mempercayainya"?
"Entahlah, aku tidak tahu apa lagi yang harus kupercayai Alec". gumam Andria.
"Apakah kau begitu membenciku"? tanya alec suaranya seakan-akan dia terluka dan itu membuat Andria marah.
"Aku tidak membencimu, aku hanya lelah dengan semua kebohonganmu Alec".
"Kebohonganku? Dia lalu tersenyum sambil menutup kedua matanya. "Aku mencintaimu Andria, apakah itu tidak cukup"? suaranya dingin dan mengancam, Alec menarik Andria berdiri dan menahannya di pelukannya.
"Alec, lepaskan aku". ucap Andria dengan kesal.
Ponsel Andria berbunyi dan itu dari doughlas, Alec lalu mengambilnya secara paksa dan membuangnya di rerumputan.
"Apa yang kau lakukan Alec"! teriak Andria marah padanya.
"Ini yang akan aku lakukan jika kau terus menghindariku", Bentaknya. Alec mencium andria dengan kasar dan menahan tubuh Andria di pelukannya, suara Andria teredam sambil mencoba mendorong tubuh alec. Alec mengunci kedua tangan Andria dan memagutnya lalu mencoba membuka mulutnya, ciuman kasar Alec membuat Andria meringis bibirnya terluka. Setelah merasakan Andria tidak bisa bernapas dengan benar, Alec melepaskan ciumannya, suara napas mereka beradu dengan panas, Andria memandang alec tajam.
"Kau brengsek Alec", teriaknya.
Dengan kasar Alec menarik tangan andria lalu menggendongnya ala bridal, dia membawa Andria masuk ke dalam mobilnya dengan paksa.
"Alec ! Alec kau gila lepaskan aku". Alec sama sekali tidak mendengarkan teriakan andria, dia sedang tidak ingin di tentang. "Alec !
"Diamlah andria ! kau ingin aku memaksamu bercinta denganku sekarang? jadi dengarkan aku sebelum aku kehilangan kontrol", Bentak Alec membuat Andria terdiam sejenak lalu kembali meronta-ronta di pangkuan alec.
"Gery ! hubungi Mr. Anderson aku akan menagih janjinya Minggu ini jika tidak, dia harus tahu akibatnya, dan katakan padanya julianya bersamaku".
"Baik sir, Sepertinya nona rose sudah mengumumkannya di media sir". Kata Gery dengan sedikit membungkuk.
"Bagus !
"Ke mansion Gery ! Kata Alec yang masih memeluk erat tubuh andria.
"Baik sir".