
Hujan kian deras, beberapa hari ini orang-orang menyiapkan payung karena cuaca tidak bisa diprediksikan, jalanan cukup lengang semua orang berlindung dari derasnya air hujan. Ronan membereskan meja kerjanya, hari sudah sore, dia bersiap akan kembali ke apartemennya tapi dia urungkan dia akan pulang kerumah ibunya.
"Hai Ronan kami akan pergi ke club, mau bergabung ?" tanya Ashley kepadanya.
"Hari ini tidak, kapan-kapan aku akan ikut." Dia tersenyum lalu segera menuju tempat parkiran.
"Wajahmu terlihat kecewa, kau mengincar Ronan ?" tanya Janet kepadanya.
"Apa salahnya jika aku mengajaknya minum, sebagai rekan kerja, kecewa? oh please, banyak pria tampan di club, ugh aku butuh hiburan."
~
"Mom aku pulang." Ronan menyimpan tasnya diatas nakas dan mencari ayah dan ibunya. Dia pergi ke dapur dan mendapati Andria sedang memasak sesuatu. Andria mengikat rambutnya lalu memakai celemek yang biasa di gunakan Mrs Weltson.
"Oh, hai Andria kau sedang masak ?" kata Ronan memperhatikan Andria yang nampak sangat berbeda dia kelihatan sangat cantik dan manis, gayanya yang biasa cuek dan tidak perduli pada penampilannya.
"Er..ya Mrs.Weltson sedang ke luar kota menjenguk temannya yang berada di rumah sakit bersama Mr.Weltson. Andria berbalik dan kembali memasak.
"Kau bisa memasak? tanya Ronan padanya.
"Er ya sedikit." jawabnya. Ronan tersenyum, dia duduk di kursi meja makan berharap Andria menyiapkan untuknya juga.
"Kebetulan Andria, aku belum makan malam." Ronan tersenyum memandangi Andria dengan celemek yang dipasang di pinggangnya. Andria menyiapkan dua piring, dia sedang memasak jambalaya, makanan khas yang berasal dari Louisiana merupakan perpaduan masakan Spanyol dan prancis bentuknya seperti nasi goreng dengan taburan ayam, daging sayur-sayuran tomat dan jamur.
"Wow, kelihatannya lezat Andria, aku tidak tahu kau bisa memasak?" Ronan tersenyum matanya bersinar cerah seketika. Andria tersenyum tipis.
"Erm..aku belajar dari temanku yang berasal dari Lousiana selama aku di panti asuhan." Kata Andria terus terang.
"Aku berada di panti semenjak usiaku 10 tahun." Kata Andria tenang dia lalu memberikan sepiring jambalaya dihadapan Ronan.
"Maaf aku sama sekali tidak tahu, em...boleh aku tahu dimana orang tuamu?" tanyanya lagi.
Andria berpikir sebentar, lalu menatap Ronan.
"Aku tidak begitu ingat tentang mereka." Andria tidak ingin membahas tentang orang tuanya saat ini.
"Ok, sorry." Ronan memandangi andria, dia mengingat jelas wajah gadis dihadapannya ini ketika pertama kali bertemu dengannya wajah datar, sulit berbicara dan sama sekali tidak terbuka pada siapapun.
"Wah, sangat lezat andria, aku serius.. aku ingat, makanan ini di jual di dekat kantorku tetapi masakanmu lebih lezat dari jambalaya di dekat kantorku." Pujian Ronan membuat hati Andria sedikit senang. Dia tahu masakannya lezat, temannya yang dari Lousiana pun pernah memuji masakan Andria.
Mereka menghabiskan makan malamnya, Ronan bertugas mencuci piring dan peralatan makan lainnya, sementara andria membereskan meja makan dan menyapu lantai. Ronan bersenandung senang, dia tersenyum begitu saja, sedikit mengerling ke arah Andria lalu kembali membersihkan sisa makanan mereka.
"Terima kasih makanannya Andria, sangat lezat." Kata Ronan sewaktu Andria ingin masuk ke kamarnya. Andria hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Andria sudah terbiasa dengan kehadiran Ronan di sebelah kamarnya.
~
"Gery ! Siapkan mobil." Alec sedang menanda tangani beberapa dokumen setelah itu dia keluar dari kantornya diikuti beberapa sekretaris dan pria berjas lainnya. Beberapa orang menyapanya.
"Jadi ! dia memasak untukmu? wow, Andria? sulit dipercaya, gadis berwajah datar itu memasak untukmu?" Riley tertawa melihat wajah Ronan yang tersenyum.
"Kenapa kau tersenyum Ronan seperti orang idiot." Ronan menggeleng jengkel padanya. Mereka sedang berada di lobi kantor sambil menyesap kopi.
Alec tiba-tiba berbalik menatap Ronan, dia ingat pria itu pernah makan bersama Andria. Entah mengapa suasana hati alec menjadi buruk, dia lalu menelepon Gery. Dia lalu pergi begitu saja dengan perasaan campur aduk, dia mengendarai mobilnya tanpa Gery, mobilnya berhenti di depan gerbang corttage high school di jalan Welch.
Alec mengetuk-ngetukkan jarinya di dashboard mobil sambil menatap gerbang sekolah, dia lalu menatap Andria yang berjalan bersama seorang pria, dia mengingat pria itu juga pernah membela Andria di pesta yang pernah didatanginya. " Rupanya banyak pria yang mengelilingimu Andria." gumam Alec.