
Udara yang lembab di sekitar kabin dan angin yang kencang dari arah laut membuat Andria sedikit mual dan pusing, tetapi dia tidak ingin memperlihatkan kelemahannya kepada wanita yang ada di di depannya ini
"Apa maksudmu Julia sayang? mengapa aku harus peduli terhadap keluarga Okada? kau tahu jelas siapa yang membunuh keluarga mereka, Sepertinya Okada lebih mengetahui siapa dalang di balik kematian istri dan putranya.
Andria berdecak, bibirnya membentuk senyuman, kilasan ingatan kecilnya muncul lagi sewaktu Andria terikat dan tidak sadarkan diri, hingga dia dapat mengetahui bahwa bukan dia pelakunya...
Anak kecil itu mengintip dari balik jendela kamar, usianya lebih tua dari Andria, rambut gondrong berwarna hitam seorang remaja yang kurang mendapatkan perhatian dari sang ibu. Siang itu Andria mengangkat jerigen yang berisi air, dia pikir jerigen itu berisi bensin, anak lelaki itu menukar bensin yang di bawa julia dengan bensin yang asli, maka terjadilah kebakaran itu, istri dan anak okada yang tidur terlelap ketika kebakaran hingga menewaskan mereka.
"Doughlas ! kenapa kau tidak menanyakan kepada doughlas apa yang dilakukannya 10 tahun yang lalu"? Andria kemudian terkekeh membuat Rowena geram, setiap ibunya menjadi seorang jalang bersama pria lain, anak remaja itu sangat membencinya, dia bahkan melakukan tindakan kriminal kepada pria-pria yang datang, setelah habis bercinta dengan dengan pria-prianya, sang anak melakukan sesuatu agar pria itu terluka, apakah kau tidak penasaran mengapa mantan priamu selalu luka-luka setelah bersamamu"? Ucap Andria masih dengan senyum licik di bibirnya.
"O..omong kosong, doughlasku tidak akan melakukan tindakan seperti itu, aku tidak mau mendengarkan omong kosongmu. "Ck, kau keras kepala, bagaimana jika kau menggunakan otak kecilmu untuk berpikir sebentar saja? mengapa pria-priamu selalu di temukan dalam keadaan yang mengenaskan bodoh"! ucap andria.
Rowena melangkah mendekati Andria dan tamparan mendarat di pipinya, "Sekarang, bukan waktunya kau bersikap sombong Julia, Hidupmu kini berada di tanganku, gadis bodoh! sebaiknya kau simpan tenagamu itu".
Rowena melenggang pergi ingin meninggalkan Andria, tetapi terlambat mulut Rowena di bekap oleh Andria dari belakang dengan keras, meskipun Rowena tinggi besar Andria dapat dengan mudah menguasai tubuhnya. Andria menarik keras tubuhnya, mulutnya di tutup oleh tangan Andria yang telah terluka hingga lukanya yang menyisakan darahnya menempel di pipinya.
"Emphh, emphh". Mata Rowena mengarah ke pintu masuk berharap seseorang masuk dan melihat keadaannya, Andria memukul tengkuk Rowena hingga ia jatuh pingsan dan menarik tubuhnya ke tempat duduk dan mengikatnya, mulutnya di tutup dengan kain sehingga jika Rowena tersadar dia tidak bisa berteriak.
Andria dengan cepat melihat di sekeliling ruangan itu mencari celah agar bisa melarikan diri, di luar sudah mulai gelap, sehingga sebentar lagi orang-orang itu akan masuk ke ruangan ini dan akan mengetahui apa yang telah terjadi.
Andria meraba setiap papan-papan itu dan menemukan beberapa papan yang lapuk, dengan pelan dia menarik papan itu hingga terlepas sedikit demi sedikit, Andria berusaha agar tarikannya tidak berisik, akhirnya papan itu membentuk lubang bawah yang bisa di lewati oleh tubuh Andria meskipun lubangnya sangat kecil tetapi dengan tubuh Andria dia akan mampu melewatinya.
Goresan dari serpihan kayu melukai tubuh dan wajahnya hingga membentuk luka sayatan, tetapi Andria tidak memperdulikannya, ia dengan terburu-buru keluar dari lubang sempit itu, dengan sedikit berjongkok Andria mengintip dari balik keremangan malam, dia masih mendengar suara-suara dari beberapa orang pria, dengan jalan terbungkuk-bungkuk Andria melihat pohon-pohon yang lebat, tempat yang mereka diami seperti sebuah pulau tidak berpenghuni dikelilingi oleh hutan dan jurang-jurang yang menganga serta bukit yang tinggi, dengan hati-hati Andria masuk ke dalam hutan, meskipun sangat gelap Andria tidak perduli dia terus berlari masuk lebih dalam.
Andria sangat letih setelah berjalan lebih jauh, hingga dia menemukan pohon besar dengan beberapa kayu yang menumpuk di sekitarnya, dia akhirnya mengistirahatkan tubuhnya dan duduk di sana, di Hutan itu sangat gelap hanya suara binatang malam yang terdengar dan bulan sebagai penerangannya yang cahayanya menembus melewati sela-sela dedaunan.
~
"Sir, kami telah menemukan lokasi nona Andria". Kata gery, dia lalu memberikan ponselnya kepada alec. "Di mana lokasinya"! ucapnya.
"Titik lokasinya berada di MacMillan Provincial Park di pusat Pulau Vancouver sir". Jelas Antonio. Alec yang telah berada di dalam helikopter di atas gedung mulai berangkat menuju lokasi di mana Andria berada, napasnya memburu, jika sesuatu yang buruk menimpa Andria, dia bersumpah akan menghabisi semua orang yang telah menyakitinya.
~
Setelah 20 menit sejak pelarian andria, akhirnya salah satu pria masuk di ruangan yang gelap itu karena merasa curiga tidak ada suara-suara yang terdengar meskipun begitu dia menyalakan lampu kecil di atas meja. Matanya membelalak dia begitu terkejut melihat Rowena terikat dan mulutnya di sumpal dengan kain, wajah Rowena merah padam suaranya terdengar menggeram meskipun di tutup oleh kain.
"DASAR BODOH, KENAPA KALIAN BARU SADAR, CEPAT CARI DIA, TEMUKAN DIA"!
Teriaknya, napasnya masih memburu, dia menghapus jejak-jejak darah yang menempel di pipinya. "Gadis sialan itu, kali ini kau akan kuhabisi, tidak ada kehidupan kedua bagimu lagi"! ucapnya.
Andria bersandar di pohon, matanya melirik ke kiri dan kanan menajamkan indera pendengarannya, dia dapat mendengar dari kejauhan suara seorang pria, dan hanya satu kata yang di tangkap oleh pendengaran Andria, 'Cari', Andria dengan cepat berdiri dari tempat peristirahatannya, dia kemudian berjalan lebih jauh lagi, dia tidak boleh tertangkap dengan sisa tenaga yang dimilikinya Andria terus mempercepat jalannya lebih masuk ke dalam hutan yang gelap, dia bersyukur karena malam ini bulan begitu benderang, meskipun samar-samar dia masih bisa melihat meskipun sedikit jalanan yang ada di hadapannya.
Entah berapa lama Andria berjalan hingga dia dapat keluar dari hutan itu dan mendapati dirinya berada di atas bukit dengan ombak yang bergemuruh di bawahnya. Dengan takut-takut Andria mengintip dari atas bukit itu, ombak besar menghempas batu-batu karang dengan suara yang nyaring.
Andria sedikit bergidik, dia akhirnya duduk dan menyandarkan punggungnya di sebuah pohon dekat hutan sambil menunggu fajar menyingsing, dia begitu lelah lapar dan haus, Andria membuka tas kecil yang dikenakannya, dan melihat-lihat isinya, Andria begitu bersyukur ada beberapa permen di dalam tasnya, dia mengambil dan membuka pembungkusnya.
Andria menatap bulan purnama yang terang yang sangat indah dari atas bukit, bulan itu akan menghilang beberapa jam lagi karena fajar sebentar lagi akan menyingsing tetapi mata Andria begitu berat, dia akhirnya terlelap di tempat itu.
Suara-suara membuat Andria terbangun dari tidur lelapnya. Suara seorang wanita dengan sinis berbicara di sekitarnya. "Bawa dia ke tepi bukit itu, biarkan dia terbangun dan melihat dirinya berada di ambang kematiannya.
Andria membuka matanya, dan melihat Rowena dengan orang-orangnya berdiri dihadapan andria, di belakang Andria jurang yang curam.
Rowena melangkah mendekati Andria tapi membuat sedikit jarak darinya. "Akhirnya kau bangun gadis bodoh, kau pikir kau bisa lari dari tempat terpencil ini? hanya kematian yang menunggumu julia".
Andria berbalik dan menatap ombak yang menghempaskan batu karang. Matanya masih menatap tajam Rowena yang tersenyum licik, "Kini keturunan Anderson dari wanita itu tidak akan ada lagi, dan.....
"Hentikan Mom". Kata doughlas yang berdiri di belakang ibunya.
Suara Rowena terhenti, matanya bergerak ke arah suara yang memanggilnya, matanya membelalak menatap doughlas. "Apa...apa yang kau lakukan di sini doughlas"!!?
"Lepaskan dia mom". Ucap doughlas dengan suara yang sangat kecewa menatap ibunya. "Hentikan perbuatan ibu". Ucap doughlas sengit.
"Tidak ! gadis ini harus mati di tanganku, aku tidak akan membiarkan dia menjadi penghalangmu nanti, kau adalah satu-satunya penerus keluarga Anderson"!
Andria memanfaatkan kelengahan mereka, dia dengan cepat mengambil pistol dari tasnya. "Menyingkirkanku? kau pasti bercanda Rowena, setelah membuangku ke panti asuhan kau ingin menyingkirkanku? geram Andria, "Tidak akan terulang lagi, kau atau aku yang akan mati kali ini"! Kata andria tajam, pistol terarah tepat di tubuh rowena...
Alec menyaksikan pemandangan itu dari atas helipadnya, Melihat Andria memegang senjata dan tersudut dari tepian jurang sedangkan beberapa orang membidik pistol ke arahnya..